Suara tawa Alana yang terdengar dari balik pintu jati itu tidak terdengar seperti tawa bahagia. Itu adalah suara seseorang yang dunianya baru saja jungkir balik, sebuah tawa kering yang pecah di tengah kesunyian malam pegunungan. Di lorong yang remang-remang, Nathan dan Kenzie membeku. Ketegangan yang tadinya berupa persaingan maskulin mendadak berubah menjadi kegelisahan yang mencekam.
Nathan meletakkan telapak tangannya di permukaan pintu yang dingin. "Alana? Buka pintunya. Apa yang kau bicarakan? Dokumen itu hanya berisi status hukummu."
"Status hukum?" suara Alana terdengar lagi, kini lebih dekat ke pintu, namun nadanya begitu tajam hingga seolah bisa mengiris kayu jati tersebut. "Kau selalu bangga dengan ketelitianmu, Kak Nathan. Kau selalu bilang kau menjagaku karena kau menemukan mawar yang tersesat. Tapi kau tidak pernah bilang kalau kau adalah orang yang membuat mawar itu kehilangan rumahnya."
Kenzie mengernyit, ia melangkah maju dan mendorong bahu Nathan agar ia bisa lebih dekat ke pintu. "Al, apa maksudmu? Apa yang kau baca di sana? Jangan bicara teka-teki, kau membuatku takut!"
Di dalam kamar, Alana duduk bersimpuh di atas karpet beludru. Lembaran kertas dari amplop cokelat itu berserakan di depannya. Di bawah cahaya lampu tidur yang kuning temaram, baris-baris kalimat dalam lampiran laporan investigasi lama yang terselip di balik surat adopsi itu terlihat begitu jelas. Itu adalah laporan aset perusahaan milik keluarga kandung Alana yang dinyatakan bangkrut sepuluh tahun lalu.
Dan di bagian bawah laporan itu, tertera tanda tangan saksi sekaligus pihak yang mengakuisisi aset tersebut dengan harga sampah setelah pemiliknya "mengalami kecelakaan fatal".
Tanda tangan itu milik Arkananta. Ayah mereka.
"Ayah kalian bukan menyelamatkanku," bisik Alana, suaranya kini terdengar bergetar hebat. "Dia menghancurkan bisnis ayahku, dia membuat keluargaku jatuh miskin dalam semalam, dan saat kecelakaan itu terjadi... dia membawaku masuk ke rumah ini bukan karena kasihan. Dia membawaku sebagai trofi kemenangan. Untuk memastikan tidak ada satu pun saksi dari keluarga Wijaya yang tersisa untuk menuntut kembali harta yang dia rampas."
Keheningan yang mengikuti penjelasan itu terasa jauh lebih berat daripada ledakan bom. Kenzie mundur selangkah, wajahnya yang tadi penuh amarah kini memucat. Ia menatap kakaknya, mencari bantahan di mata Nathan.
"Nathan... katakan padaku itu tidak benar," gumam Kenzie. "Katakan kalau Ayah tidak sejahat itu."
Nathan tetap diam. Rahangnya mengeras, dan tatapannya terpaku pada gagang pintu. Ia tidak tampak terkejut. Ketenangan yang ia tunjukkan justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi mereka semua.
"Kau sudah tahu?" suara Kenzie mendadak naik satu oktav. Ia mencengkeram kerah kemeja Nathan, menyeret kakaknya itu hingga punggung Nathan menghantam dinding koridor dengan keras. "Kau sudah tahu kalau Alana adalah putri dari orang yang dihancurkan Ayah? Dan kau tetap memperlakukannya seperti mainan? Kau bahkan berniat menikahinya untuk mengunci aset itu selamanya?"
Nathan menepis tangan Kenzie dengan kekuatan yang tak terduga. Ia merapikan kemejanya dengan gerakan mekanis yang menakutkan. "Dunia bisnis tidak mengenal belas kasihan, Kenzie. Ayah melakukan apa yang harus dilakukan. Dan aku memilih untuk menjaga Alana dengan cara terbaik yang aku tahu. Jika dia tetap menjadi seorang Arkananta, dia akan hidup mewah selamanya. Dia tidak perlu tahu tentang kemiskinan atau penderitaan keluarganya yang lama."
"Kau b******n sosiopat!" Kenzie melayangkan pukulan telak ke pipi Nathan. Kali ini, Nathan tidak menghindar. Kepalanya terhentak ke samping, dan darah segar mengalir dari bibirnya yang kembali sobek.
Kenzie tidak berhenti. Ia menyerang Nathan dengan membabi buta, meluapkan seluruh rasa bersalah dan kemarahannya. Baginya, mencintai Alana adalah hal tersuci yang ia miliki di tengah keluarga yang kotor, namun mengetahui bahwa keluarganya adalah penyebab penderitaan Alana membuat cinta itu terasa seperti dosa yang paling menjijikkan.
Di dalam kamar, Alana bangkit berdiri. Ia tidak lagi menangis. Ada kekosongan yang dingin di dalam jiwanya. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil sebuah gunting kecil yang biasa ia gunakan untuk merapikan benang bajunya. Dengan gerakan perlahan, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
Perkelahian di lorong itu terhenti seketika saat pintu terbuka. Nathan dan Kenzie menoleh, keduanya tampak berantakan, napas mereka memburu. Mereka melihat Alana berdiri di sana dengan dokumen-dokumen itu di tangan kirinya dan gunting di tangan kanannya.
"Alana..." panggil Kenzie lirih, mencoba mendekat.
"Jangan mendekat, Ken," ucap Alana dingin. "Dan kau, Kak Nathan... jangan pernah lagi menyebut namaku dengan nada 'penyelamat'. Kalian berdua adalah bagian dari monster yang membunuh orang tuaku."
Alana mengangkat dokumen-dokumen itu tinggi-tinggi, lalu dengan gerakan yang sangat tenang, ia mulai menggunting kertas-kertas berharga itu menjadi potongan-potongan kecil. Serpihan kertas putih jatuh seperti salju yang kotor di lantai marmer.
"Status adopsi ini... nama Arkananta ini... aku membuangnya," ucap Alana. "Mulai detik ini, aku bukan lagi adik kalian. Aku bukan lagi tawanan kalian. Dan aku bukan lagi pion yang bisa kalian perebutkan di meja makan."
Nathan menatap serpihan kertas itu dengan tatapan hampa. "Kau tidak bisa pergi, Alana. Tanpa dokumen itu, kau tidak punya identitas. Kau akan menjadi orang asing yang dicari polisi karena laporan penculikan yang dibuat Kenzie tadi malam."
"Biarkan saja," sahut Alana. "Aku lebih baik dipenjara oleh hukum daripada dipenjara oleh cinta kalian yang sakit."
Kenzie mendekat, ia berlutut di depan Alana, memegang ujung sweter wol biru Alana yang kini terasa sangat ironis. "Al... aku tidak tahu. Sumpah, aku tidak tahu tentang Ayah. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku akan membantumu menuntut Ayah, aku akan memberikan semua bagian warisanku untukmu. Tolong, jangan benci aku seperti kau membencinya."
Alana menatap Kenzie dengan tatapan yang sangat datar. "Kau tetap seorang Arkananta, Kenzie. Di dalam darahmu mengalir ambisi yang sama. Kau ingin memilikiku karena kau merasa kau berhak atas diriku. Kau tidak berbeda dengan Nathan, kau hanya lebih berisik."
Nathan melangkah maju, ia berdiri di belakang Kenzie, menatap Alana dengan d******i yang kembali pulih. "Pilihanmu terbatas, Alana. Gerbang vila ini masih terkunci. Penjaga di luar hanya mendengarkan perintahku. Kau tidak akan bisa keluar dari sini tanpa seizinku."
"Kalau begitu, bunuh saja aku sekarang," tantang Alana. Ia menempelkan ujung gunting itu ke lehernya sendiri, membuat Nathan dan Kenzie tersentak maju. "Bukankah itu yang dilakukan Ayahmu? Dia membunuh apa yang tidak bisa dia miliki sepenuhnya. Lakukan hal yang sama, Kak Nathan. Akhiri trofi kemenanganmu ini."
"Turunkan gunting itu, Alana!" teriak Nathan, untuk pertama kalinya suaranya terdengar panik.
"Hanya jika kau membuka gerbang itu dan membiarkan aku pergi sendirian," balas Alana.
Kenzie menoleh pada Nathan, matanya memohon. "Buka gerbangnya, Nathan! Kau mau dia mati di depan matamu?"
Nathan terdiam. Ia menatap Alana, menimbang-nimbang antara obsesinya untuk memiliki dan rasa takutnya kehilangan objek obsesinya tersebut. Di saat yang sama, suara deru mobil lain terdengar mendekat ke vila. Bukan hanya satu mobil, tapi beberapa mobil dengan lampu strobo yang menerangi hutan pinus dari kejauhan.
Nathan segera berlari menuju balkoni lorong untuk melihat ke bawah. Wajahnya menegang.
"Ayah..." gumam Nathan. "Ayah datang bersama orang-orangnya."
Kenzie ikut melihat ke bawah, lalu ia menatap Alana dengan ketakutan yang murni. "Dia tidak datang untuk menjemputmu, Al. Dia tahu dokumen itu ada di tanganmu. Dia datang untuk 'membereskan' masalah ini sebelum kau bisa bicara pada siapa pun."
Alana menurunkan guntingnya, namun ia tetap menggenggamnya kuat. Ketakutannya kini berubah menjadi kesadaran akan bahaya yang lebih besar. Ayah angkatnya, pria yang telah menghancurkan keluarganya, kini datang untuk menghancurkan sisa hidupnya.
Nathan berbalik, ia mendekati Alana dan mencengkeram bahunya, kali ini dengan kekuatan yang memaksa. "Dengar, Alana. Kita tidak punya waktu untuk berdebat soal masa lalu. Jika Ayah masuk ke sini dan melihat dokumen itu sudah hancur, dia tidak akan ragu untuk melenyapkanmu malam ini juga. Kau harus ikut denganku ke ruang bawah tanah."
"Tidak! Dia ikut denganku!" Kenzie mencoba menarik Alana ke arah tangga belakang.
Di tengah tarik-menarik yang kembali terjadi, suara dentuman keras terdengar dari lantai bawah. Pintu utama vila didobrak paksa dari luar. Langkah-langkah sepatu bot yang berat mulai menaiki tangga dengan cepat.
Alana menatap kedua pria di depannya. Dua saudara yang mencintainya dengan cara yang mengerikan, namun kini menjadi satu-satunya pelindungnya dari predator yang jauh lebih besar.
"Kalian berdua..." Alana berbisik, suaranya sangat dingin di tengah kekacauan yang akan datang. "Jika aku mati malam ini, aku ingin kalian tahu satu hal."
Nathan dan Kenzie menahan napas, menatap Alana dengan penuh antisipasi di tengah derap langkah yang semakin mendekat.
"Aku tidak pernah benar-benar mencintai kalian. Aku hanya belajar untuk bertahan hidup dari kegilaan kalian."
Tepat saat itu, pintu lorong di ujung tangga terbuka lebar. Tuan Arkananta berdiri di sana dengan setelan jas hitam yang sempurna, diapit oleh dua pria bertubuh besar. Ia menatap ketiga anak asuhnya dengan tatapan yang seolah tidak pernah menganggap mereka manusia.
"Nathan, Kenzie... berikan mawar kecilku padaku," ucap Tuan Arkananta dengan suara berat yang menggetarkan ruangan. "Ada penerbangan ke London dalam dua jam, dan aku tidak ingin dia terlambat."
Nathan berdiri di depan Alana, melindungi gadis itu dengan tubuhnya, sementara Kenzie berdiri di samping Alana, menggenggam tangannya dengan posesif. Untuk pertama kalinya, kedua saudara itu tidak saling menyerang. Mereka berdiri sebagai satu barisan pertahanan.
Nathan menatap Ayahnya dengan tatapan yang sangat tajam. "Dia tidak akan pergi ke mana-mana, Ayah. Tidak malam ini, tidak selamanya."
Tuan Arkananta tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ancaman kematian. "Kau lupa siapa yang memberimu segalanya, Nathan? Kau ingin menjadi pahlawan untuk putri dari pria yang aku hancurkan?"
Alana melangkah keluar dari balik punggung Nathan, ia menatap pria tua itu dengan kebencian yang sudah mendarah daging.
"Kau membunuh ayahku," desis Alana.
Tuan Arkananta tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Aku memberimu kehidupan mewah yang tidak akan pernah diberikan ayahmu yang gagal itu, Alana. Sekarang, jadilah anak yang manis dan ikutlah dengan penjagamu."
"Atau apa?" tantang Kenzie, ia menarik Alana semakin dekat.
Tuan Arkananta memberi isyarat pada anak buahnya. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan sebuah video rekaman CCTV di layar. Alana melihat video itu dan matanya membelalak. Itu adalah video dari dalam vila ini, memperlihatkan Nathan yang sedang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Alana di hari pertama mereka tiba.
"Jika polisi mendapatkan video ini, Nathan akan dipenjara karena penculikan dan pembiusan," ucap Tuan Arkananta tenang. "Dan Kenzie... aku punya bukti pembakaran apartemen yang kau lakukan. Pilihannya ada di tangan kalian. Berikan dia padaku, atau kalian berdua akan menghabiskan sisa hidup di balik jeruji besi."
Alana menatap Nathan, lalu menatap Kenzie. Ia bisa melihat dilema yang mengerikan di mata mereka. Pengorbanan atau kepemilikan. Kebebasan atau kehancuran.
Nathan menatap Alana, matanya berkaca-kaca namun tetap penuh dengan obsesi sosiopatnya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Alana, membisikkan sesuatu yang membuat Alana harus membuat keputusan paling sulit dalam hidupnya.
"Jika kau ikut dengan Ayah, aku akan memastikan dia tidak akan pernah bangun lagi besok pagi, Alana. Berikan aku satu kesempatan lagi untuk menjadi pahlawanmu dengan cara yang paling berdarah."