"Kak," Alea langsung memanggil begitu sambungan teleponnya diangkat oleh sang kakak. "Kakak sibuk?"
"Sedikit, ada masalah apa? Apa Dana menyakitimu?!"
"Tidak, Dana... ehh baik, tapi... Alea mau curhat sedikit," bisik Alea karena khawatir suaranya terdengar oleh Dana yang masih menunggu di depan ruang kepala sekolah. Ya, ia memilih untuk menyampaikan masalahnya kepada Aleron, kakak sulungnya karena dari kelima kakak laki-lakinya, hanya Aleronlah yang selalu bisa memberikan masukan yang baik dan masuk akal. Bukan berarti keempat kakak-kakaknya yang lain tidak bisa dimintai pendapat, tapi kebanyakan mereka selalu menyarankan adu fisik sebagai solusi.
"Ya, soal apa?"
Alea menceritakan gejala yang baru saja ia alami kepada sang kakak, tidak termasuk adegan ciumannya dengan Dana. Ia hanya menyampaikan bahwa perasaannya tidak karuan, dadanya berdebar-debar dan rasanya seperti orang meriang karena masuk angin.
"Kau sarapan apa pagi ini?"
"Ehm, sup ayam dan jus jeruk," Alea menjawab bingung karena sang kakak malah menanyakan menu sarapannya. "Ehh, bukan masalah lambung Kak, Alea hanya ingin tahu, apa mungkin jika kita terlalu membenci seseorang, itu bisa mempengaruhi kesehatan?"
Terdengar helaan napas dari seberang telepon sebelum menjawab. "Kau tidak bahagia bersama Dana?" sang kakak menyimpulkan. "Berapa kali Kakak bilang padamu, jangan memaksakan diri, jika kau ada masalah dengannya, kakak berjanji akan berbicara dengannya tanpa perlu kau menyerahkan masa remajamu seperti ini?!"
Alea merengut. Bukannya memberikan jawaban memuaskan, sang kakak malah memarahi dirinya.
"Lee...!" Aleron harus memanggil beberapa kali karena sang adik hanya diam dan tidak menjawab. "Jika kau tidak bisa, jangan teruskan hubunganmu bersama Dana, kakak akan bicara dengannya, Dana akan mengerti."
"Tidak, bukan seperti itu kok..." Alea buru-buru menjawab, "Dana baik dan selalu bersikap baik pada Alea meski ada beberapa tingkahnya yang kadang bikin Alea eneg," jelas Alea, "mungkin karena itulah Alea jadi sedikit tidak menykainya."
"Ohh, begitu? Katakan dari semua sikap Dana, apa saja yang kau tak suka, kakak akan coba bicara padanya, tunggu... atau mungkin saat ini dia ada di dekatmu?"
"Ehh, tidak, dia sedang menunggu di luar."
"Hah! Menunggu di luar? Dia pasti menguping!" Aleron mendengus, "sudah katakan saja semua yang tak kau sukai, biar dengar dan bisa berubah!"
Alea menarik napas panjang seraya mengingat beberapa tingkah Dana yang selalu sukses membuatnya bergidik. "Diaaa.... selalu tiba-tiba muncul tanpa menimbulkan suara, senyumnya juga selalu terlihat seperti seringaian anjing dan sangat menjengkelkan, lalu cara bicaranya.... selalu membuat Alea merasa bersalah, dan dia selalu meminta agar Alea makan banyak, seperti bayi saja!"
"Itu saja?"
"Belum!" jerit Alea. Entahlah sepertinya masih banyak sekali keburukan Dana yang belum ia sampaikan. Ia pun berpikir keras untuk mengingat kembali sikap menyebalkan Dana. "Kakak tahu, dia selalu mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan!"
"Dia melakukan itu?" Aleron bertanya tak percaya, tapi sedetik kemudian ia pun tergelak membayangkan seorang Dana yang cool melakukan itu di hadapan adiknya.
"Kenapa Kakak malah tertawa?"
"Maaf, ahahaha... maaf Lee, kakak hanya tak bisa membayangkan, tapi sepertinya dia melakukan itu hanya untuk menarik perhatianmu saja. Ahh.. ya kakak sampai lupa, kau sudah memberi selamat untuk Aaro?"
"Kak Aaro? Memangnya kenapa?"
"Belum adakah yang memberitahumu bahwa Aaro menikah tepat sehari setelah pernikahanmu? Dia tetangkap satpol PP saat bersama seorang gadis di club dan akhirnya harus menikah..."
Bagai disambar petir, Alea tergugu dan seketika menjatuhkan ponsel di tangannya. Aaro menikah. Kak Aaro-nya menikah?
***
Dana terkejut saat kembali ke dalam ruangannya, ia mendapati Alea sedang meringkuk di sofa panjang seraya menangis. Apa gadisnya itu betul-betul tersiksa dengan pernikahan mereka?
Dana memang memiliki kemampuan untuk mendengar suara dari radius beberapa puluh meter darinya. Ia bisa mengatur suara yang ingin ia dengar dan tidak, seperti chanel radio. Dan beberapa saat yang lalu, ia sengaja menguping pembicaraan Alea dan sahabatnya, sekaligus kakak sulung Alea yang bernama Aleron, via telepon. Meski tak seluruhnya ia dengarkan karena beberapa kali dirinya harus terganggu dengan sapaan beberapa guru dan murid yang lewat, tapi ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Alea tidak menyukai beberapa sikapnya. Dana tidak mendengar bagian akhir percakapan Alea dan Aleron karena saat itu dirinya harus menanggapi ocehan beberapa guru mengenai keadaan sekolah.
"Babe, kau menangis," Dana bergegas mendekati sang istri dan berjongkok di samping sofa. Tangannya terulur untuk merapikan beberapa helai rambut Alea yang jatuh menutupi wajahnya. "Apa aku menyakitimu? Aku sungguh minta maaf..."
Alea menggeleng pelan dan terus menangis. Ia tahu, seharusnya dirinya senang karena Aaro akhirnya bisa menemukan seseorang untuk menggantikan dirinya, tapi nyatanya tidak. Hatinya justru terasa begitu sakit mengetahui bahwa Aaro bisa melupakannya dengan begitu mudah.
"Jangan menangis, itu membuatku sedih, kau tahu." Dana mengurai kedua lengan Alea yang memeluk lutut kemudian menarik gadisnya itu ke atas pangkuannya. "Aku minta maaf... tapi tolong berhentilah menangis."
Berada di pangkuan Dana, membuat Alea terisak semakin keras. Pelukan Dana yang begitu hangat dan nyaman juga seakan memberi semangat dirinya untuk terus menangis dan melepaskan semua beban di hatinya. Ya, karena seumur hidup Alea hanya bisa menangis beberapa kali saja. Bukan dirinya tidak pernah mendapat masalah yang membuatnya ingin menangis sebelum ini, tapi karena dirinya selalu dituntut untuk bersikap tegar dan kuat. Kelima kakak laki-lakinya selalu mengajarkan padanya bahwa air mata adalah salah satu bentuk sikap seorang pengecut, penakut dan pecundang.
Alea menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Dana. Ia tidak peduli jika nantinya Dana akan menertawakan sikap cengengnya ataupun melaporkannya pada Aleron. Yang ia butuhkan saat ini hanya menangis, karena dengan menangis ia bisa meredakan sedikit sakit di hatinya, meski tak pernah bisa mengungkapkan alasannya menangis. Tidak bisa karena apa yang ia rasakan pada Aaro adalah terlarang dan pastinya ditentang banyak orang. Namun dugaannya salah, Dana tidak mengganggapnya cengeng. Pria itu justru mengusap lembut punggungnya seraya memeluknya erat. Entahlah, sikap Dana seakan membangkitkan sisi kewanitaannya yang sensitif, rapuh dan membutuhkan kelembutan.
"Menangislah sepuasmu, dengan begitu perasaanmu akan menjadi lebih baik, setelah itu, baru kita bicarakan masalah kita," ujar Dana seraya memejamkan mata. Ya, ia sudah memutuskan untuk melepaskan Alea. Memang itu akan menyakiti hatinya, tapi setidaknya ia bisa melihat kembali tawa gadis itu. Sejak awal dirinya sudah menduga bahwa hubungan atas dasar paksaan tidak akan pernah berakhir mulus. Jadi, lebih baik ia mengembalikan kebebasan Alea dan berhenti bermain-main dengan waktu. Sepertinya sudah waktunya ia menyusul kelima adiknya yang sudah beristirahat dengan tenang. Ia akan membawa rasa cintanya dan menguburnya dalam-dalam bersama dirinya.
***