Bab 10: Pilihan di Ambang Badai

1108 Words
Alana merasakan jemari Nathan yang hangat meremas tangannya dengan lembut, namun pertanyaan pria itu justru membuat jantungnya berdegup dengan irama yang tidak beraturan. Kedamaian ini, surga kecil di tengah hutan pinus ini, terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Namun, pesan singkat yang tadi tak sengaja ia baca di layar ponsel Nathan terus terbayang di benaknya, membakar rasa tenang yang baru saja ia bangun. "Aku sangat mencintai kedamaian ini, Kak. Aku mencintai cara Kakak menjagaku," jawab Alana lirih, suaranya hampir tertelan oleh deru angin malam yang menyapu dinding vila. Nathan tersenyum, sebuah senyuman yang sangat memabukkan namun menyimpan kilatan posesif yang dalam. Ia menarik tangan Alana, mengecup buku-buku jarinya satu per satu dengan penuh pengabdian. "Maka jangan biarkan apa pun merusaknya, Alana. Bahkan jika kebisingan dari masa lalu mencoba mendobrak pintu kita, tetaplah di sini, di dalam pelukanku." Nathan bangkit dan menarik Alana ke dalam dekapannya. Ia memeluk gadis itu dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang menyembunyikan Alana dari dunia luar yang kejam. Alana bisa merasakan aroma kayu cendana yang kini bercampur dengan wangi maskulin yang lebih tajam dari tubuh Nathan. Ia merasa begitu kecil, begitu terlindungi, namun juga begitu terkunci. "Kak, tadi aku melihat pesan itu," bisik Alana di d**a Nathan. Ia tidak bisa menahannya lagi. Rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. "Apa benar Kenzie... dia sedang menuju ke sini?" Tubuh Nathan menegang sesaat. Alana bisa merasakan otot-otot lengan Nathan yang mengeras di balik kemeja hitamnya. Nathan melepaskan pelukan itu perlahan, lalu menangkup wajah Alana. Tatapannya tidak lagi manis, melainkan penuh dengan otoritas yang tenang namun mematikan. "Kenzie tidak pernah tahu kapan harus berhenti, Alana. Dia adalah api yang hanya tahu cara menghanguskan segala sesuatu yang ia sentuh. Dan aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu lagi, bahkan dengan ujung jarinya sekalipun," ucap Nathan dengan nada suara yang sangat dingin. "Tapi dia adikmu, Kak. Dan dia tunanganku," Alana mencoba mengingatkan, meskipun ia sendiri merasa muak dengan status pertunangan yang dipaksakan itu. Nathan tertawa kecil, sebuah tawa kering yang tidak mengandung humor. Ia menarik Alana menuju sofa besar di depan perapian, lalu mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Nathan membelai leher Alana yang kini sudah bersih dari tanda merah choker emas Kenzie, menggantinya dengan belaian jemarinya yang posesif. "Tunangan adalah status yang diberikan Ayah untuk menjinakkan anjing gila seperti dia, Alana. Tapi kau dan aku tahu, kau tidak pernah menjadi miliknya. Kau adalah mawar yang tumbuh di taman pribadiku sejak sepuluh tahun lalu. Aku yang menyirammu, aku yang menjagamu dari duri, dan aku yang berhak memetikmu," bisik Nathan tepat di depan bibir Alana. Ciuman Nathan kali ini terasa berbeda. Jika tadi pagi terasa manis dan penuh kasih, kali ini ciuman itu terasa menuntut dan penuh nafsu yang tertahan. Nathan seolah ingin menandai setiap inci tubuh Alana sebagai wilayah kekuasaannya sebelum badai yang bernama Kenzie benar-benar tiba. Alana merasa tenaganya tersedot habis, ia hanya bisa mencengkeram bahu Nathan sementara pria itu terus mengeksplorasi rasa di dalam mulutnya. Di tengah keintiman yang menyesakkan itu, suara deru mesin mobil yang sangat kencang terdengar mendekat ke gerbang vila. Suara rem yang berdecit tajam memecah kesunyian malam pegunungan. Alana tersentak, mencoba melepaskan diri dari ciuman Nathan, namun Nathan justru menahan tengkuknya dengan lebih kuat. "Jangan bergerak, Alana. Tetaplah fokus padaku," perintah Nathan dengan suara serak. Tak lama kemudian, suara gedoran keras menghantam pintu depan vila yang terbuat dari kayu jati solid. Bukan ketukan sopan, melainkan hantaman penuh amarah yang bisa dirasakan getarannya hingga ke ruang tengah. "Nathan! Keluar kau, pengecut! Aku tahu kau menyembunyikan Alana di dalam!" teriak sebuah suara yang sangat akrab. Suara Kenzie. Suaranya terdengar serak, penuh dengan keputusasaan dan kegilaan yang murni. Alana bisa membayangkan wajah Kenzie yang kini mungkin sudah berantakan, dengan mata merah yang haus akan pembalasan. Nathan menghela napas panjang, tampak sangat tidak senang karena momen erotisnya terganggu. Ia meletakkan Alana kembali ke sofa dengan sangat lembut, lalu berdiri dan merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Ia tidak terlihat takut sedikit pun. Sebaliknya, ia tampak seperti seorang raja yang siap menghadapi pemberontakan kecil di gerbang istananya. "Tetap di sini, Alana. Jangan keluar dari ruangan ini apa pun yang terjadi," ujar Nathan sambil mengelus rambut Alana untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah menuju pintu depan. Alana duduk terpaku di sofa, jemarinya meremas sweter wol biru pemberian Nathan. Ia mendengar suara pintu depan yang dibuka, lalu suara teriakan Kenzie yang meledak seketika. "Di mana dia? Di mana Alana?" geram Kenzie. Suaranya terdengar sangat dekat sekarang. "Kau mencurinya dariku, Kak! Kau membius dan membawanya ke tempat terkutuk ini!" "Aku menyelamatkannya dari kegilaanmu, Kenzie. Lihat dirimu sekarang, kau tampak seperti gelandangan yang kehilangan arah. Apa kau pikir Ayah akan bangga melihat calon pewarisnya bersikap seperti binatang?" sahut Nathan dengan nada menghina yang sangat halus. "Pewaris? Kau bisa ambil semua saham itu, Nathan! Aku tidak peduli! Berikan Alana padaku sekarang juga!" Alana tidak tahan lagi. Rasa bersalah dan keingintahuan yang membara membuatnya melanggar perintah Nathan. Ia bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menuju aula depan, bersembunyi di balik pilar besar untuk melihat apa yang terjadi. Di sana, di ambang pintu yang terbuka lebar, Kenzie berdiri dengan jaket kulit yang robek di bagian bahu dan wajah yang penuh dengan sisa abu, mungkin dari apartemen Nathan yang ia bakar. Ia tampak mengerikan namun juga sangat tampan dalam kegilaannya. Di depannya, Nathan berdiri dengan tenang, menghalangi jalan masuk dengan wibawa yang luar biasa. "Alana tidak ingin melihatmu, Kenzie. Dia sudah merasa tenang di sini. Dia sudah memilih untuk berada di bawah perlindunganku," ucap Nathan bohong. "Bohong! Biarkan dia yang mengatakannya sendiri!" Kenzie mencoba menerobos masuk, namun Nathan menahan dadanya dengan satu tangan yang kuat. Pergumulan singkat terjadi di antara kedua saudara itu. Kenzie yang liar melawan Nathan yang terukur. Hingga akhirnya, mata Kenzie menangkap sosok Alana yang sedang mengintip dari balik pilar. Mata mereka bertemu, dan Alana bisa melihat luka yang sangat dalam di balik amarah Kenzie. "Alana..." panggil Kenzie dengan suara yang mendadak melunak, hampir menyerupai rintihan. "Ayo pulang denganku. Aku akan memaafkan semuanya. Aku akan menjagamu lebih baik dari si sosiopat ini. Aku berjanji tidak akan ada lagi paksaan." Nathan menoleh, menyadari kehadiran Alana. Ia tidak marah, ia justru mengulurkan tangannya ke arah Alana, memberikan senyum yang paling manis dan menenangkan yang pernah ia miliki. "Alana, kemarilah. Katakan pada Kenzie bahwa kau sudah menemukan rumahmu yang sebenarnya di sini, bersamaku," ujar Nathan dengan nada yang sangat memikat. Alana melangkah keluar dari balik pilar, berdiri di tengah-tengah dua pria yang sedang memperebutkannya. Ia menatap Kenzie yang hancur karena obsesi, lalu menatap Nathan yang memuja dengan cara yang manipulatif. "Kak Nathan, Kenzie..." Alana memulai dengan suara bergetar. "Pilih, Alana. Siapa yang kau inginkan untuk menyentuhmu malam ini?" tanya Kenzie dengan tatapan yang sangat menuntut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD