Hujan mulai mengguyur Jakarta dengan deras, membasuh kaca jendela apartemen yang buram. Alana masih terpaku pada foto yang jatuh di lantai. Gemetar di tangannya tidak bisa berhenti. Aroma kayu cendana itu seolah-olah mencekiknya, mengingatkannya pada dekapan Nathan yang dingin namun kokoh. "Ken, apa yang kau sembunyikan?" tanya Alana, suaranya nyaris hilang di antara deru hujan. "Apa yang dikatakan Nathan padamu di atas gedung itu?" Kenzie tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela, menutup tirai rapat-rapat seolah-olah ada ribuan mata yang sedang mengintip dari kegelapan. Ia berbalik, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara benci, cinta, dan kemenangan yang getir. "Kau pikir dia melepaskan pegangannya karena ingin menyelamatkanmu, Al?" Kenzie tertawa

