3

2136 Words
Pagi itu Abby terbangun dan melihat mom masih tertidur pulas di sampingnya. Abby menatap mom, mengingat penyakitnya dan berkata dalam hatinya, “Kita bisa lalui ini semua mom”. Abby berjalan ke luar kamar dan tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya.  “Apakah sepeda itu masih bisa digunakan atau tidak ya?, Abby berjalan ke ke gudang untuk mencarinya. Sepeda Abby tertutup dengan debu yang sangat tebal. “Haaa…hatchiiii! Hatchi!!, debu tebal itu membuat Abby bersin terus menerus. Abby membawanya ke luar rumah dan mulai membersihkan debunya. Ban sepeda itu sudah kempes dan di beberapa bagian sudah mulai berkarat.   Abby mulai sibuk membersihkan sepeda itu, menyabuni dan menyikat sepedanya hingga semua debu yang menempel hilang. “Masih bisa!” Abby meyakinkan dirinya kalau sepeda itu masih bisa digunakan. Abby harus segera menyiapkan sarapan untuk mom, maka setelah membersihkan sepedanya, Abby segera mencuci tangannya dan mulai menyiapkan makanan untuk mamanya.  Ia kembali ke kamar dan melihat mom masih tertidur pulas. Abby meninggalkan catatan kecil di samping bantal mamanya, untuk mengatakan bahwa ia harus segera pergi memperbaiki sepedanya.   Sepeda Abby adalah jenis Mountain Bike yang dihadiahi mom di ulang tahunnya ke-15. Ada banyak kerusakan dari sepeda yang sudah berumur 8 tahun itu. Ban rusak, rantainya sudah lepas, karat di beberapa komponennya, dan yang pasti seluruh catnya memudar. Membutuhkan waktu beberapa jam untuk memperbaiki sepeda tua itu, namun akhirnya penantian Abby tak sia-sia. Sepeda itu masih bisa diperbaiki dan biaya perbaikannya tidak terlalu mahal. Abby segera membawa pulang sepeda tuanya dan berencana akan ia gunakan sebagai kendaraannya untuk berkerja.   “Bisa diperbaiki kah?” tanya mom ketika Abby tiba di rumah. “Bisa mom, tapi kalau nanti aku punya uang, aku ingin mencat ulang kembali agar sepedanya terlihat seperti baru lagi”, jawab Abby. Mom bertanya lagi, ”Kenapa tiba-tiba ingin memperbaiki sepedamu sayang?”.  “Aku mau pakai untuk pergi ke kantor mom, Bis yang selalu kunaiki jadwalnya sering tidak tentu. Daripada aku terlambat, lebih baik aku pakai sepeda dan berangkat lebih awal”, ujar Abby. Mom hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia setuju dengan pemikiran putrinya, walaupun ia tau bahwa Abby tak terlalu suka menggunakan sepeda di Jakarta karena polusi udara yang cukup tinggi.    ***   Keesokan harinya Abby berangkat pukul 5 pagi dari rumah. Ia membawa pakaian kerja, botol minum serta bekal sarapan dan makan siang dalam ranselnya. Abby sengaja memilih berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan dan udaranya pun masih cukup segar. Butuh waktu sekitar 45 menit bagi Abby untuk tiba di kantornya.  Suasana gedung itu masih sepi, hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga. Ia mengayuh sepedanya menuju area parkir mobil di basement.  Tak ada parkiran khusus untuk sepeda. Namun Abby tak hilang akal. Sebuah besi yang melintang di parkiran tersebut ia gunakan untuk merantai sepedanya.   Masih ada waktu 1 jam untuk Abby memulai bekerja. Ia duduk di palang besi tempat ia merantai ssepedanya, mulai membuka ranselnya untuk mengambil minum serta sarapannya. Niat Abby untuk sarapan terhenti karna  tiba-tiba sepasang pria dan wanita bergandengan keluar dari pintu lift dan berjalan ke area parkir. Entah apa yang mereka tertawakan di jam seperti ini, namun tawa mereka begitu keras terdengar. Si wanita bergelayut manja kepada prianya dan mulai menciumi aroma tubuhnya. Sepertinya pria itu mulai tak tahan, ia berhenti berjalan dan mendekatkan wajahnya ke wanita itu. Bibirnya mulai melumat bibir wanita itu dan tangannya meremas payudaranya. Wajah Abby benar-benar memerah. Ia belum pernah melihat hal-hal seperti itu dalam hidupnya, dan pagi ini ia seolah-olah dipaksa menonton sebuah adegan m***m. Mulut Abby terbuka, ia tak sanggup mengunyah lagi sarapannya, What the fff…??” Abby mulai mengutuki dirinya. Botol minum Abby terjatuh dan seketika itu juga menarik perhatian pasangan itu untuk menghentikan kegiatan mereka. Betapa terkejutnya Abby, karena pria yang dilihatnya adalah pria berambut coklat itu!   Seolah tak memperdulikan keberadaan Abby, pria itu kembali melanjutkan ciumannya. Namun sepertinya si wanita merasa risih dan segera mengajak pria itu untuk segera pergi. Tak lama mobil yang dikendarai mereka melintas dan meninggalkan Abby yang masih tertegun dengan apa yang baru saja ia lihat.   “Laki-laki gila!! Apa yang dilakukannya di pagi buta seperti ini dengan seorang wanita?” pikir Abby. Abby segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas untuk mencari toilet. Ia harus segera berganti pakaian untuk bekerja.  Tapi kepala Abby terus dibayangi wajah pria berambut coklat itu. “I think i’m gonna be crazy, bisa-bisanya aku membayangkan seorang pria m***m”, batinnya berkata. Entah kenapa ada rasa kesal yang tak bisa dijelaskan di hati Abby. 23 tahun sudah usia Abby, tapi tak sekalipun ia pernah menyukai seorang pria, hingga Abby sempat berpikir bahwa dirinya menderita suatu kelainan. Tapi dalam hidupnya, Abby memang belum pernah bertemu dengan seorang pria yang bisa meluluhkan hatinya. *** Di awal menjadi asisten dari seorang Greg Richard, betul-betul membuat Abby kewalahan. Bukan hanya melakukan analisis dan pelaporan keuangan saja, terkadang Abby harus mengurus keperluan pribadi pria tua itu, termasuk memesankan sarapan atau makan siang favorit Greg, memastikan persediaan cerutu yang tak boleh habis dari kotaknya, bahkan beberapa kali Abby harus ikut mencari reading glasses ketika Greg lupa menaruhnya, serta segudang permintaan konyol Greg lainnya.   Dan tak terasa Abby sudah bertahan bekerja dalam situasi seperti itu di The Great Angel Company selama 6 bulan lamanya. Awalnya Greg hanya ingin menempa Abby dengan menguji tingkat kesabaran dan keseriusannya. Namun ini menghambat Abby dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan Abby  tak pernah sedikitpun membantah atau menunjukkan rasa kesalnya meskipun setiap hari ia harus pulang larut malam.  Semakin lama Greg tak pernah lagi memberikan perintah pada Abby untuk  mengurusi hal-hal tak penting di luar pekerjaannya. Sebab Greg telah merasa puas bahwa dugaannya ketika memilih Abby sebagai asistennya tak meleset. Abby betul-betul dapat diandalkan.   “Mengapa angka ini tak sesuai dengan berkas yang kuterima?” gumam Abby sambil membolak balik beberapa kertas. Matanya kembali ke komputernya, namun ia tak menemukan kecocokan angka-angka tersebut. Ia kembali memeriksa angka-angka itu sambil mengunyah makan siangnya. “Kalau di dalam data hanya ada angka ini, mengapa kontrak dan...?” Abby mengernyitkan dahinya. Lagi-lagi Abby mencoba untuk mengurai dan mencocokkan datanya.   “How come?... No..no, this is not right...” bisik Abby. Ia kembali membolak balik kertas-kertas di mejanya, matanya kembali menatap layar komputernya dan tiba-tiba Abby menutup mulut dengan kedua tangannya saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres.  “Ini sebuah penggelapan! Tuan Greg harus tau kemana saja uang-uangnya yang hilang!”. Abby kembali memandangi berkas yang sedang diperiksanya. Berkas itu adalah milik The Red Angel, yaitu salah satu anak perusahaan milik The Great Angel Company. Dan di dalam berkas itu terdapat sebuah nama, yakni Daniel Richard.   “Richard? Richard siapa ini? Apakah orang ini masih ada kaitannya keluarga dengan Tuan Greg Richard?”. “Bagaimana kalau analisisku salah dan ternyata..errggh!” Abby menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika analisnya salah. Abby tak berani menyelesaikan makan siangnya. Is kembali memeriksa berkas itu dengan sangat hati-hati.   ***   Hatinya tak tenang ketika ia mengetuk pintu ruangan Greg. Bagaimana pun juga ia tetap harus melaporkan apa yg ditemukannya. Greg menyambut Abby dengan ramah, “Ahh...miss Abby, mari silahkan duduk. Kupikir anda sudah pulang sejak tadi, karna ini sudah pukul 6 sore.”  Dengan lirih Abby berkata, “Maaf tuan, ada yang perlu kusampaikan sebelum pulang. Aku menemukan sesuatu dalam beberapa berkas yang kukerjan dalam beberapa hari terakhir ini,  dan kuharap aku tidak melakukan kesalahan dalam analisisku ini tuan”.    “Baiklah. Aku mendengarkan”, ujar Greg.   “Tuan, sebelumnya ada yang ingin kutanyakan terlebih dahulu kepada anda. Apakah nama Daniel Richard ada kaitannya dengan keluarga anda? Karena aku berpikir nama belakang kalian sama, yaitu Richard”.   “Daniel adalah putra bungsuku. Ia kuberikan kepercayaan untuk memimpin beberapa anak perusahaan milikku. Kenapa dengannya?”, tanya Greg.   “I’m dead!! I’m dead!”, dalam hati Abby. Ia tak menyangka bahwa hari ini ia menemukan kecurangan dari putra Greg sendiri.   “Nona Abby, tadi anda mengatakan bahwa anda menemukan sesuatu dalam berkas milik Daniel. Apa yang anda temukan?” Greg melipat jarinya di atas meja dan menatap Abby. “Nona Abby. Aku tak membayar anda untuk diam. Katakan, apa yang anda telah temukan?” tanya Greg kembali.   Mau tak mau Abby harus mengatakan yang sejujurnya kepada Greg. Abby mulai menunjukkan angka-angka atas pembelian lahan serta penyelewengan dana investasi yang dilakukan oleh Daniel.  “Maaf tuan, aku telah memeriksa hal ini berkali-kali. Namun aku tak menemukan kesesuaian dari angka-angka itu beserta kontrak perjanjiannya. Aku sudah memberikan tanda pada beberapa bagian di dalam seluruh dokumennya, agar tuan lebih mudah memeriksanya” Abby melanjutkan penjelasannya.   Wajah Greg merah padam. Ia sangat kecewa atas ketidak jujuran putra bungsunya. Ia tau kemana uang-uang itu dihabiskan oleh Daniel. Namun penggelapan uang yang dilakukan seorang Daniel Richard bukanlah hal yang pertama. Sebab The Red Angel yang dipimpin oleh Daniel pernah mengalami kebangkrutan.  Sayangnya banyak hal yang ditutupi oleh para asisten Greg sebelumnya, sebab mereka tak kuat dengan intimidasi yang selalu dilakukan oleh Daniel dan memilih untuk tak mengusik data maupun berkas milik Daniel.   “Nona Abby, mulai saat ini anda harus memantau semua kegiatan bisnis serta pengeluaran The Red Angel. Daniel harus melaporkan hal itu semua kepada anda untuk diteruskan kepadaku. Maka mulai besok ruangan anda pindah di lantai 9, dekat dengan ruangan Daniel. Anda tak perlu khawatir, esok akan kuminta orang-orangku untuk mempersiapkan ruangan itu untuk anda pergunakan bekerja.  "Kali ini takkan kubiarkan Daniel merusak lagi setelah pernah kutolong dan kuterima kembali”, lanjut Greg dengan rasa kesal.   Kawasan gedung perkantoran itu memang sangat luas, namun Abby tak menyangka bahwa beberapa anak perusahaan yang dimiliki Greg berada di dalam gedung yang sama. Abby hanya mengangguk mendengar perintah Greg. Baginya berpindah ruangan atau lantai bukanlah satu hal yang besar selama ia masih bekerja untuk Greg.    “Nona Abby. Terima kasih untuk ketelitian dan kecerdasan anda dalam bekerja. Dan aku tau butuh keberanian besar untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan Daniel pada bisnisku, mengingat Daniel adalah putraku”, puji Greg. “Abby tuan. Panggil saja Abby. Panggilan nona rasanya terlalu formal” pinta Abby. “Mengenai berkas tuan Daniel, aku rasa aku mampu melakukannya, sebab tuan lah yang banyak membimbingku selama aku bekerja di sini,” lanjutnya.  Kekesalan Greg mulai mereda. Ia mulai menyukai keberanian serta kerendahan hati Abby.  Selama Abby bekerja, Greg tak pernah memperhatikan hal lain dari asistennya itu, selain hasil pekerjaannya. Namun hari ini sisi lain Abby menjadi menarik baginya.    “Gadis ini sangat sederhana. Aku pernah melihatnya di suatu pagi, ia tiba di kantor dengan mengendarai sepeda usang. Ia hanya menggunakan sepatu kets, celana pendek serta sweater dan hoodie yang menutupi kepalanya. Namun berbulan-bulan ia bekerja denganku, pakaian kerja yang ia kenakan hanya itu-itu saja.  "Apa yang dia lakukan dengan uangnya? Apa dia tak pernah menggunakannya untuk membeli pakaian?”, pikir Greg. Sebetulnya Abby memiliki paras yang cantik dan lembut, namun entah mengapa Abby selalu menunduk ketika berbicara dan seolah berusaha menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya   “Baiklah, Abby. Sepertinya kau tak begitu menyukai situasi formal dalam pekerjaaan, aku pun demikian. Aku senang kau bekerja denganku. Pertahankan kinerja baikmu. Segera laporkan padaku ketika kau menemukan sesuatu yang baru lagi”, pinta Greg. “Satu hal lagi”, Greg mengambil sejumlah uang dari dalam lacinya. “Perbaiki penampilanmu, aku tak mau melihat asistenku menggunakan pakaian yang sama selama berbulan-bulan lamanya.” Kata Greg menambahi. Abby terdiam. Wajahnya bingung, entah kenapa ia merasa apa yang diminta Greg bukanlah menjadi prioritasnya. Bukan penampilannya yang ia ingin perbaiki saat ini, akan tetapi kesehatan sang mama. Namun Abby tak kuasa membantah Greg, ia hanya bisa mengucapkan terima kasih, mengambil uang itu dan berjanji kepada Greg untuk menepatinya.   Saat Abby akan berdiri untuk pamit kepada Greg, tiba-tiba seorang pria muda masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya sangat tampan, postur tubuhnya tinggi dan ia segera berjalan ke arah tubuh tua Greg dan memeluknya. Greg segera membalas pelukannya. “Dave!! Dave my son..”, Greg belum bisa menghilangkan rasa kagetnya. “How’ve you been dad?”, tanya pria yang dipanggil dengan Dave sambil tersenyum. Greg nampak kehabisan kata-kata melihat putra sulungnya yang sudah lama tak dilihatnya.    “Maaf aku tak mengabari kepulanganku Dad. Tapi salah satu kawanku sakit dan aku ..”, Dave menghentikan penjelasannya dan menyadari ada seseorang di ruangan itu bersama Greg. “Ahh...Abby. Perkenalkan dirimu padanya, Dave ini adalah putraku, putra sulungku. Dave, ini Abby,  ia adalah salah satu asistenku.”, ujar Greg.   Dave menjabat tangan Abby dan tersenyum. “Halo nona Abby, senang berkenalan denganmu”, ujar Dave dengan sopan. Abby membalas jabat tangan Dave dan berkata, “Aku Abby, senang berkenalan denganmu juga tuan”. Sepintas Abby seperti pernah mengenali wajah Dave, wajah Dave mirip dengan seseorang-namun entah siapa. Namun Abby segera menepis pikirannya dan kemudian ia berpamitan pada Greg dan Dave untuk pulang.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD