Zanara tidak mengatakan sepatah kata pun selama dalam perjalanan. Ia merenungi perkataan Gabriel, antara membenarkan sekaligus tak terima. Ia tak suka segala hal tentangnya disangkut pautkan dengan Mark atau pun kebiasaan pria itu. Meski ia tahu, di sisi lain hal itu tak akan pernah terpisahkan karena semua orang mengenal Zanara, segala tindak tanduknya akan selalu jadi perhatian khalayak ramai. Mark memahami apa yang mengganggu pikiran kekasihnya. Hanya saja ia tak ingin memperkeruh suasana untuk sementara waktu. Ia akan membiarkan Zanara tenang dan menceritakan langsung semua yang telah ia alami. Mark meraih jemari Zanara yang terasa dingin. Ia meremasnya lembut kemudian megecup dan meniup untuk menghangatkannya. Tak hanya jemari, hatinya pun ikut menghangat. Kini tak ada lagi yang per

