Bab24:Barter Berdarah

1049 Words
"Sterling?" Suara Alana nyaris hilang. Ia mencengkeram lengan jas Nathan hingga kainnya kusut. "Kak, kau bilang dia sudah selesai di London. Kau bilang kita aman!" Nathan tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar ponsel yang menunjukkan siaran langsung dari aula bawah. Di sana, Tuan Arkananta berdiri dengan senyum lebar, menjabat tangan seorang pria tua berambut perak yang sangat Alana kenali. Brak! Pintu kamar terbuka paksa. Kenzie masuk dengan napas memburu, wajahnya merah padam. "Nathan! Kau lihat TV? b******n tua itu membawa Sterling ke sini!" "Aku tahu, Kenzie. Tenanglah," sahut Nathan dingin, meski rahangnya mengeras. "Tenang? Dia menjual adik kita! Dia menjual Alana pada pria yang hampir membunuh kita di London!" Kenzie melangkah maju, menarik kerah baju Nathan. "Ini rencanamu, kan? Kau bilang kau punya kendali!" Nathan menepis tangan adiknya dengan kasar. "Jaga bicaramu. Ayah melakukan ini di luar kesepakatanku. Dia menggunakan celah dalam dokumen akuisisi yang belum sempat kututup." Alana mundur hingga punggungnya menyentuh jendela kaca. "Jadi... aku tetap hanya sebuah aset? Setelah semua yang kita lalui, aku tetap harus pergi?" Kenzie berbalik, mendekati Alana dan memegang bahunya. "Tidak. Tidak akan ada yang membawamu, Al. Aku bersumpah." "Dan bagaimana kau akan menghentikannya, Kenzie?" Nathan menyela, suaranya seperti silet. "Sterling datang dengan protokol diplomatik. Ayah memberikan 'status perlindungan' padanya. Jika kau menembaknya di sini, kau akan membusuk di penjara seumur hidup." "Lebih baik aku di penjara daripada membiarkan dia menyentuh Alana!" teriak Kenzie. "Bodoh," desis Nathan. Ia berjalan menuju laci meja rias Alana, mengambil sebuah alat komunikasi kecil. "Kita tidak akan menembaknya. Kita akan menghancurkan nilai tawarnya." Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sopan namun tegas. "Tuan Nathan, Tuan Kenzie, Nona Alana. Tuan Besar meminta Anda bertiga turun ke aula sekarang. Lord Sterling ingin menyapa tunangannya." Suara pelayan itu terdengar seperti lonceng kematian. Alana menatap kedua pria di depannya. "Aku tidak mau turun." "Kau harus turun, Alana," Nathan mendekat, suaranya melembut namun tetap tegas. "Jika kau tidak muncul, Ayah akan curiga dan mempercepat keberangkatanmu malam ini juga. Ikuti permainanku." "Permainan apa lagi, Kak?" Alana bertanya dengan nada putus asa. "Percayalah padaku. Satu kali ini saja," Nathan mengulurkan tangannya. Kenzie mendengus, namun ia juga mengulurkan tangannya yang lain pada Alana. "Aku ada di sampingmu, Al. Jika dia macam-macam, aku akan mematahkan lehernya di depan kamera." Aula besar itu kini dipenuhi aroma cerutu dan parfum mahal yang menyesakkan. Saat mereka bertiga menuruni tangga, ratusan mata tertuju pada mereka. Tuan Arkananta berdiri di samping Lord Sterling yang tampak sangat puas. "Ah, ini dia. Mawar kesayangan kita," Tuan Arkananta merentangkan tangannya. "Lord Sterling, kurasa kau tidak perlu perkenalan lagi dengan Alana." Sterling melangkah maju, mengambil tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan bibir yang terasa dingin. "Kau tampak jauh lebih cantik di bawah lampu Jakarta, Alana. London terasa sangat sepi tanpamu." Alana merasakan mual yang hebat, namun ia tetap diam sesuai instruksi Nathan. "Lord Sterling," Nathan menyela dengan nada datar. "Saya terkejut Anda berani datang ke sini setelah kejadian di mansion itu." Sterling terkekeh. "Bisnis adalah bisnis, Nathan. Ayahmu menawarkan kesepakatan yang tidak bisa kutolak. Gabungan aset Wijaya dan Arkananta di Eropa adalah tawaran yang sangat manis." "Dan apa harganya?" Kenzie bertanya dengan nada menantang. "Kedamaian," jawab Tuan Arkananta sambil menepuk bahu Sterling. "Sterling akan mencabut semua laporan investigasi terhadap kalian berdua di London, dan sebagai imbalannya, Alana akan menjadi istrinya dan menetap di sana." "Kesepakatan yang adil, bukan?" Sterling menatap Alana dengan tatapan lapar. "Kita akan berangkat dengan jet pribadiku pukul tiga pagi nanti." Alana melirik Nathan. Nathan hanya berdiri diam, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Kenzie di sampingnya sudah mengepalkan tinju hingga bergetar. "Tunggu dulu," Nathan angkat bicara. Ia berjalan mendekati Tuan Arkananta dan Sterling. "Ada satu hal yang Lord Sterling tidak tahu tentang calon istrinya." Tuan Arkananta mengernyit. "Nathan, jangan mulai." "Bukan hal buruk, Ayah. Hanya sebuah detail kecil tentang warisan Wijaya yang asli," Nathan mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya. "Sterling, kau menginginkan Alana karena kau pikir dia memegang kunci brankas nomor lima di Swiss, kan?" Sterling terdiam, matanya menyipit. "Apa maksudmu?" "Kuncinya bukan pada tanda tangan Alana," Nathan tersenyum gelap. "Kuncinya ada pada sesuatu yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari salah satu putra Arkananta. Ayah sengaja tidak memberitahumu karena dia ingin tetap memegang kendali atas uangmu bahkan setelah kau membawa Alana." Suasana di aula itu mendadak mendingin. Tuan Arkananta menatap Nathan dengan amarah yang tertahan. "Nathan, apa yang kau bicarakan?" "Aku bicara tentang kejujuran, Ayah," Nathan berbalik menatap Sterling. "Jika kau membawa Alana sekarang, kau hanya mendapatkan seorang wanita cantik tanpa sepeser pun uang Wijaya. Tapi jika kau bekerja sama denganku... aku bisa memberikan kuncinya." Sterling menatap Alana, lalu menatap Nathan. "Dan apa yang kau inginkan sebagai imbalannya?" Nathan melingkarkan lengannya di bahu Alana, menariknya mendekat hingga tubuh mereka menempel. "Biarkan dia tetap di sini. Dan sebagai gantinya, aku akan memberikan akses penuh ke seluruh jaringan Arkananta di Asia Timur." Tuan Arkananta tertawa sinis. "Kau tidak punya hak untuk memberikan itu, Nathan!" "Aku punya, Ayah. Karena sejak dua jam yang lalu, dewan komisaris sudah menandatangani pengalihan kekuasaan kepadaku setelah aku menunjukkan bukti bahwa kau mencoba menggelapkan dana perusahaan untuk membayar hutang pribadimu pada Sterling." Seluruh ruangan menjadi senyap. Tuan Arkananta memucat. "Kau... kau menjebakku?" "Aku hanya melakukan apa yang kau ajarkan, Ayah. Menyingkirkan siapa pun yang menjadi penghalang," Nathan menatap Sterling kembali. "Jadi, bagaimana, Lord? Wanita tanpa uang, atau kekuasaan di Asia tanpa wanita?" Sterling tampak bimbang. Ia menatap Alana dengan penuh nafsu, namun ambisinya jauh lebih besar. Alana merasa jantungnya berdebar kencang. Ia menatap Nathan dengan perasaan campur aduk. Apakah Nathan benar-benar menyelamatkannya, ataukah ia baru saja melakukan transaksi barter lainnya? Kenzie melangkah maju, berdiri di sisi Alana yang lain. "Apapun pilihannya, dia tidak akan pergi bersamamu, Sterling." Sterling menarik napas panjang, ia menatap Tuan Arkananta yang kini tampak tak berdaya, lalu menatap Nathan. "Kesepakatan yang menarik, Nathan. Tapi aku punya satu syarat lagi." Nathan menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu?" Sterling menunjuk ke arah Alana, namun kali ini dengan senyum yang jauh lebih mengerikan. "Aku akan melepaskan hak asuh atas Alana. Tapi aku ingin dia sendiri yang memilih. Jika dia memilih ikut denganku, kau harus memberikan akses Asia itu tanpa syarat. Tapi jika dia memilih tetap di sini..." Sterling menggantung kalimatnya sejenak, membuat semua orang menahan napas. "Dia harus mengakui di depan semua orang ini, siapa di antara kalian berdua yang sebenarnya sudah menyentuhnya malam itu di vila."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD