Bab 21: Pesta Di Balik Tirai

960 Words
Guncangan pada helikopter itu perlahan stabil, namun guncangan di dalam jiwa Nathan dan Kenzie baru saja dimulai. Suara Tuan Arkananta yang menggema melalui intercom tadi terasa seperti vonis mati. Rahasia yang baru saja mereka ketahui bahwa Alana adalah darah daging Arkananta bukan lagi rahasia pribadi, melainkan senjata pemusnah massal yang dipegang oleh ayah mereka sendiri. Nathan melepaskan cengkeramannya dari bahu Alana. Ia berdiri, meski kabin masih sedikit bergoyang, dan menatap ke arah kamera pengawas kecil yang tersembunyi di sudut langit-langit helikopter. "Kau ingin bermain, Ayah?" desis Nathan dengan suara yang mengandung racun. "Kau ingin menghancurkan reputasi yang bahkan kau sendiri bangun dengan darah dan air mata?" "Reputasi bisa dibangun kembali, Nathan. Tapi pengkhianatan... itu harus dibayar mahal," suara Tuan Arkananta menyahut dari intercom, kali ini terdengar lebih jernih. "Kalian berdua telah menyentuh apa yang seharusnya menjadi milikku untuk dijaga. Kalian telah melanggar batas paling suci dalam keluarga ini. Sekarang, mendaratlah di koordinat yang sudah ditentukan, atau aku akan memastikan seluruh London tahu bahwa dua putra mahkota Arkananta adalah pendosa besar." Kenzie, yang sejak tadi terdiam dalam keterkejutan, mendadak bangkit dan menghantam panel instrumen helikopter dengan tinjunya. "Persetan dengan reputasi! Kau yang memulai semua ini, Ayah! Kau yang membohongi kami selama sepuluh tahun!" Alana hanya bisa meringkuk di kursinya. Ia merasa seperti sebuah objek yang sedang diperdebatkan nilai kerusakannya. Rasa muaknya telah mencapai titik tertinggi. Mengetahui bahwa pria-pria yang telah menjamah perasaannya (dan tubuhnya) adalah saudara kandungnya sendiri membuatnya merasa kotor hingga ke tulang. "Hentikan semuanya..." gumam Alana, namun suaranya tenggelam dalam perdebatan pria-pria itu. Helikopter akhirnya mendarat di sebuah atap gedung pencakar langit di tengah kota London yang masih berselimut kabut pagi. Begitu baling-baling berhenti berputar, pintu helikopter terbuka dan mereka disambut oleh barisan pria berseragam hitam. Kali ini, mereka tidak membawa senjata, melainkan sebuah undangan. "Tuan Arkananta sudah menunggu di dalam," ucap salah satu penjaga. Mereka bertiga digiring masuk ke dalam penthouse mewah yang terletak di puncak gedung tersebut. Di sana, sebuah meja makan panjang telah disiapkan dengan hidangan mewah yang tampak kontras dengan suasana hati mereka yang kelam. Tuan Arkananta duduk di ujung meja, tampak tenang sambil membaca koran pagi, seolah-olah drama di pegunungan bersalju tadi malam tidak pernah terjadi. "Duduklah," perintahnya tanpa menoleh. Nathan menarik kursi untuk Alana dengan gerakan yang masih sangat posesif, seolah-olah fakta saudara kandung itu tidak mengubah keinginannya untuk memiliki gadis itu. Kenzie duduk di seberang mereka, matanya terus menatap tajam ke arah ayahnya. "Jadi, kau ingin menyerahkan kami ke polisi?" tanya Nathan sambil melipat tangannya di atas meja. Tuan Arkananta melipat korannya dan menatap kedua putranya bergantian. "Polisi? Tidak. Itu terlalu membosankan. Aku punya rencana yang lebih baik untuk kalian bertiga. Karena kalian sangat menyukai Alana, dan karena Alana adalah kunci dari aset Wijaya yang sekarang secara hukum sudah sah milik kita... aku memutuskan untuk tidak memisahkan kalian." Alana mendongak, matanya membelalak. "Apa maksudmu?" "Kalian akan tetap tinggal bersama di kediaman utama Arkananta di Jakarta. Namun, mulai hari ini, Alana akan secara resmi diperkenalkan sebagai putri kandungku yang baru ditemukan," ucap Tuan Arkananta dengan seringai tipis. "Nathan, kau akan tetap menjadi tunangannya di mata publik setidaknya sampai proses akuisisi aset Wijaya selesai sepenuhnya. Tidak akan ada yang tahu tentang hubungan darah ini kecuali kita berempat." "Kau gila!" Kenzie berdiri, membanting meja dengan tangannya. "Kau ingin kami tetap berpura-pura menjadi sepasang kekasih sementara kami tahu kami bersaudara? Itu menjijikkan!" "Itu adalah bisnis, Kenzie," sahut Tuan Arkananta dingin. "Dan jika salah satu dari kalian berani melanggar aturan ini, atau mencoba melarikan diri lagi... hasil tes DNA asli itu akan tersebar di setiap media di dunia. Kalian akan menjadi paria sosial, dan Alana akan kehilangan segalanya." Nathan menatap Alana, lalu kembali ke ayahnya. Sebuah senyum gelap muncul di bibirnya. Sebagai seorang sosiopat, ia mulai melihat peluang di tengah kegilaan ini. "Dan apa imbalannya bagi kami?" tanya Nathan. "Kau tetap mendapatkan kekuasaanmu, dan Kenzie tetap mendapatkan kebebasannya. Dan kalian berdua... tetap bisa berada di dekat mawar kesayangan kalian ini. Bukankah itu yang kalian inginkan? Memiliki Alana tanpa ada yang bisa merebutnya?" Alana merasa dunia di sekitarnya mulai berputar. Ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam sangkar yang lebih besar dan lebih terorganisir. Ayah kandungnya sendiri baru saja melegalkan sebuah dosa demi keuntungan finansial. "Aku bukan barang daganganmu!" teriak Alana. Tuan Arkananta berdiri, ia mendekati Alana dan mengusap rambutnya dengan gerakan yang sangat palsu. "Kau adalah seorang Arkananta sekarang, Sayang. Dan di keluarga ini, kita melakukan apa pun untuk tetap berada di puncak. Nathan, Kenzie... siapkan diri kalian. Malam ini kita akan kembali ke Jakarta. Pesta penyambutan putri Arkananta akan segera dimulai." Begitu Tuan Arkananta keluar dari ruangan, Kenzie segera mendekati Alana. "Al, kita harus pergi dari sini. Aku akan membawamu lari sekarang juga, persetan dengan ancaman Ayah!" "Dan pergi ke mana, Kenzie?" potong Nathan. Ia berdiri di belakang Alana, memegang bahunya dengan kekuatan yang mencekik. "Kau dengar tadi? Jika kita lari, dia akan menghancurkannya. Di sini, setidaknya aku bisa menjaganya." "Menjaganya? Kau hanya ingin memuaskan obsesi menjijikkanmu itu, Nathan!" balas Kenzie. "Setidaknya aku jujur dengan keinginanku, Kenzie. Daripada kau yang pura-pura peduli tapi tetap saja tidak bisa melepaskan tanganmu darinya." Alana melepaskan diri dari mereka berdua. Ia berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota London. Ia merasa sangat sendirian di tengah dua pria yang kini ia tahu adalah saudaranya, namun tetap menatapnya dengan rasa lapar yang sama. "Kalian berdua benar-benar monster," ucap Alana tanpa menoleh. "Dan aku tidak tahu mana yang lebih buruk... kenyataan bahwa kita sedarah, atau kenyataan bahwa kalian berdua sama sekali tidak peduli tentang itu." Nathan mendekati Alana, ia berbisik tepat di telinga gadis itu, suaranya terdengar seperti janji dari neraka. "Di dunia ini, Alana... hanya ada pemenang dan pecundang. Dan aku memilih untuk menjadi pemenang yang berdosa daripada pecundang yang suci. Selamat datang di rumah, Little Sister."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD