Di luar, Sean berlari hampir seperti melarikan diri. Dia masuk ke dalam kerimbunan hutan. Jantungnya berdebar kencang, bergema di telinga runcingnya yang sekarang bisa menangkap setiap desis angin, kertak serangga, dengan kejelasan yang menyiksa. Sensasi dari usapan Hana masih terasa membakar di kulit kepalanya.
Dia berhenti di bawah pohon besar, mencondongkan tubuh ke batangnya kemudian menarik napas dalam-dalam. Ekornya, sekarang mencerminkan kegelisahan batinnya, mengibas-ngibas dengan gugup.
“Ini bodoh,” geramnya pada dirinya sendiri.
Namun, itu bukan sekadar 'hanya'. Bagi Werewolf, area kepala dan leher adalah zona yang sangat sensitif, penuh dengan makna sosial dan naluriah. Hanya yang dipercaya, yang dianggap sebagai keluarga atau pasangan, yang boleh menyentuh area tersebut. Dan telinga—yang sekarang adalah bagian dari wujud setengah transformasinya—jauh, jauh lebih sensitif daripada telinga manusia biasa. Sentuhan Hana, yang dimaksudkan sebagai sebuah penghiburan, secara tidak sengaja telah menembus lapisan pertahanan naluriahnya yang paling dalam, menyentuh sesuatu yang liar dan terpendam yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya memahami.
Dia juga marah pada dirinya sendiri karena membentak Hana, melihat luka di matanya sebelum dia pergi. Tidak bermaksud menyakiti perasaannya. Hanya kegelisahan yang mengganggu.
Setelah beberapa lama, napasnya akhirnya mulai tenang. Rasa panik perlahan digantikan oleh penyesalan. Hana sudah melalui begitu banyak untuknya. Dia mentolerir amukannya, menyembuhkan lukanya, menerima sisi monster-nya. Dan, dia membalasnya dengan berteriak karena satu sentuhan yang tulus.
Sean menghela napas panjang, mengangkat tangan, dan dengan hati-hati meraba telinga runcingnya. Sensasinya masih kuat, tetapi sekarang lebih bisa dikendalikan. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan naluri liarnya. Dia punya janji untuk ditepati. Dia berkata akan membuatkan Hana makan siang dan dia akan melakukannya. Dia juga perlu memeriksa kawanannya, memastikan tidak ada tanda-tanda penyusup atau ancaman lain.
Dengan tekad baru, Sean melangkah lagi. Ekornya masih ada di belakangnya, tetapi sekarang dia berusaha mengabaikannya. Pikirannya beralih ke Hana, yang sendirian di pondok, mungkin merasa bersalah dan bingung. Dia perlu memperbaiki ini. Dia perlu menjelaskan—atau setidaknya, meminta maaf tanpa harus menjelaskan segalanya, karena dia sendiri belum mengerti.
Saat dia berburu kelinci dengan cepat dan efisien (ekornya, secara memalukan, membantu keseimbangannya saat melompat), dan saat dia mengumpulkan beberapa buah beri yang dia tahu disukai Hana, satu hal menjadi semakin jelas dalam pikirannya yang kalut. Kehidupan mereka yang tenang di Aethelvera sedang terancam. Ancaman dari luar mendekat. Dan Hana, dengan warisan rahasianya dan kecenderungannya untuk mengorbankan diri, akan berada di garis depan.
Sean tidak akan membiarkan Hana sendirian. Apapun yang terjadi, apapun yang harus dia hadapi—bahkan, jika itu harus mengorbankan nyawa—dia akan berdiri di samping Hana. Dia akan kembali ke pondok. Dia akan membawa makanan. Dan dia akan memulai percakapan yang sulit. Untuk Hana. Dan mungkin, juga untuk dirinya sendiri.
***
Api unggun menjilat-jilat kayu kering dengan suara berdesis lembut. Sean duduk di atas batu dan matanya memantulkan tarian nyala jingga, sementara tangannya dengan terampil menguliti kelinci hasil buruannya. Ritme kerjanya teratur sembari membantu menenangkan sisa-sisa gejolak naluriah di dalam dirinya. Di pinggangnya, terselip seikat buah beri liar berwarna ungu dan merah yang dia kumpulkan tadi—buah kesukaan Hana.
Sean menghela napas, mencoba memusatkan perhatian pada tugas yang ada. Memasak di tengah hutan adalah hal biasa baginya, salah satu dari banyak keterampilan yang dia pelajari untuk bertahan hidup. Namun, pikiran tentang Hana terus mengusik.
“Aku harus meminta maaf, bukan?” gumamnya pada nyala api, seolah-olah api bisa menjawab. “Itu bukan salahnya dan aku harus minta maaf pada Hana.”
Werewolf memang bukan makhluk sihir dalam pengertian konvensional. Kekuatan mereka terletak pada tubuh, indra, naluri, dan ikatan dengan alam. Tapi, Sean berbeda. Atau lebih tepatnya, dia telah mengumpulkan sesuatu yang seharusnya tidak dia miliki. Itu adalah rahasia, penyamaran yang dia selipkan di antara identitasnya. Warisan dari seorang pria yang hampir tak diingatnya, atau mungkin hasil dari transformasi yang tidak sempurna dan bertahun-tahun mengembara di antara dua dunia, dia tidak pernah benar-benar yakin.
Dengan fokus terkumpul, Sean mengangkat tangan kanan. Di dalam dirinya, dia merasakan titik kehangatan yang samar, dari suatu tempat di bawah tulang rusuknya. Dia mengarahkan sensasi itu ke ujung telunjuk, memusatkannya lalu menjentik cepat.
Percikan kecil, biru pucat seperti jantung bintang, melesat dari ujung jarinya dan mendarat di tumpukan kayu kering di bawah perapian yang semakin membara. Api menyala lebih sempurna, membakar dengan panas yang lebih intens, tanpa asap berlebihan. Sihir sederhana. Dan, itu adalah miliknya, seorang Werewolf.
Sean mengembuskan napas ketika rasa bersalah yang familiar menyergap. Dia seharusnya memberitahu Hana, tapi bagaimana caranya? 𝘖𝘩, 𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨-𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘢𝘬𝘴𝘢𝘴𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘶. Itu akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang batas-batas yang dia langgar. Werewolf tidak seharusnya memiliki sihir. Itu adalah hukum alam, pemisahan yang jelas. Memilikinya terasa seperti pengkhianatan terhadap kedua belah pihak—kemanusiaan dan keberingasannya. Jadi, dia menyimpannya. Seperti banyak hal lainnya.
Dia menusuk daging kelinci yang sudah bersih dengan tongkat kayu yang sudah diasah dan mulai memanggangnya di atas perapian. Aroma daging panggang mulai memenuhi udara dan dia berharap aroma ini bisa menghantarkan ketenangan bagi Hana, atau setidaknya menandakan bahwa dia akan segera kembali, bahwa dia tidak melarikan diri untuk selamanya.
Ketika daging mulai mengeluarkan minyak dan berubah warna menjadi cokelat keemasan, indra yang sudah diperkuatnya menangkap adanya kedatangan.
Dua sosok meluncur keluar dari bayangan pepohonan.
Yang pertama adalah serigala berbulu abu-abu perak dengan mata kuning yang cerah. Posturnya ramping, gerakannya penuh energi hingga melompat-lompat tanpa hambatan. Itu adalah Samael. Dia berubah dengan lancar di tengah langkahnya. Tubuhnya meregang, berubah bentuk menjadi seorang remaja pria berambut perak berantakan, mata yang sama nakalnya, dan senyuman lebar yang hampir selalu menghiasi wajahnya. Dia bertelanjang d**a—hanya mengenakan celana pendek dari kulit.
Yang kedua berjalan lebih anggun. Bulunya perak-gelap, bermata kuning padat dan tajam. Lydia. Dia berubah tak jauh dari tepi api unggun, muncul sebagai seorang gadis berambut hitam lurus seperti sutra yang jatuh hingga ke pinggang. Kulitnya pucat, tetapi mata kuningnya menyerupai warna madu—seakan menyimpan kedalaman yang tak terukur. Dia memakai tunik abu-abu tua dan setiap gerakan penuh kesadaran diri yang tenang.
“Pangeran kita sedang memasak,” sapa Samael, bernada menggoda sambil langsung duduk bersila di seberang Sean. Dia menatap daging panggang dengan lapar. “Bau yang menyenangkan. Biar aku tebak ... apa ini untuk sang Penjaga?”
Sean mengerutkan kening, menahan diri untuk menggeram. “Jangan panggil dia seperti itu, Samael.”
“Tapi, dia adalah Penjaga, 'kan?" Samael menyeringai. “Dia yang merawat hutan, menyembuhkan luka kita—dan, sepertinya, membuatmu salah tingkah?”
Sean membeku. Tongkat di tangannya berhenti berputar. “Kau mengintip?”
“Tidak perlu mengintip,” Lydia yang berbicara kali ini. Entah mengapa, nadanya terdengar menusuk. Dia tidak duduk, hanya berdiri seraya menyilangkan tangan di depan d**a. “Kau berlari dengan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang. Seluruh hutan bisa merasakan kegelisahanmu. Kabar tentang ledakan emosi seorang Alpha menyebar dengan cepat.”
Alpha.
Gelar yang selalu ditolak Sean. Dia memimpin kawanan kecil ini karena terpaksa, karena ikatan naluriah dan kebutuhan perlindungan, bukan karena keinginan.
“Aku tidak gelisah,” bantah Sean, kembali memutar dagingnya dan berusaha terlihat sibuk.
“Kau sedang menghindari Hana, bukan? Jelas kau kabur ke hutan.” Samael tertawa ringan. “Jangan khawatir. Kami tidak menyalahkanmu, tapi apa yang Hana lakukan padamu? Memelukmu?”
“Memalukan,” ucap Lydia singkat. Dia menatap Sean tanpa berkedip. "Dan, lemah. Membiarkan dirimu begitu payah.”
Rasa panas yang bukan dari api membakar pipi Sean. “Dia ... tidak tahu tentang itu. Dan, bagaimana hubungan kami nanti seandainya dia menyadari ‘hal-hal tabu’ bagi para Werewolf?”