Bab 9: Jerat Obsesi Tuan Muda

1509 Words
Ciuman itu masih menyisakan sensasi hangat yang membekas di bibir Alana, bahkan saat Nathan sudah melepaskan tautan mereka dengan kelembutan yang menyiksa. Di bawah naungan atap kaca yang menyingkap hamparan bintang, Alana merasa dunia luar benar-benar telah lebur. Tidak ada lagi ketakutan akan Kenzie, tidak ada lagi bayang-bayang tuntutan Ayah angkatnya. Hanya ada Nathan, dengan aroma kayu cendana yang menenangkan dan sepasang mata gelap yang memujanya seolah ia adalah pusat dari seluruh semesta. "Tidurlah yang nyenyak malam ini, Alana. Aku ingin saat kau terbangun besok, kau merasa benar-benar telah terlahir kembali di tempat ini," bisik Nathan sambil mengusap pipi Alana dengan punggung jarinya. Nathan menuntun Alana kembali ke dalam vila, membimbingnya hingga ke depan pintu kamar utama dengan tangan yang tak pernah lepas dari pinggangnya. Sebelum Alana masuk, Nathan sekali lagi mengecup keningnya, sebuah ritual kecil yang terasa begitu sakral. Alana menutup pintu dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya, perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, menidurkan setiap intuisi waspada yang sempat ia miliki. Pagi harinya, Alana terbangun oleh kicauan burung yang hinggap di dahan pohon pinus tepat di luar jendela. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyusup masuk melalui celah gorden, menyentuh kulitnya dengan lembut. Ia meraba sisi tempat tidur yang kosong, teringat bahwa Nathan sudah berangkat ke kota sejak subuh tadi. Alana bangkit dan menemukan sebuah catatan kecil di atas meja nakas, tepat di samping segelas s**u cokelat yang masih mengepulkan uap tipis. "Sarapanmu sudah siap di bawah. Jangan lupa memakai sweter wol yang aku belikan, udara di luar cukup dingin pagi ini. Aku akan kembali sebelum makan malam. Aku merindukanmu, Little Rose." Alana tersenyum tanpa sadar. Kalimat terakhir itu terasa sangat tidak nyata datang dari seorang Nathan Arkananta yang dikenal berdarah dingin. Ia segera mandi dan mengenakan sweter wol berwarna biru pastel yang sangat pas di tubuhnya. Bahan sweternya sangat halus, seperti pelukan Nathan yang melindunginya dari segala hal buruk. Saat ia turun ke lantai bawah, vila itu terasa sangat sunyi, namun bukan jenis kesunyian yang mencekam. Ini adalah kesunyian yang damai. Meja makan sudah tertata rapi dengan roti gandum panggang, selai buah beri organik, dan potongan alpukat segar. Seorang pelayan tua yang diperkenalkan Nathan semalam, Bi Inah, menyambutnya dengan senyum ramah. "Tuan Nathan meminta saya memastikan Nona makan dengan lahap. Beliau sangat khawatir Nona akan merasa kesepian selama beliau pergi," ujar Bi Inah sambil menuangkan jus jeruk segar ke gelas Alana. "Kak Nathan selalu berlebihan, Bi. Aku baik-baik saja di sini," sahut Alana sambil mulai mencicipi sarapannya. "Tuan Muda sangat menyayangi Nona. Sejak kecil, beliau selalu membicarakan Nona sebagai satu-satunya alasan beliau ingin pulang ke rumah Arkananta. Saya belum pernah melihat beliau selembut ini pada orang lain," tambah Bi Inah, yang membuat jantung Alana kembali berdesir. Selesai sarapan, Alana memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang. Nathan benar-benar memanjakannya; taman itu ditata sedemikian rupa hingga menyerupai taman di film-film romansa klasik. Ada banyak jenis bunga yang mekar, dan sebuah bangku taman putih yang terletak di bawah pohon besar yang rindang. Alana duduk di sana, menikmati embusan angin pegunungan yang segar. Ia merasa sangat tenang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa perlu waspada terhadap sekelilingnya. Nathan telah membangun benteng yang begitu kokoh, sebuah sangkar emas yang begitu nyaman sehingga Alana hampir lupa bahwa ia sedang terisolasi dari dunia luar. Menjelang siang, Alana menghabiskan waktunya di perpustakaan kecil di lantai dua. Ternyata Nathan telah mengisi rak-rak buku di sana dengan koleksi buku favorit Alana. Mulai dari novel romansa, buku sejarah musik, hingga kumpulan partitur piano klasik. Ada sebuah piano grand berwarna hitam mengkilap di sudut ruangan. Alana mendekati piano itu, jemarinya menyentuh tuts-tuts gading dengan ragu. Ia mulai memainkan sebuah melodi sederhana, sebuah komposisi lembut yang sering ia mainkan saat merasa sedih. Namun kali ini, melodi itu terdengar berbeda. Nada-nadanya terasa lebih cerah, seolah-olah musik itu sendiri sedang ikut merayakan kedamaian yang ia rasakan. "Permainan yang indah, Nona." Alana tersentak dan berhenti bermain. Ia melihat Bi Inah berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan berisi camilan sore. "Terima kasih, Bi. Aku hanya rindu bermain piano," sahut Alana malu-malu. "Tuan Muda meminta piano itu disetel khusus sebelum Nona tiba di sini. Beliau bilang, rumah ini tidak akan lengkap tanpa suara musik dari jemari Nona," kata Bi Inah sambil meletakkan sepiring kecil kue kering dan teh melati di meja samping piano. Segala perhatian detail yang Nathan berikan mulai membuat Alana merasa benar-benar dicintai. Nathan tidak hanya memberinya tempat tinggal, ia memberinya sebuah kehidupan yang selama ini hanya bisa Alana impikan. Nathan seolah sedang menghapus semua memori buruk tentang Arkananta dan menggantinya dengan memori baru yang hanya berisi manisnya perhatian. Waktu terasa berjalan sangat lambat namun menyenangkan. Alana membaca buku di dekat jendela, sesekali menyesap tehnya dan menatap jalanan setapak menuju gerbang vila, menantikan kepulangan pria yang kini menjadi sandaran hidupnya. Ia mulai membayangkan masa depan yang Nathan tawarkan semalam. Hidup berdua di tempat yang jauh, tanpa bayang-bayang Kenzie atau intrik perusahaan Ayah angkatnya. Saat matahari mulai terbenam, menyisakan warna jingga di cakrawala, suara mesin mobil terdengar mendekat. Alana segera berdiri dari kursi bacanya, jantungnya berdegup dengan ritme yang riang. Ia berlari kecil menuruni tangga menuju pintu depan. Mobil hitam Nathan berhenti tepat di depan teras. Nathan keluar dari mobil, tampak sedikit lelah namun wajahnya langsung cerah saat melihat Alana berdiri di ambang pintu menunggunya. Ia masih mengenakan kemeja hitam yang sama, namun jasnya sudah tersampir di lengan. "Kau menungguku di pintu? Itu pemandangan terindah yang pernah kulihat seumur hidupku," ucap Nathan sambil melangkah lebar mendekati Alana. Tanpa membuang waktu, Nathan langsung menarik Alana ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup aroma tubuh gadis itu seolah ia baru saja kembali dari medan perang yang melelahkan. "Maaf aku terlambat. Urusan di kota sedikit lebih rumit dari yang aku perkirakan," bisik Nathan sambil mengeratkan pelukannya. Alana membalas pelukan itu, melingkarkan tangannya di pinggang Nathan. "Tidak apa-apa, Kak. Aku senang Kakak sudah pulang." Nathan melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya. Matanya memindai setiap inci wajah Alana dengan teliti. "Kau makan dengan baik? Kau tidak merasa kesepian? Kau memakai sweternya?" Alana tertawa kecil, rasa haru memenuhi dadanya. "Iya, Kak. Aku melakukan semuanya. Aku merasa sangat baik hari ini." Nathan tersenyum, sebuah senyuman yang kali ini terasa sampai ke matanya. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy. "Aku membawakan sesuatu untukmu. Aku melihatnya di etalase tadi dan langsung teringat padamu." Alana membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak dengan gantungan berbentuk mawar kecil yang dihiasi berlian mungil. Sangat simpel, elegan, dan jauh dari kesan "rantai kepemilikan" yang biasa ditunjukkan oleh Kenzie. "Terima kasih, Kak. Ini sangat cantik," gumam Alana, merasa matanya sedikit berkaca-kaca. Nathan mengambil gelang itu dan memasangkannya di pergelangan tangan Alana dengan penuh kehati-hatian. "Mawar ini adalah kau, Alana. Dan perak ini adalah aku. Aku akan selalu melingkar di sekelilingmu, menjagamu agar tidak ada satu kelopak pun yang gugur karena gangguan luar." Nathan membimbing Alana masuk ke dalam, menuju ruang makan di mana makan malam sudah disiapkan. Sepanjang makan malam, Nathan tidak berhenti memberikan perhatian. Ia menceritakan hal-hal ringan tentang kota, menghindari topik tentang Kenzie atau Ayah yang bisa merusak suasana hati Alana. Setelah makan malam, mereka duduk bersama di sofa depan perapian yang menyala hangat. Alana menyandarkan kepalanya di bahu Nathan, sementara Nathan merangkulnya posesif. Suasana begitu damai, begitu manis, hingga Alana merasa ia bisa tinggal di sini selamanya. Namun, di tengah keheningan yang penuh bunga itu, ponsel Nathan yang diletakkan di meja kopi bergetar. Sebuah notifikasi panggilan masuk tanpa nama muncul di layar. Nathan tampak tenang, namun Alana bisa merasakan otot bahu Nathan yang mendadak mengeras. Nathan mengambil ponselnya, namun ia tidak segera mengangkatnya. Ia menatap layar itu selama beberapa detik dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan sosiopat yang ia sembunyikan sepanjang hari ini. "Ada apa, Kak? Apa itu dari kantor?" tanya Alana dengan nada khawatir. Nathan kembali menatap Alana, wajahnya langsung melunak seketika, mengganti kegelapan di matanya dengan binar cinta yang menenangkan. Ia mengusap rambut Alana dengan lembut sebelum berdiri untuk menjauh sedikit. "Hanya urusan kecil yang harus segera diselesaikan, Sayang. Tunggu di sini sebentar, aku akan mengangkatnya di balkon," ujar Nathan sambil mengecup pipi Alana. Alana mengangguk, namun rasa ingin tahunya terusik. Saat Nathan melangkah ke arah balkon dan menutup pintu kaca di belakangnya, Alana tidak sengaja melihat sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel Nathan yang masih ia genggam sebelum ia menempelkannya ke telinga. Pesan itu terbaca cukup jelas di bawah cahaya lampu ruangan yang terang. "Kenzie sudah gila, dia membakar apartemenmu dan sekarang menuju koordinat vilamu." Alana membeku di tempat duduknya, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia melihat punggung Nathan di balkon, yang tampak sangat tenang saat berbicara di telepon. Nathan berbalik sedikit, menyadari Alana sedang menatapnya, lalu ia memberikan senyum paling manis yang pernah ada sambil memberikan isyarat dengan tangannya seolah berkata semuanya baik-baik saja. Nathan menutup teleponnya, lalu ia melangkah kembali masuk ke dalam ruangan. Ia mendekati Alana, berlutut di depannya, dan menggenggam kedua tangan Alana yang mulai mendingin. "Alana, apa kau sangat mencintai kedamaian yang kita miliki di sini?" tanya Nathan dengan nada yang sangat teduh namun penuh misteri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD