Delapan

2338 Words
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini." Dana membuka sedikit selimut Alea yang menutupi wajahnya. Sudah seminggu ini gadis itu tidak bersemangat melakukan apapun. Dia hanya diam dan melamun sendiri di tempat tidur. Bahkan untuk makan pun, Dana harus memaksa dan menyuapinya. Entah apa yang sebenarnya membuat gadis itu murung, ia sendiri tak tahu. Jika memang karena pernikahan ini, dirinya sudah berniat memulangkan Alea pada kedua orangtuanya, tapi gadis itu menolak. "Sebenarnya apa masalahmu?" Dana merapikan rambut yang menutupi wajah gadisnya. "Jika terus seperti ini, aku terpaksa harus memulangkanmu ke rumah Ayah dan Bunda." Mendengar ancaman Dana, Alea pun bergegas bangun dari tidurnya. "Jangan! Kumohon jangan pulangkan aku," ujar Alea seraya memegangi kepalanya yang terasa berat. "Kalau begitu jelaskan, kenapa kau tidak mau pulang, tapi di sini kau pun seperti mayat hidup." Alea menunduk dalam. Haruskah dirinya menyampaikan alasan kesedihannya pada Dana? Mengatakan bahwa sebenarnya hatinya sakit karena Aaro menikah tanpa mengabari dirinya dan sebagian dari dirinya tak bisa menerima jika ada yang menggantikan posisinya di hati Aaro dengan begitu mudahnya. "Biasanya aku selalu bisa menebak apapun yang ada di pikiran lawan bicaraku, tapi entah kenapa aku tak pernah bisa membaca dirimu, seperti bukan diriku saja." Dana mengulurkam tangannya dan memegang lembut dagu Alea. Ia mengangkat wajah gadis itu dan menatapnya sambil tersenyum hangat. "Jika kau tak bisa mengatakannya sekarang, tak jadi masalah, tapi jangan melamun terus seperti itu. Hmm... mungkin sedikit menghirup udara segar bisa membuat perasaanmu lebih baik." Alea mengamati ekspresi wajah Dana datar. Sesungguhnya hatinya selalu merasa hangat setiap kali lelaki itu mencoba menghiburnya, tapi tubuhnya selalu menjadi kaku sehingga tak bisa bereaksi apapun. Hingga pada akhirnya ia pun hanya bisa diam dan memasang wajah kaku. Dana mengembuskan napas pelan kemudian terkekeh geli seraya mengacak-acak rambut Alea. "Benar-benar adik seorang Aleron. Mandilah, setelah ini aku akan memberimu kejutan." **** "Tunggu! Kemana kita?" Alea berhenti melangkah dan bertanya kepada Dana. Pasalnya lelaki itu mengajaknya keluar menjelajah hutan di sekitar rumahnya. Ia tahu hutan itu belum terjamah manusia. Terlihat dari tidak ada bekas jalan setapak ataupun tanda-tanda bahwa hutan itu pernah dilewati manusia. "Apa sekarang kau merasa takut?" Dana tersenyum mengejek. "Tentu saja tidak!" jawab Alea tersinggung. "Tapi aku perlu tahu kemana kita akan pergi. Aku tak mau terlihat seperti orang bodoh yang buta arah." "Aku tak bisa mengatakannya sekarang," ujar Dana seraya memasang senyum misterius. Ia mengahampiri gadisnya kemudian menarik lembut tangannya dan menautkan jari-jari mereka. "Aku akan menjagamu," janji Dana membuat Alea mendengus sebal. "Dibilang aku tak takut!" gerutu Alea pelan. Dana tersenyum mendengar gadisnya terus menggerutu dan mengomel sepanjang perjalanan mereka, tapi ia sama sekali tak keberatan. Setidaknya Alea bisa teralihkan dari kesedihannya. Setelah menembus hutan kurang lebih selama satu setengah jam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan Dana. Sebuah danau yang tidak terlalu luas dengan air yang gelap karena matahari tidak bisa menembus rimbunnya pepohonan untuk sampai ke danau itu. "Sampai," ujar Dana seraya mengacugkan jari telunjuknya ke udara kemudian bergerak memutar di tempatnya. Alea diam menyaksikan apa saja yang dilakukan Dana. Cahaya kekuningan keluar dari telunjuk lelaki itu membentuk semacam teralis raksasa mengelilingi mereka berdua. Beberapa saat setelah Dana melakukan itu, cahaya itu pun menghilang. "Kita aman," ujar Dana saat meenghampiri Alea. "Maksudku kau yang aman, karena aku tidak membutuhkan pelindung seperti itu. "Lalu apa yang akan kita lakukan di sini?" Alea bertanya dengan wajah tanpa ekspresi. Sama sekali tak merasa takut atau heran melihat semua tingkah Dana yang sebetulnya tidak biasa bagi manusia normal. "Duduk dulu, kita harus menunggu sebentar," ujar Dana. Ia mendahului bersila di tanah yang beralaskan rumput kemudian menarik lembut tangan Alea untuk ikut duduk di sebelahnya. Alea menurut saja. Ia duduk bersila di sebelah Dana. Sedikit terkejut saat merasakan rumput yang ia duduki terasa hangat dan empuk. Namun bukan Alea namanya jika tak bisa menutupi keterkejutannya. Ia tetap memasang wajah datar, seolah tidak ada hal yang aneh baginya, membuat Dana akhirnya mendesah kecewa. "Sepertinya aku perlu mengerahkan seluruh kemampuanku untuk bisa menarik hatimu ya," ujar Dana pelan. Alea masih diam. Pandangannya lurus ke depan ke arah pepohonan lebat di hadapannya. Padahal hati rasanya sudah tidak karuan. Apalagi saat kulit tangannya tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Dana. Beberapakali ia terkesiap pelan saat merasakan aliran listrik mengalir ke sekujur tubuhnya. Hening. Dana sepertinya kehabisan kata-kata untuk sekedar memecah kesunyian diantara dirinya dan Alea, sehingga ia pun akhirnya memilih berdiri untuk memeriksa keadaan sekitarnya. "Ada satu yang datang," ujarnya tiba-tiba membuat Alea mau tak mau melihat ke arahnya. "Apa yang datang?" "Sstt....," Dana memberi isyarat pada Alea untuk tidak bersuara. Ia pun menarik sebuah busur dan anak panah dari belakang punggungnya. Dan entah sejak kapan busur itu ada di sana. Alea mengamati Dana dengan dahi berkerut. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh pria itu. Namun tak lama kemudian dirinya mendengar suara mendekat ke arah mereka. Ia pun menajamkan penglihatannya menembus ke dalam kegelapan hutan. Hampir saja Alea menjerit saat melihat seekor babi hutan berukuran besar mendekat ke arah mereka. Bukan takut pada babi hutan, tapi anak panah yang menancap di tubuh sang babi hutanlah yang membuatnya terkejut. Alea menatap ke arah Dana yang masih mengangkat busur panahnya. Deg! Deg! Deg! Jantungnya melompat kegirangan melihat postur gagah Dana. Terlebih saat menyaksikan wajah yang biasanya selalu tersenyum lembut ke arahnya itu berubah fokus dan serius. Memang tidak segagah Aaro, tapi tetap saja dia tampan. "Ada satu lagi," Dana berbicara lirih. Busur dan anak panahnya sudah terangkap dan siap membidik mangsanya. Kali ini bukan babi hutan, tapi seekor rusa berwarna kecoklatan yang menjadi sasaran anak panahnya. "Jangaaann...!" Alea berteriak, tapi terlambat. Anak panah sudah menancap di tubuh sang rusa. Alea menatap marah Dana. "Kenapa memanahnya?" "Ya, karena itu salah satu umpannya?" Dana bingung melihat kemarahan Alea. "Kenapa?" "Rusa itu cantik sekali, kasihan..." Mendengar jawaban Alea, Dana pun tergelak. "Di hutan sini banyak rusa sejenis itu." "Tapi..." "Sekarang diam dan saksikan pertunjukan sebenarnya," Dana menghampiri Alea dan memegang pundak gadis itu. "Mereka sudah mulai datang." Alea melihat ke arah yang ditunjuk oleh Dana. Matanya membelalak tak percaya menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyum yang membuat Dana begitu terpesona saat melihatnya. "Kau suka?" Alea menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ya, melihat sekawanan singa dalam habitat aslinya, sungguh membuatnya gembira. Memang sudah sejak lama dirinya ingin memelihara binatang itu, tapi sang bunda tak pernah mengizinkannya. Huft! Dana mengembuskan napas lega. Kejutan yang ia siapkan untuk gadisnya berhasil dan gadis itu terlihat sangat menyukainya. Memiliki istri seperti Alea memang memberikan tantangan tersendiri bagi Dana, karena Alea berbeda dengan gadis-gadis pada umumnya yang lebih menyukai coklat atau makan malam romantis. Sepertinya mulai sekarang Dana harus lebih sering mengorek keterangan dari ayah mertua dan kakak iparnya mengenai segala hal tentang Alea. **** "Kau tak mau pulang?" "Aku masih betah di sini," ujar Alea. Memang seharian berada di hutan dan menyaksikan berbagai binatang dalam habitas aslinya membuat pikirannya teralihkan dari Aaro. Kesedihannya perlahan menguap dan hatinya sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa dirinya dan Aaro memang hanya ditakdirkan sebagai saudara, tak lebih. Dana mendesah pelan. "Ini sudah malam, dan singa-singa itu tidak akan datang lagi malam ini." Ale merengut. "Pulang saja sendiri, aku masih mau di sini! Kan masih banyak hewan nocturnal yang akan muncul nanti!" "Ya sudah jika itu maumu." Dana mengalah. "Tapi sebaiknya kita makan dulu," ujar Dana seraya mengedarkan pandangannya di sekitar danau untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sebetulnya ia bisa saja mendatangkan makanan dari rumahnya ke dalam hutan, tapi pamer sedikit pada gadisnya tak masalah kan? Semua sah dalam cinta dan perang. Hahaha... Alea mengamati Dana yang dengan tangkasnya memanjat sebuah pohon kelapa kering di tepi danau. Sekali lagi dadanya bergemuruh oleh rasa takjub akan sikap jantan Dana. Ya, bagi Alea lelaki gentle adalah dia yang sanggup melakukan segala aktifitas fisik dengan baik, tenaganya kuat, dan berpendirian teguh. Dan sepertinya semua kriteria itu ada pada Dana. Ohhh... Tidak! Alea menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir pikiran bahwa Dana adalah lelaki yang sesuai untuknya. "Kau kenapa?" Alea terkejut dan seketika melompat mundur ke belakang karena tiba-tiba saja Dana sudah berada di hadapannya membawa dua buah kelapa kering. Dan yang membuat pikirannya berantakan adalah, saat ini Dana sedang bertelanjang d**a menampilkan otot kekar dan perut sixpacknya, membuat Alea menjadi sedikit ling-lung. Ia ingat pada salah satu pesan kelima kakaknya, bahwa salah satu ciri seorang lelaki sejati adalah postur tubuh yang kuat, karena dengan begitu sudah bisa dipastikan bahwa lelaki itu bisa menjadi pelindung baginya. "Jangan suka mengagetkan orang!" bentak Alea untuk menutupi kegugupannya saat melihat keringat yang menetes dari rambut Dana dan membasahi dahi pria itu. "Maaf," Dana tersenyum seraya mengulurkan sebuah kelapa kering pada Alea. "Kau mau makan apa?" "A-apa sa.. sa-ja," jawab Alea gagap karena Dana terus memperhatikannya. Dana mengetuk pelan kelapa milik Alea dan juga miliknya sendiri seraya membisikkan beberapa kata asing yang Alea tak bisa menangkapnya dengan jelas. Setelah itu, Dana menggerakan kuku jarinya yang berubah menjadi seperti mata pisau ke sekeliling buah kelapa dan membelahnya menjadi dua. "Ini." "Terima kasih," ujar Alea kemudian membuka buah kelapanya dan dirinya kembali dibuay takjub ketika melihat isi dari buah kelapa itu. Aglio Olio yang masih mengepulkan asap. Yah, seperti tradisi keluarga Blackstone, Alea sama sekali tak memperlihatkan ketakjubannya. Wajahnya masih datar meskipun dadanya terus berdetak tak beraturan. Baik Dana maupun Alea, sama-sama makan dalam diam. Sesekali Alea melirik Dana dan buru-buru menunduk ke arah makanannya ketika Dana melihat ke arahnya. Selesai dengan makan malam, Dana mengambilkan air danau untuk Alea dari tempurun kelapa bekas mereka makan tadi. "Minumlah." Alea mengangguk dan meminumnya sampai habis. Segar sekali rasanya. Melihat air danau yang begitu tenang membuat Alea tergoda untuk menceburkan diri di sana. "Apa danau itu aman untuk berenang?" "Kau mau berenang, malam-malam begini?" Dana heran, tapi tetap saja dirinya tak akan pernah bisa menolak keinginan gadisnya. "Aku akan memeriksanya," lanjutnya. Alea mengekor di belakang Dana mendekat ke arah Danau. Ia mengamati Dana yang sedang mencelupkan tangannya ke dalam air itu. Pendar keperakan muncul dari tangan Dana yang berada di dalam air dan menyebar ke seluruh permukaan danau. Beberapa saat kemudian lelaki itu berdiri dan tersenyum hangat pada Alea. "Aman, kau bisa memakainya." Alea tersenyum cerah mendengar itu. Ia sudah hampir melepas t-shirt yang ia kenakan saking gembiranya sebelum teringat bahwa Dana masih berada di sana. "Ehh, bisakah kau berbalik, aku harus melepas bajuku agar tidak basah." "Ohh, tentu saja..." Dana berbalik badan dengan sejuta pikiran kotor di kepalanya. Dirinya sempat tergoda untuk menghentikan waktu barang sesaat dan melihat Alea, menyentuhnya kemudian... Tidak! Akal sehat Dana menolak. Pria sejati tidak akan berbuat rendah untuk mendapatkan gadisnya. Byuur! Mendengar suara ceburan di air, Dana kembali berbalik dan melihat gadisnya sudah berenang di dalam danau. Yah, memang suasana yang terlihat begitu gelap dan pekat, tapi tidak untuk mata sihir Dana. Ia masih bisa menangkap dengan jelas bayangan Alea di dalam air. "Boleh aku bergabung denganmu?" "Terserah, danau ini kan milik umum?" Dana tersenyum nakal kemudian ikut melompat ke dalam air untuk bergabung bersama Alea. Tapi sayangnya gadis itu sama sekali tak mau dekat-dekat dengannya, membuat dirinya makin penasaran saja. "Jangan dekat-dekat!" "Iya.... iya..." Dana mengalah dan berenang menjauhi Alea dengan berat hati. Sabar Dana... sabar... nanti akan tiba saatnya Alea akan menjadi milikmu seutuhnya, Dana menghibur dirinya sendiri. "Aaahhh...." Alea berteriak kesakitan. "Ada apa? Kenapa?" Dana mendekati Alea dan bertanya khawatir. "Kau kenapa? Ada yang menggigitmu, tapi aku sudah menidurkan semua penghuni danau ini...!" Dana panik. "Ti-tidak... kakiku kram." "Kram? Padahal aku sudah mengubah suhu danau agar tak terlalu dingin!" Dana terlihat menyesal dan marah pada dirinya sendiri. "Bukan, aku hanya lupa pemanasan tadi." Alea berpegangan pada lengan Dana agar tidak tenggelam. Kakinya benar-benar tak bisa lagi digerakkan. "Aaarrhh..." ia kembali mengaduh saat kakinya menjadi semakin kaku dan sakit. Tanpa memikirkan apapun lagi, Dana mengangkat tubuh Alea dan membawanya keluar dari dalam danau. Ia merebahkan Alea di rumput yang sudah ia buat senyaman mungkin dan menyihir sebuah tenda untuk melindungi gadisnya tercinta dari angin malam. Ohh sebetulnya bukan hanya karena angin malam, tapi karena saat ini gadisnya sedang berbaring tanpa mengenakan busana. Dirinya tak mau ada makhluk dari jenis apapun yang menyaksikan tubuh Alea. Dan apakah ini juga berarti hal-hal yang sangat diinginkan akan segera terwujud?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD