Leedan baru saja bisa lelap ketika suara cempreng yang begitu berisik membuat dirinya seketika terjaga. Tempat tidur di sebelahnya melesak tanda ada benda yang menimpanya. Ia pun memaksa matanya terbuka dan sepasang mata dengan sorot kekanakan menyorotnya. "Kamu!" Leedan memaksa tubuhnya untuk bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengucek matanya yang terasa sepat. "Kenapa selalu masuk tiba-tiba dan mengagetkan seperti itu?!" "Semua sudah datang," ujar Aaro dengan senyumnya yang lebar dan ceria. Leedan mendesah pelan. Dirinya tidak pernah bisa marah atau jengkel pada Aara—kakak sepupu yang usianya dua tahun lebih muda dari dirinya—karena gadis itu selalu menampilkan wajah dan sikap yang ceria menghangatkan suasana. Bahkan, perih dan luka di hatinya selalu terlupakan ket
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


