Sembilan

1183 Words
"Kamu atau aku yang tidur di lantai?!" Dana menatap Alea sendu kemudian mendesah pelan. "Aku saja," jawabnya. Alea melempar sebuah bantal untuk Dana kemudian membanting dirinya sendiri ke atas tempat tidur. Sebetulnya ada masalah apa lagi dengan Dana? Mengapa Alea harus kembali bersikap dingin pada lelaki itu? Semua berawal ketika Alea mengalami kram saat berenang di sebuah danau di tengah hutan. Dana yang saat itu menolongnya, akhirnya tak bisa menahan diri melihat Alea yang tak tertutup sehelai benang pun. Setelah menyembuhkan kram di kaki Alea, ia tiba-tiba saja menyerang Alea dengan ciuman. Sama sekali tidak ada penolakan dari Alea. Saat itu karena terbawa suasana, ia mempersilahkan Dana untuk melakukan apapun padanya. Bahkan, jika memang harus menyerahkan mahkotanya yang paling berharga untuk pria itu, Alea rela. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Dana berhak atas dirinya. Namun apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Alea kecewa, terluka dan marah. Dana menarik diri darinya ketika mereka berdua sudah hilang akan dan hampir saja menyatukan diri. Lelaki b******n itu menyihir sebuah selimut untuk menutupi tubuh Alea sebelum kemudian keluar dari dalam tenda dan kembali menceburkan dirinya ke danau. Alea merasa terhina dengan tindakan Dana yang menurutnya sungguh kejam. Ia pun menangis. Harga dirinya jatuh. Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh termasuk kepalanya dan menangis tanpa mengeluarkan suara. Berbagai pikiran buruk muncul di benaknya. Apa yang salah dengan dirinya, mengapa Dana pergi begitu saja? Apakah tubuhnya kurang menarik? Tidak juga, meski masih berusia lima belas tahun, tapi dirinya sudah memiliki ukuran yang cukup, 34C. Atau mungkin ada hal lain yang membuat pria itu tidak berselera padanya? Alea terus menangis sampai tertidur dan ketika bangun, ternyata dirinya sudah kembali ke dalam kamarnya. Dia atas tempat tidurnya. Meski begitu, Alea masih bisa mengingat dengan jelas kejadian di danau hingga sampai beberapa hari selanjutnya dirinya masih merasa terluka atas sikap Dana dan menolak berbicara dengan pria itu. *** Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian di danau, tapi kekecewaan dan sakit di hati Alea atas sikap Dana belum juga berkurang. Justru kian hari kian menjadi, karena nyata sekali semenjak kejadian di danau itu, Dana seolah ingin selalu menghindar. Pria itu seperti anti berada satu ruangan berdua saja dengan dirinya. Seperti saat ini, ketika Alea baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk karena tidak mengetahui jika di kamar ada Dana, pria itu mendelik sebentar kemudian memalingkan wajah. "Kutunggu di ruang makan," ujarnya buru-buru tanpa menoleh lagi ke arah Alea dan berjalan cepat menuju pintu. Ia khawatir lepas kendali dan kembali menyerang Alea seperti saat di tepi danau beberapa waktu lalu. Sekuat apapun dirinya berusaha menahan diri, tetap saja pesona Alea terlalu sulit untuk dilawan. Saat pintu kamar tertutup, Alea berjalan pelan ke arah tempat tidur dan duduk di tepinya. Hatinya berkecamuk. Mengapa Dana berubah begini cepat? Pernikahan mereka bahkan belum genap satu bulan. Jika terus seperti ini harusnya ia kembali ke rumah orangtuanya? Iya yakin betul ayah dan kelima kakaknya tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai hatinya. Tidak!!! Alea menarik napas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya. Jika memang Dana tidak lagi menginginkannya, biar pria itu sendiri yang memulangkannya dan menghadapi ayah beserta kelima kakaknya. Untuk saat ini, karena sudah berani mengibarkan bendera perang padanya, Alea akan mengikuti kemauan Dana. Jika pria itu bisa mengabaikannya, ia pun lebih bisa mengabaikan dan berbuat sesuka hati. Ohh, Dana tidak tahu dengan siapa dia berhadapan. Alea bangkit dari tempat duduknya dan bergegas memaki seragam sekolah. Di saat kalut seperti ini, ia lebih memilih pergi ke sekolah daripada harus sendiri di tempat sepi seperti ini. Jika saja dirinya bisa kabur ke tempat yang jauh dan asing dimana tak seorang pun bisa menemukannya.... *** "Aku mau bawa mobil sendiri ke sekolah." Dana menaikkan kedua alisnya mendengar permintaan Alea yang tiba-tiba. "Baby..." "Tak perlu memakai mobilmu, aku bisa meminta ayah untuk mengirimkan mobilku sendiri," Alea memotong perkataan Dana. Wajahnya kaku dan datar tanpa ekspresi. "Mobilmu sendiri?" Dana mengulang. Ia tak bisa menutupi nada tersinggung dalam suaranya. "Baby, kau ingin mempermalukan aku di hadapan seluruh keluargamu?" Alea mengangkat bahu acuh mendengar jawaban Dana. "Terserah, aku hanya ingin mengemudi sendiri." "Baby, hutan ini kurang bersahabat jika kau harus melewatinya sendirian." Dana terdengar khawatir. "Kamu pikir aku penakut?" Dana diam sejenak seraya mengamati ekspresi Alea. Ia mendesah pelan sebelum kemudian mengangguk. "Pakai mobilku saja, tapi tolong berjanjilah satu hal... kau tidak akan kemana-mana sendiri tanpa ijinku." "Terserah apa katamu," jawab Alea sinis. Ia muak rasanya pada sikap sok perhatian Dana. Setelah menolaknya dengan begitu keji, masih saja penyihir itu berpura-pura mengkhawatirkannya. "Ikut aku ke garasi," Dana mengulurkan tangan untuk menuntun Alea, tapi gadis itu bersikap seolah tak melihat uluran tangannya dan berjalan mendahului Dana dengan kepala sedikit mendongak ke atas. "Huft... manis sekali," ujar Dana lirih. Sampai di garasi, Alea cukup terkejut melihat koleksi mobil Dana. Hampir saja dirinya bersiul takjub jika saja ia tak ingat rasa kesalnya terhadap pria itu. Di dalamnya, Alea melihat berbagai macam jenis dan merk mobil yang tidak bisa lagi dibilang mahal, bahkan langka dan antik. Mulai dari mobil klasik yang entah mungkin dari zaman kakek buyut Alea sampai mobil listrik model terbaru pun ada. Bukan hanya isi garasi itu yang membuat terpana, tapi luas garasi itu pula yang membuat Alea tak habis pikir. Dari luar hanya terlihat seperti garasi biasa, tapi begitu masuk ke dalamnya, ia merasa seperti sedang berada di sebuah museum mobil. Dan yang membuat Alea semakin takjub adalah semua mobil-mobil itu seperti masih baru dengan cat yang masih mengkilap sempurna. "Waahh... bagaimana bisa kau mendapatkan mobil-mobil langka ini?" Alea bertanya dengan nada takjub. Ia lupa terhadap amarahnya pada Dana. Dana tersenyum simpul. "Sebagian milik Dad yang memang dibeli pada jamannya dan selalu dirawat." "Pada zamannya? Apa itu berarti betul-betul dibeli pada tahun mobil-mobil ini diproduksi, tapi phaentom tidak mungkin dibeli pada masanya juga kan?" Alea menggeleng tak percaya. "Sebetulnya seberapa tua usiamu," Alea bertanya lebih pada dirinya sendiri karena suaranya lirih sekali. Alea meneliti mobil-mobil Dana satu per satu untuk memilih kira-kira mobil mana yang akan ia gunakan ke sekolah pagi ini. "Aku mau pakai itu," ujar Alea memecah keheningan seraya menunjuk sebuah mobil klasik berwarna hitam mengkilat. Ia tak tahu jenis mobil apa itu. Yang jelas dirinya tertarik dengan modelnya yang terlihat garang dan elegan. "I-itu?" Dana sedikit terkejut dengan pilihan Alea. Ia pikir gadisnya akan memilih jenis mobil yang lebih modern dan macho. Tak disangka, pilihan Alea justru jatuh pada mobil klasik yang diproduksi pada tahun tiga puluhan dan hanya ada dua saja di dunia. Ohh, tentu saja ia juga tak mudah mendapatkan mobil itu. "Ya, kenapa? Tak boleh?" "Tentu saja kau boleh memakainya, semua milikku adalah milikmu juga," jawab Dana sambil mengedipkan sebelah matanya. Deg! Untuk sesaat rasanya jantung Alea seakan berhenti tepat ketika Dana mengedipkan mata ke arahnya. Apalagi saat melihat senyuman hangat itu, hatinya ikut menghangat. Tapi... oh tidak!! Alea kembali ingat kejadian semalam saat Dana mendorong pelan tubuhnya untuk menjauh. Hatinya kembali terasa nyeri. Dan topeng dinginnya pun kembali. "Kalau begitu, akan kucoba semua mobil yang ada di sini satu per satu bergantian setiap hari," ujarnya datar. Aku bersumpah tidak akan membuat hidupmu tenang, Dana!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD