Tiga

1443 Words
Sehari setelah pernikahan... Matahari mulai menampakkan wujudnya kala Alea membuka pintu balkon. Ia menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa sejuk dan begitu menyegarkan pikirannya. Kakinya melangkah perlahan melewati balkon dan berdiri bersandar di pagar besi setinggi pinggang. Untuk sesaat ia melupakan segala beban di hatinya dan menikmati pemandangan laut dan pantai yang terhampar di hadapannya. Tak bisa dipungkiri, kediaman keluarga Nugraha memang unik dan lain daripada yang lain. Alea menyukai tempat ini. Sebuah rumah dengan model kuno yang berada di atas tebing yang tepat menghadap ke arah laut, sementara akses menuju tempat ini pun sangat rumit dan sulit ditemukan karena harus melewati hutan yang cukup lebat dan belum terjamah manusia. Namun, suasana di sini membuat perasaan Alea menjadi damai dan tenang. Alea memejamkan mata seraya menghirup napas dalam. Debur ombak yang memecah karang di hadapannya semakin menambah ketenangan di dalam jiwanya. Setidaknya, ada hal baik yang ia dapatkan setelah memutuskan untuk menerima lamaran seorang pria yang baru beberapa kali saja ia jumpai. Ia kembali membuka mata dan menatap nanar di kejauhan. Mulai hari ini, dirinya harus bisa mengatasi semua masalahnya sendiri, tanpa bantuan ayahnya ataupun kakak-kakaknya terutama Aaro. Yah, karena memang ini sudah keputusannya, dan dirinya tidak menyesali semua ini. Seandainya waktu berputar kembali ke masa beberapa bulan yang lalu, saat ayahnya mengalami kritis, ia pun akan tetap akan mengambil keputusan yang sama. "Kenapa melamun sendiri di sini? Anginnya terlalu kencang, kau bisa masuk angin nanti." Tubuh Alea mengejang mendengar suara di belakangnya. Ia tahu itu Dana atau mungkin mulai saat ini dirinya harus membiasakan diri menyebut pria itu suaminya, tapi dirinya sama sekali malas untuk melihat wajah pria itu. Entahlah, meskipun sangat tampan, tapi di matanya Dana adalah pria yang sangat menyebalkan. "Sepertinya kau sudah mandi," Dana mengabaikan ekspresi jijik Alea saat dirinya ikut bersandar di pagar tepat di samping gadis itu. "Padahal semalam kita tidak melakukan apapun." Alea masih diam, enggan menanggapi humor Dana yang menurutnya sangat garing. "Ya sudah, aku tidak akan mengganggumu lagi," Dana akhirnya menyerah untuk mencoba berbasa-basi dengan Alea, "lima belas menit lagi turunlah untuk sarapan bersama. Mom dan Dad akan bergabung di meja makan selepas memberi makan lumba-lumba di tengah laut sana." "Lumba-lumba?" Alea refleks menoleh dan menatap ke arah Dana, penasaran. "Ya, sejak dulu Mom sangat menyukai lumba-lumba, itulah sebabnya Dad membuatkan semacam rumah untuk mereka di tengah sana." Dana menunjuk ke arah laut. Alea menatap ke arah yang ditunjuk Dana, tapi mata manusianya tak bisa menangkap apa-apa. "Apa ada akses jalan ke sana?" "Ada," jawab Dana singkat, dalam hati sedikit bersorak mengetahui bahwa ada topik yang akhirnya bisa membuatnya mengobrol sedikit lebih lama bersama gadis pujaannya. "Aku tak melihat semacam dermaga atau jembatan atau apapun yang menghubungkan ke tengah sana," Alea memicingkan mata dan meneliti ke arah sekitar pantai. Sedetik kemudian dirinya memutar tubuh menghadap Dana dan memukul perut suaminya itu dengan keras. "Kamu menipuku kan?!" Bukannya mengaduh kesakitan, Dana justru tertawa terbahak. "Kenapa pikiranmu selalu buruk padaku," Dana menggelengkan kepala beberapa kali, kemudian dengan lembut meraih pergelangan tangan Alea dan menarik gadis itu agar kembali berdiri menghadap ke arah laut. "Lihatlah di dalam sini," Dana memposisikan dirinya untuk berdiri di belakang Alea kemudian mengangkat kedua tangannya dan melipat jari-jarinya ke tengah membentuk teropong. Alea sudah berontak dengan mendorong tubuh Dana agar menjauh darinya, tapi saat itu tanpa sengaja matanya menangkap bayangan lumba-lumba yang saling berlompatan di tengah laut melalui teropong tangan Dana. Ia pun terpesona. Tak hanya lumba-lumba itu yang membuatnya takjub. Sebuah rumah mungil yang mengambang di tengah laut itu juga membuatnya terperangah. Sepasang pria dan wanita terlihat duduk di tepian rumah itu sambil tertawa gembira melihat sekumpulan lumba-lumba di hadapan mereka yang makan dengan lahap. "Bagaimana bisa?" Alea bertanya lirih, bertanya pada dirinya sendiri lebih tepatnya. Ia berjinjit sedikit untuk melihat ke tengah laut tanpa melalui teropong tangan sang suami. Ternyata tidak terlihat apapun, dan saat dirinya kembali melihat ke tengah laut melalui lubang di tangan Dana, ia pun kembali melihat dengan sangat jelas apa yang terjadi di tengah laut sana. Dana terkekeh melihat kebingungan Alea. "Jika kau lupa, akan kuingatkan sekali lagi.... suamimu ini punya banyak bakat dan kelebihan Babe, termasuk.... ugh..!!" Dana tak melanjutkan ucapannya karena ulu hatinya terasa nyeri akibat sikutan Alea. Tak hanya itu, gadis manisnya itu juga menginjak kakinya sebelum berjalan sambil menghentakkan kaki kembali masuk ke dalam kamar. Sungguh gadis yang manis. ●●● "Selamat pagi," Alea memberi salam kepada seorang wanita yang terlihat sedang menata rangkaian bunga di ruang tengah saat dirinya turun untuk membantu menyiapkan sarapan. "Pagi, kamu sudah turun?" wanita muda dan cantik itu mendongak kemudian berdiri menyambut Alea. Ia meraih tangan sang menantu dan menuntunnya untuk duduk di sofa panjang bersebelahan dengan dirinya. "Istirahatmu nyenyak?" "Iya, ehh..." Alea masih bingung, ia harus memanggil wanita di hadapannya ini dengan sebutan apa. "Namaku Dera, Dana biasa memanggilku dengan sebutan, Mom. Tapi kau bisa memanggilku Bunda, Mama atau apa saja." "Mom," Alea tersenyum canggung. Ya, karena ibu Dana terlihat masih begitu muda. Bahkan terlihat masih sepantaran dengan Dana. Wajahnya masih terlihat seperti usianya masih di awal tiga puluhan. Alea tak pernah bertanya bagaimana bisa kedua orangtua Dana masih terlihat begitu muda. Ia hanya menerima begitu saja ketika Dana memperkenalkan kedua orangtuanya. Alea hanya akan menunggu Dana menjelaskan sendiri kepadanya mengenai keluarganya. Dera tertawa merdu, "dilihat dari eskpresimu, sepertinya putraku belum bercerita banyak mengenai keluarga kami ya?" Alea mengangguk singkat. "Ehmm, Ya... saya pikir itu privasinya, jadi tidak masalah." "Tak apa, ayo kutunjukkan padamu," Dera menarik lembut tangan Alea dan membawanya memasuki pintu di seberang ruang keluarga. Di balik pintu itu ialah sebuah ruangan berbentuk lingkarang yang di semua dindingnya berisi foto-foto dalam piguran seukuran 3R. Dera melewati itu dan mengajak Alea untuk menaiki tangga yang terdapat di seberang pintu masuk. Tangga itu tidak menuju ruang manapun, hanya sebuah pijakan agar bisa melihat gambar dan tulisan pada dinding yang lebih tinggi. "Aku menyebut ruangan ini sebagai ruang kenangan, karena di dalam sini tersimpan banyak sekali kenangan yang tidak ingin kulupakan. Kamu tentu akan berpikiran sama jika dirimu ditakdirkan untuk menjalani hidup yang abadi." Dera berujar sambil sedikit menerawang. Alea diam karena dirinya tidak tahu harus berkomentar apa. "Ini," Dera menunjuk sebuah pigura berisi foto tiga orang bayi kembar. "Ini Dana, Dani dan Dini... mereka saudara kembar, putra-putri pertamaku." Alea terkejut mengetahui fakta bahwa sebetulnya suaminya memiliki saudara kembar. Bagaimana mungkin Dana tidak pernah menceritakan ini padanya, atau paling tidak mengenalkan saudara kembarnya. Dera menatap Alea seraya mengusap setitik air mata di pipinya. "Dani dan Dini sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu," ujarnya seakan bisa membaca pikiran Alea. "Tentu kau sudah tahu bahwa suamiku, Ayah Dana adalah keturunan terakhir dari raja sihir yang pernah ada di bumi ini. Suamiku memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa kekuatan sihir akan tetap terjaga dengan aman dan tidak jatuh ke tangan yang salah dan Dana sebagai putra tertuanya mewarisi sebagian bakat sihir dari suamiku sementara putra-putriku yang lain, tidak." "Ohh..." Alea mulai paham. Namun tetap saja dirinya tak bisa berkomentar terlalu banyak. Ia takut jika pertanyaan atau komentarnya bisa melukai perasaan Mommy Dana. "Sebetulnya bukan tak memiliki bakat sihir, tapi karena mereka sudah menemukan jodohnya masing-masing, akhirnya mereka memilih menjalani kehidupan selayaknya manusia normal. Berbeda dengan Dana, entah mengapa jodohnya lama sekali datang." Dera tersenyum lembut, "sebelum bertemu dengamu, Dana sering sekali melakukan eksperimen dengan ramuan atau mantra-mantra sihir. Dia ingin menciptakan cairan kehidupan seperti yang dimiliki ayahnya dan juga aku, tapi tak pernah berhasil." "Ahh... itukah sebabnya Anda dan Dana terlihat seumuran?" celetuk Alea. Namun sesaat kemudian barulah ia menyadari ketidak sopanannya, "maaf, saya tidak bermaksud..." Dera tersenyum penuh pengertian. "Tidak apa-apa sayang, kamu berhak tahu semuanya, mengingat saat ini dirimu juga merupakan bagian dari keluarga ini." "Jika Dana tidak pernah berhasil menciptakan cairan kehidupan itu, lalu mengapa sampai saat ini dia masih... ehh, sementara dua saudara kembarnya... " "Ya, memang tidak berhasil tapi dia menguasai mantra yang bisa membalikkan dan menghentikan waktu selama beberapa saat," Dera tertawa renyah, kemudian melanjutkan, "itulah sebabnya dia sering sekali kembali ke masa di saat pertama kali bertemu denganmu, mungkin kau tak menyadari itu, tapi sebelum kau menerima lamarannya, hampir setiap hari Dana kembali ke masa pertemuan pertama kalian dan setelah itu, dia akan tertawa sendiri seperti orang sinting." Alea melongo. Pikirannya masih belum bisa mencerna semua penjelasan mertuanya ini dengan logika akal sehatnya. Dirinya tersentak saat merasakan sebuah tangan yang begitu hangat dan lembut menggenggam tangannya. "Terima kasih, karena kamu sudah mengembalikan keceriaan putra Mommy, tolong jaga dan bahagiakan Dana, sudah terlalu lama dia sendiri dan kesepian. Setidaknya sampai beberapa tahun mendatang saat kalian harus pergi meningglkanku, aku ingin melihatnya bahagia." ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD