“Kau menyukainya?” Dave menggoda adiknya yang kedapatan sedang mengamati Abby cukup lama. Daniel terkejut dan wajahnya memerah, ia pikir tak ada yang memperhatikan dirinya.
“Aku tak segila itu untuk menyukai gadis tengik sepertinya!” sangkal Daniel.
“Tapi wajahmu mengatakan lain”.
“Kau jangan menghayal. Aku hanya sedang melihat cuaca di luar, kalau tidak panas, aku mau mengajak Jasmine keluar berkeliling di sekitar sini. Sepertinya dia bosan berada di tempat sepi seperti ini.”
“Ahh..Jasmine, gadis yang menarik. Apa kau betul-betul menyukainya?”
“Aku kan memang bersamanya” Daniel menjawab Dave datar.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, apa kau menyukainya?" tanya Dave kembali.
Karena Daniel terdiam, Dave menebak isi hati Daniel
“Aku tidak tau seperti apa tipe gadis yang kau sukai Dan... tapi menurutku kau lebih cocok bersama Abby”.
Daniel memutar bola matanya. Bagaimana mungkin kakaknya memiliki pemikiran segila itu.
“Kau sendiri bagaimana? Kau menyukainya? Bukankah kau memiliki Brina? Daniel balik bertanya pada Dave.
“Siapa bilang aku meninggalkan Brina? Bahkan aku sudah menceritakan semua hal tentang Abby padanya.”
Brina adalah kekasih Dave sejak mereka kuliah di satu universitas yang sama. Kini Brina mengikuti Dave dan membuka restoran masakan Indonesia di Gold Coast.
“Brina tak cemburu kau berteman dengan gadis itu? Bahkan sekarang kau mengajaknya kemari. Apa Brina tau tentang ini?” tanya Daniel.
“Untuk seorang wanita, kau harus bisa menghargai dirimu agar kau bisa mendapat kepercayaan penuh darinya. It’s not about what special things you do for her Dan... It’s about who you are that makes herself feel special. Karena itu ia sangat mempercayaiku. Ia tau bahwa aku tak pernah bermain-main dengan seorang wanita, sekalipun teman wanitaku banyak.” Dave memberikan nasehatnya pada Daniel.
Daniel merasa tersindir dengan perkataan kakaknya. Selama ini ia memang menikmati situasi ketika seorang wanita mengejarnya-seperti yang dilakukan Jasmine atau wanita-wanita lain yang pernah tergila-gila padanya. Baginya hal itu adalah suatu kepuasan tersendiri untuk membuat dirinya merasa dominan di depan wanita. Tapi ia tak menyangka bahwa Dave memiliki perbedaan pemikiran dengannya tentang wanita.
"Apa kau tak bosan dengan Brina? Kau bisa saja menggunakan Abby untuk bermain-main bukan?"
“Aku baik padanya bukan berarti aku ingin menggantikan Brina. Abby adalah seorang teman dengan karakter yang istimewa, ia tidak seperti wanita lainnya. Dan kurasa kau cocok dengan Abby”, lagi-lagi Dave menggodanya.
“Errrggggghhh...kau bikin kepalaku pusing Dave! Kau ngotot sekali menjodohkannya denganku! Kau liat sendiri dia seperti apa, dia kasar, cara berpakaiannya buruk, bahkan terkadang sikapnya seperti laki-laki. Kau sendiri melihatnya memukulku kan?”
“Tapi bukan berarti dia tidak cantik.” jawab Dave sambil tertawa geli melihat ekspresi wajah adiknya.
Daniel melemparkan bantal kursi ke wajah Dave namun Dave mengelak dan tak bisa menghentikan tawanya.
“Kau boleh tertawa sepuasmu Dave, tapi jangan harap aku bisa menyukai Abby-The Ugly Duckling itu. Melihat wajahnya saja aku tak berselera”.
Dave masih tetap tertawa, namun ia mulai berdehem, seolah-olah ada yang menyangkut di tenggorokannya. Dave berpikir bahwa ada beberapa kesamaan antara dirinya dan Daniel. Kalau ia menyukai sesuatu, Daniel pun biasanya akan ikut menyukainya. Dave yakin bahwa kelak Daniel akan menyukai Abby, ada beberapa hal dalam diri Abby yang unik dan sulit ia jelaskan.
Dave tersenyum, “Mungkin kalau tak ada Brina di sisiku saat ini, aku akan memilih Abby. Aku berharap kelak kau bisa melihat sisi yang tak bisa kau lihat dalam dirinya saat ini, dan membuktikan bahwa perkataanku benar. Dan aku berharap kau yang akan mendapatkannya.”
Daniel merapatkan wajahnya ke sofa dan tertawa. “In your dreams! Kau betul-betul sudah kehilangan akal sehatmu Dave”.
Mereka tak menyadari semua pembicaraan saat itu terdengar jelas oleh Jasmine. Ia duduk di tangga untuk menguping semua hal yang mereka bicarakan. Hati Jasmine terasa sangat panas, bisa-bisanya Dave menjodohkan Daniel dengan gadis lain, sementara semalam Jasmine baru saja mengenalkan dirinya sebagai kekasih Daniel pada Dave.
Ia merasa harga dirinya diinjak-injak dan tak habis pikir bagaimana seorang Abby bisa terlihat lebih baik darinya.
***
Jasmine terus memasang wajah masam pada Daniel namun Daniel tetap tak menggubrisnya. Hati kecil Jasmine menyadari bahwa sebagian perkataan Dave benar, ia merasa selama ini Daniel tak pernah memperlakukannya istimewa. Mereka hanya bertemu saat dirinya atau Daniel sedang menginginkan hal yang sama, yaitu s*x. Dan Jasmine mengharapkan sesuatu yang lebih dari seorang Daniel, ia ingin mereka melakukan hal-hal yang umum seperti yang dilakukan pasangan lainnya. Tapi Daniel selalu menolak Jasmine dengan berbagai alasan. Jangankan memberikan sebuah kejutan manis untuknya, Daniel tak pernah lebih dulu menghubunginya atau menanyakan kabarnya.
Satu hal yang paling membuatnya sedih adalah, ketika Daniel selesai menyetubuhinya, ia seolah-olah dianggap seperti p*****r sebab Daniel selalu memintanya untuk segera pergi. Bukan hanya itu, Jasmine kerap memergoki Daniel sedang menghabiskan waktu bersama wanita-wanita lain. Tapi Jasmine terlalu mencintai Daniel, hingga ia selalu menerima dan memaafkan prilaku buruk Daniel. Namun kali ini Jasmine tak terima dengan keinginan Dave untuk menjodohkan Daniel dengan Abby, pengorbanannya selama ini untuk Daniel rasanya menjadi sia-sia.
***
Dave melambaikan tangannya ke arah Jasmine yang sedang duduk di kursi ayunan gantung. Mobilnya bergerak ke luar dan Jasmine tak tau Dave hendak kemana. Selang beberapa saat setelah Dave pergi, Abby memasuki pekarangan rumah dengan sepedanya. Kausnya terlihat basah karena berkeringat. Timbul rasa penasaran Jasmine setelah mendengar pembicaraan antara Dave dan Daniel. Bagaimana mungkin gadis lusuh seperti ini menarik di mata Dave untuk dijodohkan dengan Daniel?
Sementara Abby mulai merasakan sepasang mata tak berhenti menatapnya. Ia melihat Jasmine yang sedang menatap dirinya dengan pandangan sinis, namun Abby berusaha untuk tak menghiraukannya. Ia bergegas memarkirkan sepedanya dan berpikir untuk segera kembali ke kamarnya.
“Kau dari mana?” tanya Jasmine.
Abby diam dan tak menjawab pertanyaan Jasmine. Lagipula sejak awal entah mengapa ia tak menyukai Jasmine.
“Hey, apa kau tak mendengar pertanyaanku?” Jasmine menarik kaus Abby dari belakang.
"Kau mau apa?" Abby membalikkan tubuhnya menghadap Jasmine.
"Apa kau tuli? Kau pura-pura tak mendengar pertanyaanku?"
"Apa aku harus melaporkan padamu tentang segala sesuatu yang kulakukan?" Abby balik bertanya.
"Kau ini...betul-betul sombong! Kau tak tau kau sedang berhadapan dengan siapa saat ini".
"Dengan siapa? Aku tak tau kau siapa. Lagipula aku tak mau tau kau ini siapa. Bisakah kau tak menghalangi jalanku?"
Namun Jasmine tak bergerak. Ia malah melipatkan kedua tangannya di d**a dan menatap Abby dengan tajam.
“Dengar, aku tak punya waktu untuk berbasi-basi denganmu. Aku datang ke sini hanya karna Dave, bukan yang lain” Abby berusaha melewati Jasmine. Lagi-lagi Jasmine menarik kaus Abby, hingga terdengar bunyi "kreeek...." di kausnya. Jasmine tak puas dengan jawaban Abby dan merasa Abby tak sopan padanya. Padahal menurutnya Abby tak sebanding dengannya. Dilihat dari penampilannya, Abby nampak seperti orang yang tak memiki apa-apa.
“Jadi semua hanya untuk Dave? Apa kau disini untuk mengejar uangnya?” tanyanya sinis. “Apa kau tau Dave itu berasal dari kalangan mana? Coba kau lihat dirimu, kau tampak seperti wanita tak berpendidikan untuk mendekatinya. Kau pun tampaknya datang dari lingkungan yang tak higienis, sepertinya ada banyak penyakit dan virus yang menempel dan itu berasal kalangan kumuhmu”.
"Dan bagaimana dengan dirimu? Dari lingkungan mana kau dapatkan mulutmu yang tak sehat itu?" ujar Abby sambil mencoba menutupi bagian kausnya yang robek.
Jasmine semakin geram dengan jawaban-jawaban Abby. "Kau betul-betul gadis murahan yang tak memiliki kelas!"
Abby menabrak tubuh Jasmine dan berkata, "Aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan kelas dan murahan. Tapi yang aku tau, kau adalah wanita yang tak bisa menggabungkan isi otakmu dengan prilakumu!"
Abby segera masuk dan meninggalkan Jasmine di luar. Ia tak mengerti mengapa Jasmine tiba-tiba menyerangnya dengan kata-kata kasar.
Belum hilang kekesalannnya pada Jasmine, tiba-tiba ia bertemu Daniel di tangga. "Omg, what a beautiful life!" batinnya. Sepertinya Daniel berusaha untuk berbicara sesuatu kepadanya, namun Abby segera berlari masuk ke kamar dan membanting pintunya. Tak lama pintu kamarnya diketuk seseorang. "Apa lagi ini?" dalam hatinya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat Daniel sedang berdiri di hadapannya. Ia berusaha menutup pintunya namun Daniel menahannya. "Wait, Abby..we need to talk", pintanya.
Abby tak kuat menahan kekuatan tangan Daniel yang masih berusaha menahan pintunya, "Aku tak mau melihatmu! Pergi!"
Namun Daniel sudah terlanjur masuk ke kamar Abby dan menutup pintunya kembali.
"Kalau kau tak mau keluar, aku akan berteriak sekeras-kerasnya", ujar Abby.
"Teriaklah, Dave baru saja pergi untuk bertemu dengan seseorang yang akan mengurus rumahnya. Tapi kita perlu bicara."
"Kalau kau mau bicara, lakukan dengan cepat, aku muak melihat wajahmu", jawab Abby dengan ketus.
Daniel duduk di samping tempat tidur Abby. "Aku boleh duduk disini?" tanyanya.
"Kau kan sudah duduk, untuk apa lagi kau bertanya?"
Entah kenapa Daniel tertawa mendengar perkataan Abby, sementara Abby tak menurunkan kedua tangannya dari pinggangnya sambil menatap Daniel dengan marah.
"Ehm..Abby..Aku.." tiba-tiba Daniel lupa apa yang hendak dikatakannya pada Abby. Ia tak pernah meminta maaf sebelumnya pada wanita. Rasanya begitu aneh ketika ia akan melakukan ini pada Abby.
"Kau boleh keluar." Abby tak sabar menunggu Daniel bicara dan ke arah pintu untuk segera mengusir Daniel kembali.
"Oke...oke.. Maaf, sesuatu terlintas di kepalaku hingga aku sempat lupa apa yang hendak kukatakan padamu. Abby...aku minta maaf atas perbuatanku. Dave sudah menceritakan beberapa hal tentang apa yang telah kau lewati. Aku bersumpah, malam itu aku hanya berniat untuk menakutimu, nothing more.. Aku menyesal anak buahku melakukan sesuatu di luar perintahku. And I'm so sorry for your loss Abby.." Daniel memasang wajah penuh penyesalan di hadapan Abby.
Abby diam tak bergeming, ia tak tau bagaimana harus menjawab Daniel saat itu. Ia belum bisa memaafkannya.
"Aku tau bahwa dari segi apapun apa yang pernah kulakukan padamu tak bisa dimaafkan. Aku menarik semua kata-kata buruk yang pernah kulontarkan padamu, termasuk ketika menginginkan kau mundur dari pekerjaanmu. Aku berjanji mulai saat ini aku akan bekerja sama denganmu agar kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu. Kau mau kan Abby?"
Tentunya apa yang dikatakan Daniel kepada Abby tidak semuanya benar. Bagaimana mungkin Daniel bisa memaafkan ayahnya dan merusak rencananya hanya demi seorang Abby? Semua permintaan maaf Daniel pada Abby memang tulus, tapi tidak di bagian dimana dirinya betul-betul mau bekerja sama dengan Abby. Ia masih harus tetap menghancurkan bisnis ayahnya seperti yang telah ia rencanakan.