Pagi ini langit Jakarta begitu gelap. Hujan tak berhenti sejak semalam. Dan Abby mulai gelisah, matanya tak berhenti menatap jam. Sudah setengah jam Abby berdiri di dekat jendela, berharap hujan berbaik hati padanya dan berhenti. Namun sepertinya hari ini hujan semakin membuatnya kesal, karena semakin lama Abby menunggu, hujan semakin lebat.
"Abby, jangan terus berdiri di situ, duduklah disini, mom sudah buatkan teh lagi untukmu." mama Abby mencoba menenangkan hati Abby. "Thanks mom, tapi kalau aku terlambat, kesempatanku hilang," jawab Abby. "Kesempatan itu tidak pernah hilang dear, look...kalau hari ini kamu belum beruntung, mom yakin kamu akan mendapatkan kesempatan lainnya, karna anak mom cerdas" mom menggenggam tangan Abby sambil tersenyum.
Namun kekuatiran Abby tak hilang. Abby tetap ingin tiba di tempat interviewnya tepat waktu. Sudah dua bulan Abby tak bekerja. Uang tabungannya semakin menipis. Sementara mom membutuhkan uang untuk penyakit diabetes yang dideritanya. Abby menatap kaki mamanya yang luka dan luka itu belum mengering dalam seminggu ini. "God, i need some money for her" batin Abby.
Tak berapa lama mom mulai menyalakan TV dan menonton berita. Rupanya sebagian besar daerah di Jakarta sudah terendam banjir. "Abby! Look! Now they're evacuating a baby! And...whaat? sudah banyak yang meninggal..my God!" teriak mama Abby dengan aksen khasnya. Mata dan telinganya ia pasang betul-betul untuk mendengar berita tentang bencana banjir di Jakarta ini.
Mom merupakan seorang wanita berdarah campuran Indonesia-Australia, namun ia meninggalkan Australia 25 tahun yang lalu demi menikah dengan almarhum papanya yang merupakan keturunan Toraja. Walaupun sudah lama tinggal di Indonesia, mama Abby tetap belum bisa menghilangkan aksen aslinya, dan masih sering mencampurkan bahasa Inggris dalam kalimat Indonesianya.
"Mom pikir sebaiknya kamu batalkan interviewmu hari ini, Jakarta betul-betul tidak aman. Noooo..!! Baby, No!!. Mom melarangmu untuk pergi." Kecemasan mom semakin bertambah.
"Mom, itu di daerah utara, kita ini di daerah selatan. Mom jangan kuatir, aku akan baik-baik saja mom" jawab Abby.
"But baby, oh no...this is not good. kamu bisa lihat sendiri kan di TV", mom bersikeras. Namun Abby pun sudah membulatkan tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan, ia berkata, "Mom, jangan kuatir. Doakan aku saja hari ini."
Mama Abby akhirnya terdiam mendengar kalimat Abby. Ia tau, kalau putrinya sudah menginginkan sesuatu, pasti takkan berhenti. Hingga hari ini mom menganggap bahwa kerasnya hati Abby masih ditunjukkan kepada hal-hal positif. "Tapi tunggu hujannya reda dulu ya baru kamu pergi" bujuk Mom.
Abby mengangguk setuju. Matanya kembali menatap ke luar jendela sambil berdoa, "God, please, hentikan hujannya, aku butuh pekerjaan ini".
Sepertinya Tuhan mendengar doa Abby. Hujan pun lambat laun mereda. Melihat situasi seperti itu, Abby segera bergegas menggunakan jaketnya dan membawa payung lipatnya. "Mom, aku harus pergi sekarang. Aku takut hujannya kembali besar dan aku malah terjebak di rumah" tangan Abby mulai memeriksa kembali barang-barang dalam tasnya satu per satu. Mom menemani Abby hingga ke pintu rumah. Ia tetap terlihat cemas. "Call me, text me or whatever, but please..jangan buat mom kuatir" ucap mom.
Abby tersenyum mendengar mamanya, "No worries, i think it's a good day today", Abby menirukan aksen mom, dan mom mulai gemas hingga dicubitnya pipi Abby. Abby memang sering meledek aksen Australia mom yang unik. Mom mengucapkan water seperti wota, day diucapkan seperti die (dai) dan lainnya. Maka ketika Abby meledek mamanya dengan It's a good day today, maka yang terdengar seperti "it's a good die to die (ini adalah hari yang baik untuk mati)".
****
Abby berlari menuju lift di gedung tempat interviewnya. Ia hampir terjepit karna pintu lift sudah hampir tertutup. “Maaf, tolong, lantai 15”, ucapnya pada seorang pria yang berdiri di dekat tombol penunjuk angka lantai gedung. Nafasnya terengah-engah karna berlari, Abby menarik nafas dalam-dalam dan mulai mengatur nafasnya kembali. Sesaat ia tersadar, orang-orang mulai memperhatikan rok serta sepatunya yang basah dan kotor. Flat shoes nya pun menyisakan sedikit air bercampur lumpur di lantai lift. Abby hanya bisa menundukkan kepala dan berharap hari itu orang-orang ttidak dapat mengenali wajahnya.
Abby masuk ke dalam sebuah toilet di lantai 15. Membasuh wajahnya, mencoba membersihkan lumpur yang melekat di sepatunya dengan tissue. Ia mengambil sedikit air dan mencoba membersihkan pakaiannya, tapi pakaian Abby sudah terlanjur basah. Rasanya penampilan Abby saat itu membuatnya frustasi sendiri. Ia mulai menyisir rambut panjangnya dan bergegas keluar.
Di lantai itu Abby menghampiri seorang resepsionis. Ia berbicara dengan perlahan karna cemas, “Permisi…emm, Maaf.Namaku Abigail Batatta. Hari ini aku dijadwalkan untuk mengikuti interview pukul 08.30 pagi, tapi karena cuaca hari ini buruk aku terlambat. Aku betul-betul minta maaf. Namun masih bisakah aku mendapat kesempatan”. Mata Abby seolah memohon kepada resepsionis itu.
Resepsionis bertubuh gemuk itu tersenyum ramah dan berkata, “Ahh, ya..ya, nona Abigail Batatta? Sebentar, aku coba hubungi boss dulu di dalam. Mudah-mudahan beliau masih memiliki waktu. Sebentar ya”, ujar resepsionis itu dengan ramah. Ia pun mulai menghubungi orang yang dipanggilnya dengan *boss* dan tak berapa lama ia mengatakan, “Beliau mau meluangkan waktu untukmu nona, mari silahkan, aku akan tunjukkan ruangannya”, ia berdiri dan mengajak Abby untuk mengikutinya.
Abby pun mengikutinya dan resepsionis itu mengetuk sebuah pintu. "Silahkan, boss sudah menunggu. Aku tinggal sebentar ya nona," resepsionis itu tersenyum dan berlalu dari hadapannya. Abby heran, biasanya di dalam interview sebuah pekerjaan, pasti seorang pelamar diterima oleh seorang HRD Manager. Tapi kali ini perasaan Abby mengatakan lain.
Tak mungkin seorang HRD Manager memiliki ruangan seluas ini. Di dalam ruangan itu Abby melihat seorang pria tua duduk dan nampak sibuk menulis sesuatu di meja kerjanya. Ketika melihat Abby, pria itu berkata," Ahh..akhirnya anda datang. Mari, silahkan duduk nona muda," ujar pria itu dengan ramah sambil meminta Abby untuk duduk di kursi yang berada di hadapan meja kerjanya.
Sebelum duduk Abby mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pria itu dan berkata, "Sebelumnya saya betul-betul memohon maaf atas keterlambatan saya tuan. Nama saya Abigail Batatta, tapi saya biasa dengan dipanggil Abby. Mengenai keterlambatan saya hari ini, saya bisa memberikan penjelasan". Pria tua itu membalas jabat tangan Abby dan meminta Abby untuk duduk.
"Baiklah nona Abby. Namaku Greg Richard. Apakah anda tadi kesulitan untuk mencari tempat ini?" tanyanya.
"Tidak tuan, sama sekali tidak. Aku memang baru pertama kali masuk ke dalam gedung ini, namun bagiku tidak terlalu sulit menemukannya" jawab Abby.
"Di luar sedang hujan deras. Anda naik apa ke tempat ini?" tanyanya kembali.
Abby segera menjawabnya, "Betul tuan. Aku mohon maaf, itu sebabnya aku terlambat. Aku harus menunggu hujannya sedikit reda, dan Bis yang aku naiki pun terlambat datang".
Abby tak berani menatapnya, ia sudah kehilangan rasa percaya dirinya dengan penampilannya.
Kemudian tanpa banyak bertanya lagi Greg mengatakan sesuatu yang membuat Abby bingung, "Saya sudah melihat CV maupun portofolio yang sudah anda kirimkan, dan Anda saya terima". Abby mencoba menegaskan kembali apa yang baru saja ia dengar, rasanya ia tak percaya.
"Maaf tuan, saya tidak mengerti, kenapa..." Belum selesai Abby melanjutkan pertanyaannya, Greg berkata, "Hanya anda yang datang hari ini, dalam kondisi pakaian basah dan kotor seperti itu." Greg menunjuk pakaian Abby dan tertawa terbahak-bahak.
Wajah Abby memerah padam menahan rasa malu. Akhirnya Greg menghentikan tawanya dan berkata, " Saya sengaja melakukan sendiri interview ini untuk memilih asisten yang dapat saya percaya. Saya yakin bahwa anda adalah seseorang yang gigih dalam pekerjaan dan bertanggung jawab dalam situasi buruk sekalipun. Saya harap dugaan saya tidak salah tentang anda dan saya senang melihat anda datang nona", dan Greg mulai menyalakan cerutunya. "Lusa anda sudah bisa mulai bekerja. Anda bisa?".
Hati Abby bersorak saat itu. Hingga saat ia pamit, ia sendiri lupa, berapa kali ia mengucapkan kata terima kasih kepada Greg. Kesan pertama yang muncul di benak Abby adalah Greg Richard adalah seorang pria tua yang baik. Dari nama serta fisiknya menunjukkan bahwa Greg berdarah campuran.
Penjelasan Greg membuat Abby bersemangat untuk bekerja, menunggu lusa terasa sangat lama, sementara Abby ingin segera menunjukkan kinerjanya yang baik untuk membuktikan pujian Greg. Dan Greg semakin tersenyum melihat semangat gadis muda yang baru saja diterima untuk menjadi asistennya. "Cuaca hari ini betul-betul membantuku melihat jelas kandidat asistenku. Kandidat lainnya tak datang hanya karena hujan-sementara gadis ini berjuang untuk bisa berdiri di hadapanku" dalam hati Greg.
Perasaan Abby begitu bahagia dan ingin segera bertemu mom untuk mengabarkan hal baik ini. Rasa pesimis yang dialami Abby pagi ini tidak terbukti walaupun ia terlambat, Abby segera mencari pintu lift dan kembali ke lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, Abby segera berlari dan menabrak sesuatu yang sangat keras seperti batu. Badannya terhuyung dan pandangan matanya tiba-tiba menjadi gelap. Abby terjatuh untuk kedua kalinya di hari ini, namun kali ini pelipisnya mengeluarkan darah dan Abby pingsan.
Ketika Abby tersadar, ia mulai meringis,” Awww…”. Ia berusaha untuk bangun dan duduk, namun rasanya sangat lemas. Tiba-tiba ia mendengar seperti ada seseorang di belakangnya yang sedang berbicara dengan nada keras. Abby melihat sesosok pria berambut coklat sedang memaki-maki seseorang di depan pintu kemudian menutup pintunya dengan sangat kasar. Rasa takut Abby pun muncul dan segera membalikkan tubuhnya. Ia mengigit kukunya dengan rasa gelisah dan tiba-tiba pria itu muncul di hadapannya.