Bab 19: Jerat Obsesi Tuan Muda

1502 Words
Deru baling-baling helikopter yang membelah udara malam London terasa seperti genderang perang di telinga Alana. Ia duduk mematung, menatap pria di kursi pilot yang baru saja mengklaim dirinya sebagai mendiang ayahnya. Cahaya redup dari panel instrumen helikopter memberikan bayangan tajam pada wajah pria itu, wajah yang selama ini hanya Alana kenal melalui foto-foto kusam yang tersisa di ingatannya. "Ayah...?" bisik Alana. Suaranya hampir tertelan oleh suara mesin. "Tidak mungkin. Ayah dan Ibu... kecelakaan itu..." Pria itu, yang mengaku sebagai Wijaya, tidak melepaskan pandangannya dari cakrawala di depan. "Arkananta mengatur kecelakaan itu agar terlihat bersih, Alana. Namun, dia terlalu sombong untuk memeriksa sisa-sisa reruntuhan dengan teliti. Aku selamat, meski dengan luka yang membuatku harus bersembunyi di lubang tikus selama satu dekade. Aku membiarkannya mengambilmu karena aku tahu, di bawah asuhannya, kau akan tetap aman dari musuh-musuh bisnisku yang lain. Dia adalah penjaga yang sempurna, meski dia sendiri adalah monster." Alana menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir deras. "Kau membiarkanku tinggal di sana? Kau membiarkanku tumbuh bersama orang yang menghancurkan hidup kita? Kau membiarkan Nathan dan Kenzie... memujaku seperti barang?" Wijaya akhirnya menoleh. Tatapannya dingin, tanpa ada binar rindu seorang ayah yang baru saja bertemu anaknya kembali. "Itu adalah pengorbanan yang diperlukan. Dan lihatlah hasilnya, kau sekarang memegang kendali atas aset Arkananta di London berkat kegilaan Nathan. Kau adalah kunci untuk membangkitkan kembali kejayaan Wijaya." Alana merasa mual. Ia baru saja menyadari bahwa obsesi Nathan dan Kenzie terhadap dirinya hanyalah bagian dari permainan catur yang lebih besar, dan pria di depannya ini adalah pemain yang paling sabar. "Ke mana kau membawaku?" tanya Alana dengan suara bergetar. "Ke tempat di mana Arkananta tidak akan pernah bisa menjangkaumu. Ke tempat di mana kau akan belajar menjadi seorang Wijaya sejati," jawab pria itu sambil kembali fokus pada kemudi. Helikopter itu terbang rendah melewati perbatasan, menghindari radar dengan cara yang sangat ahli. Namun, saat mereka mulai memasuki wilayah udara yang lebih sunyi, sebuah kilatan cahaya dari bawah menarik perhatian Alana. Sebuah rudal suar meledak di samping helikopter, membuat guncangan hebat yang hampir melempar Alana keluar dari kursinya. "Sial!" teriak Wijaya. "Mereka belum mati!" Alana melihat ke bawah melalui jendela kaca. Di daratan yang mulai menjauh, ia melihat beberapa lampu sorot dari kendaraan taktis yang mengejar arah terbang mereka. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah helikopter hitam lain muncul dari balik kabut, melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di helikopter pengejar itu, sosok Nathan terlihat di pintu yang terbuka, memegang senapan jarak jauh dengan tatapan yang bisa membakar langit. Di sampingnya, Kenzie berpegangan pada tali pengaman, wajahnya penuh dengan amarah yang murni. Mereka tidak mati dalam ledakan di mansion. Mereka berhasil keluar tepat waktu dan sekarang mereka datang untuk mengambil kembali apa yang mereka anggap sebagai milik mereka. "Turunkan helikopternya, Wijaya! Atau aku akan menembak tangki bahan bakarmu!" suara Nathan terdengar melalui frekuensi radio yang berhasil ia retas. Wijaya tertawa kasar. Ia mengambil radio komunikasi. "Kau pikir kau bisa menakutiku, Arkananta Muda? Dia adalah darah dagingku. Kau hanyalah pencuri yang mencoba menyimpan permata yang bukan milikmu!" "Darah daging tidak berarti apa-apa jika kau membiarkannya menderita selama sepuluh tahun!" Kenzie berteriak di radio, suaranya pecah oleh emosi. "Lepaskan Alana, atau aku akan memastikan kau benar-benar mati kali ini!" Aksi kejar-kejaran di udara itu menjadi sangat brutal. Helikopter Nathan mencoba memepet helikopter Wijaya, menciptakan turbulensi yang sangat berbahaya di ketinggian ribuan kaki. Alana hanya bisa mencengkeram sabuk pengamannya, menutup mata sambil berdoa agar semua kegilaan ini berakhir. Tiba-tiba, suara tembakan terdengar menembus badan helikopter. Salah satu peluru mengenai instrumen navigasi di depan Wijaya. Asap mulai memenuhi kabin. "Kau gila, Nathan! Kau akan membunuhnya!" teriak Wijaya. "Aku lebih baik melihatnya jatuh bersamaku daripada melihatnya hidup bersamamu!" balas Nathan dengan nada sosiopat yang kembali ke titik puncaknya. Helikopter Wijaya mulai kehilangan keseimbangan, berputar-putar tak terkendali menuju arah perbukitan bersalju di bawah mereka. Wijaya mencoba menstabilkan kendali, namun kerusakan sudah terlalu parah. "Alana, pegangan yang erat!" perintah Wijaya. Brak! Helikopter itu menghantam lereng salju dengan keras, terseret ratusan meter sebelum akhirnya berhenti dalam posisi miring. Alana merasa tubuhnya remuk, pandangannya berkunang-kunang. Ia mencoba merangkak keluar dari reruntuhan helikopter yang mulai terbakar. Di tengah hamparan salju yang putih dan dingin, Alana melihat helikopter hitam Nathan mendarat tidak jauh dari sana. Nathan dan Kenzie melompat keluar, berlari menerjang badai salju menuju reruntuhan. Wijaya keluar dari kursi pilot dengan kaki yang tertatih, ia memegang sebuah pistol dan langsung menodongkannya ke arah Alana yang sedang berusaha berdiri. "Tetap di sana, Alana! Jangan bergerak!" teriak Wijaya. Nathan dan Kenzie berhenti dalam jarak sepuluh meter. Keduanya terengah-engah, pakaian mereka sobek dan penuh luka bakar dari ledakan di mansion. "Lepaskan dia, Wijaya," desis Nathan. Pistol di tangannya tetap terarah pada jantung pria tua itu. "Kau sudah kalah sepuluh tahun lalu, dan kau kalah lagi malam ini." "Aku tidak akan pernah kalah selama aku memegang kartu as ini," sahut Wijaya. Ia menarik Alana dan menempelkan moncong pistol ke pelipis gadis itu. "Jika aku tidak bisa memilikinya untuk membangun kerajaanku, maka tidak ada Arkananta yang boleh menyentuhnya." Kenzie melangkah maju, tangannya terbuka seolah mencoba menenangkan binatang buas. "Tolong... jangan sakiti dia. Kau ayahnya. Bagaimana bisa kau melakukan ini?" "Ayah? Aku adalah seorang raja yang kehilangan mahkotanya karena keluarga kalian! Dia adalah mahkotaku!" Wijaya berteriak histeris. Alana menatap Nathan dan Kenzie silih berganti. Ia melihat luka, obsesi, dan cinta yang rusak di mata mereka. Lalu ia menatap pria yang mengaku ayahnya, yang hanya melihatnya sebagai alat kekuasaan. Ia merasa sangat lelah. Lelah menjadi objek. Lelah menjadi piala. "Tembak saja, Ayah," ucap Alana tiba-tiba. Suaranya sangat tenang di tengah badai salju. Semua pria itu tertegun. "Tembak aku sekarang, agar mereka tidak bisa memilikiku, dan kau tidak bisa menggunakanku," lanjut Alana. Ia menatap Wijaya dengan tatapan yang sangat kosong. "Akhiri permainan ini sekarang." Wijaya ragu. Tangannya bergetar. Di saat itulah, Nathan melihat celah. Ia melepaskan satu tembakan tepat mengenai bahu Wijaya. Pistol di tangan Wijaya terlepas, dan Alana segera berlari menjauh. Kenzie menerjang Wijaya dan mulai menghajarnya dengan amarah yang tak terkendali, sementara Nathan berlari menuju Alana dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat posesif. "Kau aman sekarang, Little Rose. Aku di sini," bisik Nathan, ia membenamkan wajahnya di rambut Alana yang berantakan. Alana tidak membalas pelukan itu. Ia hanya berdiri mematung. Setelah Kenzie berhasil melumpuhkan Wijaya, ia mendekati Alana dan Nathan. Ketiganya berdiri di tengah hamparan salju, di kelilingi oleh api dari reruntuhan helikopter. Cinta segitiga ini telah mencapai titik paling tragisnya. "Kita harus pergi dari sini sebelum tim penyelamat Ayah datang," ujar Kenzie sambil menyeka darah di wajahnya. "Ke mana?" tanya Alana lirih. Nathan menatap Alana, matanya kembali menunjukkan kegelapan yang mendominasi. "Ke tempat di mana hanya ada kita bertiga, Alana. Tanpa Ayahku, tanpa Ayahmu. Hanya kau, aku, dan Kenzie. Sebuah dunia di mana kau tidak perlu memilih, karena kami berdua akan menjagamu selamanya." Alana menatap Nathan, lalu menatap Kenzie yang mengangguk setuju dengan ide gila kakaknya. Mereka berdua telah sepakat untuk membagi "piala" mereka daripada kehilangan satu sama lain. "Kalian gila..." bisik Alana. Kenzie mendekat, ia memegang tangan Alana dan menciumnya dengan lembut. "Kami memang gila, Al. Gila karenamu. Dan sekarang, kau tidak punya pilihan lain selain ikut dengan kami." Nathan menarik Alana menuju helikopter mereka yang masih menunggu. Sebelum mereka masuk, Nathan menatap ke arah Wijaya yang tergeletak di salju. "Kenzie, selesaikan urusan dengan pria itu. Aku tidak ingin ada hantu dari masa lalu yang mengejar kita lagi." Kenzie mengangguk, ia mengeluarkan sebuah jerigen bahan bakar dari helikopter dan mulai menyiramkannya ke reruntuhan helikopter Wijaya, termasuk ke arah pria tua yang masih merintih itu. Alana memalingkan wajahnya saat api besar mulai melahap segalanya di belakang mereka. Ia masuk ke dalam helikopter Nathan, duduk di antara dua saudara Arkananta yang kini menatapnya seolah ia adalah satu-satunya oksigen di bumi. Helikopter itu lepas landas, meninggalkan api yang berkobar di atas gunung salju. Alana menatap ke bawah, melihat sejarahnya terbakar habis. Ia kini benar-benar menjadi milik Arkananta, tanpa ada jalan keluar lagi. Namun, saat Nathan hendak membelai wajahnya, Alana menangkap tangan pria itu. "Kak Nathan... ada satu hal yang tidak kau baca di dokumen asli Wijaya yang aku simpan di saku sweterku," ucap Alana dengan nada yang sangat misterius. Nathan mengernyit. "Apa maksudmu?" Alana mengeluarkan selembar kertas kecil yang sempat ia robek dari lampiran dokumen di vila. Kertas itu berisi hasil tes DNA lama yang dilakukan secara rahasia oleh ibunya. "Wijaya bukan ayah kandungku," bisik Alana. Kenzie yang sedang duduk di kursi depan menoleh dengan cepat. "Apa?" Alana menatap Nathan dengan senyum yang sangat getir, senyum yang menunjukkan bahwa dialah pemenang sebenarnya dalam permainan manipulasi ini. "Ayah kandungku adalah pria yang selama ini kau panggil Ayah, Nathan. Tuan Arkananta." Suasana di dalam helikopter itu mendadak menjadi sangat dingin, lebih dingin daripada badai salju di luar sana. Nathan melepaskan tangan Alana seolah tersengat listrik. Wajahnya memucat, matanya membelalak penuh kengerian. Kenzie juga terdiam membeku, menyadari implikasi dari kata-kata Alana. Alana menatap kedua saudara itu saudara kandungnya sendiri yang selama ini telah menyentuhnya, menciumnya, dan memujanya dengan cara yang melampaui batas moral. "Jadi... apakah kalian masih ingin memilikiku selamanya dalam dunia gila kalian ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD