Keheningan yang mengikuti ancaman Alana terasa lebih menyesakkan daripada teriakan mana pun. Di bawah cahaya rembulan yang dingin, Nathan dan Kenzie berdiri mematung, menatap sosok gadis yang selama ini mereka anggap sebagai mawar rapuh. Kata-kata Alana tentang membunuh Nathan dalam tidurnya bukan sekadar gertakan; ada kilat keputusasaan yang begitu pekat di matanya, membuat kedua pria itu menyadari bahwa mereka telah mendorongnya terlalu jauh.
Nathan adalah yang pertama bergerak. Ia tidak mundur, namun ia menurunkan tangannya. Ketegangan di rahangnya sedikit mengendur, digantikan oleh tatapan yang lebih mirip dengan rasa sakit yang disembunyikan.
"Begitu besar kebencianmu padaku, Alana? Setelah semua yang aku berikan di vila ini?" suara Nathan bergetar halus, kehilangan wibawa dinginnya sejenak.
"Kedamaian yang kau berikan adalah racun, Kak! Kau memberiku makan, tapi kau juga yang membiusku. Kau menciumku, tapi kau juga yang mengunci gerbangnya!" teriak Alana, suaranya pecah di tengah aula yang sunyi.
Kenzie, yang sejak tadi berdiri kaku dengan pemantik yang sudah padam, melangkah mendekat. Ia tidak lagi mencoba menarik Alana dengan paksa. Wajahnya yang kotor oleh sisa abu tampak sangat menyedihkan di bawah cahaya bulan.
"Al, jika kau benci dia, ikutlah denganku. Aku tidak akan pernah membiusmu. Aku akan membawamu pergi sekarang juga, kita tinggalkan semua kegilaan Nathan ini," rayu Kenzie, suaranya terdengar parau dan penuh harapan.
Alana menoleh pada Kenzie, matanya berkilat penuh amarah yang sama besarnya. "Dan kau, Kenzie? Kau pikir kau lebih baik? Kau membakar apartemen, kau datang ke sini seperti orang gila, dan kau mengancam akan membakar tempat ini saat aku masih ada di dalamnya! Kau tidak mencintaiku, kau hanya ingin menang dari Kakakmu!"
Kenzie terdiam. Kata-kata itu menghantamnya tepat di ulu hati. Obsesinya memang sering kali bercampur dengan persaingannya terhadap Nathan, namun melihat Alana gemetar karena ulahnya sendiri membuatnya merasa seperti monster yang sesungguhnya.
Nathan perlahan berjalan mendekati Alana. Kali ini, ia tidak mencoba menyentuhnya. Ia berdiri dalam jarak yang cukup aman, namun matanya tetap mengunci pandangan Alana.
"Baiklah. Kita akhiri kekerasan ini malam ini," ucap Nathan sambil merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan perangkat kendali gerbang dan menekannya.
Suara gerbang besi yang terbuka di kejauhan terdengar seperti musik kebebasan bagi Alana. Namun, Nathan belum selesai. Ia melempar perangkat itu ke atas meja marmer dengan suara dentuman kecil.
"Gerbang terbuka. Kau bisa pergi, Alana. Kau bisa ikut dengan Kenzie, atau kau bisa lari sendirian ke tengah hutan di tengah malam. Tapi sebelum kau pergi, dengarkan aku," Nathan melangkah satu tindak lagi. "Ayah sudah berencana menjualmu pada rekan bisnisnya di luar negeri bulan depan. Pertunanganmu dengan Kenzie hanya tameng sementara. Aku membawamu ke sini untuk menyembunyikanmu."
Alana ternganga. "Apa maksudmu?"
"Ayah tidak pernah menganggapmu anak, Alana. Jika kau tidak berada di bawah perlindunganku atau Kenzie, kau akan dikirim ke London minggu depan untuk melayani kolega Ayah yang sudah tua itu. Kau tahu sendiri apa artinya 'magang' di sana," Nathan menjelaskan dengan nada datar yang mengerikan.
Kenzie mengepalkan tinjunya. "Kenapa kau tidak bilang soal ini, Kak?"
"Karena kau terlalu sibuk balapan dan mabuk-mabukan, Kenzie!" Nathan membentak adiknya untuk pertama kali.
Alana merasa dunianya runtuh. Ternyata pelariannya bukan sekadar penculikan obsesif, melainkan upaya Nathan menyembunyikannya dari rencana busuk Ayah angkat mereka. Namun tetap saja, cara Nathan yang manipulatif membuatnya merasa tidak punya harga diri.
"Aku tidak akan pergi dengan siapa pun malam ini," ucap Alana dengan suara tegas. "Aku akan tinggal di sini. Tapi bukan sebagai tawanan. Kalian berdua juga akan tinggal di sini. Aku ingin tahu siapa di antara kalian yang benar-benar mencintaiku, dan siapa yang hanya ingin menjadikanku piala."
Kenzie berdiri, matanya berbinar penuh tantangan. "Aku setuju. Aku tidak akan pergi sampai kau memilihku, Al."
Nathan merapikan kerah kemejanya, senyum tipisnya kembali muncul. "Jika itu maumu, Little Rose. Mari kita lihat, siapa yang akan kau izinkan masuk ke kamarmu nanti."
Alana berbalik, menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana, napasnya tersengal. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan. Ketukan berirama milik Nathan.
"Alana, aku membawakanmu s**u hangat. Kau butuh sesuatu untuk menenangkan diri," suara Nathan terdengar begitu manis.
Namun tak lama, terdengar suara langkah kaki lain yang lebih berat mendekat.
"Singkirkan susumu, Kak. Dia butuh teman bicara, bukan minuman penenangmu," suara Kenzie terdengar sinis.
Alana mendekati pintu, namun ia tidak membukanya. Ia hanya berbisik dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh keduanya.
"Kak Nathan... siapa yang mengizinkan Kakak mengganti bajuku malam itu? Siapa yang mengizinkan Kakak menyentuh tubuhku saat aku pingsan?"
Suasana di luar pintu mendadak senyap. Alana tahu pertanyaannya barusan telah memicu rasa cemburu yang luar biasa di hati Kenzie, sekaligus memaksa Nathan untuk mengakui tindakan intimnya.
"Aku yang melakukannya, Alana. Dan aku melakukannya karena aku punya hak untuk melihat setiap inci milikmu," jawab Nathan dengan suara yang rendah dan penuh godaan.
Kenzie menendang pintu itu dengan pelan namun penuh penekanan. "Buka pintunya, Al. Biarkan aku membuktikan bahwa sentuhanku jauh lebih nyata daripada cara liciknya saat kau tidak sadar."