Lampu flash kamera menyambar-nyambar bagaikan kilat di tengah fajar Jakarta yang lembap. Udara panas ibu kota segera menyergap saat pintu pesawat terbuka, namun suasana di dalam kabin terasa jauh lebih menyesakkan. Alana berdiri di ambang pintu, menatap dua telapak tangan yang terulur di hadapannya.
Nathan dengan jemari panjangnya yang tenang, dan Kenzie dengan genggaman yang sedikit tidak sabar namun penuh kehangatan.
Alana tahu, setiap gerakannya saat ini akan menjadi santapan media. Tuan Arkananta telah menyulap kepulangan mereka menjadi sebuah sirkus megah. Pengumuman tentang "putri yang hilang" ini adalah strategi branding sekaligus cara untuk mengunci aset Wijaya. Namun bagi Alana, ini adalah awal dari kehidupan di bawah mikroskop.
"Alana, mereka menunggu," bisik Nathan, suaranya tenang namun ada nada perintah yang halus.
Alana menarik napas panjang. Ia tidak memilih salah satu. Dengan gerakan yang anggun, ia justru melingkarkan kedua lengannya pada lengan Nathan dan Kenzie secara bersamaan. Ia berdiri di tengah, diapit oleh dua pria yang kini secara resmi adalah saudara laki-lakinya.
"Aku akan memegang kalian berdua," bisik Alana. "Bukankah itu yang Ayah inginkan? Kesatuan Arkananta?"
Kenzie terkekeh rendah, matanya berkilat bangga. Sementara Nathan hanya memberikan senyum tipis yang penuh teka-teki. Mereka mulai melangkah turun dari tangga pesawat.
"Nona Alana! Bagaimana perasaan Anda kembali ke pelukan keluarga Arkananta?" "Tuan Nathan, apakah benar Nona Alana adalah tunangan Anda ataukah adik Anda?" "Tuan Kenzie, benarkah Anda yang menyelamatkan Nona Alana dari London?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani mereka seperti peluru. Nathan dengan sigap menarik Alana lebih dekat ke tubuhnya, melindungi gadis itu dari desakan wartawan yang terlalu dekat. Tangannya melingkar di pinggang Alana dengan protektif, memberikan rasa aman yang mendominasi.
"Adik saya butuh istirahat," ujar Nathan dengan nada dingin yang langsung membungkam beberapa wartawan di barisan depan. "Semua pernyataan resmi akan diberikan oleh Ayah saya."
Di ujung landasan, Tuan Arkananta menyambut mereka dengan pelukan teatrikal. Ia memeluk Alana dengan erat, seolah-olah ia adalah ayah paling penyayang di dunia. Namun di balik pelukan itu, ia berbisik di telinga Alana.
"Mainkan peranmu dengan baik, Alana. Atau dokumen DNA itu akan menjadi tajuk utama berita sore ini."
Malam itu, kediaman utama Arkananta di kawasan elit Menteng diubah menjadi istana cahaya. Pesta penyambutan Alana dihadiri oleh kalangan atas Jakarta—para pengusaha, politisi, hingga selebriti. Alana mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang menjuntai indah, karya desainer ternama yang dipesan khusus oleh Nathan.
Kalung mawar biru pemberian Nathan melingkar di lehernya, berkilau di bawah lampu kristal aula besar. Namun, meski dikelilingi kemewahan, Alana merasa seperti pajangan yang mahal.
"Kau tampak luar biasa, Al," sebuah suara menyentak lamunannya.
Kenzie berdiri di sana, mengenakan setelan tuksedo yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dan tampan. Ia membawa dua gelas minuman non-alkohol dan menyerahkan satu pada Alana.
"Pesta ini membosankan, bukan?" Kenzie mendekat, berdiri cukup dekat hingga bahu mereka bersentuhan. "Ayo kabur ke balkon sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Kenzie menuntun Alana menuju balkon lantai dua yang menghadap ke taman labirin keluarga. Di sana, suasana jauh lebih tenang. Harum bunga sedap malam memenuhi udara.
"Ini," Kenzie mengeluarkan sebuah gelang rantai perak kecil dengan liontin berbentuk bintang. "Ini bukan berlian mahal seperti milik Nathan. Tapi ini aku buat sendiri di bengkelku saat aku masih remaja. Aku selalu menyimpannya, berharap suatu hari bisa memberikannya padamu saat kita benar-benar bebas."
Kenzie memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Alana. Gerakannya sangat lembut, hampir seperti memuja. "Aku tidak peduli apa kata Ayah atau Nathan. Bagiku, kau adalah Alana yang sama yang sering aku ajak sembunyi di taman ini. Aku akan selalu menjadi tempatmu berlari, Al."
Alana merasakan matanya memanas. Di tengah semua kepalsuan ini, kejujuran Kenzie terasa seperti oase. "Terima kasih, Ken. Ini... ini jauh lebih berarti bagiku."
Kenzie baru saja hendak menyentuh pipi Alana saat suara langkah kaki yang mantap terdengar dari arah pintu balkon. Nathan berdiri di sana, memegang segelas wine dengan wajah yang tidak terbaca.
"Sepertinya aku mengganggu momen romantis kalian," ucap Nathan dingin.
"Kau selalu mengganggu, Nathan," balas Kenzie, ia tidak mundur sedikit pun dari sisi Alana.
Nathan berjalan mendekat, auranya yang kuat seolah menelan ketenangan di balkon itu. Ia menatap gelang perak di tangan Alana dengan pandangan meremehkan, lalu beralih menatap mata Alana.
"Ayah memanggilmu ke ruang kerja, Kenzie. Ada beberapa investor yang ingin bicara soal tim balapmu yang bermasalah itu," ujar Nathan.
Kenzie mengumpat pelan. Ia tahu Nathan sedang mencoba menyingkirkannya. "Jangan berpikir aku akan membiarkannya sendirian dengannya selamanya, Nathan."
Setelah Kenzie pergi dengan enggan, Nathan melangkah masuk ke ruang pribadi Alana yang berada di dekat balkon. Ia menutup pintu kaca, mengunci mereka berdua dalam kesunyian yang intim.
Nathan mendekati Alana, ia tidak bicara, hanya menatap leher Alana tempat kalung pemberiannya melingkar. Ia mengulurkan tangan, jemarinya membelai liontin mawar biru itu sebelum merambat naik ke dagu Alana.
"Kenzie memberikanmu bintang," gumam Nathan, suaranya rendah dan serak. "Tapi dia lupa kalau bintang hanya muncul saat malam. Aku adalah matahari yang akan menjagamu sepanjang hari, Alana. Jangan biarkan perhatian kecilnya membuatmu lupa siapa yang sebenarnya memegang kendali atas keselamatanmu."
Nathan menarik Alana perlahan, hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Ia bisa merasakan detak jantung Alana yang tidak beraturan. Nathan menundukkan kepalanya, menyapukan hidungnya ke leher Alana, menghirup aroma parfum melati yang lembut.
"Kak, hentikan... kita di rumah Ayah," bisik Alana, namun tangannya justru mencengkeram lengan baju Nathan.
"Rumah ini milikku, Alana. Ayah hanyalah pemegang kunci sementara," Nathan membalalikkan tubuh Alana hingga punggung gadis itu membentur pintu kaca. Ia mengunci Alana dengan kedua tangannya. "Aku melihat caramu menatapnya tadi. Jangan lakukan itu lagi. Jangan beri dia harapan yang tidak bisa ia penuhi."
"Kenapa kau begitu posesif, Nathan? Kita bersaudara!"
Nathan tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat getir. "Saudara? Kata itu tidak ada dalam kamusku sejak aku melihatmu pertama kali di panti asuhan sepuluh tahun lalu. Darah hanyalah cairan, Alana. Tapi apa yang aku rasakan padamu... itu adalah takdir yang sudah digariskan."
Nathan semakin mendekatkan wajahnya, bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Alana. Alana bisa merasakan gairah dan obsesi yang meluap dari pria itu. Nathan seolah-olah ingin menelan seluruh eksistensi Alana ke dalam dirinya.
Tepat saat ketegangan itu mencapai puncaknya, terdengar suara ketukan keras dari pintu kamar Alana yang menghubungkan ke lorong utama.
"Alana? Buka pintunya. Aku tahu Nathan ada di dalam!" suara Kenzie terdengar penuh emosi dari balik pintu kayu.
Nathan tidak beranjak. Ia tetap menatap mata Alana, sebuah tantangan tersirat di sana. Ia ingin melihat siapa yang akan dipilih Alana untuk membuka pintu itu.
"Jika kau membukanya, kau memilih kedamaian yang semu bersama Kenzie," bisik Nathan tepat di depan bibir Alana. "Tapi jika kau tetap diam di sini bersamaku... kau memilih untuk menghadapi dunia ini sebagai ratu di sampingku."
Alana menatap pintu yang digedor Kenzie, lalu menatap mata Nathan yang gelap dan penuh gairah terlarang. Ia terjebak di antara dua kutub yang sama-sama kuat.
"Alana! Buka! Aku tahu apa yang dia lakukan padamu!" teriak Kenzie lagi, suaranya mulai terdengar putus asa.
Alana mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh d**a Nathan, merasakan detak jantung pria itu yang sama kencangnya dengan detaknya sendiri. Ia baru saja hendak bicara saat ponsel Nathan di saku jasnya bergetar.
Nathan menghela napas frustrasi dan mengambil ponselnya. Wajahnya mendadak berubah menjadi sangat tegang saat membaca pesan yang masuk.
"Ada apa?" tanya Alana waspada.
Nathan menatap Alana dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang mencampurkan rasa cinta dan ketakutan yang luar biasa.
"Ayah... dia baru saja mengumumkan pertunanganmu secara resmi di depan para wartawan di bawah."
Alana bernapas lega sejenak. "Denganmu? Bukankah itu rencana awalnya?"
Nathan menggelengkan kepalanya perlahan, tangannya yang memegang ponsel gemetar untuk pertama kalinya.
"Bukan denganku, Alana. Dan bukan dengan Kenzie."
Alana mengernyit bingung. "Lalu dengan siapa?"
Nathan menatap pintu kamar yang masih digedor Kenzie, lalu kembali pada Alana dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Dengan Lord Sterling. Dia baru saja tiba di Jakarta."