Usap air matamu, yang menetes di pipimu
Kupastikan semuanya akan baik-baik saja
Bila kau terus pandangi langit tinggi di angkasa
Takkan ada habisnya, sgala hasrat di dunia
Hawa tercipta di dunia, untuk menemani sang adam
Begitu juga dirimu (Alea)
Tercipta tuk temani aku
Renungkan sejenak, arti hadirmu di sini
Jangan pernah ingkari, dirimu adalah wanita
Harusnya dirimu menjadi perhiasan sangkar maduku
Walaupun kadang diriku, bertekuk lutut di hadapmu
Dana mengakhiri petikan gitarnya seraya menatap langit yang mulai gelap. Hatinya dilanda kegelisahan yang dahsyat. Di satu sisi, dirinya ingin melepaskan Alea dan menjalani kodratnya sebagai manusia biasa yang bisa hidup dan mati, tapi di sisi lain, dirinya tak kuasa membayangkan kesedihan yang harus ditanggung kedua orangtuanya karena akhirnya perpisahan dengan satu-satunya putra mereka yang masih hidup pun tiba.
Seraya menajamkan pendengarannya untuk mengetahui apakah gadisnya sudah bangun, Dana mengulurkan jari telunjuknya ke arah udara di hadapannya. Pendar cahaya berwarna perak muncul dari ujung jari telunjuknya. Ia menggerakkan telunjuknya membentuk tulisan I love you Alea.
"Jadi, sampai di sini saja?"
Dana menoleh dan tampak terkejut ketika melihat copyan dirinya sudah berdiri di sampingnya. "Dad?"
"Meski kau tak menyampaikan niatmu, tapi sepertinya Mommy-mu bisa merasakan itu." Deni memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seraya tetap berdiri tegak memandang ke tengah lautan, dimana istrinya sedang terlelap. "Dia pasti sedih."
"Maaf, tapi Dana tak bisa memaksa Alea lehih lama lagi."
Deni tersenyum sinis. "Kupikir, kau adalah satu-satunya putraku yang mewarisi seluruh diriku, tapi ternyata aku salah. Cintamu pada manusia itu membuatmu lemah!"
"Dad juga sama kan? Mom juga manusia biasa."
"Tapi, aku tidak akan pernah melepaskan Mommy-mu apapun yang terjadi. Bagiku, cinta harus memiliki bagaimanapun caranya!"
"Meski Mom tidak bahagia?"
"Disitulah cinta diuji, sampai sejauh mana usahamu untuk membuat dia bahagia."
"Tapi...." belum sempat Dana menyanggah perkataannya, sang ayah sudah menjejakkan kakinya ke lantai untuk terbang kembali ke tengah laut, karena ibunya sudah mulai bertanya-tanya kenapa suaminya tidak ada.
***
"Kau sudah bangun?" Dana tersenyum melihat pemilik wajah cantik yang sejak beberapa jam yang lalu terus ia pandangi mulai membuka mata.
Alea mengernyit bingung. "Dimana?"
"Di rumah, aku terpaksa membawamu pulang karena kau begitu pulas di pangkuanku sehabis menangis tadi."
"Apa?!" Alea terkejut. Namun wajahnya berubah kemerahan membayangkan dirinya sampai bisa tertidur di pangkuan pria menyebalkan itu. Haish! Apa kata dunia?
Dana mengulum senyum, "tidak perlu malu, aku tidak akan mengatakan hal itu pada siapapun."
"Ohh... ehmm... ya," Alea menunduk, tak kuasa melihat tatapan penuh cinta dari lelaki di hadapannya ini. Dan gejala yang dialaminya saat di sekolah tadi kembali terulang. Degupan jantungnya mulai tak beraturan.
Bahkan Alea tak mau menatap wajahnya. Sebenci itukah, Alea terhadapnya?
Dana mengembuskan napas untuk mengusir prasangka buruk di hatinya. Ia tidak ingin memikirkan seberapa besar kebencian Alea terhadapnya. Jika memang ini adalah malam terakhirnya bersama gadisnya, ia ingin malam ini menjadi malam yang indah dan tak terlupakan baik oleh dirinya maupun gadis itu.
"Kau sudah tertidur kurang lebih selama dua belas jam, jadi sekarang waktunya makan." Dana mengambil semangkuk bubur yang ada di atas nakas. Sudah dingin tentu saja, karena ia menyiapkan bubur itu sejak dua jam yang lalu. Tapi itu bukan masalah bagi Dana. Ia mengetuk pelan mangkuk itu seraya membisikkan beberapa kata asing yang tak dapat ditangkap artinya oleh Alea.
Alea membelalak melihat kepulan asap keluar dari dalam mangkuk, yang menandakan bahwa bubur itu masih panas. "Bagaimana cara melakukan itu?"
Dana hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Alea. Ia menyendok sedikit bubur kemudian mengarahkannya ke mulut Alea. "Buka mulutmu, aaa...."
Alea menggeleng beberapa kali. "Aku sedang tidak ingin makan."
Dana mengamati gurat kesedihan di wajah Alea. Hatinya kembali nyeri melihat ketidak bahagiaan gadisnya. "Kau bisa sakit," Dana kembali menyodorkan sendok berisi bubur ayam itu ke mulut Alea. Namun gadis itu kembali menggeleng dan memalingkan wajah. Matanya menangkap butiran kristal yang kembali menetes di pipi gadisnya.
"Makanlah dulu, aku berjanji besok akan mengantarmu pulang. Ahh tidak, malam ini juga, aku bisa mengembalikanmu pada keluargamu."
Alea terkejut mendengar perkataan Dana. Ia menatap lelaki itu dengan ekspresi kesedihan yang semakin tergambar jelas di wajahnya. Sakit. Hatinya tiba-tiba merasakan sakit yang teramat sangat, melebihi sakit saat dirinya mendengar kabar pernikahan Aaro. Tak bisa berkata apa-apa, Alea hanya menggigit bibir untuk menahan isakannya agar tidak semakin keras.
Dana meletakkan bubur di tangannya kembali ke atas nakas, kemudan menarik Alea ke dalam dekapannya. "Maaf, aku sama sekali tak pernah berniat membuatmu sedih seperti ini. Aku tau, seharusnya aku tak memanfaatkan kondisi ayahmu demi kepentinganku sendiri, aku minta maaf. Itu semua kulakukan karena aku sungguh tak bisa membendung perasaan cintaku yang begitu besar padamu. Aku sendiri tak mengerti, bagaimana bisa perasaanku padamu tumbuh begitu cepat sejak pertama melihatmu."
"Jahat!" Alea meraung seraya memukuli d**a bidang Dana. Bagaimana bisa pria itu mempermainkan dirinya sampai seperti ini. Apakah dia berniat membalas dendam atas semua sikap buruknya dengan menjadikan dirinya janda di usia belia? Dasar laki-laki b******k!
"Aku tau, aku memang jahat, maafkan aku." Dana membiarkan Alea terus memukuli dadanya. Ia tahu, gadis itu perlu melampiaskan emosinya. Ia justru mengusap punggung Alea, seraya mengecup rambut gadis itu beberapa kali. Ia ingin menyimpan aroma Alea ke dalam hati dan ingatannya. "Aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu, Babe."
Alea memukul Dana semakin keras. Kenapa pria ini begitu tega terhadapnya? Setelah menikahinya, membawanya pergi dari keluarganya, memisahkannya dengan Aaro dan sekarang ketika Aaro sudah memiliki pengganti dirinya, dia berniat memulangkannya? Tuhan, apa yang harus ia lakukan jika berhadapan dengan istri Aaro-nya.
"Aku... mau mati," racau Alea di sela-sela isak tangisnya, membuat Dana mau tak mau harus melepaskan pelukannya dan menatap tajam gadisnya.
"Jangan pernah sekalipun berbicara seperti itu!"
"Lalu, apa yang harus kulakukan?!" Alea berteriak tepat di depan wajah Dana. "Kamu menikahiku dan membawaku pergi dari keluargaku, dan sekarang ketika aku sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk kembali pulang, kamu akan memulangkanku?!"
Dana diam terpaku. Perlu waktu beberapa detik baginya untuk bisa mencerna maksud dari perkataan Alea. Gadis itu mengatakan bahwa dirinya tidak ingin pulang. Apa maksudnya itu?
"Maksudmu, kau ingin tetap di sini?"
"Tidak! Aku mau pergi!"
"Ohh..." Dana bingung. Tadi Alea mengatakan tak ingin pulang dan sekarang dia berkata mau pergi. "Aku akan mengantarmu kemanapun kau mau pergi," akhirnya Dana memutuskan untuk menjawab seperti itu, karena dirinya betul-betul tidak tahu apa yang dimau Alea.
"Jadi, kamu benar-benar berniat mengusirku?!" Alea menaikkan nada suaranya sampai tiga oktaf.
Dana tersenyum kecut. "Aku tidak mengusirmu, aku justru merasa senang jika kau kerasan tinggal di sini."
Alea mendelik dan berdecak tak sabar. "Apa aku mengatakan bahwa aku suka tinggal di sini?"
Fix. Kesabaran Dana sudah sampai batas. Dia menerjang Alea ke tempat tidur dan mengungkung gadis itu di bawahnya. Manik hitamnya terus menyorot bola mata Alea yang bulat seperti bayi.
"Ka-kamu mau a-apa?" Alea terbata.
Dana terus menyorot gadisnya, meskipun Alea terlihat salah tingkah dan merona. "Katakan, apa maumu sebenarnya, jangan membuatku bingung!"
"A... apa?"
"Katakan, kau mau tinggal atau pulang?!"
Alea mengerjap beberapa kali. Napasnya pun seakan berhenti di tenggorokan. Tatapan Dana benar-benar membuat seluruh organ di dalam tubuhnya macet, kecuali jantungnya yang malah berkerja dua kali lipat daripada biasanya.
"Jika sampai hitungan ketiga, kau belum juga bisa memutuskan, maka aku akan menahanmu di dalam rumah ini selamanya, dan tak akan pernah membiarkanmu pergi, bagaimanapun caranya, karena kau sudah meruntuhkan tekadku untuk melepaskanmu!"
Alea membelalak melihat wajah Dana yang semakin dekat, bahkan hidung mereka sudah hampir bersentuhan. Dirinya bahkan kehilangan fokus hingga tak bisa menangkap satu pun ucapan pria itu. Entah apa yang dibicarakan Dana. Ia hanya terus melirik bibir Dana yang terus bergerak mengatakan sesuatu padanya. Ia hanya mencemaskan satu hal, bagaimana jika bibir itu kembali melakukan hal yang tadi sempat terjadi di ruang kepala sekolah. Ohh... tidak... jangan...
"Tiga..." Dana tersenyum penuh kemenangan. "Kau milikku, selamanya..."
***