4

1783 Words
Hari sudah menjelang malam dan ia sudah meninggalkan mom sendiri di rumah terlalu lama. Abby segera bergegas mengganti pakaian dan sepatunya, kemudian berlari ke area parkir untuk mengambil sepedanya. Ia mulai mengayuh sepedanya dan tiba-tiba bunyi rem berdecit dari sebuah mobil, diiringi bunyi klakson yang sangat panjang, membuat Abby hampir terjatuh. Rupanya Abby hampir tertabrak mobil itu karena Abby tak melihat darimana arah datangnya mobil itu.    Sesosok pria membuka kaca mobil tersebut  dan menatap Abby dengan sangat marah. “Apa kau tak memasang matamu hah?! Kau tak bisa sembarangan mengendari sepedamu di area parkir ini! Ini area parkir untuk mobil, bukan untuk sepeda!”, maki pria itu.  Abby terperangah, pria yang sedang memakinya adalah si pria berambut coklat! Belum hilang rasa terkejut Abby dan bahkan ia sampai lupa untuk bernafas. “Apa kau masih ingin diam disitu dan menungguku untuk menabrakmu?!”, bentakan pria itu menyadarkan Abby kembali. Abby segera menggeser sepedanya dan melihat pria itu menutup kaca mobilnya, berlalu dari hadapan Abby.   Sambil mengayuh sepedanya, lagi-lagi Abby membayangkan wajah pria itu. Wajah pria congkak berambut coklat yang terakhir kali dilihat Abby sedang mencumbu teman wanitanya. “Bodoh, bodoh! Kenapa wajah si congkak itu ada di kepalaku?! Kenapa harus dia?! Erggghhh...!!” gerutu Abby sambil mengayuh sepedanya dengan cepat. Ia membelokkan arah sepedanya ke pertokoan. Butuh waktu 1 jam lamanya untuk Abby memilih dan membeli beberapa jenis pakaian untuk kerja. Ia harus melakukannya dengan cepat sebab malam sudah semakin larut.   ***   Abby menikmati perjalanan ke kantornya dengan hati riang sebab sebelum ia berangkat wajah mom terlihat segar. Bahkan mom lah yang bangun lebih dulu serta menyiapkan bekal untuknya. Abby melewati beberapa jalan kecil untuk membuat waktu perjalanannya menjadi lebih singkat, hingga akhirnya jalan kecil tersebut menembus sebuah jalan besar persis di belakang gedung kantornya. Karena saat itu jalan besar masih sepi, Abby mulai melepaskan kedua tangannya dari stang sepeda, membentangkan tangannya dan tertawa, tidak melihat mom sakit saja sudah cukup membuat Abby bahagia.   Dan Greg menepati janjinya dengan meminta orang-orangnya untuk menyiapkan sebuah ruangan kerja untuk Abby. Semua peralatan kerja, dokumen-dokumen serta komputer milik Abby telah ditata dengan rapih. Ruangannya cukup besar, ada sebuah kamar mandi dengan ukuran sedang dan 2 jendela besar menghadap ke luar gedung. Abby mengagumi ruang kerjanya dan mulai memperhatikan keseluruhan isinya satu per satu.    Sebuah pot dengan tanaman Yucca terletak di sudut ruangan, beberapa tanaman hias lainnya yang diletakkan di pinggir jendela serta sebuah cermin besar yang terletak di depan meja kerja menghiasi ruang kerjanya. Yang paling Abby sukai dari ruangannya adalah cermin besar yang menyatu dengan dinding ruangannya itu, jemarinya menyentuh cermin yang bersih tersebut dengan perlahan, ukuran cermin itu menyerupai ukuran sebuah pintu, hingga Abby bisa puas berkaca di depannya.   Abby segera mengunci pintu ruangannya karena ia memang belum sempat berganti pakaian. Pakaian kerja barunya dikeluarkan satu per satu dari ranselnya. Abby mulai melepas sweater dan celana pendeknya. Di depan cermin besar itu ia baru menyadari di beberapa sisi bra nya mulai sobek, beberapa benangnya sudah lepas, begitupun dengan panties nya. Tangan Abby mulai membetulkan kembali bentuk bra nya dan mencoba merapihkan kembali benang-benang yang terlepas agar tidak terlalu tampak.   Di sisi lain ruangan itu seorang pria sedang memandangi tubuh Abby dan melihat jelas seluruh lekukannya. Leher Abby yang putih bersih, bentuk payudaranya yang cukup besar, perutnya yang rata, pinggangnya yang kecil serta cerahnya warna kulit Abby membuat pria itu sempat menahan nafasnya. Hatinya mulai berdebar ketika melihat Abby mengikat rambut panjangnya ke atas, saat Abby sedang memperbaiki benang-benang yang terlepas dari branya, serta saat tubuh Abby bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mengamati bentuk  tubuhnya sendiri. Prilaku Abby di depan cermin membuat kejantanannya mengeras.    Abby tak sadar bahwa ia sedang bercermin di cermin satu arah, dimana Abby tak bisa melihat orang yang ada di balik cermin, sementara pria itu dapat melihat Abby dengan leluasa.    Pria itu adalah Daniel Richard, pria berambut coklat yang muncul beberapa kali dalam pikiran Abby. Ia mulai tersenyum dan menikmati pemandangan di balik kacanya itu. Baginya ini merupakan sebuah hiburan yang menarik dan jarang terjadi di pagi hari. Tangan Daniel mulai menyentuh kaca yang sebelumnya tertutup sebuah tirai, membayangkan jarinya bisa menyentuh kulit Abby. Di sisi lain Abby mendekatkan wajahnya ke cermin, memandangi wajahnya, mengusap bibirnya yang lembut tanpa hiasan lipstick. Payudaranya semakin mendekat maju ke arah cermin dan sesaat kemudian Daniel mengenali wajah Abby!   Awalnya Daniel hanya penasaran ingin melihat wajah orang yang ditunjuk ayahnya untuk memantau bisnis dan uangnya. Menurut informasi yang ia terima, ternyata orang tersebut ditempatkan di ruangan yang tepat berada di sebelah ruangannya. Ia membuka tirai yang menutup sebuah kaca yang terhubung dengan ruang kerja Abby. Dan betapa terkejutnya ia ketika tau bahwa orang yang berani mengusiknya adalah seorang gadis yang pernah ditolongnya, gadis yang melihatnya mencumbu Jasmine di area parkir, dan gadis yang semalam hampir ditabraknya!    ***   Abby mengetuk pintu dan membukanya secara perlahan. “Permisi, aku mau bertemu dengan tuan Daniel Ri...”, Abby belum selesai dengan kalimatnya. Matanya terpaku melihat pria yang duduk di meja kerjanya. Abby tak menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan pria berambut coklat itu lagi. Pria itu hanya diam dan menatap Abby dengan tajam. “K..kau? Apakah kau tuan Daniel Richard?”, Abby memberanikan diri bertanya.   “Ya, kau mau apa?” jawab Daniel dengan ketus. “Namaku Abby-dan tuan Greg memintaku untuk...” Daniel pun memotong kalimat Abby, “Aku sudah tau. Katakan apa maumu sekarang. Setelah itu kau boleh pergi”. Abby pun terdiam. Ia hanya menyodorkan beberapa lembar kertas untuk ditanda tangani Daniel.   Sesaat setelah membaca isi di kertas-kertas itu, Daniel menunjukkan kemarahan yang besar. Ia berdiri dan berjalan ke arah Abby. “Kau! Berani-beraninya kau membuka isi rekeningku!” Daniel mendorong Abby dengan keras, hingga tubuh Abby terbentur ke dinding. Namun itu tak cukup bagi Daniel, ia mencengkram dagu Abby dengan tangannya dan berkata, “Apa kau mau kehilangan nyawamu ha?”. Cengkraman tangan Daniel terasa sangat kuat hingga Abby terpekik menahan rasa sakit.   Awalnya Abby merasa takut, namun setelah Daniel bersikap kasar padanya, entah darimana tiba-tiba muncul keberanian Abby. Ia kembali mendorong Daniel sekuat tenaga, namun tenaganya hanya mampu mendorong Daniel mundur beberapa langkah.   “Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Seharusnya kau yang mulai takut dengan kemampuanku saat ini untuk menjebloskanmu ke penjara”, teriak Abby. Dagunya masih terasa sakit namun keberanian melawan Daniel seketika muncul. Entah apa yang merasuki Abby saat itu, namun sikap kasar Daniel membuatnya muak dan ingin kembali melawannya.   Daniel yang tak terima dengan perlawanan Abby kembali menyerang Abby dengan mendorong dan menghantam kepala Abby ke dinding. Baginya adalah suatu hal yang pantang bila seorang wanita menantang dan melawannya. “Kau hanyalah seorang pesuruh. Ya, kau hanyalah pesuruh sialan ayahku. Jangan pernah kau coba untuk mengancamku! Kau tak tau apa yang bisa kulakukan pada dirimu dengan tanganku”, jawab Daniel dengan berang. Kepala Abby terasa sakit akibat benturan keras ke dinding, ikat rambutnya sudah terlepas dan tubuhnya terasa lemas. Abby mencoba untuk berdiri, namun salah satu tangan Daniel menahannya kembali. Kemudian Daniel mulai menjambak rambut Abby seraya berkata, “Kau masih beruntung saat ini, aku sedang tak ingin menghilangkan nyawa seseorang. Kusarankan kau pergi dan mengundurkan diri sebelum aku berubah pikiran”, Daniel menghempaskan rambut Abby dan pergi menjauhinya.   Abby masih terduduk di lantai. Ia marah, sangat marah atas perlakuan Daniel. “Mungkin ini yang menyebabkan para asisten Greg sebelumnya mundur dari pekerjaannya”, pikir Abby. Namun Abby bukanlah seorang gadis yang pantang menyerah. Ia menegakkan wajahnya kembali dan berkata, “Walaupun kau harus membunuhku, aku harus tetap menyelesaikan pekerjaanku. Kalau kau tak mau menunjukkan sikap kooperatifmu, maka dengan segala cara akan kuhalangi segala bentuk pencurianmu!”.   Daniel tersenyum sinis. “Really? Wow...Kau luar biasa!”, Daniel bertepuk tangan. “Baru kali ini kulihat ada gadis t***l yang sanggup menyerahkan nyawanya hanya karena tugas yang diberikan ayahku! Kau luar biasa!”, tepuk tangan Daniel semakin keras. “Apa kau tak sanggup mencari pekerjaan lain ha? Hanya sampai disitu kemampuan otakmu? Kau pertaruhkan nyawamu karena bayaranmu yang kecil itu? Kau sungguh gadis t***l”, lanjut Daniel. Tak lama Daniel mengumpulkan kertas yang diserahkan padanya tadi dan melemparkannya ke wajah Abby. “Kau betul-betul t***l!”, katanya kembali. Abby memandang Daniel dengan tatapan dingin. Rasanya sia-sia berdebat melawan Daniel saat ini. Abby membungkuk untuk mengumpulkan kertas-kertas itu dan berkata, “Aku tak perduli bayaranku besar atau kecil. Yang kutau hanyalah aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Permisi!”, Abby segera melangkahkan kakinya keluar.   “Gadis gila, betul-betul gila!”, pikir Daniel.   ***   Abby tak menangis. Ia memejamkan matanya beberapa saat, jantungnya berdetak cepat dan tubuhnya lemas karena amarahnya pada Daniel. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kemudian menggelengkan kepalanya. “Not now Abby...you can do this..”, lirihnya. Yang ia butuhkan saat ini adalah secangkir kopi untuk menenangkan pikirannya. Abby berjalan ke pintu lift, dan tiba-tiba seseorang menyapanya dari dalam, “Abby?”.    Abby melihat Dave dan segera tersenyum. “Kau mau turun? Ke lantai berapa?” Dave menawarkan diri untuk menekan tombol lift lantai. “Ke lantai dasar”, jawab Abby singkat. Dave memperhatikan wajah Abby yang sangat merah dan rambut yang berantakan.   “Are you okay? Kau mau kemana?” tanya Dave sambil tersenyum.   “Aku mau ke cafetaria untuk membeli kopi. Dan kau tuan?”, sesaat Abby menyadari penampilannya begitu kacau melalui pantulan dinding lift. Ia segera membenahi rambutnya dengan menggunakan jarinya.   “Kebetulan. Aku belum sempat sarapan. Kita ngobrol disana ya. And please, just Dave. Kau bukan bawahanku”, Dave kembali tersenyum.   Baru kali ini Abby menghabiskan waktunya cukup lama dengan tak bekerja. Berbincang dengan Dave membuatnya lupa waktu. Sesaat Abby dapat melupakan kejadian yang mengerikan bersama Daniel. Namun Abby tak mau membicarakan hal itu dengan Dave.    “Jadi selama ini kau tinggal di Australia?” tanya Abby. “Betul. Sudah 4 tahun aku bekerja disana, tepatnya di sebuah kota kecil di Gold Coast. Pantainya cantik, udaranya bersih dan tingkat kriminalitasnya rendah. Kapan-kapan kau harus berkunjung ke sana”, Abby mengangguk-angguk mendengar cerita Dave. Namun ia tak bercerita bahwa ketika ayahnya masih hidup, mereka bertiga pernah berkunjung ke tempat kelahiran mom di Brisbane, yang jaraknya tak jauh dari Gold Coast.   Abby tak banyak bicara, ia hanya lebih banyak mendengar dan menjawab dengan singkat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dave. Ia hanya menjaga jarak dengan putra Bossnya untuk tetap bersikap sopan, terkecuali dengan Daniel. Semakin lama Abby menyadari bahwa wajah Dave memang sangat mirip dengan Daniel. Pantas saja ketika pertama kali bertemu Dave, Abby seperti mengenali wajahnya.  Dalam hatinya Abby berkata, "Kepribadian Dave sangat jauh berbeda dengan Daniel, Dave adalah pria yang hangat sementara Daniel sangatlah busuk. Mulai saat ini panggilanku untuk Daniel adalah si busuk".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD