“Abby...ayolah, kau jangan seperti ini, kau membuatku bingung! Aku tidak mengerti persoalan kalian..Abby, please!” Dave menghalangi Abby untuk keluar rumah
“Aku mau pulang malam ini juga!”
“Apa kau gila? Abby, please, tolong jelaskan dulu situasi ini. Kenapa kau memukul adikku? Apa dia melakukan kesalahan padamu?”
“Kau bisa tanya sendiri pada adik tengikmu itu. Sudah cukup bagiku berurusan dengannya!”
“Ok..ok.. adikku memang tengik. Seharusnya dia tidak berkata kasar seperti tadi di luar. Abby..please, kau ada disini karna aku memang menginginkan kau bisa bersenang-senang menikmati waktumu, dan bukan berakhir dengan seperti ini! Tolong mengertilah...”
Tangan Dave memegang tangan Abby untuk meyakinkannya.
“Abby, please..kuharap kau mau untuk tetap tinggal disini hingga akhir pekan, seperti rencana kita semula. Aku bahkan belum menunjukkan kejutanku untukmu”, Dave menggoda Abby untuk mencairkan situasi.
“Aku tak butuh kejutan. Kejutan untukku sudah kuterima, berupa si pria tengik itu!”
“Dia bukan kejutan dariku. Aku baru berencana memberikannya kepadamu esok pagi. Ayolah..sekali lagi kumohon, buang rasa marahmu. Aku akan bicara padanya malam ini. Sebaiknya kau beristirahat dulu agar pikiranmu lebih jernih. Setuju?”.
Abby memilih untuk diam dan mengikuti perkataan Dave. Mungkin kalau bukan karena Dave yang menahannya, ia sudah berlari meninggalkan tempat itu. Tidak mungkin rasanya suasana bisa tenang jika ia berada dekat dengan Daniel.
***
“Gadis tengik itu sudah berhasil kau jinakkan?”
“Dan, please.. Kita masih perlu duduk bersama dan membicarakan masalahmu dengannya. Jasmine, mari kutunjukkan kamarmu”, Dave secara halus meminta Jasmine untuk meninggalkan mereka berdua. Jasmine pun tak keberatan karena ia sudah lelah dan tak tertarik mendengar permasalahan antara Daniel dan Abby.
“Ok. Sekarang tinggal kita berdua. Ada yang ingin kau ceritakan padaku?”
“Apa gadis tengik itu kekasihmu?”
“Berhentilah menyebutnya tengik, dan Abby bukan kekasihku. Aku mengenalnya di kantor Dad. Dan aku kini berteman dengannya.”
“Apa kau gila? Apa tidak ada gadis lain selain gadis pesuruh itu untuk menjadi temanmu? Dia sama sekali tak menarik, wajahnya, penampilannya, semuanya tak ada yg istimewa. Apa yang kau lihat darinya hingga kau berteman dengannya dan membawanya ke tempat ini?” Daniel menatap Dave dengan kesal.
“Whoaa...Sekarang kau mulai menentukan kriteria seorang teman bagiku?”
Daniel terdiam. Ia tau ucapannya berlebihan pada Dave.
“Sekarang katakan padaku, ada apa dengan kalian? Sejak kecil aku tak pernah melihatmu memukul seorang gadis. Tapi tadi kau ingin membalas pukulannya.”
Daniel tak tau harus bagaimana menceritakannya pada Dave. Kalau ia bercerita konfliknya dengan Abby, pasti ia harus menceritakan semua hal tentang dendamnya pada Greg.
“Dan... Aku menunggumu untuk memberiku penjelasan. Siapa yang dimaksud Abby *pada malam itu*? Apa kau yang menyuruh seseorang menyerang Abby?”.
Lagi-lagi Daniel diam. Ia tak pernah bisa berbohong pada Dave. Sejak kecil, kenakalan atau kebohongan sebesar apapun, Dave selalu melakukan dan mengatakan hal yang bijak.
“You know what Dan..beberapa hari lalu Abby diserang seseorang saat ia pulang kerja. Aku yang menemukan tubuhnya telah terkapar dengan wajah yang penuh luka memar. Dan dari peristiwa itu yang paling kusesali adalah, di malam yang sama mamanya meninggal. Kalau saja Abby tak diserang, mungkin ia masih bisa menyelamatkan nyawa mamanya malam itu. Itu sebabnya aku membawanya kemari, karena aku ingin Abby melupakan sejenak kepahitannya.”
Dave seolah mengerti apa yang pernah dilakukan oleh Daniel pada Abby.
Wajah Daniel menjadi murung, ia tak menyangka perbuatannya berakibat seperti yang dikatakan Dave.
“Dave, i swear...aku tak bermaksud membuat kondisi Abby hingga seburuk itu. Aku hanya berniat menakutinya. Hanya itu. Aku betul-betul menyesal Dave. Aku....”
“Aku tau. Tapi kau berhutang maaf padanya. Sekarang naiklah. Aku akan tidur disini”, Dave membuka sofabed nya dan mengusir Daniel untuk segera tidur.
Kaki Daniel terasa berat untuk menaiki tangga menuju ke kamar tidur. Ia terus membayangkan kondisi Abby malam itu dan benar-benat merasa sangat bersalah dengan apa yang dilakukannya pada gadis itu.
Ia membuka pintu kamar dan kamar itu terlihat gelap. Ia bisa melihat Jasmine yang sudah tertidur lelap karena ada sebuah lampu tidur yang menyala di sisinya. Daniel ingin segera naik ke kasur untuk melepas penat di kepalanya. Ia tak lupa dengan kebiasaannya sebelum tidur untuk melepaskan seluruh pakaiannya, dan masuk ke dalam selimut.
Daniel tak sadar bahwa ia masuk ke kamar Abby, dan bukan Jasmine.
Saat itu ia masih berpikir bahwa ia memeluk tubuh Jasmine yang juga tak menggunakan pakaian apa-apa. Ia memeluk dan tangannya mulai menggerayangi tubuhnya. Kulit Abby begitu lembut dan beraroma lavender. Daniel berpikir bahwa Jasmine mengganti aroma sabunnya.
“Kau siapa? Kau mau apa?!!
Tiba-tiba Abby meloncat dari tempat tidur. Matanya menatap sosok dalam gelap yang tadi menyentuh tubuhnya.
Daniel tak kalah kaget dan balik bertanya, “Kau siapa? Sedang apa kau disini?!”
Perlahan Daniel menyalakan lampu. Ia melihat Abby yang berdiri telanjang di pinggir, menutupi kedua payudaranya. Dan Abby melihat tubuh Daniel yang juga telanjang dan hanya menggunakan boxer nya.
“Dasar laki-laki gila? Apa yang ada di kepalamu? Kau mau memperkosaku ha?” Abby mulai berteriak. Sayangnya seluruh ruangan di dalam rumah itu berdinding tebal, hingga tak seorang pun mendengar suara teriakan Abby.
“Kau...!! Aku..maaf..maaf... aku tak sengaja..kupikir tadi kau adalah Jasmine!!”
Ketika Abby hendak mulai kembali berteriak, Daniel segera menutup mulutnya. Ia takut seisi rumah akan terbangun dan berpikir bahwa ia betul-betul akan memperkosa Abby.
Abby berusaha melepaskan tangan Daniel dari mulutnya, namun Daniel menjadi panik dan membuat keduanya malah terjatuh ke lantai. Kini tubuh Abby ada di bawah Daniel dan milik Daniel tepat berada di atas milik Abby. Ada semacam s****l tension yang dirasakan keduanya. p******a Abby yang besar terhimpit oleh tubuh Daniel, sementara milik Daniel yang saat itu sedang membesar menekan milik Abby. Rasa aneh menyerang mereka berdua hingga keduanya menjadi saling salah tingkah.
Abby tersadar dan mendorong Daniel dari tubuhnya. Wajahnya memerah dan ia segera menutupi tubuhnya dengan selimut. Daniel pun menjadi kikuk, berusaha untuk mengenakan kembali pakaiannya.
“Tolong jangan salah duga. Maaf, aku berpikir bahwa ini bukan kamarmu, sekali lagi maaf”, wajah Daniel menunjukkan rasa bersalah sementara Abby membuang muka. Daniel segera keluar dari kamar Abby dan masuk ke kamar tidur Jasmine.
Malam itu Daniel dan Abby sulit untuk kembali tidur. Rasa malu menghinggapi keduanya. “Malam ini betul-betul malam yang gila! Bagaimana mungkin ia tidur dalam keadaan telanjang seperti itu?“ dalam hati Daniel.
Daniel kembali memikirkan wajah dan tubuh Abby. Kulit wajah Abby ternyata terlihat lembut, bentuk alisnya indah, hidungnya mungil dan mancung, dagunya runcing dan bibirnya begitu sempurna. Dan tubuh Abby, mengembalikan ingatan Daniel kembali ketika pertama kali melihat Abby telanjang.
“Apa aku mulai gila? Selama ini aku tak pernah melihatnya seperti itu! Kenapa aku sekarang mulai memikirkan hal-hal detil tentangnya?” Daniel segera menutup wajahnya dengan bantal dan berharap ia bisa segera tertidur. Namun Daniel tak kunjung berhasil tidur, suhu di kamar itu mendadak terasa panas baginya.
Sementara Abby di kamarnya pun gelisah. Sebetulnya ia tak berniat untuk tidur dengan telanjang, tapi sprei di kamar itu begitu lembut dan nyaman, hingga membuatnya ingin mencoba seluruh kulitnya langsung menyentuh sprei itu.
Abby merutuki kebodohannya, namun ia tak bisa menyangkal ketampanan wajah Daniel dari dekat. Baru saja tadi ia marah dengan Daniel, tapi sekarang ia malah memikirkan Daniel. Abby menepuk-nepuk pipinya, berharap ia tersadar dari pikiran-pikiran konyolnya.
***
Pagi itu Abby tetap menepati janjinya pada Dave untuk selalu menyiapkan makanan. Abby menyiapkan beberapa jenis makanan untuk sarapan, seperti scrambled egg, beberapa potong sosis, pancake dengan sirup maple, dan tentunya kopi hitam kesukaan Dave. Aroma kopi dan makanan itu membangunkan seisi rumah untuk berkumpul di ruang makan.
Tanpa basa basi Jasmine menyodorkan sebuah piring pada Abby, “Aku mau scrambled egg”.
“Kalau kau mau, kau bisa membuatnya disana”, Abby menunjuk sebuah wajan yang masih berada di atas kompor.
“Kau tau caranya menyalakan api kompor? tanya Abby.
Wajah Jasmine menjadi sangat merah sebab ia melihat Dave tertawa mendengar perkataan Abby.
Daniel akhirnya turun dan bergabung di meja makan. Abby pura-pura tak melihatnya, demikian pula dengan Daniel. Keduanya merasa malu atas peristiwa semalam.
“Kalau kau menyediakan roti tawar, kau harus menyediakan ini juga”. Daniel menyodorkan sebuah stoples selai kecil bertuliskan Vegemite. Vegemite merupakan selai khas orang Australia dengan rasa asin dan cenderung pahit. Abby langsung tertawa, sebab sebagian besar orang yang mencoba Vegemite akan merasa kaget dengan rasa uniknya.
“Aku tak pernah rasanya menyukainya Dave”. Namun tiba-tiba Abby menyadari sesuatu. Ia meraih botolnya, memandangnya cukup lama, “Tapi mom sangat suka rasanya”.
Dave saling berpandangan dengan Daniel, sementara Jasmine tetap sibuk mengisi perutnya.
“Abby, ayo segera habiskan sarapanmu. Semalam kan aku sudah bilang aku punya kejutan untukmu” Dave segera mengalihkan pikiran Abby kembali.
Setelah semua selesai sarapan, tiba-tiba Daniel berkata, “I’ll do the dishes, kalian pergilah. Ia segera membereskan sendok-garpu, gelas serta beberapa piring kotor di meja makan.
“Ayo Abby, ikutlah denganku, kejutanmu ada di luar”, ujar Dave.
Abby langsung mengikuti langkah Dave dari belakang dan betapa terkejutnya Abby. Sebuah folding bike berwarna merah dan terlihat baru.
“For me?”. Dave mengangguk.
“Dave, this is too much..”
“Aku tak tau apa jenis sepeda ini cocok untukmu, karena aku tak mengerti tentang sepeda. Tapi kupikir kau membutuhkan jenis sepeda yang praktis”.
Abby bertepuk tangan dan segera berputar-putar dengan sepedanya itu di pekarangan. Sambil berputar ia berteriak, “Dave, thank you!!!”. Saat itu Dave berpikir bahwa ternyata tidak sulit membuat Abby bahagia.
Jasmine mencibir di balik pintu. Agak aneh rasanya melihat gadis seusia Abby terlihat senang walau hanya dengan hadiah sepeda. Ia pun pergi dan menghampiri Daniel yang masih membersihkan semua peralatan makan.
“Sayang... aku bosan tempat ini. Disini terlalu sepi. Apa kita tidak bisa segera kembali ke Jakarta?” Jasmine membujuk Daniel sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
“Kalau kau ingin kembali ke Jakarta, kembalilah. Kau boleh gunakan mobilku. Aku akan pulang bersama Dave”, jawab Daniel dengan nada datar.
“Kau ini! Aku kan datang ke tempat ini bersamamu, seharusnya aku pulang pun bersamamu!” Jasmine mulai merajuk.
Daniel mendekatkan wajahnya kepada Jasmine dan berkata, “Aku jarang bertemu dengan kakak-ku, lalu aku harus pulang demi untukmu?”.
Perkataan Daniel membuat hati Jasmine kesal. Ia betul-betul tak menyukai tempat sepi milik Dave. Ia lebih menyukai kota-kota besar seperti Jakarta.
“Aku ingin ke club! Aku bosan”.
Namun Daniel tak menanggapinya. Jasmine memang memiliki kebiasaan pergi ke club bersama teman-temannya, namun tidak dengan Daniel. Ia betul-betul merasa tak nyaman berada di ruangan tertutup dengan musik yang kencang serta suasana yang sesak.