Bab 11: Titik Didih

1176 Words
Udara di aula vila Arkananta mendadak terasa tipis, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh ketegangan yang memuncak. Alana berdiri di tengah, menjadi poros dari dua kutub energi yang saling bertabrakan. Di sisi kiri, Kenzie berdiri dengan napas yang memburu, debu dan jelaga yang menempel di jaket kulitnya menjadi bukti nyata dari kegilaan yang ia lakukan demi mencapai tempat ini. Di sisi kanan, Nathan berdiri tegak, tak tergoyahkan, dengan tangan yang masih terulur lembut namun penuh tuntutan. "Alana, jangan dengarkan dia. Lihat matanya, dia sedang menghancurkan dirinya sendiri. Apa kau ingin terseret dalam kehancuran itu?" suara Nathan mengalun rendah, masuk ke dalam rungu Alana seperti melodi yang menidurkan logika. "Jangan berbohong padanya, Nathan!" teriak Kenzie, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan. Ia melangkah maju satu tindak, mengabaikan tatapan tajam Nathan. "Alana, aku membakar apartemen itu karena aku tidak bisa menemukanmu. Aku merasa kehilangan kewarasanku saat menyadari kau dibawa pergi dalam keadaan tidak sadar. Aku tahu aku kasar, aku tahu aku b******k, tapi aku tidak pernah membiusmu untuk mendapatkan cintamu!" Alana menatap Kenzie. Ada kejujuran yang mentah di mata adiknya itu. Kenzie memang liar, namun ia transparan. Ia meledak-ledak seperti badai, tapi setidaknya Alana tahu kapan badai itu akan datang. Berbeda dengan Nathan yang seperti laut tenang namun memiliki palung yang tak terduga dalamnya. "Kak Nathan... benarkah Kakak membiusku hanya agar aku tidak bisa memilih Kenzie di pesta itu?" tanya Alana dengan suara yang nyaris hilang. Nathan menarik tangannya kembali, melipatnya di depan d**a dengan tenang. Ia tidak menyangkal, namun ia juga tidak membenarkan dengan cara yang eksplisit. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk melindungimu dari pilihan yang salah, Alana. Jika aku membiarkanmu tetap di pesta itu, Ayah akan memaksamu menandatangani kontrak pertunangan permanen malam itu juga. Aku hanya memberimu waktu untuk bernapas." "Dengan cara menculiknya ke hutan ini?" Kenzie tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh kebencian. "Kau ingin memilikinya sendirian, Kak. Kau sosiopat yang ingin menyimpan mainan indahmu di dalam kotak kaca agar tidak ada yang bisa menyentuhnya." Kenzie kembali menatap Alana, kali ini dengan pandangan memohon yang jarang sekali ia tunjukkan. "Alana, ayo ikut aku. Mobilku ada di depan. Aku tidak akan membawamu ke rumah Ayah. Kita pergi ke mana pun kau mau. Jauh dari Arkananta, jauh dari Nathan." Alana merasakan jemarinya gemetar. Ajakan Kenzie terdengar seperti kebebasan, namun ia tahu Kenzie juga memiliki sisi gelap yang posesif. Jika ia ikut dengan Kenzie, ia mungkin hanya akan berpindah dari satu sangkar emas ke sangkar lainnya yang lebih berisik. "Alana, lihat aku," Nathan melangkah mendekat, memotong jarak antara dirinya dan Alana. Ia mengabaikan keberadaan Kenzie seolah saudaranya itu hanyalah debu. Nathan menyentuh pipi Alana dengan jemarinya yang hangat, sebuah sentuhan yang seketika mengirimkan gelombang kenyamanan sekaligus ketakutan ke seluruh tubuh Alana. "Di sini, kau punya kedamaian. Kau punya musik, kau punya buku, dan kau punya aku yang akan memenuhi segala kebutuhanmu tanpa kau perlu meminta. Apa kau benar-benar ingin kembali ke jalanan bersama pria yang bahkan tidak bisa mengendalikan amarahnya sendiri?" Nathan menundukkan kepalanya, membisikkan sesuatu tepat di telinga Alana yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Ingat semalam, Alana. Ingat bagaimana rasanya saat aku memujamu di bawah bintang. Kenzie hanya bisa memberimu api, tapi aku memberimu surga." Alana memejamkan mata. Ingatan tentang ciuman Nathan dan perlakuan manisnya sepanjang hari ini mulai mengaburkan kemarahannya. Ia merasa terjebak dalam kecanduan yang berbahaya. Nathan adalah candu yang manis, sementara Kenzie adalah kenyataan yang pahit. "Aku... aku tidak tahu," gumam Alana, air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Pilih, Alana! Jangan biarkan dia mencuci otakmu lagi!" Kenzie berteriak, ia tidak tahan melihat keintiman yang sedang ditunjukkan Nathan di depannya. Kenzie merangsek maju, mencoba menyambar lengan Alana untuk menariknya pergi. Namun, Nathan lebih cepat. Dengan gerakan yang terukur, ia menepis tangan Kenzie dan mendorong adiknya itu menjauh. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu, Kenzie." "Dia tunanganku!" Kenzie membalas dengan pukulan mentah yang mengarah ke rahang Nathan. Nathan menghindar dengan gesit, namun Kenzie tidak menyerah. Keduanya mulai terlibat dalam pergulatan fisik di aula vila yang mewah itu. Suara hantaman tubuh mereka pada dinding dan jatuhnya vas bunga antik menciptakan kekacauan yang mengerikan. Alana berteriak, mencoba melerai mereka, namun suaranya tenggelam dalam amarah dua saudara Arkananta tersebut. Kenzie berhasil menyudutkan Nathan di dekat tangga, ia mencengkeram kerah kemeja hitam Nathan dengan kasar. "Kau pikir kau selalu bisa menang karena kau anak emas Ayah? Kali ini tidak, Nathan. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!" Nathan justru tertawa kecil, meskipun bibirnya mulai mengeluarkan darah. "Kau pikir dia milikmu hanya karena selembar kertas pertunangan? Lihat dia, Kenzie. Lihat ketakutan di matanya. Itu karena kau, bukan karena aku." Kenzie menoleh ke arah Alana, dan sesaat ia melonggarkan cengkeramannya. Kesempatan itu digunakan Nathan untuk memutar posisi dan memberikan tendangan telak di perut Kenzie. Kenzie tersungkur, mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Nathan merapikan kemejanya yang berantakan dengan sangat tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan urusan bisnis kecil. Ia berjalan mendekati Alana yang sedang meringkuk ketakutan di dekat pilar. Nathan berlutut di depannya, mengabaikan Kenzie yang mencoba bangkit kembali. "Sudah kubilang, dia hanya membawa kekacauan," bisik Nathan sambil mengusap air mata Alana. "Mari kita masuk ke kamar, Sayang. Biarkan para penjaga mengurus Kenzie." "Tidak!" Alana berdiri dengan tiba-tiba. Ia menatap Nathan dengan pandangan yang lebih tajam. "Kakak tidak bisa terus mengurungku seperti ini! Dan Kenzie... kau tidak bisa terus memaksaku ikut denganmu seperti barang rampasan!" Alana berlari melewati mereka berdua, menuju ke arah pintu depan yang masih terbuka lebar. Ia ingin keluar, ia ingin menghirup udara malam yang tidak teracuni oleh obsesi mereka. Namun, sebelum ia mencapai teras, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya. Bukan Nathan. Itu Kenzie yang berhasil bangkit dengan sisa tenaganya. "Kau tidak akan ke mana-mana tanpa aku, Alana," desis Kenzie. Matanya berkilat liar, menunjukkan sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan di balik sikap rebelnya. "Jika aku harus menghancurkan vila ini untuk membawamu pulang, maka akan kulakukan." Nathan berdiri di belakang mereka, menatap punggung Kenzie dengan tatapan predator yang siap menerkam. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya—sebuah kendali untuk menutup seluruh gerbang dan sistem keamanan vila secara otomatis. Bzzzt. Suara gerbang besi di depan sana menutup dengan dentuman keras, mengunci mereka bertiga di dalam properti tersebut. Lampu-lampu taman mendadak mati, menyisakan cahaya rembulan yang pucat menyinari aula. "Sekarang tidak ada yang bisa pergi, dan tidak ada yang bisa masuk," ujar Nathan dengan suara yang sangat dingin namun tenang. Ia berjalan mendekati Alana dan Kenzie, langkah kakinya bergema di lantai marmer. "Kita selesaikan ini sekarang juga. Alana, kau harus memberikan jawaban yang tegas." Alana menatap Kenzie yang memegang tangannya dengan erat, lalu menatap Nathan yang berdiri di depannya dengan d******i yang mutlak. Ia merasa seperti domba di tengah dua serigala yang lapar. Kenzie menarik Alana lebih dekat ke dadanya, menantang Nathan dengan tatapan mata yang berapi-api. "Dia akan ikut denganku, atau tidak dengan siapapun." Nathan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang paling menakutkan yang pernah Alana lihat sepanjang hidupnya. Ia mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Lalu, bagaimana jika Alana sendiri yang memintamu untuk pergi dan membiarkan kami berdua menyelesaikan malam ini dengan cara yang lebih intim?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD