Aurora Evellina berakhir di sebuah toko baju brand ternama di salah satu mall terbesar di kota ini. Bersama dengan seorang pria pemilik perusahaan besar dan terkenal membuat keduanya menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung mall. Para pria menatapnya dengan pandangan seperti buaya darat yang kurang belaian sedangkan para wanita di sana menatap objek yang membawanya ke sini. Siapa lagi kalau bukan Tuan Orion Aldebaran yang terhormat. Padahal mereka baru beberapa jam yang lalu bertemu dan Orion bersikap seolah-olah mereka telah bertemu sudah lama. Dasar pria aneh. Aurora tidak akan melupakan kejadian tadi di kantor. Saat ini dia masih dalam mode kesaal karena tindakan semena-mena dari atasannya ini. Jika bukan karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini, Rora tidak akan mau berdekatan dengan pria menyebalkan seperti Orion.
“Sepertinya baju ini bagus untuk kamu pakai besok,” ujar Orion sambil memegang setelan kemeja yang sepertinya tampak kekecilan di tubuh wanita yang baru saja ia rekrut sebagai sekretaris ini. Aurora mengernyit dan memandang jijik pakaian yang dipilihkan Orion. Apakah pria itu tidak bisa melihat jika baju itu kekecilan untuk Rora?
“Maaf, Pak, ini bukan ukuran saya. Dan juga saya tidak sedang ingin membeli baju,” ungkap Aurora yang memang sedari awal dia merasa tidak nyaman berada di sekitar pria yang menajdi bosnya itu. Bahkan pekerjaannya belum dimulai dan wanita ini sudah merasa tak nyaman.
“Ini pas untuk kamu. Cepat kamu coba dulu bajunya dan nanti semua baju kamu saya yang bayar,” kata Orion tegas sambil menyodorkan setelan baju kerja itu kepada Aurora. Wanita yang memang bingung harus melakukan itu pun melaksanakan perintah atasannya. Dengan berdecak kesal dia pun menuju ke ruang ganti sementara Orion mencoba memilih-memilih lagi baju untuk Aurora. Jangan lupakan pelayan toko di mall itu juga menaruh perhatian kepada pria yang tampak menggoda ini. Tentu saja Orion tampak hirau. Ini sudah menjadi makanan sehari-harinya menjadi pusat perhatian. Namun, ada satu-satunya pelayan yang sangat berani mencoba mencari perhatian pria ini.
“Kami mempunyai stok baju terbaru untuk minggu ini. Pak Orion bisa melihatnya langsung di sini," ucap satu pelayan wanita yang memakai make up tebal. Orion yang merasa diajak berbicara pun menoleh sekilas kemudia dia mengangguk. Pelayan itu pun menuju ke deretan baju yang dia maksud tadi.
“Di sini, Pak. Semua masih baru, dan saya jamin Anda pastinya suka,” kata pelayan itu lagi yang masih mencoba mencari perhatian Orion. Bukannya pria ini berlagak bodoh, namun dia tidak tertarik sama sekali dengan wanita-wanita seperti mereka. “Oh iya, atau Bapak mau –“
“Bisa Anda berhenti berbicara?” kata Orion dengan nada dinginnya. Pelayan itu pun mengrnyit bingung. “Maaf?” Seakan tak mengerti maksud Orion. Pria itu pun menoleh kepada pelayan itu, menampilkan wajah dingin dan kerasnya. Menilai pelayan wanita tadi dari ujung kepala hingga kaki.
“Anda mengganggu aktivitas saya,” ucap Orion yang memang terdengar kejam dan blak-blakan sekali. Pelayan itu pun hanya menunduk dan berkali-kali mengucapkan kata maaf. “Lain kali jangan ganggu orang yang sedang memilih pakaian. Jika Anda tahu, itu sangat mengganggu sekali. Bukan saya saja tetapi semua orang yang berkunjung. Dan lagi, saya sudah memiliki kekasih dan calon istri. Tolong Anda bersikap selayaknya pekerjaan Anda, jangan berlebihan seperti ini.” Teguran yang membuat nyali siapa saja menjadi ciut. Pelayan yang merasa malu itu pun pamit undur diri. Dia belum tahu saja sedang berurusan dengan siapa.
“Pak,” panggilan lembut itu membuat atensi Orion yang semula kepada baju-baju di sana kini beralih kepada sosok wanita yang berdiri menjulang hanya sebatas dagunya itu. Wanita itu mencoba menurunkan batas rok bawah yang ia pakai. Sepertinya ini terlalu pendek, namun di mata Orion semua tampak pas. Ternyata keahlian memilih baju untuk wanita masih saja ia pegang.
“Cocok,” kata Orion memandang lekuk tubuh sekretarisnya itu.
“Maaf, Pak, ini tidak cocok untuk saya. Roknya terlalu kekecilan dan ketat, begitu juga bajunya,” protes Aurora yang masih memegangi ujung roknya yang pendek di atas lutut. Wanita ini sepertinya nampak kurang nyaman dengan pakaian yang bosnya pilihkan ini.
“Sudah, baju itu cocok untuk kamu. Saya akan membelikan baju yang berbeda warna juga,” ujar Orion sekali lagi memerintah wanita ini. Pria itu pun memanggil pelayan dan meminta mereka untuk membungkus baju yang dipakai oleh Aurora dan baju yang sama dengan warna yang berbeda. Kesal? Tentu saja Aurora kesal. Bosnya bersikap berlebihan dan kurang ajar menurutnya.
Setelah puas berbelanja, lebih tepatnya Orion yang berbelanja kebutuhan baju untuk sekretaris barunya ini, pria itu pun mengantar Rora pulang. Tentunya wanita ini awalnya menolak, namun sifat Orion yang baru ia ketahu tidak ingin dibantahkan seketika membuatnya menjadi penurut saja. Sayang sekali kenapa dia harus terjebak dengan pria menyebalkan seperti ini. Apalagi besok adalah hari pertama dia bekerja. Semoga tidak akan terjadi hal yang aneh.
“Terima kasih, Pak, atas tumpangannya dan bajunya juga,” ucap Aurora tak enak hati karena sudah merepotkan pria itu. Tidak, ini sama sekali tidak merepotkan karena bukan Aurora sendiri yang meminta Orion membelikannya baju, tapi pria itu yang memaksanya.
“Sama-sama. Kapan-kapan kita belanja lagi kalau ada waktu,” jawab Orion yang membuat wanita ini menjadi semakin tak enak hati. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Tentu saja menurut adalah jalan yang terbaik. “Jangan lupa besok bajunya kamu pakai, Aurora.”
“I-Iya, Pak,” jawab Aurora gugup. Sejujurnya dia sudah berencana untuk tidak memakai pakaian ketat yang bosnya pilihkan tadi, namun Orion seakan bisa membaca pikirannya hingga mengetahui isi pikiran wanita ini. “Saya akan lihat seberapa kamu menghargai pemberian orang lain,” sindir Orion yang membuat Aurora mati kutu.
Aruora pun beranjak dari kursi penumpang, menutup pintu mobil perlahan, dan membiarkan Orion pergi dari sekitar rumahnya. Setelah dirasa mobil pria itu telah hilang, barulah Aurora masuk ke dalam rumahnya. Pertama kali yang dia lihat adalah sang Mama yang nampak habis kepergok memperhatikannya. Ya, wanita tua itu ternyata mengintip dirinya dari balik jendela.
“Kamu pulang sama siapa, Sayang?” tanya sang Mama.
“Bos aku, Ma,” jawab Aurora tak berminat. Memang sedari awal dia tak berminat untuk bekerja setelah mengetahui bosnya berbentuk seperti Orion. Mata keranjang!
“Baru interview udah kenal sama bosnya? Hebat sekali kamu, Sayang. Mama lihat dia kaya, pastinya. Bisa dilihat dari mobil yang dia pakai tadi.” Aurora memutar bola matanya jengah. Mamanya mulai lagi. “Jadi ... kamu akan jadi sekretaris dia, begitu?” lanjut sang Mama yang membuat Aurora mengangguk.
Pekikan terdengar dari wanita paruh baya ini. Aurora pun menjadi kesal sendiri. Tidak tahukah sang mama kalau dia akan tersiksa jika harus berdekatan dengan pria menyebalkan itu. “Ma ... sebenarnya Aurora nggak suka kerja sama dia. Dia itu –“
“Aurora, kamu tau sendiri keadaan keluarga kita, bukan?” potong sang mama yang membuat wanita ini mengangguk mengerti. “Kamu jalani saja pekerjaan ini. Betah-betahin aja dulu. Memang awalnya akan susah, tapi lama-lama kamu akan terbiasa,” jelas sang mama yang membuat Aurora mengurungkan niatnya untuk protes. Sang mama benar, ini satu-satunya harapan yang dia punya saat ini. Ya, meskipun nantinya Aurora sendiri bisa tidak memperpanjang kontraknya, langkah itu mungkin akan dia pertimbangkan.
Setelah berbincang sedikit dengan sang mama, wanita ini pun berlalu menuju ke kamarnya. Dia butuh istirahat setelah beberapa jam menemani Orion berjalan di pusat perbelanjaan yang pastinya tidak kecil untuk dilalui kaki-kakinya. Auror memilh untuk segera mandi, setelah itu dia akan bermesraan dengan dunia mimpi. Namun, Aurora mengingat jika besok adalah hari pertama dia bekerja, lantas dia harus mencari tahu siapa sosok Orion ini. Bisa jadi pria gila itu memiliki riwayat yang tidak baik.
Aurora pun membuka aplikasi google, mengetik nama Orion Aldebaran dengan jari-jemarinya. Satu persatu website pun tampil di laman ponselnya itu. Cukup banyak hingga dia sendiri pun bingung untuk membaca yang mana. Aurora pun memilih bagian berita untuk melihat berita apa saja tentang pria itu. Tidak aneh, hanya berita mengenai seberapa sukses pria menyebalkan di mata Aurora itu. Hingga Aurora pun menangkap satu artikel mengejutkan ‘SIAPA SANGKA SANG CEO ALDEBARAN PERNAH MENGENCANI 10 WANITA SELAMA SEMINGGU’. Oke, sekarang dia tahu seberapa brengseknya nama Orion itu.
“Orion, si pemburu s**********n wanita.”