Alea duduk melamun seraya menatap cemin di hadapannya dengan tatapan kosong. Sudah beberapa hari ini dirinya tinggal di kediaman keluarga Nugraha. Sepi, itulah yang ia rasakan meskipun Dana selalu berusaha mencairkan suasana dan menghiburnya. Entahlah, hatinya terasa sudah mati dan beku.
Pintu kamar terbuka. Alea melirik melalui cermin di hadapannya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamar. Tepat seperti dugaannya, pria menyebalkan itulah yang saat ini tengah menyeberangi kamar untuk menghampirinya.
"Sepertinya kau sudah siap," Dana tersenyum cerah seraya berdiri di sebelah Alea. "Kita berangkat sekarang?"
Alea mengangguk singkat tanpa mau berusah payah untuk menjawab pertanyaan Dana. Ia pun berdiri, menyampirkan tasnya di pundak dan berjalan keluar kamar mendahului lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya sejak beberapa hari yang lalu itu.
Senyum Dana pudar. Ia menghela napas berat seraya menatap punggung Alea yang menghilang di balik pintu. Gadis itu... ahh bukan, istrinya itu sepertinya masih menyimpan marah dan kebencian untuknya. Namun, entah mengapa meski selalu diperlakukan dengan dingin, dirinya tetap saja tak bisa membenci gadis itu. Perasaannya terlalu kuat untuk Alea, sejak pertama bertemu dengannya. Sepanjang hidupnya selama ini, belum pernah sekalipun dirinya tertarik pada seorang wanita. Dan ketika akhirnya dirinya merasakan perasaan indah itu, ternyata malah bertepuk sebelah tangan.
Dana memasang kembali senyum di wajahnya dan melangkah cepat menyusul Alea. Baiklah, dirinya memutuskan untuk bersabar dan berharap suatu hari, Alea bisa memandang dirinya.
Langkah Dana terhenti di depan pintu utama rumahnya. Ia tertegun melihat senyum cerah di wajah cantik Alea. Ya, gadisnya sedang berbincang dengan kedua orangtuanya. Mengapa Alea, mengapa kau bisa tertawa seperti itu di hadapan orang lain, tapi tidak pernah di depanku?
"Ehem... selamat pagi Mom, Dad..." Dana menyapa kedua orangtuanya seraya mencium kedua pipi sang Mommy. Sekilas, ia bisa melihat senyum di wajah Alea sedikit memudar melihat kehadirannya. Namun, Dana tetap bersikap seperti biasa seolah semuanya normal dan pernikahannya bahagia. "Kami berangkat dulu," pamit Dana seraya membukakan pintu mobil untuk Alea.
Hening.
Baik Dana maupun Alea tidak ada yang mencoba untuk membuka percakapan. Sesekali Dana terlihat melirik Alea dan mencoba untuk mencairkan suasana. Namun ia mengurungkan niatnya itu karena melihat wajah datar Alea yang hanya menatap nanar ke luar jendela samping. Apa Alea marah karena dirinya telah memisahkan gadis itu dari kekuarganya, atau karena hal lain?
Dana mengembuskan napas pelan. Apa dirinya terlalu egois dengan memaksa gadis itu untuk tinggal di rumahnya yang jauh dari keramaian dan memindahkan sekolahnya ke sekolah milik keluarganya. Sebetulnya, Dana melakukan itu semua bukan tanpa alasan. Entah mengapa sebagian dari dirinya meyakini bahwa istrinya itu memiliki hubungan spesial dengan salah satu kakaknya. Itulah mengapa ia ingin memutuskan hubungan itu dengan membawa Alea pergi. Mungkin cara yang ia lakukan terlalu berlebihan sehingga akhirnya malah membuat Alea tertekan.
"Kau merindukan Ayah dan Bunda?" Dana mencoba membuka percakapan. Namun tetap saja tak ada tanggapan dari gadisnya itu. "Bagaimana jika sepulang sekolah nanti, kita berkunjung ke sana?"
Ale menoleh, tapi masih tetap diam dan tidak menjawab. Ia meneliti ekspresi di wajah Dana, mencari kebohongan di sana. Tak ada. Lelaki itu tulus ingin mengajaknya mengunjungi kedua orangtuanya. Tapi dalam hati Alea waspada, menurutnya Dana adalah lelaki licik yang bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, hingga dirinya sulit sekali untuk mempercayai pria itu.
"Aku tak seperti yang kau pikirkan," Dana mendesah lelah. "Sampai kapan kau akan terus berpikiran buruk tentangku? Tidak bisakah kau lihat ketulusanku?"
"Tidak," jawab Alea singkat membuat Dana sukses melongo. "Semua yang kau lakukan adalah pamrih."
"Oke," Dana mengalah, "jelaskan dimana letak pamrihku padamu?"
Alea tersenyum sinis. Namun ia kembali menatap ke arah luar jendela, tanpa mempedulikan Dana lagi. Pertanyaan dari pria itu justru seperti menabur garam di atas luka hatinya. Jika memang semua yang dia lakukan tulus dan bukan pamrih, seharusnya pria itu tidak meminta dirinya untuk menyetujui pernikahan mereka!!!
***
Dana menahan pergelangan tangan Alea yang sudah siap untuk membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu, kau siswi baru di sekolah ini," ujarnya mengingatkan istrinya. "Ehh, kau mungkin tidak tahu bahwa tradisi di sekolah ini adalah melakukan semacam uji kelayakan untuk bisa diterima diantara mereka semua, baik para murid maupun guru," Dana melanjutkan ketika melihat gadisnya menaikkan alis dengan ekspresi tak suka di wajahnya.
"Lalu?"
"Jangan jauh-jauh dariku agar mereka tidak memiliki alasan untuk memperlakukanmu dengan tidak baik."
Alea mendengus, "jangan bercanda, aku memaksa untuk kembali bersekolah adalah untuk menghindarimu, dan sekarang kamu memintaku supaya tetap berada di dekatmu? Dan apa posisimu di sekolah ini?"
Mendengar jawaban sinis Alea, Dana pun hanya bisa tersenyum kecut, "aku tau.. tapi... aku kepala sekolah di sekolah ini, dan..."
"Dan mereka akan semakin benci padaku jika tahu kau memperlakukanku berbeda!" bentak Alea kemudian menepis tangan Dana dan membuka pintu mobil.
"Huft! Benar-benar gadis yang manis," ujar Dana pelan seraya melepas safety beltnya dan bergegas mengejar istrinya tercinta. Baru saja Dana ingin berteriak memanggil Alea, segerombolan siswi yang juga baru sampai di sekolah sudah menghampiri gadisnya itu.
"Ehh, Lo... murid baru ya?" salah seorang dari mereka bertanya pada Alea. Namun sepertinya Alea sedang dalam mood yang tidak baik sehingga ia mengabaikan pertanyaan itu dan tetap melanjutkan langkahnya melewati undakan di depan lobi sekolah.
"Woi, murid baru jangan songong Lo!" seorang lagi berteriak untuk memanggil Alea. Namun lagi-lagi panggilannya diabaikan oleh Alea.
Merasa kesal karena panggilan mereka diabaikan, salah seorang siswi dari kelompok iti mengambil sebuah batu kecil dan melemparkan batu itu ke arah Alea dan tepat mengenai kepala belakang Alea.
Dana bersandar di mobil seraya bersedekap. Ia sengaja membiarkan Alea merasakan betapa tidak bersahabatnya sekolah ini untuk murid baru, supaya akhirnya nanti Alea membutuhkan bantuannya darinya.
Alea membalikkan badan dan menatap lima siswi yang bergerombol di halaman depan sekolah. Ia melangkah perlahan menuruni undakan lobi sekolah untuk mendekati kelima siswi itu. Saat tinggal beberapa langkah lagi dari tempat kelima siswi itu berdiri, Alea memutar badan seraya mengangkat kaki untuk menendang kepala salah satu dari kelima siswi menyebalkan itu. Namun, Alea tidak benar-benar ingin menendang mereka, ia hanya ingin memberi mereka peringatan saja bahwa jangan pernah main-main atau cari masalah dengannya. Tendangan berhenti saat telapak kakinya hanya berjarak satu inci saja dari hidung salah seorang dari kelima siswi itu yang terlihat paling mendominasi.
"Lain kali kalau mau kenalan yang sopan," ujar Alea kalem seraya menurunkan kakinya dan kembali melanjutkan langkah memasuki gedung sekolah barunya, membuat Dana mau tak mau akhirnya harus tertawa sendiri.
Gadisnya memang beda dari yang lain...
***