Rintik hujan mulai berjatuhan dan kabut pun mulai turun. Alea tak peduli akan hujan dan kabut yang samar-samar mengaburkan pandangan. Ia hanya ingin lari dan sendiri. Entah mengapa perasaannya jadi kacau seperti ini. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Apakah ini puncak dari kebenciannya terhadap Dana? Sanggupkah ia menjalani ini lebih lama lagi?
Dana mengemudi dan mengikuti di belakang Alea dengan gelisah. Setengah menyesal karena membiarkan gadisnya mengemudi sendiri pagi ini. Bagaimanapun jalanan di dalam hutan ini tidak bersahabat bagi mereka yang belum paham medan yang akan dilalui. Belum lagi di kawasan yang mulai mendekati kota, dimana jalan berliku dengan tebing tinggi dan jurang yang dalam berada di samping kiri dan kanan jalan biasanya licin untuk dilalui ketika hujan.
Dana tersentak seketika menyadari bahaya yang menyongsong gadisnya. Ia menginjak gas dalam-dalam bermaksud menyalip Alea dan memaksa gadis itu menghentikan mobilnya. Tidak! Dirinya tak bisa mengambil risiko dengan membuat Alea celaka.
Dana memukul stirnya dengan keras. Marah karena Alea justru semakin mempercepat laju mobilnya begitu menyadari dirinya hendak menyalip. Ia sudah berusaha memberi isyarat agar gadis itu menepi dengan menyalakan klakson berkali-kali juga dengan menyalakan lampu depan yang dinyalakan berkedip-kedip. Namun sepertinya Alea bertekad untuk tidak mengindahkan dirinya.
Akhirnya, Dana memutuskan untuk menghentikan mobilnya. Untuk kali ini dirinya akan mengambil risiko lagi. Setelah bermain-main dengan waktu dan meminjamkam kehidupannya untuk kesembuhan ayah Alea, sebetulnya ia tak bisa lagi menguras energi kehidupan yang ia miliki jika ingin bertahan lebih lama di dunia. Tiga bulan meninggalkan tubuhnya dan berpindah ke dalam tubuh ayah Alea, membuat kehidupan Aidan tetap berjalan, membuat tubuhnya sendiri hampir mati, jika saja kedua orangtaunya tidak merawatnya. Dirinya hanya manusia setengah penyihir, bukan penyihir sejati seperti ayahnya. Tapi sungguh, saat ini dirinya tak punya pilihan lain. Ia terpaksa menggunakan kekuatannya untuk menghadang Alea. Ia akan menghentikan waktu beberapa menit saja agar bisa menyusul sang gadis pujaan. Ia memejamkan mata dan mulai merapalkan mantra penghentian waktu dan berkonsentrasi.
Brakk!
Dana kembali membuka mata ketika mendengar suara benturan yang begitu keras. Tubuhnya seketika mengejang. Jantungnya pun sesaat terhenti. Dalam waktu sepersekian detik ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun ketika akhirnya sudah mulai dapat berpikir jernih, ia menghilang dan muncul kembali di balik tebing, darimana suara benturan itu berasal.
"Tidaaaaak...!" Dana berteriak kencang saat melihat mobil yang Alea kendarai sudah berada di dalam jurang dengan posisi terbalik. Tanpa memikirkan risiko bagi dirinya sendiri, ia menggunakan lagi kekuatannya untuk menghilang dan seketika muncul kembali di samping mobil yang mulai berasap di dasar jurang.
Seperti orang gila, Dana membalik posisi mobil itu dengan kekuatan penuh. Kaca depan dan samping pecah berantakan. Dan ia melihat Alea berlumuran darah.
"Ohh... tidak... baby..." Dana menangis sejadi-jadinya sambil berusaha membuka pintu mobil. "Baby, bertahanlah... kumohon." Dana mengusap air mata yang menghalangi pandangannya. Ia tak peduli lagi bahwa dirinya telah melampaui batas dengan menggunakan berbagai mantra dan sihir untuk membebaskan Alea dari himpitan baja mobil.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Dana berhasil membawa Alea keluar dari dalam mobil. Bajunya basah darah yang terus mengucur dari kepala sebelah kanan Alea.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kumohon bertahanlah..." Dana melepas kemeja yang ia kenakan untuk membalut kepala Alea. Jika saja dirinya penyihir sejati seperti Deni, tentu dirinya bisa melakukan lebih banyak untuk gadisnya. Namun sayang, dirinya tak memiliki kelebihan itu. Dalam hitungan detik ia pun menghilang dan muncul kembali tepat di depan IGD Rumah Sakit Nugraha, rumah sakit milik keluarganya. Dirinya tak peduli apakah akan ada yang menyadari kemunculannya yang tiba-tiba ataukah tidak. Dirinya hanya ingin Alea segera mendapat perawatan.
Dana berteriak seperti orang tidak waras. Ia memanggil perawat dan dokter agar bisa segera menangani gadisnya.
"Apa yang terjadi, dok?" tanya rekan sejawatnya yang kebetulan sedang bertugas jaga di IGD.
"Tolong dia... selamatkan dia..." Dana meracau. Ia sendiri adalah seorang dokter. Namun saat kondisi kalut seperti ini dirinya tak akan mungkin bisa tenang menangani Alea. "Lakukan yang terbaik untuknya, kumohon..." ia menambahkan sambil meletakkan tubuh Alea yang bersimbah darah dengan hati-hati ke atas brankar.
Dana mengikuti dan menyaksikan setiap tindakan dan pemeriksaan yang dilakukan terhadapn Alea. Meski salah seorang rekannya meyakinkan akan melakukan yang terbaik dan menyarankan Dana untuk mebersihkan diri, ia menolak dengan tegas. Saat ini, dirinya tak ingin jauh dari gadisnya.
"Pendarahan di otak."
"Bagaimana, dok?"
Dana yang terus menggenggam tangan Alea mendengar orang-orang di sekelilingnya membicarakan tindakan dan kondisi Alea.
"Denyut nadinya semakin menurun."
"Kita belum bisa menghentikan pendarahannya."
Dari semua percakapan yang ia tangkap, Dana tahu apa artinya itu. Bagaimanapun dirinya juga seorang dokter. Ia tahu tindakan apapun tidak akan ada gunanya lagi saat ini. Dan dirinya tak bisa mengulur waktu lagi. Ia memanggil salah satu rekannya untuk keluar dan bicara empat mata saja.
Dana meminta pada rekannya itu untuk terus melakukan yang terbaik bagi Alea. Dirinya akan menandatangi segala macam persetujuan tindakan. Jadi, ia memohon agar tindakan pertolongan apapun tetap dilakukan meski dirinya sedang tidak berada di tempat. Ia berkata pada rekannya bahwa dirinya akan terus memantau, dan pasti tahu jika mereka tidak sungguh-sungguh membantu Alea.
***
Dana membaringkan dirinya di atas tempat tidur dalam salah satu kamar di rumah sakit. Bukan kamar pasien. Ini adalah ruangan pribadi untuk keluarganya ketika memang kondisi mengharuskan mereka untuk tinggal di rumah sakit.*baca Obsesi
Ruh Dana bangun dan duduk meninggalkan tubuhnya. Dirinya harus bergegas. Jika tidak, Alea tak akan tertolong. Ia berlari menuju ke tempat Alea berada. Ia menabrak dinding dan orang-orang menghalangi jalannya. Namun tak akan ada yang terjadi atau merasa. Karena dirinya hanyalah sebuah ruh.
Ia langsung menuju ke kamar operasi. Karena itulah yang ia inginkan untuk dilakukan. Pendarahan di kepala Alea menimbulkan beberapa gumpalan yang menyumbat dan membuat Alea semakin hilang kesadaran. Jadi mereka harus mengambil gumpalan-gumpalan darah di kepala Alea. Dan selama operasi berlangsung sampai masa kritis Alea lewat, dirinya akan menempati tubuh gadis itu dan mempertahankan kehidupannya. Menjaga ruh Alea agar tetap di tempat.
Dana tahu, apa yang ia lakukan ini menyalahi takdir. Tapi sungguh, ia tak bisa hidup tanpa Alea. Membayangkannya saja membuat dirinya begitu terluka, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Namun bagaimana jika pada akhirnya dirinya yang hancur, tubuhnya tak bisa lagi bertahan dan ia yang harus pergi meninggalkan Alea???
Tidak masalah. Dana yakin Alea masih bisa bertahan hidup tanpa dirinya. Alea bisa melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala. Biarlah kelak gadis itu menemukan cinta sejatinya. Ia hanya berharap semoga kondisi Alea segera pulih, karena dirinya tak memiliki banyak waktu untuk terus ada... maut seakan terus mengejar dan menuntut pertanggung jawaban dari segala tindakannya selama ini.
Ia siap. Sudah cukup waktu yang ia miliki untuk melihat kehidupan dan pada akhirnya menemukan cinta. Itu sudah cukup...
***