Tiffany yang kini mengganti namanya menjadi Gabby sedang berada di sebuah kamar besar dengan segala perlengkapan yang ia butuhkan. Wanita itu kini tengah mengenakan sebuah gaun malam yang menampilkan lekuk tubuh hingga bagian intimnya. Karena permintaan Aries yang sedikit aneh, akhirnya Gabby mengikuti keinginan pria itu.
"Pria aneh, ia membuat tubuhku merasakan kenikmatan, tetapi kenapa ia tidak melakukannya?" gumam Gabby.
Gabby membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, dengan mengisi air hangat di bathup. Ia merebahkan tubuhnya di dalam bathup lalu dengan perlahan mengusap seluruh tubuhnya dengan busa yang dihasilkan oleh sabun.
Pagi ini, saat Gabby terbangun. Ia tidak menemukan Aries dimanapun, pria itu menghilang entah kemana. Meski ia merasa khawatir karena menjadi tahanan seorang pemimpin gangster, tetapi Gabby harus terlihat tenang jika ingin segera pergi dari sana.
Setelah dua puluh menit di dalam kamar mandi, Gabby akhirnya menghentikan kegiatannya. Ia mengenakan handuk yang hanya membalut tubuh bagian d**a hingga atas lututnya. Lalu ia melangkah menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian.
"Sejak kapan ada makanan di atas meja itu?" gumam Gabby.
Ia melangkah mendekati meja yang ada di sudut kamar, tepatnya di samping pintu masuk kamar. Gabby membuka penutup makanan itu ,selain makanan juga ada sebuah kertas berisi pesan untuk Gabby.
'Makan yang banyak! Nanti malam aku akan melakukannya lagi.'
Gabby menyipitkan matanya membaca pesan itu. Seketika bulu halus yang ada di bagian lehernya merasa berdiri karena takut. Pikirannya menjadi negatif saat membaca pesan itu. Karena semalam Aries melakukannya sedikit kasar. Bahkan pria itu juga memasukkan benda asing ke dalam intim kewanitaan Gabby.
"Dasar pria aneh," gumam Gabby.
Gabby memilih untuk mengenakan pakaian terlebih dahulu ,lalu kembali untuk menyantap hidangan yang sudah ada di meja itu. Kali ini Gabby merasa sedikit nyaman berada di dalam kamar itu, karena ia tidak perlu mengkhawatirkan mengenai Alexis yang bisa setiap saat memperkosa dirinya. Meski di tempat Aries ia juga akan dipaksa untuk melayani pria itu, tetapi setidaknya Aries bukanlah saudara tirinya.
Ceklek ...
Seorang pria dengan jas hitam dan kemeja putih masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pria itu terlihat ramah, senyumannya membuat Gabby luluh dan merasa tenang.
"Selamat pagi, Nona Gabby. Aku adalah Hector, kepala pelayan di mansion ini. Selama kau berada di sini, kau bisa memanggilku kapan saja," jelas Hector memperkenalkan diri.
"Selamat pagi ,Tuan Hector. terima kasih atas sambutan yang kau berikan. Mungkin aku tidak akan membuatmu terlalu repot, karena aku terbiasa melakukan segalanya sendiri, jika tidak keberatan bisakah kau mengajak aku untuk berkeliling? Hanya sekedar untuk melihat isi mansion," ujar Gabby.
"Sayang sekali ,Nona. Tuan Aries tidak mengizinkan dirimu untuk pergi dari kamar ini. Kau hanya bisa melakukan segala aktivitas di dalam kamar ini saja," terang Hector.
"Sudah kuduga, sampai kapan aku akan berada di dalam kamar ini?" tanya Gabby memastikan.
"Jika Tuan Aries merasa kau layak untuk keluar, maka ia akan mengeluarkanmu dari kamar ini ,Nona."
Gabby memijat keningnya, ia merasa menjadi seorang tahanan saat ini. Meski tempat ia ditahan sebuah kamar besar dengan segala kebutuhannya yang sudah tersedia. Tetap saja hal itu akan membosankan untuk Gabby. Ia tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Hector, akhirnya Gabby menyuruh Hector untuk keluar dari kamar itu.
Gabby terlihat berdecak kesal, sembari menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Beberapa kali ia juga menghembuskan napasnya dengan kasar, merasa kesal dengan kehidupan yang menurut dirinya sangat tidak adil.
***
"Ahh ... apa ini? Kenapa ,aahh ... ada yang bergetar," rintih Gabby sembari tangannya menyentuh area sensitifnya.
Pusat gairah Gabby terasa bergetar karena sebuah alat kecil yang ada di dalam sana. Gabby yang saat ini dalam posisi tidur ,tidak dapat menahan gejolak yang mulai naik itu. Kedua kakinya saling menghimpit, dengan tangan yang masih menyentuh intim kewanitaannya.
"Aahh , Tuan ... aahhh, dimana pria itu?" gumam Gabby.
Tubuh Gabby menggelinjang dan menegang karena merasa geli pada bagian dalamnya. Beberpa detik kemudian, alat itu bergetar lebih kencang hingga membuat Gabby mendesah panjang. Napasnya tersengal, tubuhnya melemas karena pelepasan yang ia dapatkan.
"Sial! Hah ... hah, apa-apaan ini?" guman Gabby lagi.
Ia merasa pakaian dalamnya basah karena cairang bening miliknya yang tumpah. Gabby berusaha untuk bangkit dari ranjang, dan berharap agar alat itu tidak aktif lagi saat ia sedang berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaahhhh ...," desah panjang Gabby.
Lagi-lagi alat itu bergetar, dan kini kecepatannya sangat maksimum. Gabby jatuh tersungkur di atas lantai. Tubuh lemasnya membuat dirinya tidak dapat menopang berat tubuhnya lagi.
"Hentikan ...," ucap Gabby.
Sebelum matanya tertutup, Gabby melihat seseorang mendekatinya. Tidak hanya satu pria, tetapi ada dua pria lain yang juga ikut menyentuh tubuh Gabby. Pria itu merebahkan tubuh Gabby ke atas ranjang. Lalu mereka melepaskan pakaian Gabby hingga tidak ada sehelai kainpun yang menutup tubuh indah itu.
"Bagaimana?" suara Aries terdengar jelas di telinga Gabby.
"Cantik, dan sangat terawat," celetuk pria lainnya.
"Mau apa kalian? Siapa kalian?" ucap Gabby lirih.
"Ssstt ... sebaiknya kau diam saja, sayang."
Gabby akhirnya memejamkan matanya dan terlelap.
"Aahh, aahhh ... uuhhh," desah Gabby tanpa sadar.
Saat kedua matanya terbuka lebar, ia baru saja menyadari jika saat ini ada tiga pria bertelanjang di hadapannya. Satu pria tengah memompa tubuhnya dari bawah sana, sedangkan dua pria lainnya tengah menyusu di setiap d**a milik Gabby.
"Aaahh, tidak rugi aku membayar mahal," ujar seorang pria.
"Kau benar, tubuhnya begitu harum dan juga nikmat," sahut pria lainnya.
"Nikmati saja, karena kali ini aku akan mengalah," ujar Aries.
"Aahh ... Tuan, apa yang kalian lakukan?" tanya Gabby.
"Kami sedang menikmati tubuh undahmu ,sayang," jawab pria itu.
"Aaahh ... Tuan ... aahhh," desah Gabby.
Entah sudah berapa lama mereka menikmati tubuh Gabby di atas ranjang itu. Hingga secara bergantian mereka menumpahkan cairan putih kentalnya di dalam rahim wanita itu. Gabby yang sudah sangat lemah tak berdaya ,hanya bisa terdiam dan tidak bisa bergerak.
"Baiklah, lain kali aku ingin melakukannya sendiri, kalian harus menentukan jadwal untuk wanita ini," ujar seorang pria.
"Ayolah ,Juan. Beri aku waktu lebih lama lagi untuk hari berikutnya," sela pria lainnya.
"Aries, sebaiknya kau memberikan apa yang kami inginkan!" ujar pria bernama Juan.
"Groot, jangan seperti anak kecil! Bagaimana jika kita undi saja?" tawar Aries.
"Setuju!" jawab kedua pria itu bersama.
Akhirnya Aries mengambil secarik kertas untuk mengundi jadwal di antara mereka bertiga. Setelah akhirnya mereka mendapatkan jadwal masing-masing, akhirnya ketiga pria itu pergi dari sana meninggalkan Gabby yang tergeletak lemah.
"Hector, bersihkan kamar ini!" ujar Aries.
"Baik ,Tuan."
Hector berjalan masuk, ia melihat kamar dengan Gabby yang bertelanjang bulat di atas ranjang. Pria itu mendekati Gabby, lalu ia menutup tubuh wanita itu dengan selimut. Hector juga membersihkan beberapa barang yang berserakan.
"Tuan Aries selalu seperti ini," gumam Hector.
Samar, Gabby mendengar ucapan Hector. Perlahan ia membuka mulutnya untuk mengucapkan beberapa kata.
"Tu-tuan ... siapa mereka?"
"Nona, istirahatlah! Aku akan memberitahu mengenai siapa mereka saat kau sudah sadar," jelas Hector.
"Baiklah."
Mata Gabby kembali terpejam, ia larut di dalam tidurnya yang nyenyak itu. Hingga tanpa ia sadari, jika ia sudah pingsan selama tiga hari.
"Ehm," desis Gabby.
Wanita itu terlihat meregangkan tubuhnya yang terasa sangat lemah.
"Tubuhku masih lemah," gumamnya.
"Nona, akhirnya kau sadar."
"Tuan Hector, apa yang terjadi padaku?" tanya Gabby.
"Mereka memberikanmu obat ,agar kau tidak mengingat kejadian itu. Kau sangat menikmatinya saat ini, tetapi kau tidak ingat apa yang kau lakukan saat sudah sadar," jelas Hector.
Gabby memicingkan matanya, ia mencoba mencerna ucapan Hector saat ini. Hingga tangannya terangkat lalu ia bertanya pada pria di hadapannya itu.
"Tuan, aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kau jelaskan."
Hector mendekat dengan membawa senampan makanan untuk Gabby. Ia meletakkan makanan itu di atas tubuh wanita itu. Lalu Gabby bergerak perlahan agar posisinya setengah duduk, dengan tubuh yang bersandar pada badan ranjang.
"Terima kasih, kau sangat baik padaku," ucap Gabby.
"Nona, aku akan selalu baik pada semua orang yang mereka bawa kemari, tetapi aku bisa jahat sesuai keinginan mereka," jelas Hector.
"Apa maksudmu dengan mereka? Bukankah hanya Aries pemimpin di sini?" tanya Gabby memastikan.
"Tidak, Nona. Kau salah jika hanya mengatakan Aries adalah pemimpin tunggal. Masih ada dua pria lainnya yang bersama Aries untuk memimpin," terang Hector.
"Sebenarnya apa nama kelompok mereka?" tanya Gabby ingin tahu.
"Nona, sedikit yang kau tahu, maka waktumu di sini akan semakin lama. Tetapi jika kau banyak tahu, aku yakin hidupmu tidak akan sampai dalam hitungan detik," ujar Hector.
Ucapan pria itu membuat Gabby menelan ludahnya kasar, ia kini menikmati makanan yang di bawa oleh Hector ,dengan sedikit bertanya tentang siapa ketiga pria yang Hector katakan. Tentu saja Gabby hanya ingin tahu untuk apa mereka menahan Gabby di sana.