BAB 4
Hafa terus berlari di koridor, hingga di depan dia akhirnya mengambil arah kanan dan berbelok di sana. Tak jauh dari sana, sebuah pintu tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda berjalan keluar dari kamar itu, di saat yang bersamaan datanglah Hafa. Mereka saling bertumbukan satu sama lain. Hafa yang sedang ketakutan bergegas bangkit kembali dan masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka itu.
Pemuda itu, Kiofaye. Seorang yang kini tengah melejit namanya berkat karyanya mengcover lagu-lagu kpop asal negeri gingseng. Dia mulai di serbu followes dan subsriber yang sebagian besar adalah gadis-gadis muda, setelah Naver (Media Pemberitaan Korea) memuat sosok dan karya Kiofaye dalam satu unggahannya di situs online.
Kioafye tak menyangka bahwa love at the first sight itu ada dan terjadi pada dirinya. Pertemuannya dengan Hafa di hari itu, benar-benar telah mengguncang jiwanya yang jenuh akan rutinitas sebagai seorang bintang.
Saat Hafa menggosok-gosok kedua telapak tanganya seraya memohon pertolongan agar Kiofaye menyelamatkan dirinya dari kejaran dua orang pria bertubuh besar yang bak algojo itu. Akhirnya Kiofaye cepat-cepat menutup pintu apartemennya saat dua laki-laki itu berlari dan akan melintas di depan kamar Kio.
Wajah cantik natural yang berderai air mata itu membuat Kio luluh. Dan akhirnya, tanpa pikir panjang dia menutup pintu kamar untuk menyembunyikan Hafa.
"Terimakasih banyak." Hafa masih tersengal, bahkan dia kini tiba-tiba terisak.
Laki-laki muda itu masih menatap dengan pandangan dingin dan seolah tak acuh dengan keberadaan Hafa di depannya.
“Terimakasih.” Lirih Hafa sekali lagi.
Dia sadar bahwa cowok tampan dengan tubuh tinggi semampai itu pasti ingin dia segera enyah dari hadapannya, pasti dia sangat jijik mengingat Hafa kini terlihat sangat kacau dengan rambut berantakan dan wajah penuh peluh. Entah seperti apa rupanya saat ini.
Karena tak juga mendapat respon dari sosok yang menyelamatkan dirinya dari kejaran dua orang tadi, akhirnya Hafa beranjak bangun. Dia membungkuk sedikit dan mengucapkan terimakasih untuk yang kesekian kalinya dengan suaranya yang masih gemetar.
Kiofaye masih mematung di tempatnya. Dia merasakan sensasi berdebar di seluruh nadinya.
“Tidak, aku harus menahan dia di sini. Paling tidak, aku harus tau namanya.” Batin Kio gusar.
Hafa melirik ke arah Kio, cowok itu benar-benar tanpa ekspresi. Wajahnya sangat tidak bersahabat, sama sekali bukan sosok humble. Hafa memastikan lewat indra pendengarnya, memastikan sudah tak ada lagi suara ribut-ribut di luar. Dia dengan hati-hati melangkahkan kaki dan hendak membuka pintu, sekali lagi dia mengucapkan terimakasih dengan suara rendah yang hampir seperti berbisik.
“Makasih banyak, maaf aku ganggu.” Hafa tidak tahu harus berkata apa.
Dia memutuskan untuk cepat pergi dari sana, dia meraih knop pintu dan..
“Tunggu!” suara cowok dingin itu akhirnya terdengar dalam kamar sunyi dan bersuhu rendah akibat pendingin ruangan yang dibiarkan menyala sepanjang waktu.
Hafa menghentikan upayanya membuka pintu kamar. Dia terdiam, dan dengan takut dia membalikan badanya, kembali berhadapan dengan Kio.
Hafa tak berkata apapun, dia hanya menunggu apa selanjutnya yang keluar dari bibirnya. Tak terdengar apapun, hanya terdengar suara lemari pendingin yang mendengung dari arah dapur.
“Apa, aku boleh keluar sekarang?” Hafa akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, karena tak peduli berapa lama dia menunggu, cowok itu tetap diam. Berdiri dalam kebisuan bak manekin di sebuah butik.
Hafa kini membalikan tubuhnya lagi, dia lagi-lagi hendak membuka pintu saat Kio kembali mencegahnya, bahkan kali ini Kio meraih tangan Hafa yang tengah mengenggam knop pintu yang terbuat dari ukiran kayu berwarna hitam mengkilap namun sangat lembut saat tersentuh dengan tangan.
“Tunggu!” kio menyentuh tangan Hafa kemudian dia terhenyak dan dengan cepat menarik tanganya kembali. Dia terlihat kikuk dan salah tingkah, berkali-kali dia mengusap ujung hidungnya.
“Hem?” Hafa tak mengerti apa maunya cowok itu.
Kio menggaruk belakang tengkuknya.
“Hem, itu.. mungkin mereka masih ada di sekitar sini. Jadi, tunggulah sampai benar-benar aman.. be-begi-tu mak-sud a-ku.” Ujar Kio terbata.
“Aku harus tahu namanya, dan juga dimana dia tinggal, jangan sampai dia pergi begitu saja!” tekad Kio, dia terus monolog dalam hati.
Hafa mengangguk-angguk setuju, dia juga tidak dalam situasi normal. Hafa sendiri canggung, karena dia telah mengganggunya, merangsek masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Pasti dia merasa sangat tak nyaman, sepertinya dia sedang ingin pergi ke suatu tempat. Karena dia terlihat sangat rapi, mengenakan jeans berwarna coklat dan hoodie berwarna merah cerah, sebuah headphone tergantung di lengan sebelah kirinya.
“I-iya, terimakasih. Aku minta maaf karena tiba-tiba aja nabrak kamu terus masuk ke dalam sini.” Lirih Hafa.
Kio menggembungkan mulutnya, entah dia harus bagaimana merespon permintaan maafnya yang sudah kesekian kalinya ini.
“Ehm, it’s oke! Enggak masalah! Emh, kalau kamu mau, kamu bisa du-duk dulu, di sana!” Kio hendak menawarinya agar duduk tapi dia terlalu gugup. Dia belum pernah dekat dengan gadis manapun selama ini, selama ini dia hanya sibuk dengan rutinitasnya sebagai seorang selebgram yang biasanya dapat job offline. Dan jika tidak ada job di luar, maka dia akan membuat konten terbaru untuk channel youtubenya, itu saja. Semua itu berlangsung hingga kini, hingga dia kini mampu membeli satu unit apartemen di daerah yang terbilang elite. Sudah bermacam hal yang dia miliki dari semua kerja kerasnya selama ini.
“Ah, apa boleh?” tanya Hafa ragu, dia khawatir cowok ini hanya basa-basi saja.
“iy-iya, boleh. Duduk aja!” Kio mempersilahkan dengan tangannya, masih dengan situasi serba canggung ala Kio.
Hafa menggigit bibirnya.
“Apa tidak apa-apa duduk di sana? Sofanya keliatan mahal!” lirih Hafa, dia berniat bicara pada dirinya sendiri, tapi rupanya Kio mendengarnya, karena suara Hafa cukup keras untuk didengar Kio yang berjarak beberapa langkah saja dari Hafa.
Kio tertawa menyembur.
“Lucu sekali dia, masa sofa enggak boleh di duduki, kalau enggak boleh di dudukin terus buat apa mahal-mahal dibeli.” Kio monolog lagi tentu saja dalam hatinya.
Hafa meringis, entah mengapa cowok itu malah tertawa. Hafa mengecek kondisi pakaiannya, kumal, dia bahkan tidak pakai alas kaki. Rambutnya berantakan, dia bahkan tak sempat berpakaian layak atau mengenakan hijabnya. Dan wajahnya, wajahnya pasti sudah tak berbentuk lagi, di merasa dirinya bak gembel yang terdampar di istana dengan seorang pangeran di dalamnya. Pasti cowok super bersih dan wangi itu menertawakan penampilannya. Dia tak bisa menyalahkan siapapun atas keadaan dia yang begitu. Baginya sekarang adalah memikirkan bagaimana cara agar dia dapat melunasi hutang ibunya. Tapi, gawat. Hafa tidak mungkin pulang, mereka pasti mencari Hafa ke rumah. Entah apa yang harus Hafa lakukan setelah keluar dari apartemen ini.