“Kau sudah bangun rupanya. Tadi aku meminta petugas keamanan untuk membawamu kesini karna kau pingsan”. Ia memberikan Abby sebuah botol air mineral di tangannya. Abby segera meraih botol tersebut dan meminumnya, tenggorokannya terasa sangat haus, kepalanya terasa sakit.
“Apa kau salah satu pesuruh di gedung ini?”, tanya pria itu. Abby menggeleng dengan rasa heran. “Lalu apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya kembali.
Abby sadar, penampilannya hari itu sangat berantakan. Pakaiannya kotor dan mungkin saat ini agak sedikit berbau karna basah. Wajar kalau pria itu berpikir bahwa pekerjaan Abby adalah salah seorang pesuruh di gedung ini.
Namun bukannya menjawab pertanyaan pria itu, Abby malah balik bertanya, “Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa pingsan? Dan kau siapa?”. Tiba-tiba Abby merasa ada sesuatu yang menempel di dahinya.
“Stop, jangan disentuh dulu! Tadi pelipismu mengeluarkan darah yang cukup banyak”, larang pria itu pada Abby. Yang diingat Abby terakhir adalah ia keluar lift dan menabrak sesuatu yang sangat keras, dan setelah itu Abby tak ingat apapun lagi. Seolah mengerti dengan kebingungan Abby, pria itu menjelaskan padanya,”Hari ini ada pengiriman hiasan patung untuk gedung ini. Dan kau menabrak satu hiasan patung yang sedang dipindahkan”.
“Habiskanlah minumanmu. Dan kalau tubuhmu sudah terasa membaik, kau boleh pergi”, tukas pria itu. Perlahan Abby berdiri dan dalam hatinya berkata, “Kasar sekali. Tak perlu diminta pun, aku memang ingin segera pulang”.
Tapi pelipisnya masih terasa sangat sakit dan Abby harus menguatkan dirinya, “C’mon Abby, you have to leave this place now”. Pria itu tak tampak ingin membantu Abby berdiri dan mulai mengetik sesuatu ponselnya.
“Terima kasih, maaf aku sudah merepotkan” Abby berpamitan dan segera berjalan ke arah pintu. Pria itu masih sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan Abby dan tak menyadari Abby sudah keluar dari ruangan itu.
Abby tidak tau ia berada di lantai berapa. Namun ia segera mencari lift dan turun kembali ke lantai dasar. Seorang petugas keamanan menyapanya, “Maaf nona, apa kondisi nona sudah membaik?”. Sepertinya ia salah satu petugas yang membantu Abby saat dirinya pingsan.
“Tadi nona menabrak patung itu dengan keras, saat patung ini sedang dipindahkan untuk diletakkan di sana”, tangannya menunjuk sebuah patung yang sangat cantik. Abby terpana melihat keindahan patung tersebut. Abby menggeleng kepalanya dan tersenyum seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja kepada petugas itu.
Abby berjalan memdekati patung yang tadi ditabraknya. Patung itu terbuat dari perunggu dan berbentuk seperti malaikat dengan sayap yang sangat besar. Tinggi nya sekitar 2.5 meter dan tangan patungnya terbuka lebar, seolah-olah menawarkan pelukan yang hangat bagi siapapun yang datang dan menatap. “Sepertinya patung ini memang betul-betul mewakili nama perusahaan ini, The Great Angel Company”, Abby berdecak kagum.
Tiba-tiba Abby teringat akan mamanya dan segera bergegas meninggalkan gedung itu. Namun lagi-lagi pelipisnya terasa nyeri dan kepalanya pening. “Aw, s**t…”, Abby kembali terhuyung. Sebuah tangan meraihnya dan berkata, “Apa kau perlu taksi?”. Pria itu kembali di hadapannya.
Mata Abby mulai memperhatikan pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Postur tubuhnya tinggi, atletis. Dan walaupun ia terlihat tak cukup ramah, namun ia mengantongi golden ratio untuk struktur wajahnya” dalam hati Abby. Rambutnya yang berwarna cokelat sama seperti warna matanya. “What? Abby!!! Have you lost your mind?!! Baru saja bertemu pria itu, aku sudah memujinya”, wajah Abby memerah.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan lobby, dan pria itu berkata “Maaf, mobilku sudah datang. Tetaplah dekat dengan petugas itu agar ia bisa memastikan kau baik-baik saja”. Ia memanggil seorang petugas keamanan dan memintanya mencarikan taksi untuk Abby. Ia pun meminta petugas itu untuk tetap memegangi Abby hingga taksinya tiba dan segera memasuki mobilnya tanpa menoleh lagi pada Abby.
Abby menolak tawaran petugas yang dimintai menjaga Abby untuk mencarikannya taksi. Ia pun meyakinkan petugas itu bahwa dirinya akan baik-baik saja. Abby lebih memilih menaiki Bis kembali untuk pulang ke rumah. Rasa perih di pelipisnya tak lagi ia rasakan, sebab sepanjang perjalanan pulang Abby hanya membayangkan wajah pria itu. “Aneh, kenapa wajahnya melekat terus dalam kepalaku”, gerutu Abby.
***
Tanpa mengetuk pintu, Abby berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia ingin segera memberikan kabar baik ini kepada mom. Namun betapa terkejutnya Abby, karna ia melihat mom tergeletak di lantai. Bau menyengat tercium di lantai, rupanya mom muntah sebelum terjatuh. “Mom! Mom!” Abby tak henti berteriak membangunkan mom. Bukan pertama kali ini mom kehilangan kesadaran karna penyakitnya. Wajah mom terlihat sangat pucat , baju serta tubuhnya penuh dengan keringat.
Sekuat tenaga Abby mencoba mengangkat tubuh mom, tapi tubuh mom terasa sangat berat. Nafasnya mulai tersengal-sengal, tapi Abby terus mencoba mengangkat mom kembali. Entah kekuatan dari mana, Abby berhasil mengangkat dan merebahkan mom di sofanya yang sudah mulai lapuk.
Dahinya berkerut karna berpikir apa yang harus ia lakukan untuk memberikan pertolongan pertama untuk mom. Abby teringat dengan penjelasan dokter Matheus, dokter yang biasa mereka temui untuk memeriksa dan menangani penyakit mom. Menurutnya, penderita diabetes bisa terserang hipoglikemia kapanpun, dan hipoglikemia bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti asupan makanan yang kurang atau karena aktivitas yang berlebihan.
Segera Abby mencari obat yang memang sudah ia simpan untuk mengantisipasi kambuhnya penyakit mom. Hatinya sedih melihat kondisi mom yang semakin hari semakin memburuk. Abby mengambil sebuah handuk kecil dan mulai membersihkan tubuh mom dari bekas keringat dan muntahnya. Ia tau mom harus segera dilarikan ke rumah sakit. Abby menahan dirinya untuk tak menangis, walaupun isi kepalanya teramat penuh. Hatinya cemas memikirkan darimana lagi ia harus mencari biaya pengobatan mom.
Abby telah menggadaikan sertifikat rumahnya ke bank atas permintaan mom. Rumah kecil peninggalan almarhum papa yang mereka tempati saat ini, hanya bisa menghasilkan nilai pinjaman uang yang sedikit. Sejak ia membutuhkan biaya untuk membiayai berbagai tes kesehatan dan pengobatan mamanya, serta kebutuhan hidup lainnya, rasanya uang pinjaman itu tak cukup untuk menutupinya. Sementara uang yang diterima dari pekerjaan Abby sebelumnya membuat Abby terseok-seok untuk membayar hutangnya.
Mom mulai membuka matanya namun pandangannya masih kabur. “Abby..My dear Abby”, tangannya mulai mencari-cari sosok Abby.
“I’m here mom, i’m here..”, Abby segera meraih tangan mom kemudian memeluknya.
“Oh dear, i’m really sorry, mom lagi-lagi membuat hatimu susah”, mom membalas pelukan Abby. Ia tau persis bagaimana penyakitnya sering membuat Abby menderita.
“It’s okay mom, there’s nothing to worry now..”, Abby segera mengambil sebuah pil dan meminta mom untuk meminumnya. “Kita ke rumah sakit sekarang ya mom”, bujuk Abby.
Namun mom menggeleng dengan lemah “I’m okay now, mom hanya perlu tidur sebentar”. Abby segera mengambil pakaian bersih dan mulai membantu mom mengganti bajunya. Ia letakkan beberapa bantal dekat mom agar mom merasa nyaman kemudian Abby menyelimutinya. Tak lama mom pun tertidur.
Mom membuka matanya ketika ia mendengar Abby membangunkannya perlahan. Abby membawa sebuah mangkuk berisi bubur yang ia masak dan mulai membujuk mom untuk makan. Mom menurut dan mulai merubah posisinya untuk duduk.
“Abby.. what happened? Darimana kamu dapat luka ini?”, tangan mom menyentuh perban di pelipis putrinya. “Aww mom...”, Abby menahan rasa pedih karna lukanya tersentuh.
Mom mengamati wajah putrinya dengan penuh rasa khawatir. Namun Abby segera tersenyum menepis kekhawatiran sang mama dan berkata, “You know mom, i think God gave me so many blessing, aku diterima mom!”, ucap Abby. Ia mulai bersemangat untuk bercerita bercerita interviewnya, juga kejadian yang menyebabkan pelipisnya terluka. Sementara mom menjadi bingung, di satu sisi hatinya senang Abby berhasil mendapat pekerjaan, di sisi lain ia sedih karna Abby terluka.
“Aku ingin hari ini kita ke rumah sakit mom, karna besok aku mulai bekerja. Aku tak ingin meninggalkan mom di rumah namun hatiku tak tenang sebelum dokter mengobati mom”.
“Please mom, tolong ikuti permintaanku, aku takut konsentrasiku hilang dalam pekerjaan karna pikiranku akan mom”, lanjut Abby.
“Sayang, tabunganmu sudah banyak terpakai, kita masih memerlukan uang untuk biaya kita sehari-hari. It’s okay baby, obat mom masih ada”, mom segera menolak Abby.
Sulit untuk membujuk mom, karna mom terlalu merasa bersalah akan penyakitnya, hingga membuat mereka kehilangan banyak uang. Namun Abby bersikeras, “No mom... please mengertilah. Aku sudah mendapat pekerjaan. Sambil menunggu gajiku di awal bulan, kita masih bisa bertahan. Kita masih bisa berhemat”.
Mom tetaplah seorang ibu yang hatinya tak rela melihat putrinya menderita lagi. Dielusnya pipi Abby seraya berkata, “l’m the luckiest mother, and i thank God that i have my precious daughter with a beautiful heart. Mom janji gak akan sakit lagi. You have my word dear..”. Mom mengulurkan jari kelingkingnya pada Abby”. Abby terdiam sesaat kemudian mengaitkan jari kelingkingnya juga pada mom. “Promise me mom”, ucap Abby dengan lirih.
Abby tak mengetahui bahwa saat ini mom ternyata memiliki Insulinoma, yaitu sebuah tumor di pankreasmya. Tumor ini memproduksi terlalu banyak insulin di tubuhnya, hingga membuat mom sering kehilangan kesadarannya. Namun saat mom mengetahuinya, mom sengaja tak memberitahukannya pada Abby. Ia hanya berharap agar kematian segera menjemput, agar putri yang disayanginya terbebas dari penderitaannya.