Derap langkah kaki anak buah Tuan Arkananta yang menaiki tangga terdengar seperti hitungan mundur menuju eksekusi. Di lorong lantai dua yang luas itu, ketegangan mencapai titik didih. Nathan masih menatap Alana dengan intensitas yang mengerikan, menunggu jawaban atas bisikan gelapnya. Sementara itu, Kenzie berdiri dengan napas yang terputus-putus, tangannya masih menggenggam jemari Alana begitu erat hingga buku jarinya memutih.
Tuan Arkananta berdiri di ujung lorong, sosoknya tampak seperti bayangan kematian yang dibalut setelan jas mahal. Ia tidak terburu-buru. Baginya, ketiga orang di depannya hanyalah pion yang sedang memberontak sebelum akhirnya kembali ke dalam kotak.
"Waktumu habis, Nathan. Berikan dia, atau aku akan menghancurkan karirmu dan mengirim adikmu yang tidak berguna ini ke sel penjara paling bawah," suara Tuan Arkananta bergema, dingin dan tanpa emosi.
Nathan menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Ayahnya, lalu perlahan tangannya bergerak ke arah saku jasnya. Alana sempat mengira Nathan akan mengeluarkan senjata, namun pria itu justru mengeluarkan sebuah perangkat kendali kecil—bukan untuk gerbang, melainkan untuk sistem pemadam api dan listrik internal vila.
"Kenzie, bawa dia ke ruang rahasia di balik perpustakaan. Sekarang!" perintah Nathan dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Nathan, apa yang mau kau lakukan?" tanya Kenzie waspada.
"Lakukan saja, b******k! Jika kau ingin dia tetap hidup, bawa dia pergi dari pandangan Ayah!" bentak Nathan.
Bersamaan dengan teriakan itu, Nathan menekan tombol di tangannya.
Klik.
Seketika, seluruh lampu di vila padam. Kegelapan total menyergap. Suara alarm keamanan mulai meraung, diikuti oleh semprotan air dari sprinkler di langit-langit koridor yang mulai membasahi segalanya. Suasana menjadi kacau dalam sekejap. Alana mendengar teriakan amarah Tuan Arkananta dan perintah-perintah kasar dari anak buahnya.
"Ikut aku, Al!" Kenzie menarik tangan Alana dengan kasar namun protektif. Dalam kegelapan dan di bawah guyuran air dingin, Kenzie menyeret Alana menyusuri koridor samping, menjauh dari pusat keributan.
Alana bisa mendengar suara baku hantam di belakang mereka. Nathan, dengan segala kemarahan sosiopatnya, sedang menghadapi anak buah Ayahnya sendirian demi memberi mereka waktu. Rasa benci Alana pada Nathan mendadak bercampur dengan rasa sesak yang aneh. Pria itu baru saja mengorbankan dirinya sendiri, meski dengan cara yang tetap gelap.
Kenzie menendang pintu perpustakaan dan menarik Alana masuk. Di dalam ruangan yang hanya diterangi kilatan petir dari luar jendela, Kenzie meraba dinding kayu yang penuh dengan rak buku. Dengan satu sentuhan pada mekanisme tersembunyi, sebuah rak besar bergeser, menyingkap sebuah ruangan kecil yang sempit dan pengap.
Kenzie mendorong Alana masuk, lalu ia ikut masuk dan menutup kembali rak tersebut. Di dalam sana hanya ada kegelapan total dan aroma kertas tua. Napas Kenzie terdengar memburu di dekat telinga Alana.
"Kita aman di sini... untuk sementara," bisik Kenzie. Tubuhnya yang basah kuyup bersandar pada Alana, membuat sweter wol yang Alana kenakan terasa berat dan dingin.
Alana menggigil, bukan hanya karena air, tapi karena adrenalin yang masih memacu jantungnya. "Ken... apa yang akan terjadi pada Kak Nathan? Ayah akan membunuhnya."
"Nathan bisa menjaga dirinya sendiri. Dia iblis, Al. Iblis tidak mudah mati," sahut Kenzie. Namun, meskipun suaranya terdengar sinis, Alana bisa merasakan tangan Kenzie yang memegang bahunya gemetar.
Kenzie menarik Alana lebih dekat ke dalam pelukannya. Di ruang sempit itu, keintiman terasa begitu menyesakkan. Alana bisa merasakan detak jantung Kenzie yang beradu dengan detak jantungnya sendiri. Gairah yang tadi sempat terputus di kamar kini kembali muncul, kali ini bercampur dengan rasa takut akan kematian dan keputusasaan yang murni.
"Jika kita tidak keluar dari sini hidup-hidup... aku ingin kau tahu kalau aku benar-benar mencintaimu, Alana. Bukan karena kau milik Arkananta, bukan karena kau piala. Tapi karena kau adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa punya jiwa," bisik Kenzie.
Tangan Kenzie merambat ke wajah Alana, menghapus tetesan air yang bercampur dengan air mata di pipinya. Dalam kegelapan itu, bibir Kenzie menemukan bibir Alana. Ciuman itu terasa asin karena air dan pedih karena luka, namun juga penuh dengan gairah yang haus akan pengakuan. Alana tidak menolak. Ia membalas ciuman itu dengan rasa lapar yang sama, seolah-olah ini adalah napas terakhirnya sebelum dunia benar-benar berakhir.
Tangan Kenzie mulai meraba pinggang Alana, menarik tubuh gadis itu agar tidak ada lagi jarak di antara mereka. Di tengah kegelapan ruang rahasia, di tengah ancaman maut dari Tuan Arkananta, mereka tenggelam dalam cumbuan yang liar dan putus asa. Kenzie mengangkat tubuh Alana, mendudukkannya di atas meja kecil yang ada di ruangan itu, sementara tangannya mulai merayap masuk ke balik sweter Alana.
"Kenzie..." desah Alana, suaranya parau.
"Biarkan aku memilikimu, Al. Sekali saja, tanpa ada bayang-bayang Nathan atau Ayah," gumam Kenzie di antara ciumannya yang turun ke leher Alana.
Namun, di tengah momen erotis yang memuncak itu, terdengar suara dentuman keras dari balik rak buku perpustakaan. Suara langkah kaki yang berat dan suara gesekan logam di atas lantai marmer.
"Aku tahu kalian di sini. Kenzie, kau tidak pernah pandai bersembunyi," suara Tuan Arkananta terdengar sangat dekat, hanya terhalang oleh rak buku tebal.
Alana dan Kenzie membeku. Napas mereka tertahan. Kenzie perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Alana dan meraih sebuah pisau lipat dari saku jaketnya. Matanya berkilat penuh amarah yang siap meledak.
"Tetap di belakangku, Al," bisik Kenzie.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah luar perpustakaan. Satu, dua, tiga kali. Diikuti oleh suara teriakan dan tubuh yang jatuh ke lantai. Alana menutup telinganya, jantungnya seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Hening kembali menyelimuti.
Lalu, terdengar suara gesekan rak buku yang dibuka dari luar. Cahaya dari senter masuk ke dalam ruang rahasia itu, membuat mata Alana perih. Sesosok tubuh berdiri di ambang celah rak buku.
Bukan Tuan Arkananta.
Itu Nathan. Wajahnya berlumuran darah, kemeja hitamnya sobek di bagian bahu, dan di tangannya ia memegang sebuah pistol yang masih mengeluarkan asap tipis. Nathan tampak seperti iblis yang baru saja merangkak keluar dari neraka.
Nathan menatap Kenzie yang masih memeluk Alana di atas meja, lalu ia menatap Alana dengan pandangan yang kosong namun tajam.
"Ayah sudah pergi," ucap Nathan datar. Suaranya terdengar seperti robot yang kehabisan daya.
"Kau membunuhnya?" tanya Kenzie dengan nada tidak percaya.
Nathan tidak menjawab. Ia hanya menepi, memberi jalan bagi mereka untuk keluar. Alana turun dari meja dengan kaki lemas, ia berjalan keluar dari ruang rahasia itu diikuti oleh Kenzie. Di lantai perpustakaan, ia melihat dua anak buah Ayahnya tergeletak tak bernyawa, namun Tuan Arkananta tidak ada di sana.
"Dia melarikan diri ke kota untuk mencari perlindungan hukum. Tapi dia sudah selesai. Aku sudah mengirimkan semua data korupsi dan bukti pembunuhannya ke kolega bisnisnya dan pihak berwenang di luar negeri," jelas Nathan. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai dengan bunyi denting yang nyaring.
Nathan mendekati Alana. Ia tidak mempedulikan Kenzie yang siap menyerangnya. Nathan berdiri di depan Alana, wajahnya yang bersimbah darah berada hanya beberapa inci dari wajah Alana.
"Sekarang dia akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai buronan atau di dalam penjara. Kau bebas, Alana. Dokumen itu sudah hancur, dan Ayah sudah tidak punya kuasa lagi atas namamu," ucap Nathan.
Alana menatap Nathan, lalu menatap Kenzie. Ia merasa lega, namun ia juga merasa ngeri. Nathan baru saja menghancurkan Ayahnya sendiri untuk "membebaskan" Alana, namun Alana tahu ini bukan kebebasan yang murni. Ini hanyalah perpindahan kekuasaan.
"Dan sekarang apa?" tanya Alana lirih. "Apa kau akan mengurungku lagi di sini?"
Nathan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menyedihkan. Ia merogoh sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya pada Alana. Itu adalah kunci mobil dan sebuah paspor dengan nama asli Alana, Alana Wijaya.
"Ada mobil yang menunggumu di gerbang belakang. Sopirnya akan membawamu ke bandara. Ada tiket ke Zurich di dalamnya. Pergilah ke sana, ada rekening atas namamu yang cukup untuk hidup sepuluh turunan," ujar Nathan.
Kenzie tertegun. "Kau membiarkannya pergi, Nathan?"
Nathan menoleh pada Kenzie. "Dia tidak akan pernah mencintai kita selama kita masih menganggapnya sebagai piala, Kenzie. Aku sudah kalah. Dan kau juga sudah kalah."
Alana mengambil kunci dan paspor itu dengan tangan gemetar. Ia tidak percaya bahwa Nathan benar-benar melepaskannya. Ia menatap kedua saudara itu untuk terakhir kalinya. Kenzie tampak ingin menahannya, namun ia tertahan oleh tatapan Nathan yang seolah berkata biarkan dia pergi atau kita akan membunuhnya secara perlahan.
Alana berbalik dan berlari menyusuri koridor yang basah, menuju gerbang belakang sesuai petunjuk Nathan. Ia tidak menoleh lagi. Ia terus berlari hingga ia mencapai mobil hitam yang sudah menunggu dengan mesin menyala.
Saat mobil itu mulai bergerak meninggalkan vila, Alana menatap ke arah jendela lantai dua. Di sana, di bawah guyuran hujan yang deras, ia melihat dua siluet pria berdiri di balkoni, menatap kepergiannya. Satu siluet yang tenang dan satu siluet yang tampak ingin melompat turun.
Namun, saat mobil itu baru saja keluar dari area hutan pinus menuju jalan raya, sopir mobil itu mendadak menginjak rem dengan sangat keras.
Alana terlempar ke depan. Ia melihat ke depan, dan jantungnya seolah berhenti.
Di tengah jalan, berdiri sebuah barikade mobil polisi dengan lampu yang menyala-nyala. Dan di depan barikade itu, berdiri Tuan Arkananta dengan senyum iblisnya yang masih utuh, didampingi oleh seorang pria berseragam tinggi yang tampak sangat akrab dengan ayahnya.
Sopir mobil itu berbalik menatap Alana, lalu ia mengeluarkan sebuah suntikan dari balik jasnya.
"Maaf, Nona Alana. Tuan Nathan memang pintar, tapi Tuan Arkananta selalu punya rencana cadangan untuk aset kesayangannya."