Lima

1360 Words
Alea memutar bola matanya jengah melihat sikap permusuhan diantara para murid dan guru perempuan yang sangat nyata sekali ditujukan untuknya. Itu karena ada yang memergoki dirinya keluar dari mobil kepala sekolah idola mereka pagi tadi. Ohh, yang benar saja, apa sih yang mereka lihat dari sosok Dana? Seperti saat ini, guru kimia yang terlihat masih muda sepertinya juga ingin mengibarkan bendera perang padanya. Dengan alasan ingin mengetahui sampai dimana pelajaran kimianya di sekolah sebelumnya, guru itu memberikan Alea beberapa soal di apapn tulis yang sukses membuat teman-teman sekelasnya menarik napas saking sulitnya. Bahkan Alea tahu betul soal-soal itu bukan diambil dari buku pelajaran. Hah! Rupanya mereka sengaja ingin mempermalukan dirinya di hadapan kelas. Dasar bodoh! Mereka pikir Alea tak akan bisa mengerjakan soal-soal itu, tapi mereka salah besar. Dibesarkan dengan seorang kakak seperti Aleron, tidak mungkin dirinya tidak bisa menyelesaikan soal-soal semudah itu karena bisa dipastikan Aleron tak akan membiarkannya hidup dengan tenang jika dirinya tidak bisa menaklukkan soal seperti itu. Alea maju kemudian mengambil boardmarker di tangan sang guru seraya tersenyum mengejek. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit dirinya sudah berhasil menyelesaikan dua puluh soal di papan tulis dengan jawaban sempurna. "Gak ada soal yang lebih sulit dari itu?" cibir Alea seraya berlalu meninggalkan kelas, mengabaikan teriakan marah sang guru. Sampai di pintu kelas, ia menoleh ke arah sang guru seraya berbicara dengan tenang, "jika Anda sudah bisa bersikap profesional selayaknya seorang guru, baru saya akan kembali belajar di kelas Anda!" Setelah menyampaikan kata-kata yang sukses menampar dan mempermalukan gurunya di hadapan teman-teman sekelasnya, Alea pun setengah berlari meninggalkan kelas. Entah kemana tujuannya, yang jelas dirinya tidak ingin berada di sekitar orang-orang yang memiliki pikiran picik terhadap dirinya. Jika saat ini Aaro ada bersamanya, pasti kakaknya itu akan dengan tegas membelanya. Namun nyatanya mulai saat ini dirinya harus bisa menghadapi semua permasalahannya sendiri. Setelah berjalan tak tentu arah, Alea sampai di lapangan basket yang letaknya persis berada di tengah sekolah. Lapangan basket itu berdampingan dengan lapangan voli. Di sana terlihat beberapa murid yang sedang bermain basket, rupanya sedang jam pelajaran olahraga. Karena tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan dan kemana dirinya harus pergi, akhirnya Alea memutuskan untuk duduk di pinggir lapangan melihat permainan basket mereka. Baru saja Alea duduk bersila di bawah pohon kenanga yang cukup rindang, sebuah bola basket menggelinding ke arahnya. Seorang murid laki-laki dari tengah lapangan berteriak ke arahnya, meminta tolong untuk melemparkan bola itu kembali ke lapangan. Ia pun berdiri seraya memegang bola basket itu di tangannya, tapi sama sekali tak berniat melemparkan bola itu kembali ke tengah lapangan. Alea memperhitungkan jarak tempatnya berdiri dan ring basket sebelum melakukan shot. DAGH Bola basket itu masuk ke dalam ring basket dengan mulus membuat semua yang berada di lapangan melongo melihatnya. Siswa yang tadi berteriak pada Alea pun akhirnya menghampiri Alea karena penasaran. "Hai," sapanya ketika sudah berada di hadapan Alea. "Lo murid baru itu?" Alea menatap siswa itu seraya menaikan alis sebagai jawaban. "Ehh, semua cewek di sekolah ini heboh ngebicarain Lo," dia mengulurkan tangan, "ahh kenalin, gue Sakti." "Eheeemm!!" Siswa bernama Sakti itu terlonjak mendengar dehaman berat dari arah sampingnya. Berbeda dengan Alea yang cuek saja mendengar suara itu, karena dirinya sudah hapal, suara siapa itu. "Jam pelajaran masih berlangsung, kenapa kalian berdua malah ngobrol di sini?" Kepala Sekolah mereka bertanya seraya menatap dengan pandangan penuh intimidasi, terutama pada Sakti. "Sa-saya sedang pelajaran olahraga, Pak," jawab Sakti berusaha memberanikan diri. Malulah jika terlihat chicken di mata Alea. "Kembali ke lapangan!" hardik Dana tak sabar. Kepalanya mendidih melihat murid cowoknya itu terus melirik gadisnya. Sakti melirik Alea, "kalau begitu sampai nanti." Alea hanya diam dan tetap memandang lurus ke depan dengan ekspresi datar tak mempedulikan wajah Dana yang sudah berubah ungu, ataupun ekspresi takut Sakti. Benar-benar gadis yang dingin. "Kamu, ikut ke ruangan saya!" Dana berbicara tegas sebelum menambahkan dengan sedikit berbisik, "atau seluruh dunia akan tahu bahwa aku adalah suamimu." *** Begitu Alea masuk ke dalam ruangannya, Dana menutup pintu dan menguncinya. Ia tidak ingin ada yang mengintip atau mencuri dengar pembicaraannya dengan Alea. "Duduklah," Dana menunjuk sofa di sudut ruangannya. "Atau kau mau duduk di pangkuanku?" Alea mendengus pelan dan tetap kekeh berdiri di tengah ruang kerja Dana. "Babe, jangan bikin kesabaranku habis ya..." ujar Dana dengan nada rendah mengancam. Ya, saat ini dirinya sedang dilanda rasa cemburu karena melihat beberapa murid cowok di sekolahnya tertarik pada Alea. "Jika aku mau, dengan atau tanpa persetujuanmu pun aku bisa mengambil semua hakku sebagai suamimu, tapi aku masih bersabar karena ingin memberimu waktu untuk menyesuaikan diri." Alea bergeming. Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Bukan karena marah atau ingin menghajar Dana, sama sekali bukan. Ia hanya marah pada dirinya sendiri yang entah mengapa sulit sekali memenuhi janjinya pada pria itu. Kebenciannya kepada Dana terlalu besar. Dan apa yang membuatnya sangat membenci suaminya itu, Alea sendiri pun tak tahu. Mungkin karena Dana terlalu sempurna sebagai seorang pria. Selain tampan dan kaya raya, Dana juga memiliki banyak kelebihan yang bahkan ayahnya pun tak punya. Ya, sepertinya memang mindset yang selama ini ditanamkan kepada dirinyalah yang membuat sosok Dana akhirnya terlihat buruk di matanya. Sejak dirinya mulai beranjak remaja, kelima kakak laki-lakinya selalu memberikan warning agar dirinya tak mudah terjebak bujuk rayu laki-laki, terutama laki-laki tampan dan kaya, karena mereka sudah bisa dipastikan playboy dan tukang main perempuan. (Lima A gak sadar klo mereka sendiri juga tampan dan kaya hahaha...) Dana berdiri dengan wajah sedikit menunduk untuk bisa menatap kedua mata Alea. "Aku penasaran, apa kau masih akan tetap diam seperti patung, jika aku... " Dana tak melanjutkan ucapannya dan dengan gerakan yang tak bisa dibaca Alea, secepat kilat ia menyambar tengkuk Alea, menariknya lembut dan mendaratkan bibirnya di bibir Alea. Awalnya Dana hanya menempelkan bibirnya dengan lembut, memberi kesempatan pada gadisnya untuk menolak. Namun, sampai beberapa saat bibir mereka saling bersentuhan, sama sekali tidak ada tanda-tanda penolakan dari Alea. Akhirnya Dana mulai berani memperdalam ciumannya. Ia membelai dan menghisap bibir ranum Alea. Alea terkejut dan betul-betul tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kelima kakaknya tidak pernah memberikan pelajaran mengenai ciuman, sehingga ia pun buta tentang hal ini. Ia pun hanya bisa diam menerima semua perlakuan Dana, tapi juga tidak menunjukkan tanda bahwa dirinya menikmati ciuman itu sampai saat Dana sedikit menggigit bibirnya. Ia mengaduh tertahan dan kembali dibuat terkejut karena saat mulutnya sedikit terbuka, lidah pria itu menerobos masuk dan berkenalan dengan semua bagian di dalam rongga mulutnya. Tak hanya itu, Dana juga merangkul pinggangnya dan sedikit mengangkat tubuhnya membuat Alea mau tak mau akhirnya harus berpegangan pada lengan kekar suaminya itu. Mengetahui bahwa gadisnya sama sekali tak memberikan penolakan ataupun perlawanan, Dana juga tidak menahan diri lagi. Ia memeluk Alea erat dan semakin erat dan terus menjelajah di dalam manisnya mulut Alea sampai akhirnya tubuh gadis itu menjadi lemas. Dana melepaskan ciumannya, tapi tetap menahan tubuh Alea yang terkulai lemas di pelukannya. Kepala gadis itu bersandar lemah di bahunya. "Babe?" Dana memanggil Alea dengan lembut. Namun karena tak ada reaksi, ia pun akhirnya mengangkat tubuh gadisnya dan membaringkannya di sofa. Ia menjadi khawatir melihat Alea hanya memejamkan mata. "Minum," ujar Alea lemah masih dengan mata terpejam. Dana berdiri dan bergegas mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas. Ia membuka tutup botol itu dan kembali berjongkok di hadapan Alea. "Ini." Alea membuka matanya perlahan. Namun ia kembali memejamkan mata karena debaran di dadanya semakin hebat saat tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan khawatir Dana. "Babe, kau oke?" Dana benar-benar khawatir. "Aku ingin sendiri." "Tapi..." "Please," Alea memohon. "Baiklah, aku akan meninggalkanmu," Dana mengalah, "aku akan berdiri di depan kalau-kalau kau membutuhkanku." Alea mengangguk lemah. Setelah mendengar pintu dibuka dan kembali ditutup, barulah ia membuka mata. Huft! Ia menembuskan napas lega begitu melihat Dana sudah tidak ada. Alea beringsut duduk dan bersandar di sofa seraya meminum air mineral yang diambilkan Dana untuknya. Ia menegak minuman itu sampai habis. Perlahan napasnya yang tadi sempat terasa sesak mulai longgar dan detak jantungnya pun sudah kembali normal. Sepertinya ia perlu berkonsultasi pada kakak sulungnya mengenai gejala yang dialaminya. Mungkinkah kebencian terlalu besar kepada seseorang bisa mempengaruhi kinerja organ-organ di dalam tubuhnya? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD