Kata-kata Alana barusan seperti petir yang menyambar di dalam kabin helikopter yang sempit itu. Kesunyian yang mengikuti bukan lagi kesunyian yang tenang, melainkan kesunyian yang mencekik, penuh dengan kengerian yang murni. Nathan, yang biasanya selalu punya kendali atas segala situasi, kini tampak seperti pria yang baru saja melihat dunia runtuh di depan matanya sendiri.
Tangannya yang tadi membelai pipi Alana kini tergantung kaku di udara. Matanya menatap kertas kecil di tangan Alana dengan tatapan tidak percaya.
"Tidak... itu tidak mungkin," bisik Nathan. Suaranya serak, seolah ada duri yang menyangkut di tenggorokannya. "Ayah tidak pernah mengatakan apa pun. Ibu juga tidak pernah..."
"Karena itu adalah rahasia yang paling dijaga Ayah, Kak," sahut Alana. Suaranya kini terdengar sangat stabil, kontras dengan kekacauan di wajah kedua pria di depannya. "Ibuku adalah satu-satunya wanita yang pernah dicintai Ayah sebelum dia memutuskan untuk menghancurkan keluarga Wijaya. Aku bukan trofi kemenangan bisnis, Nathan. Aku adalah bukti dari perselingkuhan yang ingin dia kubur dalam-dalam."
Kenzie, yang berada di kursi depan, memutar tubuhnya dengan kasar. Wajahnya yang babak belur kini tampak pucat pasi. "Jadi selama ini... kita... kau..."
Kenzie tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ingatan tentang bagaimana ia mencium Alana di ruang rahasia perpustakaan, bagaimana ia menyentuh kulit gadis itu dengan gairah yang meluap, kini kembali menghantamnya seperti palu godam. Rasa mual yang hebat muncul di perutnya.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, Alana?" geram Nathan. Ia mencengkeram bahu Alana, kali ini bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan keputusasaan yang menuntut. "Kenapa kau membiarkan aku... membiarkan kami menyentuhmu kalau kau tahu kita sedarah?"
Alana menepis tangan Nathan dengan dingin. "Karena aku ingin melihat sejauh mana kegilaan kalian. Aku ingin melihat bagaimana dua putra Arkananta yang sombong ini jatuh ke dalam lubang dosa yang kalian gali sendiri. Bukankah kalian yang bilang kalau aku adalah milik kalian? Sekarang, terimalah kenyataannya. Aku adalah adik kandung kalian. Darah yang mengalir di nadiku sama dengan darah kalian."
Nathan menyandarkan punggungnya di kursi helikopter, menutup matanya rapat-rapat. Pikirannya melayang pada malam-malam di vila, pada setiap bisikan posesif yang ia berikan pada Alana. Ia adalah seorang sosiopat yang bangga dengan logikanya, namun kini logikanya telah mengkhianatinya. Ia telah mencintai adiknya sendiri dengan cara yang paling terlarang.
Namun, di tengah kengerian itu, sebuah kilatan gelap kembali muncul di mata Nathan. Ia membuka matanya dan menatap Alana dengan pandangan yang tidak lagi hampa, melainkan penuh dengan ketetapan hati yang sakit.
"Darah tidak mengubah apa pun, Alana," ucap Nathan dengan suara yang sangat rendah dan bergetar.
Alana mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kau pikir fakta ini akan membuatku melepaskanmu? Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dan mencari pria lain hanya karena kita berbagi satu ayah?" Nathan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak waras. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Alana, mengabaikan tatapan ngeri dari Kenzie. "Jika aku sudah masuk ke neraka karena mencintaimu, maka aku akan memastikan kita semua tinggal di sana selamanya. Arkananta tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya, meskipun itu adalah sebuah dosa besar."
"Nathan, kau gila!" teriak Kenzie. "Dia adik kita! Kita tidak bisa melanjutkan ini!"
"Diam, Kenzie!" bentak Nathan. "Kau pikir kau bisa berhenti sekarang? Kau sudah menyentuhnya, kau sudah memujanya. Kau sudah sama kotornya denganku. Tidak ada jalan kembali untuk kita berdua."
Nathan kembali menatap Alana, jemarinya kini merayap ke tengkuk Alana, mencengkeramnya dengan kelembutan yang mematikan. "Kertas ini... hasil tes DNA ini... akan terbakar bersama reruntuhan helikopter Wijaya di bawah sana. Tidak akan ada yang tahu. Dunia akan tetap mengenalmu sebagai Alana Wijaya, anak angkat yang malang. Dan kau akan tetap berada di antara kami."
Alana menatap Nathan dengan ngeri. Ia mengira kebenaran ini akan membebaskannya, namun ternyata ia justru memicu sisi paling gelap dari obsesi Nathan. Nathan tidak lagi peduli pada moral atau hukum; dia hanya peduli pada kepemilikannya atas Alana.
"Kau benar-benar monster, Kak," bisik Alana.
"Aku adalah monster yang kau ciptakan sendiri, Alana," sahut Nathan. Ia mencium kening Alana dengan sangat lama, sebuah tanda kepemilikan yang kini terasa seperti kutukan.
Helikopter itu terus terbang membelah kegelapan menuju sebuah pulau pribadi di lepas pantai Mediterania, tempat yang telah disiapkan Nathan sebagai "surga" baru mereka. Sebuah tempat di mana hukum dunia tidak berlaku, dan di mana rahasia darah ini akan terkubur selamanya.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Kenzie diam-diam merogoh ponselnya di bawah kursi. Ia melihat pesan masuk dari sebuah nomor yang tidak dikenal.
“Aku tahu rahasia di helikopter itu. Bawa dia ke koordinat yang baru jika kau ingin dia tetap hidup. – Tuan Arkananta.”
Kenzie menatap punggung kakaknya yang masih terobsesi pada Alana, lalu ia menatap Alana yang tampak hancur. Ia tahu Ayah mereka belum benar-benar kalah. Ayah mereka masih memegang kendali, dan mungkin, Ayah mereka punya rencana yang jauh lebih mengerikan untuk anak-anaknya yang telah saling "memangsa" satu sama lain.
Kenzie mengepalkan tangannya. Ia harus memilih: mengikuti kegilaan Nathan, atau menyerahkan Alana kembali pada Ayahnya demi menghapus dosa yang telah mereka perbuat.
"Kita hampir sampai," ucap Nathan sambil menatap lampu-lampu di kejauhan.
Alana menatap ke luar jendela, ke arah laut yang hitam dan dalam. Ia menyadari bahwa Bab 20 ini bukanlah akhir, melainkan awal dari penderitaan yang sesungguhnya. Ia terjebak di antara dua saudara yang menolak untuk melepaskannya, dan seorang ayah yang menunggu untuk menghancurkan mereka semua.
"Kalian tidak akan pernah bisa memiliki jiwaku," desis Alana di tengah deru mesin.
Nathan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dominan. "Jiwamu tidak penting bagiku, Little Rose. Selama tubuhmu ada dalam dekapanku, itu sudah cukup untuk membuatku merasa seperti pemenang."
Tiba-tiba, helikopter itu berguncang hebat. Bukan karena cuaca, tapi karena sistem kendalinya telah diretas dari jarak jauh. Lampu kabin berkedip-kedip merah, dan suara Tuan Arkananta terdengar melalui intercom helikopter.
"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, anak-anakku. Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan saat rahasia ini menjadi konsumsi publik."