Chapter 5

1299 Words
"Ini pesanan milikmu ,Tuan," ujar Tiffany. "Apa kau bartender baru di sini? Karena aku baru melihat dirimu hari ini," tanya pria itu memastikan. "Bukan ,Tuan ... aku anak tiri pemilik kasino ini, mulai hari ini aku diperintahkan untuk mengawasi saudara tiriku," jelas Tiffany. "Benarkah? Menarik." "Mendengar dari pertanyaanmu, sepertinya kau sudah sering datang kemari," ujar Tiffany. "Kau benar, aku datang hanya untuk melepaskan penat saja, segelas tequila ini akan membuatku lebih baik. Setelah ini aku akan pergi," jelas pria itu. "Apa kau memiliki bisnis yang membutuhkan seorang pegawai wanita?" "Apa kau sedang membutuhkan pekerjaan?" "Tidak, lupakan saja pertanyaanku tadi. Permisi, saudara tiriku memanggil." Tiffany berjalan menjauhi pria itu ,ia menghampiri Alexis yang sedang bermain dengan wanita penghibur di sana. "Wanita yang menarik." Setelah menghabiskan minumannya, pria itu pergi dengan meninggalkan tip di bawah gelas. Sementara Tiffany yang kini menghampiri Alexis mencoba untuk mencari tahu tentang pria itu. "Apa kau mengenal pria di sana?" tanya Tiffany sembari menunjuk ke arah meja Bar. Sayang, saat itu pria yang dimaksud Tiffany sudah tidak ada di sana. Alexis merasa Tiffany hanya ingin mengalihkan pandangannya saja. Lalu ia menarik tangan Tiffany dan berbisik, "kenapa kau melayani pelanggan di sini?" "A-aku hanya bosan, karena terbiasa melayani pelanggan di kelab," ujar Tiffany terbata. "Sebaiknya kau kembali saja ke kamar, dan tunggu aku di sana." "Tidak mau! Aku ingin di sini, setidaknya meski aku merasa bosan ,di sini ada banyak orang yang bisa mengalihkan pandanganku," ujar Tiffany beralasan. "Cih, sebaiknya jangan memancing kemarahanku, sayang." Tiffany terdiam, Alexis melepaskan genggaman tangannya lalu membiarkan Tiffany duduk di kursi VIP. Wanita itu terlihat sedikit  memperhatikan setiap pelanggan yang ada di sana. Kasino itu memiliki lima ruangan VIP yang biasa di gunakan oleh beberapa pimpinan gengster maupun mafia. Bahkan di sana juga menjadi tempat untuk bertransaksi ,seperti jual beli senjata maupun lainnya. Hari ini ada pria yang mengenakan pakaian serba hitam, dengan kacamata yang juga berwarna hitam, memegang sebuah senapan dan mengarahkannya pada seorang wanita. DOR DOR DOR "AARRHHGG!" teriak banyak orang yang terkejut dengan suara tembakan itu. Tiffany seketika menundukkan kepalanya ,tubuhnya gemetar, napasnya juga memburu, bahkan telinganya seperti mendengung karena suara tembakan itu. Wanita itu berharap dapat pergi dari tempat itu, karena ia sangat tidak menyukai kehidupan di kota besar. Tiffany mencoba melihat ke sekitarnya, ia melihat Alexis tidak ada di tempatnya. Matanya mulai menyusuri setiap sudut kasino, tetapi sayangnya ia masih belum bisa menemukan Alexis. Lalu tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya dengan paksa, pria itu membawa Tiffany pergi dari sana. "Lepaskan aku, Tuan!" bentak Tiffany sembari memberontak. Pria itu tidak mempedulikan teriakan Tiffany, ia terus menariknya hingga keluar dari kasino. Tiffany dimasukkan ke dalam sebuah mobil jeep hitam dengan kaca gelap yang membuat orang tidak dapat melihat ke dalamnya. "Masuk!" ucap pria itu. Tubuh Tiffany dipaksa untuk masuk hingga kepalanya terbentur pintu. Perasaan takut tengah ia rasakan, hingga beberapa detik kemudian ,Tiffany kehilangan kesadaran. Sedangkan di dalam kasino, Alexis terlihat kebingungan karena mereka membawa Tiffany begitu saja. Para pria dengan tubuh besar dan berotot itu membawa dua wanita.  "Halo, Tiffany di bawa oleh Dark Eyes," ujar Alexis. "Apa? Untuk apa mereka membawa Tiffany?" tanya Maynard dari seberang telepon. "Entahlah, sepertinya Camorra baru saja datang kemari," jelas Alexis. "Apa mereka tidak meninggalkan pesan?" tanya Maynard. "Aku mencoba menghubungi Jody, tetapi ia sedang berada di California saat ini," ujar Alexis. "Hubungi Jody, minta bantuan Camorra untuk mencari Tiffany!" ujar Maynard. "Aku malas harus berhadapan dengan anak cyborg itu!" ujar Alexis. "Sebaiknya kemasi barangmu jika kau tidak ingin menyelamatkan Tiffany!" "Baiklah, baiklah. Aku akan mencoba menghubungi Jody secepatnya," jawab Alexis sembari memutuskan sambungan teleponnya. *** "Kita apakan wanita ini?" tanya seorang pria pada pria lainnya. "Tanyakan saja dulu pada bos, ia akan memutuskan hukuman untuk wanita ini." Suara yang terdengar jelas di telinga Tiffanya itu membuatnya sedikit gemetar. Tubuhnya sudah tidak dapat bergerak karena ikatan yang melilit tangan dan kakinya. Sementara sebuah kain membungkam mulutnya.  "Ehm," ucap Tiffany. "Ah, ternyata kau sudah sadar," ujar seorang pria. "Hei ,Jim. kita berikan saja wanita itu pada Tuan Aries." "Saran yang bagus, Tuan Aries pasti mau membayar mahal untuk wanita ini," sahut pria lainnya. Tiffany hanya menggelengkan kepalanya, seharusnya ia mengikuti ucapan Alexis untuk kembali ke kamar. Bukan duduk melihat orang-orang yang tidak penting itu.  "Apa yang kalian lakukan?" Suara pria itu mampu membuat dua orang di hadapan Tiffany tertunduk. "Tuan, kami akan membawa wanita itu padamu," ujar salah satu pria. Aries mendekati Tiffany lalu melepaskan  kain penutup mulutnya.  "Apa kau baik-baik saja?" tanya Aries. "Si-siapa kau?" "Maafkan kedua orangku ini, mereka salah menculik wanita." "Kalau begitu lepaskan aku, Tuan." "Tidak bisa Nona, maaf. Karena kau sudah melihat wajahku ,Sebaiknya kau memiliki alasan agar aku tetap membiarkan dirimu hidup," ujar Aries. "A-apa yang ka-kau katakan? Kau akan membunuhku?" "Jika terpaksa, dan jika kau tidak bekerja sama," jelas Aries. "Lalu jika aku ingin hidup, akan kalian apakan tubuhku?" tanya Tiffany. "Nona, kau sangat cantik. Kau bisa menjadi pelayan pribadi di mansionku," ujar Aries. Tiffany terlihat takut saat wajah Aries mendekat, semakin dekat hingga bibir mereka bertemu. Setelah beberapa detik melumat bibir Tiffany, Aries melepaskannya lalu menyuruh kedua anak buahnya untuk membersihkan tubuh Tiffany ,dan memberikan pakaian yang layak. "Bawa wanita ini ke kamarnya, aku ingin ia menjadi pelayanku." Aries melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Tiffany yang masih terikat di sana. Sementara kedua orang yang ditugaskan oleh Aries, kini mereka melepaskan ikatan di tubuh Tiffany ,lalu membawa wanita itu ke sebuah kamar. Setelah melewati beberapa lorong menuju mansion utama, akhirnya mereka sampai di sebuah ruang utama. Tiffany terlihat menelan ludahnya kasar melihat kemewahan itu. "Masuk dan bersihkan tubuhmu, Nona. Tuan Aries ingin melihat dirimu bersih dalam beberapa menit lagi," ujar pria yang membawanya. Tiffany mengangguk, ia melangkahkan kakinya untuk masuk dalam kamar. Matanya menyusuri setiap sudut kamar itu. Ruangan itu sangat elegan dengan warna emas yang mendominasi. Tiffany membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalam sana untuk membersihkan diri. Ia sangat takjub saat melihat ukuran kamar mandi yang lebih besar dari miliknya di rumah. Tiffany menyalakan shower dengan mengatur suhu airnya, lalu satu persatu pakaiannya terlepas. Tiffany berada di bawah shower untuk membasahi tubuhnya, ia juga menekan sebuah dispenser berisi sabun. Busa yang dihasilkan oleh sabun itu kini membalut tubuh Tiffany. Wanita itu merasakan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya, karena luka benturan saat ia dipaksa untuk masuk ke dalam mobil, juga luka akibat goresan tali yang mengikat tangan dan kakinya. "Kenapa nasibku selalu sial seperti ini?" gumam Tiffany. Tiffany segera menyelesaikan kegiatan mandinya, lalu ia mengambil handuk yang sudah tersedia di dalam sana. Ia melilitkan handuk itu pada tubuhnya, lalu keluar dari sana. Tiffany melihat pintu lain di dalam kamar itu, lalu masuk ke dalam sana dan melihat segala macam kebutuhan wanita ada di sana. "Apa ini? Kenapa terlihat seperti toko pakaian?" gumam Tiffany yang takjub dengan pemandangan di dalam walk in closet itu. Tiffany melihat banyak sekali dress dan juga gaun malam di sana, sepertinya selera Tuan Aries adalah wanita yang mengenakan pakaian seksi. setidaknya hal itu terlintas di pikiran Tiffany saat ini. Ia mengambil dress mini tanpa lengan, dress itu memiliki belahan d**a yang sempurna. Meski terasa risih, tetapi setidaknya ia menyukai motifnya.  "Pilihan yang bagus ,Nona." Tiffany tersentak saat mendengar suara Aries dari belakangnya. Aries mendekati Tiffany dengan mengusap wajah lembutnya.  "Kau begitu cantik, siapa namamu?" tanya Aries. "Na-namaku ... Gabby, Gabriella Bannet." Aries tersenyum, ia sedikit mendorong tubuh Tiffany hingga terpojok. Aries mendekatkan wajahnya ,lalu menghapus jarak diantara mereka.  "Kau akan menjadi wanita yang selalu menghangatkan ranjangku, Gabby," ujar Aries. "Tu-tuan, aku tidak begitu mahir permainan ranjang, asal kau tahu saja ... aku baru melakukannya satu kali bersama saudara tiriku, dan lebih tepatnya saat itu aku sedang diperkosa oleh saudara tiriku sendiri," jelas Tiffany. "Menarik, sepertinya saudaramu itu sangat menahan diri saat itu, dan ia juga sangat bodoh karena melepaskan wanita secantik dirimu," ujar Aries yang akhirnya melumat bibir Tiffany.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD