Delapan Belas

2018 Words

Dana menghampiri Alea yang meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah yang ditutup oleh kedua tangannya. Ia merangkak pelan ke atas tempat tidur, menghampiri Alea. Dari lengannya yang bergetar, Dana tahu Alea sedang menangis meski tidak ada Isak tangis yang terdengar. Ia mengulurkan tangan untuk membelai lengan itu. "Kau menangis? Apa aku membuatmu sedih?" Alea terisak semakin keras. Ohh, bukan bersedih. Dirinya justru sangat gembira mengetahui Dana sudah kembali meski dengan fisiknya yang seperti saat ini. Itu sama sekali bukan masalah. Ia hanya menangisi kebodohannya. Bagaimana jika sekali lagi dirinya terlambat? Itu artinya Dana tak akan pernah bisa kembali. "Apa sebaiknya aku tidak menampakan diri di hadapanmu dulu?" Dana bertanya ragu. I

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD