Chapter 4

1306 Words
Tiffany sudah berada di klub milik ayah tirinya, wanita itu tengah duduk di sebuah kursi yang ada di ruang kerja Maynard. Di hadapannya sudah ada Allani dan Maynard, tak lama kemudian Alexis juga masuk ke dalam ruangan itu. Hal itu membuat Tiffany sedikit terkejut dan memilih untuk tidak menatap Alexis secara langsung. "Baiklah, karena kalian sudah berkumpul, aku akan memberikan satu pengumuman untuk kalian berdua," terang Maynard. Kali ini Tiffany merasa ,apa yang akan dikatakan orang tuanya itu adalah sesuatu yang akan membuat dirinya tersiksa. "Alexis akan kembali ke Las Vegas, memegang kendali kasino milikku yang ada di sana, aku ingin Tiffany ikut bersama Alexis ,karena anak itu pasti membutuhkan bantuan disana," jelas Maynard. Dan benar saja, hal itu akan membuat Tiffany tersiksa.  "Mama, aku tidak mau! Hari ini aku mendapatkan pekerjaan, aku berhenti untuk bekerja di klub malam ini," jelas Tiffany. "Aku tidak menerima bantahan ,Tiffany! Disini Maynard lah yang memberikan keputusan, dan semua sudah di atur sejak beberapa hari lalu," ujar Allani. Tiffany merasa jika hidupnya begitu tidak berarti lagi, Ia melihat sebuah pisau lipat di atas meja, dengan cepat wanita itu meraih pisau lalu mengarahkannya pada lehernya sendiri. Allani yang melihat tindakan bodoh anaknya semakin tidak mengerti dengan diri anak itu. "Apa kau bodoh? Kau ingin mengikuti jejak Ayahmu menuju surga?" tanya Allani dengan tegas. "Aku lebih baik ikut Ayah, daripada harus hidup bersama orang kejam seperti kalian semua!" protes Tiffany. Plak ... Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. Pisau yang di pegang oleh Tiffany terjatuh ,dan langsung diamankan oleh Alexis. Pria itu terlihat tersenyum miring melihat tindakan Tiffany yang begitu berani. "Alexis, bawa Tiffany ke dalam kamarnya! Kurung ia sampai kalian berangkat ke Las Vegas besok," ujar Maynard. "Tidak! Kumohon! Mama, Tuan Maynard, jangan kirim aku ke sana, aku ingin tetap tinggal di sini," protes Tiffany. Alexis meraih tangan Tiffany lalu menyeretnya menuju kamar yang sudah di sediakan khusus untuk Tiffany. Saat sampai di dalam kamar, Alexis terlihat terkekeh melihat tingkah bodoh Tiffany. Beberapa kali Tiffany mencoba untuk melukai diri ,tetapi sayangnya selalu di gagalkan oleh Pria itu. "Kenapa kau tertawa? Kau puas melihatku tersiksa?" tanya Tiffany dengan nada tinggi. "Maaf, sayang. Semua itu keputusan Mama dan Papa kita, kau jangan takut atau bersedih, karena aku akan menjagamu di sana," ujar Alexis. "Cih! Menjaga? Aku bahkan tidak yakin akan baik-baik saja setelah sampai di sana! Apalagi manusia yang akan tinggal bersama diriku adalah pria b*****t!" Plak ... Sekali lagi, Tiffany harus menerima tamparan, kali ini dari orang yang berbeda. "Jaga sikapmu! Aku bisa saja membuat dirimu merasakan kenikmatan seperti yang kita lakukan beberapa hari lalu, aku hanya menahan sedikit emosiku kali ini," ujar Alexis. Pria itu keluar dari kamar itu , lalu mengunci pintunya agar Tiffany tidak melarikan diri dari sana. Tiffany merasa hidupnya sudah hancur kali ini, karena setiap ada kebaikan yang datang, di saat itu juga akan ada keburukan yang lebih menyiksa dirinya. Wanita itu hanya bisa menangis di atas ranjang, hingga tertidur dengan wajah yang sembab. *** Pagi ini, Tiffany terbangun di atas jet pribadi milik Alexis. Entah apa yang membuatnya tidak sadarkan diri saat Alexis membawanya pergi.  "Kau sudah bangun, sayang?" tanya Alexis. "Dimana ini?" tanya Tiffany. "Di dalam pesawat pribadi milikku, kita akan pergi ke Las Vegas, jika kau lupa," jelas Alexis sembari terkekeh. "Kenapa aku bisa berada disini? Apa kau membiusku?" tanya Tiffany. "Ehmm, dosis yang aku gunakan sudah sangat rendah, tetapi kau tertidur begitu pulas ternyata," ujar Alexis. Tiffany hanya bisa terdiam saat ini, di kepalanya merencanakan beberapa cara untuk melarikan diri dari tangan Alexis. Ia juga berpikir untuk melakukan hal gila jika Alexis melakukan kekerasan padanya. "Jangan berpikir bisa kabur, Tiffany. Banyak pasang mata saat kau sudah menginjakkan kaki di Las Vegas." "Kenapa kau berpikir aku akan melarikan diri?" "Jika tidak, untuk apa kau bertanya?" Mata mereka saling menatap, Tiffany sungguh muak dan kesal dengan saudara tirinya yang tidak tahu diri itu. Tiffany hanya bisa menikmati perjalanan itu hingga sampai di tujuan mereka. Saat pesawat mendarat, sudah ada mobil Range Rover yang menunggu mereka. Di samping mobil itu ada dua orang yang mengenakan jas hitam sedang berdiri. Mereka membungkuk saat melihat Alexis keluar dari dalam pesawat. Salah satunya membuka pintu mobil untuk mempersilakan Alexis dan Tiffany masuk ke dalam. "Kau terlalu tenang, sayang," ujar Alexis "Kenapa? Kau tidak menyukainya? Bagus, jika kau tidak suka, hal itu akan mempermudah diriku untuk cepat pergi," ujar Tiffany. "Hahaha, apa tidurmu masih kurang lama? Sehingga kau bermimpi di siang hari," celetuk Alexis. Tiffany terdiam lagi, ia memilih untuk melihat jalanan kota yang ramai. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kasino besar milik keluarga Maynard. Alexis membawa Tiffany masuk, lalu naik ke lantai dua puluh lima, tempat kamar mereka berada. Alexis melempar tubuh Tiffany hingga jatuh di ranjang. Pria itu menyeringai sembari melangkah mendekati wanita itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Tiffany dengan perasaan takut. "Tenanglah, sayang. Aku hanya ingin menikmati keindahan Tuhan yang ada di hadapanku." "Kau gila, Alexis!" teriak Tiffany. "Ya, aku gila ... kau yang membuatku menjadi gila!" tegas Alexis. "Kita bahkan baru bertemu beberapa hari lalu, dan kau sudah memperkosaku!" "Sstt ... bukankah kita sama-sama menikmatinya, sayang," ucap Alexis. Pria itu semakin mendekat, sementara Tiffany terus berusaha untuk menghindari saudara tirinya itu. Tiffany mendapatkan celah untuk melarikan diri ke dalam kamar mandi, dan dengan segera ia bergerak menuju ke sana. Ceklek Brak Pintu kamar mandi itu terkunci dari dalam sana. Dengan jantung yang berdegub kencang, Tiffany mencoba menetralkan dirinya saat ini. "Baiklah, kali ini kau kubebaskan, sayang. Aku harus menymbut beberapa tamu penting di kasino," ujar Alexis sembari keluar dari kamar itu. Tiffany menempelkan telinganya ke pintu, ia sedang memastikan bahwa saudara tirinya sudah benar-benar pergi dari sana. Ceklek Pintu kamar mandi kembali terbuka, dan memang benar jika kamar itu sudah kosong saat ini. Tiffany menghela napasnya dengan lega, akhirnya ia bisa sedikit tenang saat ini. "Dimana ponselku?" gumam Tiffany yang baru saja menyadari jika ponselnya menghilang. Wanita itu membuka koper yang ada di sudut kamar. Ia mencari keberadaan benda yang sangat penting itu di setiap tempat di kamar itu. Hingga akhirnya ia menyerah dan membuat kamar itu berantakan. Tok Tok Tok Seseorang tengah mengetuk pintu kamar itu, Tiffany berjalan perlahan mendekati pintu lalu mengintip dari peephole. Seorang wanita yang mengenakan seragam pelayan sedang berdiri di depan pintu. Ceklek "Maaf Nona, Tuan alexis menyuruh saya untuk membersihkan kamar dan memberikan kotak ini pada anda," ujar pelayan itu. "Iya, terima kasih." "Satu lagi, Tuan berpesan, anda harus turun mengenakan pakaian itu karena ada tamu yang ingin di kenalkan pada anda sebagai kepala kasino malam ini," lanjut pelayan itu. "Apa? Kepala kasino? Apa Alexis sedang mabuk?" "Saya hanya menyampaikan apa yang Tuan katakan, Nona." "Baiklah, aku akan turun setelah ini," ujar Tiffany. Wanita itu kini berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Sebuah dress panjang dengan belahan dari paha bagian atas hingga kaki bawah. Tiffany sudah siap untuk turun menemui Alexis di kasino. Ia masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dua tempat kasino itu berada. Dentuman musik terdengar begitu keras saat pintu lift terbuka. "Selamat datang di kasino keluarga Maynard, sayang," ujar Alexis yang menyambut Tiffany. Tiffany terlihat tidak suka dengan gaya bicara Alexis yang seperti di buat-buat. Wanita itu melangkah menuju meja bar, lalu menggantikan bartender di sana. Alexis nampak kesal dengan sikap Tiffany, ia melangkah menuju tempat Tiffany berada. Pria itu sedikit menekan suaranya agar Tiffany segera pergi dari meja bar. "Aku sedang bekerja, Alexis. Tamu-tamu disinj perlu sesuatu yang baru," celetuk Tiffany. "Jangan menguji kesabaranku. Kau bahkan tahu jika aku sangat tidak bisa jika harus menahan diri," ujar Alexis berbelit. "Kau terlalu berbelit, Alexis. Sebaiknya kau duduk saja di sana bersama teman-temanmu" ujar Tiffany dengan tersenyum miring. Jantungnya menahan agar ia bisa bersikap setenang mungkin di sana, karena ia tidak ingin melihat Alexis mencari perhatian para tamu yang notaben adalah seorang billionare. "Nona, aku ingin memesan tequila," ucap seorang Pria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD