Dinginnya cairan dari jarum suntik itu terasa seperti es yang merambat cepat melalui pembuluh darah Alana. Kesadarannya memudar dalam hitungan detik, tepat saat ia melihat Tuan Arkananta melangkah mendekat dengan langkah yang begitu santai, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre besar. Wajah Nathan dan Kenzie yang berdiri di balkon vila adalah hal terakhir yang terlintas di pikirannya sebelum kegelapan total menyapu segalanya.
Saat Alana terbangun, hal pertama yang ia rasakan bukanlah aroma kayu cendana milik Nathan atau bau keringat liar Kenzie. Ia mencium aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan wangi parfum maskulin yang sangat berat. Kepalanya terasa sangat ringan, berdenyut karena sisa obat bius yang masih tertinggal.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia langsung menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam mobil. Alana berbaring di atas tempat tidur yang sangat luas dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap. Ruangan itu sangat modern, minimalis, dan didominasi oleh kaca jendela besar yang memperlihatkan gumpalan awan putih di bawahnya.
Ia berada di dalam sebuah pesawat jet pribadi yang sedang mengangkasa.
"Kau sudah bangun, mawar kecilku?"
Alana tersentak, mencoba bangkit duduk meski kepalanya terasa berputar. Di sudut kabin pesawat yang mewah itu, Tuan Arkananta duduk di sebuah kursi kulit, menyesap cairan berwarna amber dari gelas kristal. Ia tampak tidak terganggu sedikit pun dengan kekacauan yang terjadi di vila beberapa jam lalu.
"Di mana aku? Di mana Nathan dan Kenzie?" suara Alana parau, hampir tidak terdengar.
Tuan Arkananta tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa belas kasihan. "Nathan dan Kenzie sedang sibuk berurusan dengan hukum di bawah sana. Menembak anak buahku, merusak sistem keamanan, dan menculikmu... mereka pikir mereka bisa bermain pahlawan tanpa membayar harganya. Mereka terlalu mirip denganku dalam hal obsesi, tapi terlalu lemah dalam hal strategi."
Alana merasakan ketakutan yang dingin merayap di punggungnya. "Kau menjebak mereka? Kau membiarkan Nathan melakukan semua itu agar kau punya bukti untuk menjebloskan mereka ke penjara?"
"Anggap saja itu sebagai pelajaran bagi mereka karena mencoba mencuri aset pribadiku," sahut Tuan Arkananta. Ia berdiri, berjalan mendekati tempat tidur Alana dengan aura d******i yang bahkan melampaui Nathan. "Nathan pikir dia bisa menghancurkanku dengan data korupsi itu? Dia lupa bahwa di negeri ini, hukum adalah sesuatu yang bisa kubeli dan kujual kembali sesukaku."
Ia berhenti tepat di pinggir tempat tidur, menatap Alana dengan pandangan yang sangat objektif, seolah-olah ia sedang memeriksa kualitas sebuah berlian sebelum dilelang.
"London sudah menunggu, Alana. Rekan bisnisku sangat tertarik untuk bertemu dengan putri dari mendiang Wijaya. Dia tidak hanya menginginkan kecantikanmu, tapi juga tanda tanganmu pada beberapa dokumen pengalihan aset yang selama ini tertahan karena status adopsimu yang bermasalah."
"Aku tidak akan menandatangani apa pun," desis Alana, ia mencoba menjauh namun punggungnya membentur sandaran tempat tidur.
Tuan Arkananta tersenyum, lalu ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah tablet kecil. Ia menggeser layar dan menunjukkannya pada Alana. Layar itu menampilkan rekaman langsung dari sebuah sel tahanan yang gelap. Di sana, Nathan dan Kenzie duduk berdampingan, keduanya tampak hancur. Nathan menatap lantai dengan tatapan hampa, sementara Kenzie terus memukuli dinding sel hingga tangannya berdarah.
"Satu tanda tangan darimu, Alana... dan aku akan memastikan mereka keluar dari sana dengan catatan kepolisian yang bersih. Satu penolakan... dan mereka akan membusuk di sana selamanya. Pilihannya sangat mudah, bukan?"
Alana memejamkan mata, air mata mengalir membasahi pipinya. Ia merasa terjepit di tengah-tengah kegilaan keluarga Arkananta. Nathan dan Kenzie, meski telah menyakitinya, adalah orang-orang yang mencoba menyelamatkannya dengan cara mereka sendiri yang rusak. Dan sekarang, nyawa dan masa depan mereka berada di tangannya.
"Kenapa kau begitu kejam? Mereka anak kandungmu!" teriak Alana.
"Mereka adalah investasi yang gagal, Alana. Dan investasi yang gagal harus dipangkas agar tidak merusak portofolio utama," sahut Tuan Arkananta tanpa ekspresi.
Sepanjang perjalanan melintasi benua, Alana merasa seperti mayat hidup. Ia diberikan pakaian baru—sebuah gaun hitam ketat yang sangat elegan namun terasa seperti kafan. Pelayan di pesawat itu merias wajahnya, menutupi pucat di pipinya dengan perona yang mahal. Ia disiapkan untuk menjadi santapan bagi serigala lain di London.
Saat pesawat mendarat di bandara pribadi di London, udara dingin langsung menusuk kulitnya. Tuan Arkananta menuntunnya keluar, tangannya menggenggam lengan Alana dengan cengkeraman besi yang tidak bisa dilepaskan. Sebuah limusin hitam sudah menunggu.
Mereka tiba di sebuah mansion megah di pinggiran kota London yang berkabut. Di dalamnya, sebuah pesta makan malam tertutup sedang berlangsung. Pria-pria tua dengan setelan jas mahal dan wanita-wanita dengan perhiasan yang menyilaukan mata menoleh saat Alana masuk.
"Ah, Arkananta... kau akhirnya membawa permata itu," ucap seorang pria berkebangsaan Inggris dengan aksen yang sangat kental. Pria itu, yang Alana perkirakan berusia sekitar enam puluh tahun, menatapnya dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan.
"Sesuai janjiku, Lord Sterling. Alana Wijaya. Dia akan menjadi bagian dari kesepakatan kita malam ini," sahut Tuan Arkananta.
Alana merasa ingin muntah. Ia didudukkan di samping Lord Sterling, dipaksa mendengarkan pembicaraan bisnis yang melibatkan darah dan penderitaan keluarganya. Setiap kali Lord Sterling menyentuh tangannya atau membelai bahunya, Alana merasa jiwanya perlahan-lahan mati.
Namun, di tengah-tengah makan malam yang memuakkan itu, seorang pelayan mendekat ke arah Tuan Arkananta dan membisikkan sesuatu. Wajah Tuan Arkananta yang biasanya tenang mendadak berubah sedikit tegang. Ia meminta izin untuk meninggalkan meja sebentar.
Alana melihat kesempatan. Ia berpura-pura ingin ke kamar kecil dan berhasil menyelinap keluar dari ruang makan yang penuh sesak itu. Ia berlari menyusuri lorong mansion yang luas, mencari jalan keluar atau telepon yang bisa ia gunakan.
Saat ia berbelok di sebuah lorong yang lebih sepi, ia melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Di dalamnya, ia mendengar suara percakapan yang sangat akrab. Suara yang seharusnya berada ribuan mil jauhnya di dalam sel tahanan.
"Kau pikir kau bisa menipu kami dengan drama penjara itu, Ayah?"
Alana membeku. Itu suara Nathan.
Ia memberanikan diri untuk mengintip melalui celah pintu. Di dalam ruangan itu, Nathan berdiri dengan setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya tidak lagi berdarah, namun matanya memancarkan kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya. Di sampingnya, Kenzie berdiri dengan sebuah pistol di tangannya, wajahnya penuh dengan seringai liar.
Tuan Arkananta berdiri di depan mereka, tampak tidak percaya. "Bagaimana kalian bisa ada di sini? Aku sudah memastikan kalian ditahan!"
"Kau lupa siapa yang mengajari kami cara menyuap polisi dan memalsukan bukti, Ayah?" Kenzie tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak waras. "Kau terlalu meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh dua pria yang benar-benar tidak ingin kehilangan satu-satunya hal yang berharga dalam hidup mereka."
Nathan melangkah maju, ia menodongkan sebuah dokumen ke arah Ayahnya. "Aku sudah memindahkan seluruh aset perusahaan di London ke atas nama Alana secara hukum, melalui celah yang tidak kau sadari saat kau memalsukan dokumen adopsinya. Sekarang, kau tidak punya apa-apa untuk dijual pada Lord Sterling."
"Kau berani mengkhianatiku, Nathan?" geram Tuan Arkananta.
"Aku tidak mengkhianatimu, Ayah. Aku hanya mengambil apa yang menjadi obsesiku," sahut Nathan dingin. Ia menoleh ke arah pintu, seolah tahu Alana ada di sana. "Alana, masuklah."
Alana mendorong pintu itu dengan tangan gemetar. Ia masuk ke dalam ruangan, menatap ketiga pria Arkananta yang kini berada di satu titik puncak konflik.
Kenzie segera berlari ke arah Alana dan memeluknya erat. "Aku sudah bilang aku akan menjagamu, Al. Maaf kami sedikit terlambat."
Nathan mendekati mereka berdua, ia menatap Alana dengan tatapan yang sangat posesif. "Sekarang, Ayah... pilihan ada di tanganmu. Pergi dari sini dan biarkan kami membawa Alana pulang, atau Lord Sterling akan segera tahu bahwa kau baru saja mencoba menjual aset yang sudah tidak kau miliki—dan kau tahu apa yang dilakukan pria seperti dia pada penipu."
Tuan Arkananta tampak sangat terpojok. Kekuasaannya baru saja diruntuhkan oleh darah dagingnya sendiri. Namun, sebelum ia bisa menjawab, pintu utama ruangan itu ditendang terbuka.
Lord Sterling masuk bersama beberapa pengawal bersenjata. Wajahnya tidak lagi ramah, melainkan penuh dengan amarah yang dingin.
"Arkananta, aku baru saja menerima pesan menarik. Tampaknya kau mencoba membodohiku," ucap Lord Sterling. Ia menatap Nathan dan Kenzie, lalu menatap Alana. "Tapi aku tidak peduli siapa yang memiliki dokumennya secara hukum. Di rumah ini, akulah hukumnya."
Lord Sterling memberi isyarat pada pengawalnya. "Ambil gadis itu. Dan habisi mereka bertiga. Aku tidak suka sisa-sisa bisnis yang berantakan."
Dalam hitungan detik, ruangan itu berubah menjadi medan pertempuran. Kenzie mulai melepaskan tembakan, sementara Nathan menarik Alana ke balik sebuah lemari besar untuk melindunginya. Suara baku tembak memecah kesunyian mansion megah itu.
Di tengah kekacauan, Nathan menangkup wajah Alana. Napasnya terasa hangat di wajah Alana yang membeku. "Dengar, Alana. Aku dan Kenzie akan menahan mereka di sini. Kau harus lari ke arah taman belakang. Ada helikopter yang sudah menunggu di sana. Sopirnya adalah orang kepercayaanku."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kalian!" teriak Alana.
"Kau harus pergi, Alana! Ini satu-satunya cara agar kau benar-benar bebas dari Ayah dan Lord Sterling!" Kenzie berteriak dari balik pilar sambil terus menembak.
Nathan mencium bibir Alana dengan sangat dalam, sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan. "Pergilah, Little Rose. Jadilah bebas untuk kami berdua."
Alana berlari keluar melalui pintu samping, menyusuri taman yang luas di bawah guyuran hujan London yang dingin. Ia melihat helikopter itu di ujung taman, baling-balingnya sudah berputar kencang. Ia terus berlari, mengabaikan suara tembakan yang masih terdengar dari dalam mansion.
Ia berhasil mencapai helikopter dan masuk ke dalamnya. Helikopter itu segera lepas landas, meninggalkan mansion Lord Sterling yang kini tampak seperti neraka di bumi.
Saat helikopter itu sudah cukup tinggi, Alana menatap keluar jendela. Ia melihat mansion itu mulai dilalap api. Sebuah ledakan besar menghancurkan bagian sayap bangunan tempat Nathan, Kenzie, dan Tuan Arkananta berada.
"Tidak... tidak!" jerit Alana.
Ia jatuh terduduk di lantai helikopter, menangis sejadi-jadinya. Ia merasa bebas, namun hatinya hancur berkeping-keping. Ia telah kehilangan semua orang yang pernah ia kenal, orang-orang yang mencintainya dengan cara yang salah namun begitu dalam.
Helikopter itu terbang menjauh dari London, menuju ke arah pegunungan di Swiss sesuai rencana awal Nathan. Alana mencoba menenangkan dirinya, menghapus air matanya, dan menatap ke depan.
Namun, saat ia menatap ke arah kursi pilot, ia menyadari sesuatu yang aneh. Pilot itu tidak mengenakan seragam perusahaan Nathan. Pilot itu mengenakan jaket kulit yang sangat akrab di matanya.
Sopir itu melepaskan helmnya dan berbalik menatap Alana.
Itu bukan orang kepercayaan Nathan. Itu adalah seseorang yang seharusnya sudah mati atau membusuk di dalam penjara sejak sepuluh tahun lalu.
Sopir itu menatap Alana dengan senyum yang sangat mirip dengan senyum ayahnya yang telah tiada.
"Sudah lama sekali, Alana. Kau benar-benar tumbuh menjadi mawar yang cantik, persis seperti ibumu."
Alana membeku, napasnya seolah berhenti. "Ayah? Ayah Wijaya?"
Pria itu tertawa, sebuah tawa yang sangat dingin dan penuh rahasia.
"Arkananta pikir dia sudah menghancurkanku. Dia pikir dia bisa mengambil anakku sebagai trofi. Dia tidak tahu bahwa aku selalu mengawasi dari bayang-bayang, menunggu saat yang tepat untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Alana, matanya berkilat penuh obsesi yang jauh lebih besar dari Nathan dan Kenzie digabungkan.
"Dan sekarang, Alana... kau akan membantuku membangun kembali kerajaan kita, meskipun itu artinya kau harus melupakan kedua bersaudara Arkananta itu selamanya."
Alana menatap ke bawah, ke arah daratan yang semakin menjauh. Ia baru saja menyadari bahwa pelariannya bukanlah menuju kebebasan, melainkan menuju sangkar yang jauh lebih tua dan jauh lebih gelap.