Punggungnya tegak kaku dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya terus tertuju ke dalam ruangan berdinding kaca dari lantai hingga atap, bersuhu minus yang dipenuhi dengan salju dan bongkahan es menumpuk membentuk gunung-gunung es kecil. Di dalamnya, terbaring dua sosok yang begitu berarti baginya, harta berharganya. Dua orang yang sangat berjasa bagi kehidupannya, karena tanpa mereka, sudah tentu dirinya tak akan pernah ada di muka bumi ini. Tangannya mengusap kaca yang terasa begitu dingin ketika bersentuhan dengan kulitnya. Namun, hanya ini yang bisa ia lakukan ketika kerinduan yang begitu besar ia rasakan pada kedua orang tuanya. Kerinduan tanpa penawar yang semakin memperparah luka menganga di dalam hatinya. "Mom... Pop," bisiknya lirih. Hujaman yang terasa

