Hening yang menyusul pertanyaan Lord Sterling terasa lebih tajam daripada belati. Ratusan pasang mata di aula besar itu kini terpaku pada Alana. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas tumpahan minyak. Skandal. Sebuah kata yang sangat disukai para tamu elit ini, namun mematikan bagi nama Arkananta.
Alana merasakan jemari Nathan meremas bahunya, sebuah peringatan sekaligus perlindungan. Di sisi lain, Kenzie sudah melangkah maju dengan kepalan tinju yang bergetar hebat.
"Kau b******n tua," desis Kenzie, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Kau ingin mempermalukannya di sini?"
Sterling hanya tertawa kecil, menyesap champagne-nya dengan santai. "Aku hanya ingin tahu kualitas barang yang sedang dipertaruhkan, Kenzie. Jadi, Alana? Siapa di antara dua kakakmu ini yang sudah melampaui batas?"
Tuan Arkananta melangkah maju, wajahnya merah padam. "Sterling, cukup! Ini urusan keluarga!"
"Urusan keluarga yang kau jual padaku, Arkananta?" Sterling membalas tajam. "Nah, Alana. Pilih. Ikut denganku ke London dan rahasia ini terkubur, atau kau bicara sekarang dan tetap di sini sebagai... yah, kau tahu sebutan untuk wanita seperti itu."
Alana menatap Nathan. Mata pria itu tidak menunjukkan ketakutan, melainkan sebuah tantangan yang gelap. Lalu ia menatap Kenzie yang matanya berkaca-kaca karena amarah dan rasa bersalah.
"Aku tidak perlu memilih," suara Alana terdengar tenang, memecah kesunyian.
Sterling menaikkan alisnya. "Oh?"
"Karena tidak ada yang perlu diakui," Alana melangkah satu kaki ke depan, melepaskan diri dari apitan Nathan dan Kenzie. "Jika kau ingin tahu siapa yang menyentuhku, jawabannya adalah tidak ada. Mereka menjagaku, Sterling. Sesuatu yang tidak akan pernah dipahami oleh pria sepertimu."
"Kebohongan yang manis," Sterling menyeringai. "Tapi aku melihat rekaman CCTV dari vila itu sebelum Nathan merusaknya. Ada seseorang yang masuk ke kamarmu malam itu. Pintunya terkunci dari dalam."
Nathan melangkah maju, berdiri tepat di depan Sterling. "Aku yang masuk. Dan aku masuk untuk memastikan dia tidak melarikan diri dengan pria bodoh seperti adikku. Apa itu cukup untuk memuaskan rasa penasaranmu?"
"Dan aku yang mencoba membawanya keluar!" Kenzie menyela, tidak mau kalah. "Aku masuk lewat balkon. Jadi siapa yang kau maksud, Sterling? Kami berdua ada di sana!"
Sterling tertawa terbahak-bahak, membuat suasana semakin kacau. Para tamu mulai saling berbisik lebih keras. Kata "i***s" mulai terdengar samar di antara kerumunan.
"Menarik. Kalian berdua berebut untuk mengakui dosa yang sama," Sterling menatap Alana lagi. "Kau lihat, Alana? Mereka menghancurkanmu hanya untuk memuaskan ego mereka. Sekarang, buat keputusanmu. Pesawatku berangkat dua jam lagi."
Alana menatap kerumunan orang-orang kaya itu. Ia melihat ayahnya yang tampak hancur, melihat Nathan yang dingin, dan Kenzie yang emosional. Ia merasa sangat lelah.
"Aku akan ikut," ucap Alana lirih.
"Alana, tidak!" Kenzie mencengkeram tangan Alana. "Kau tidak bisa pergi dengannya!"
"Biarkan dia bicara, Kenzie," potong Nathan, matanya menyipit menatap Alana. "Kau serius dengan ucapanmu, Alana?"
Alana menatap Nathan dalam-dalam. "Jika aku tinggal, kalian akan saling membunuh. Jika aku pergi, setidaknya Arkananta tetap berdiri. Bukankah itu yang Kakak inginkan? Kekuasaan?"
Nathan terdiam. Untuk pertama kalinya, ada kilat luka di matanya yang sedingin es.
"Bagus," Sterling mengulurkan tangannya pada Alana. "Pilihan yang sangat cerdas, mawar kecil."
Alana baru saja hendak meletakkan tangannya di telapak tangan Sterling saat sebuah suara dari pintu utama aula menghentikan segalanya.
"Dia tidak akan pergi ke mana-mana."
Seorang pria paruh baya dengan kursi roda didorong masuk oleh beberapa pengacara berseragam rapi. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar, namun matanya memancarkan otoritas yang luar biasa.
"Wijaya?" Tuan Arkananta berteriak, hampir terjatuh dari berdirinya.
"Kau pikir ledakan helikopter itu cukup untuk menghapus dosamu, Arkananta?" pria di kursi roda itu—Wijaya yang asli—menatap tajam. "Sterling, kontrak yang kau tandatangani dengan pria ini tidak sah. Karena aset Wijaya tidak pernah jatuh ke tangan Arkananta. Semuanya sudah dipindahkan ke yayasan atas nama Alana sejak dia bayi."
Sterling mengerutkan kening. "Apa-apaan ini?"
"Artinya," Wijaya menatap Alana dengan kelembutan yang menyakitkan. "Putriku bukan milik siapa pun di ruangan ini. Dan siapapun yang mencoba membawanya secara paksa akan berhadapan dengan hukum internasional."
Nathan melangkah mendekati kursi roda Wijaya. "Jadi kau masih hidup. Dan kau membiarkannya menderita selama ini?"
"Aku membiarkannya agar aku bisa menghancurkan ayahmu dari dalam, Nathan," Wijaya menatap Nathan dengan jijik. "Dan aku tahu apa yang kau dan adikmu lakukan padanya. Jangan pikir aku akan membiarkan kalian menyentuhnya lagi."
Kenzie maju, wajahnya bingung. "Jadi dia benar-benar adik kami atau bukan?"
Wijaya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia gelap. Ia mengeluarkan sebuah map biru dari pangkuannya.
"Arkananta selalu mengira dia berselingkuh dengan istriku. Tapi dia tidak tahu bahwa istriku sudah memandulkannya secara diam-diam setahun sebelum Alana lahir."
Seluruh ruangan kembali tersentak. Tuan Arkananta memegang dadanya, napasnya memburu. "Apa... apa maksudmu?"
"Maksudku," Wijaya menatap Nathan dan Kenzie silih berganti. "Kalian berdua memang bersaudara. Tapi Alana... dia tidak punya setetes pun darah Arkananta dalam nadinya. Dia murni darah Wijaya."
Alana merasa dunianya berputar. Rasa lega dan ngeri bercampur menjadi satu. Nathan dan Kenzie saling berpandangan, sebuah pemahaman baru mulai merayap di wajah mereka. Jika mereka bukan saudara... maka tidak ada lagi penghalang moral untuk obsesi mereka.
"Jadi..." Nathan melangkah mendekati Alana, suaranya kembali rendah dan posesif. "Semua drama 'adik kandung' ini hanya bualan Ayah untuk mengendalikan kami?"
"Dan untuk memastikan kalian tidak akan pernah berani menikahinya secara sah agar asetnya tetap di tangan Arkananta," sahut Wijaya.
Sterling mendengus kesal. "Ini drama keluarga yang menjijikkan. Aku pergi. Arkananta, urusan kita selesai. Dan jangan harap kau bisa membayar hutangmu!"
Sterling berjalan keluar diikuti pengawalnya, meninggalkan kekacauan yang sempurna. Tuan Arkananta jatuh terduduk di kursinya, tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap.
Wijaya menatap Alana. "Ayo, Nak. Ikut Ayah pulang. Kita tinggalkan monster-monster ini."
Alana menatap Wijaya, lalu menatap Nathan dan Kenzie yang kini menatapnya dengan pandangan yang jauh lebih lapar daripada sebelumnya. Tanpa beban "darah", mereka tidak lagi memiliki alasan untuk menahan diri.
"Alana, jangan pergi," bisik Kenzie, ia memegang tangan Alana dengan erat. "Sekarang tidak ada yang menghalangi kita lagi."
Nathan berdiri di sisi lain, mengunci tatapan Alana. "Kau dengar itu? Kau bukan adikku. Kau adalah mawar yang sejak awal memang ditakdirkan untuk kupetik."
Alana menarik tangannya dari Kenzie. Ia menatap Wijaya, lalu kembali pada kedua pria Arkananta itu.
"Kalian pikir karena kita tidak sedarah, semuanya jadi benar?" tanya Alana dengan suara bergetar.
"Itu artinya kita bisa memiliki satu sama lain tanpa dosa, Alana," sahut Nathan, ia mencoba menyentuh pipi Alana.
Alana mundur selangkah, menatap mereka semua dengan pandangan yang tajam.
"Kalian salah. Justru sekarang aku sadar, siapa monster yang sebenarnya di sini."
Alana menoleh pada Wijaya yang masih menunggunya di kursi roda.
"Ayah... apakah kau membawa polisi bersamamu?"
Wijaya mengangguk perlahan. "Mereka ada di luar, menungguku memberi tanda."
Alana menatap Nathan dan Kenzie untuk terakhir kalinya, sebuah senyum tipis yang penuh kepedihan muncul di bibirnya.
"Kalau begitu, Ayah... beri mereka tanda itu sekarang."