"Aku ingin mengetahui masa lalumu. Juga segala hal yang tak pernah kau katakan bahkan kau sembunyikan dariku. Semua rahasiamu ... aku ingin mengetahuinya. Agar kita impas." Kalimat itu sontak membuat Mark kesulitan menelan salivanya. Ekspresi yang hampir saja tergambar di wajahnya dengan cepat ia netralkan, kembali datar tanpa ekspresi. Ia sangat berhati-hati, seolah gadis di hadapannya ini memiliki kemampuan membaca isi hati melalui mimik muka. "Tak ada yang penting dariku untuk kau ketahui," jawab Mark, dingin. "Lagipula, fokusku adalah kau, Zanara. Lupakan tentangku, mari kembali padamu." "Tidak. Aku lelah dengan kebohongan dan permainan di belakangku. Jika kau tidak setuju dengan permintaanku, kita akhiri saja semua di sini, selagi perasaan yang kita rasakan belum mendalam." Zanara

