Udara di dalam kamar yang tadi sempat memanas oleh gairah antara Alana dan Kenzie mendadak mendingin, seolah-olah es baru saja merayap masuk melalui celah-celah jendela balkoni. Alana berdiri mematung di tengah ruangan, menatap siluet Nathan yang berdiri tenang di balik kaca, memegang amplop cokelat yang terasa seperti bom waktu bagi masa depannya.
Kenzie, yang tadinya siap meledak, terdiam dengan rahang mengeras. Ia menatap amplop itu dengan kebencian yang murni. Sebagai seorang Arkananta, ia tahu betul bahwa di keluarga mereka, selembar kertas bisa lebih mematikan daripada sebutir peluru.
"Kau benar-benar iblis, Nathan," desis Kenzie. Ia melangkah mendekati balkoni, namun ia berhenti saat Nathan memberikan gestur peringatan dengan jarinya.
"Aku hanya seorang realistis, Kenzie. Aku tahu kau ingin menjadi pahlawan dengan membawanya lari, tapi kau lupa bahwa tanpa nama Arkananta, Alana hanyalah mangsa empuk bagi serigala-serigala di luar sana termasuk kolega Ayah yang sudah menunggunya di London," suara Nathan menembus kaca, terdengar jernih dan tak berperasaan.
Alana berjalan mendekat, langkahnya gontai. Ia menatap Nathan dari balik kaca, lalu beralih pada Kenzie yang kini tampak tak berdaya. Rasa mual kembali menghantam ulu hatinya. Ternyata, keberadaannya di keluarga ini tidak pernah lebih dari sekadar status hukum yang bisa dihapus kapan saja oleh pria yang berdiri di balkon itu.
"Kenapa, Kak? Kenapa Kakak tega melakukan ini padaku?" tanya Alana, suaranya parau.
Nathan menghela napas, sebuah embusan napas yang membuat kaca jendela berembun. Ia membuka pintu geser balkoni perlahan, membiarkan angin malam yang dingin masuk dan menerbangkan tirai tipis kamar itu. Nathan melangkah masuk, mengabaikan Kenzie yang siap menerjangnya kapan saja.
"Aku tidak melakukan ini padamu, Alana. Aku melakukan ini untuk memastikan kau tetap aman di bawah kendaliku. Jika dokumen ini dihancurkan, Ayah tidak akan bisa menjualmu sebagai 'anak angkat'. Tapi jika dokumen ini jatuh ke tangan yang salah, kau akan kehilangan segalanya," Nathan menatap Alana dengan tatapan yang sangat dalam, penuh obsesi yang ia sebut sebagai cinta. "Pilihannya sederhana. Kau kembali padaku, kau patuh padaku, dan aku akan membakar dokumen ini di depan matamu. Kau akan tetap menjadi seorang Arkananta, dengan segala perlindungan yang bisa kuberikan."
"Jangan dengarkan dia, Al!" Kenzie menyela, suaranya serak karena amarah. "Dia hanya menggertak. Dia tidak akan membuangmu karena dia sendiri terobsesi padamu. Dia hanya ingin kau berlutut dan memohon padanya!"
Nathan menoleh pada Kenzie, sebuah senyum tipis yang merendahkan muncul di bibirnya yang masih sedikit berdarah. "Kau mau bertaruh dengan masa depan Alana, Kenzie? Kau ingin melihatnya menjadi gelandangan hanya karena egomu yang ingin meniduri tunanganmu sendiri?"
"Aku mencintainya lebih dari apa pun!" raung Kenzie. Ia menerjang Nathan, namun Nathan dengan sigap menghindar dan menggunakan amplop cokelat itu untuk memukul wajah Kenzie. Pukulan itu tidak keras, namun penghinaan yang terkandung di dalamnya membuat Kenzie tersungkur di atas karpet.
Alana berteriak, ia berlari ke arah Kenzie dan berlutut di sampingnya. Ia memegang wajah Kenzie yang kini semakin babak belur. Di saat yang sama, ia bisa merasakan kehadiran Nathan yang berdiri tegak di belakangnya, seperti bayangan yang tak akan pernah bisa ia tinggalkan.
"Hentikan... tolong hentikan," tangis Alana pecah. "Aku lelah. Aku tidak mau menjadi alasan kalian saling membunuh."
Nathan berlutut di sisi lain Alana. Ia meletakkan tangannya di bahu Alana, sebuah sentuhan yang terasa posesif dan dingin. "Maka buatlah pilihan yang benar, Alana. Kenzie tidak bisa memberimu apa-apa selain pelarian yang kacau. Bersamaku, kau punya segalanya. Kau punya rumah ini, kau punya namamu, dan kau punya pria yang tahu cara menjagamu tanpa harus menghancurkan segalanya."
Alana menatap Kenzie, lalu menatap Nathan. Ia berada di persimpangan yang mengerikan. Kenzie menawarkan gairah dan kebebasan yang liar namun rapuh, sementara Nathan menawarkan kemewahan dan keamanan yang mencekik namun kokoh.
"Jika aku memilihmu, Kak... apa yang akan terjadi pada Kenzie?" tanya Alana dengan suara lirih.
Nathan terdiam sejenak. Ia melirik adiknya yang masih terengah-engah di lantai. "Kenzie akan tetap menjadi adikku. Dia akan mendapatkan kembali aset-asetnya, dan dia harus belajar untuk menjauh darimu. Itu harga yang harus ia bayar karena sudah mencoba merusak tatanan yang sudah kubangun."
Kenzie mendongak, matanya berkilat penuh air mata amarah. "Al, jangan lakukan itu. Jangan biarkan dia menang lagi. Aku lebih baik mati daripada melihatmu menjadi tawanan manisnya di rumah ini."
Alana menyentuh rambut Kenzie, lalu ia berdiri perlahan. Ia menghapus air matanya dan menatap Nathan dengan tatapan yang kosong. Rasa benci yang ia rasakan pada Nathan kini bercampur dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa benar-benar bebas selama dua bersaudara ini masih bernapas.
"Berikan dokumen itu padaku," ucap Alana dingin.
Nathan tersenyum kemenangan. Ia menyerahkan amplop cokelat itu kepada Alana. Alana mengambilnya, merasakan berat kertas di dalamnya yang seolah berisi seluruh sejarah hidupnya sejak ia berusia delapan tahun.
"Sekarang, Kak Nathan... keluar dari kamarku. Dan Kenzie... kau juga keluar," perintah Alana.
"Alana, apa maksudmu?" tanya Kenzie bingung.
"Aku akan memberikan jawabanku besok pagi di meja makan. Malam ini, aku ingin sendirian. Jika ada salah satu dari kalian yang mencoba masuk, lewat pintu maupun balkoni... aku bersumpah akan merobek dokumen ini dan lari ke hutan tanpa membawa apa pun," ancam Alana.
Nathan menatap Alana selama beberapa detik, mencoba mencari celah di matanya, namun ia hanya menemukan dinding es yang tebal. Nathan mengangguk perlahan. Ia bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Aku akan menunggumu besok pagi, Alana. Jangan lakukan hal bodoh," pesan Nathan sebelum ia melangkah keluar.
Kenzie berdiri dengan susah payah. Ia menatap Alana dengan pandangan terluka. "Kau tidak akan benar-benar memilihnya, kan, Al? Setelah semua yang aku lakukan untuk mencarimu?"
Alana tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pintu. Dengan berat hati, Kenzie melangkah keluar, meninggalkan Alana sendirian di dalam kamar yang kini terasa seperti sel penjara paling mewah di dunia.
Alana mengunci pintu, menutup rapat tirai balkoni, dan duduk di lantai di depan perapian yang sudah hampir padam. Ia menatap amplop cokelat itu. Tangannya gemetar saat ia merobek segelnya. Di dalamnya terdapat lembaran kertas tua dengan stempel resmi panti asuhan dan tanda tangan Ayah angkatnya.
Namun, saat ia membaca baris demi baris dokumen tersebut, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ada sebuah fakta tersembunyi yang selama ini tidak pernah diceritakan oleh Nathan maupun Kenzie. Sebuah fakta yang akan mengubah seluruh dinamika cinta segitiga mereka.
Alana menutup mulutnya dengan tangan, air mata kembali mengalir, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena kengerian yang murni.
Di luar kamar, di dalam kegelapan lorong, Nathan dan Kenzie masih berdiri tidak jauh dari satu sama lain. Keduanya tidak saling bicara, namun mereka berdua sedang menunggu hal yang sama: keputusan Alana yang akan menentukan siapa yang akan menjadi pemenang dalam permainan obsesi ini.
Tiba-tiba, suara tawa yang histeris namun tertahan terdengar dari dalam kamar Alana. Nathan dan Kenzie saling berpandangan, bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Nathan mendekati pintu dan mengetuknya pelan. "Alana? Kau baik-baik saja di dalam?"
Hening.
Lalu, terdengar suara Alana yang dingin, jauh lebih dingin daripada suara Nathan tadi.
"Kak Nathan... apakah kau tahu siapa sebenarnya orang tua kandungku sebelum kau membawaku ke rumah ini?"