Keheningan yang mencekam menyelimuti aula vila setelah dentuman gerbang besi yang menutup otomatis itu bergema. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela-jendela tinggi menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji imajiner bagi Alana. Ia merasa sesak. Di satu sisi, tangan Kenzie yang kasar namun hangat mencengkeram pergelangan tangannya, sementara di sisi lain, Nathan berdiri dengan keanggunan seorang penguasa yang baru saja mengunci mangsanya dalam labirin.
"Lepaskan dia, Kenzie. Kau hanya menyakiti tangannya," suara Nathan terdengar begitu tenang, namun ada nada otoritas yang tidak bisa dibantah.
Kenzie tidak melepaskannya. Ia justru semakin merapatkan tubuh Alana ke dadanya, membuat Alana bisa merasakan detak jantung adiknya yang berdebar liar dan tidak beraturan. "Menyakiti? Kau yang menyakitinya dengan kebohongan-kebohongan manismu, Kak! Kau mengurungnya di sini, memberinya ilusi tentang kedamaian, sementara kau sendiri sedang merencanakan cara untuk menyingkirkanku selamanya!"
Alana mendongak, menatap rahang Kenzie yang mengeras. Ada jejak darah di sudut bibirnya, dan aroma jelaga dari apartemen yang terbakar masih menempel di jaketnya. Kenzie tampak hancur, namun matanya memancarkan api obsesi yang sama besarnya dengan Nathan.
"Aku tidak mengurungnya, Kenzie. Aku memberinya pilihan yang tidak pernah kau berikan," sahut Nathan sambil melangkah maju. Ia berhenti tepat di depan mereka, hanya menyisakan jarak beberapa inci. Nathan mengulurkan tangannya, bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengelus pipi Alana yang pucat. "Katakan padanya, Alana. Katakan bahwa kau merasa aman di sini. Katakan bahwa kau lebih suka bangun dengan aroma teh di sini daripada bangun dengan rasa takut akan amarahnya di rumah Ayah."
Alana terdiam, bibirnya bergetar. Ia merasa seperti ditarik oleh dua arus yang sama kuatnya. Nathan adalah pelabuhan yang tenang namun penuh jebakan, sementara Kenzie adalah badai yang jujur namun menghancurkan.
"Kak... Kenzie... hentikan ini," bisik Alana. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kalian berdua memperlakukanku seperti barang. Aku punya perasaan. Aku punya rasa takut!"
"Itulah sebabnya aku di sini, Al!" Kenzie memutar tubuh Alana agar menghadapnya sepenuhnya, mengabaikan Nathan sejenak. Ia mencengkeram kedua bahu Alana, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Alana dengan intensitas yang hampir gila. "Aku tahu aku sering bersikap kasar. Aku tahu aku memaksamu memakai choker itu. Tapi itu karena aku takut, Alana! Aku takut pria suci ini akan mengambilmu dariku dengan cara-cara halusnya yang menjijikkan. Aku lebih baik melihatmu membenciku daripada melihatmu mencintai dia karena sebuah kebohongan!"
Sentuhan Kenzie yang kuat pada bahunya terasa menyakitkan, namun kata-katanya mengandung kejujuran yang mentah. Kenzie mencintai Alana dengan cara yang destruktif, cara yang tidak sehat, namun ia tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain.
"Dan kau, Nathan," Kenzie menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan menghina. "Kau bilang kau melindunginya? Kau memberinya piyama itu, kau menyuapinya, kau menciumnya saat dia masih dalam pengaruh obatmu? Kau bukan penyelamat. Kau adalah monster yang memakai jas mahal."
Nathan tidak terpancing. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan. Ia berjalan memutar, seperti predator yang sedang mengelilingi mangsanya. "Cinta tidak harus selalu kasar seperti caramu, Kenzie. Jika Alana merasa lebih nyaman denganku, apakah itu sebuah kesalahan? Dunia ini keras, dan aku hanya ingin menjadi dinding yang melindunginya."
Nathan berhenti di belakang Alana, lalu melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, menariknya sedikit dari cengkeraman Kenzie. Kenzie yang sudah kelelahan secara fisik dan mental tidak sanggup menahan tarikan itu. Alana kini terjepit kembali di antara mereka berdua.
"Lihat dia, Kenzie. Dia tidak melawan saat aku menyentuhnya. Dia tidak merasa terancam saat aku menciumnya," bisik Nathan tepat di telinga Alana, namun suaranya cukup keras untuk didengar Kenzie. "Karena jauh di dalam hatinya, Alana tahu siapa yang bisa memberinya kebahagiaan sejati."
Kenzie menggeram, ia mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Kau b******n sosiopat!"
"Cukup!" Alana berteriak, kekuatannya kembali muncul dari rasa muak yang mendalam. Ia mendorong d**a Nathan dan melepaskan diri dari Kenzie. Ia berdiri di antara mereka, dadanya kembang kempis karena emosi yang meluap. "Kalian berdua sama saja! Kalian berdua hanya memikirkan kepuasan kalian sendiri! Kenzie, kau membakar apartemen hanya untuk menunjukkan kau bisa berbuat gila? Dan Kak Nathan... kau menggunakan obat untuk membawaku ke sini?"
Alana menatap Nathan dengan pandangan kecewa yang mendalam. "Aku pikir Kakak berbeda. Aku pikir kedamaian kemarin itu nyata."
"Itu nyata, Alana. Perasaanku padamu nyata," sahut Nathan, suaranya sedikit mendesak untuk pertama kali.
"Tidak ada yang nyata jika dasarnya adalah manipulasi," balas Alana pedas. Ia kemudian menoleh ke arah Kenzie. "Dan kau, Kenzie. Kau tidak bisa menyelamatkanku dengan cara menghancurkan segala sesuatu di sekitarmu. Kau hanya membuatku semakin takut padamu."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Kedua pria Arkananta itu terdiam, terpukul oleh kata-kata Alana yang tajam. Namun, dalam genre dark romance seperti hidup mereka, kesadaran bukanlah akhir dari segalanya. Obsesi tidak bisa mati hanya dengan satu kalimat penolakan.
Nathan melangkah mendekati Alana lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih gelap. "Lalu apa maumu, Alana? Kau ingin pergi? Keluar dari gerbang itu dan kembali ke dunia di mana kau tidak punya siapa-siapa selain kami? Ayah akan segera mencarimu. Jika kau tidak bersama salah satu dari kami, kau akan menjadi pion bisnisnya lagi."
"Setidaknya aku punya pilihanku sendiri," sahut Alana menantang.
Kenzie tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat pahit. "Pilihan? Di keluarga Arkananta tidak ada pilihan, Alana. Hanya ada kemenangan atau kekalahan. Dan aku tidak akan membiarkan Nathan menang."
Kenzie maju dan kembali menarik tangan Alana. Kali ini gerakannya lebih nekat. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api. "Nathan, kau bilang kau sangat mencintai tempat ini karena ini milik ibumu, kan? Buka gerbangnya sekarang, atau aku akan memastikan vila ini menyusul apartemenmu menjadi abu."
Mata Nathan membelalak. "Kau tidak akan berani, Kenzie."
"Coba saja aku," tantang Kenzie. Ia menyalakan pemantik itu, apinya menari-nari di tengah kegelapan aula, memantul di mata Kenzie yang sudah kehilangan akal sehatnya. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang. Ayah mungkin akan membuangku, kau mungkin akan menjebloskanku ke penjara, tapi aku tidak akan membiarkanmu memiliki Alana dalam kedamaian yang kau curi ini."
Alana menatap api itu dengan ngeri. Ia tahu Kenzie tidak bercanda. Kenzie adalah tipe orang yang akan membakar seluruh dunia hanya agar ia tidak kedinginan sendirian.
"Kenzie, jangan! Kau gila!" teriak Alana.
"Ya, aku gila! Aku gila karena mencintaimu di rumah yang isinya orang-orang berdarah dingin seperti mereka!" Kenzie berteriak balik.
Nathan berdiri mematung, menimbang-nimbang langkahnya. Ia tahu jika ia menekan tombol keamanan lagi untuk memanggil penjaga, Kenzie mungkin benar-benar akan melempar pemantik itu ke tirai beludru yang sangat mudah terbakar. Namun, membiarkan Kenzie membawa Alana pergi adalah kekalahan yang tidak bisa ia terima.
Nathan perlahan berjalan mendekati Kenzie, tangannya terangkat menunjukkan tanda menyerah yang palsu. "Baiklah, Kenzie. Tenanglah. Mari kita bicara seperti pria."
"Aku sudah bosan bicara!" Kenzie menarik Alana menuju pintu keluar, meskipun gerbang besi di depan sana masih terkunci.
Di tengah ketegangan yang nyaris meledak itu, Alana merasa tubuhnya lemas. Kelelahan mental dan fisik selama beberapa hari terakhir akhirnya mencapai puncaknya. Ia merasa dunianya berputar. Namun, sebelum ia jatuh, ia merasakan sebuah kekuatan aneh muncul di dalam dirinya. Rasa benci dan cinta yang bercampur menjadi satu terhadap kedua pria ini membuatnya melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Alana merebut pemantik api dari tangan Kenzie dengan gerakan cepat yang tak terduga. Ia berdiri di tengah-tengah mereka, memegang api kecil itu di dekat gaun sutranya sendiri.
"Kalau kalian tidak berhenti memperebutkanku seperti barang dagangan, aku yang akan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa memilikiku malam ini," ancam Alana dengan suara yang sangat stabil namun penuh dengan keputusasaan.
Nathan dan Kenzie membeku di tempat. Mereka menatap Alana dengan ketakutan yang murni. Untuk pertama kalinya, mereka melihat mawar yang mereka puja bukan lagi sebagai bunga yang rapuh, melainkan sebagai duri yang siap melukai dirinya sendiri demi sebuah kebebasan.
"Alana, turunkan itu. Jangan lakukan hal bodoh," bisik Nathan, wajahnya kini benar-benar pucat.
Kenzie melepaskan tangan Alana, ia mundur satu langkah dengan tangan gemetar. "Al... maafkan aku. Jangan sakiti dirimu sendiri."
Alana menatap mereka berdua silih berganti. Cahaya api pemantik itu menerangi wajahnya yang penuh dengan air mata namun juga tekad. Ia merasa ini adalah satu-satunya cara agar mereka mengerti bahwa ia bukan lagi anak kecil yang bisa mereka mainkan.
"Aku muak dengan kalian berdua. Aku benci bagaimana kalian mencintaiku," desis Alana.
Nathan menarik napas panjang, ia mencoba mendekat dengan sangat pelan, menggunakan nada suara yang paling persuasif yang ia miliki. "Alana, beri aku satu alasan kenapa aku tidak boleh mengunci pintu ini selamanya dan memastikan kau tidak pernah melihat Kenzie lagi?"
Alana menatap Nathan tajam, lalu ia mematikan api pemantik itu, menyisakan kegelapan total di aula kecuali cahaya bulan yang pucat. Dalam kegelapan itu, suaranya terdengar sangat dingin dan menusuk.
"Karena jika kau melakukannya, Kak... aku akan memastikan bahwa orang pertama yang aku bunuh dalam tidurku adalah kau, bukan diriku sendiri."