Irham VS Kiofaye

1088 Words
Hafa sudah dekat dengan tempat dimana Kio tengah sibuk menatap ke arah kamera satu persatu. Dia melihat Hafa dan menyeringai aneh, nampaknya cowok satu ini tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dia selalu dingin dan hangat namun tidak pada tempatnya. Entah bagaimana dia hidup selama ini. Kio hendak melambaikan tanganya, tapi kemudian dia melihat seseorang meraih lengan Hafa dari belakang. Hafa menoleh, mereka berdua bertatapan untuk sesaat. Kemudian Hafa menarik tangannya, sedangkan pria itu melepaskan tangan Hafa perlahan. “Ada apa Ham?” tanya Hafa. “Kamu mau kemana Hafa?” Irham bicara pada Hafa tapi matanya menatap tajam ke arah Kio yang juga menatapnya. “Aku mau pulang.” Ujar Hafa. “Pulang? Yaudah aku anterin.” Irham hendak meraih kembali tangan Hafa tapi Hafa dengan cepat menampiknya. “Enggak usah Irham, kan aku bilang enggak usah tadi.” “Terus kamu mau pulang sama dia?” irham menunjuk Kio dengan dagunya. Hafa tak menjawab. Lagi-lagi gadis itu hanya menunduk dalam diam. Irham menghela nafas, rasanya dia ingin mengguncang-guncang tubuh Hafa dan membuatnya bicara, kesabaran dia terasa menguap begitu saja melihat sikap bungkam Hafa yang tak juga membaik. “Aku tahu pasti ada yang enggak beres sama kamu, Fa! Kamu kenapa sih? Ada apa sebenernya? Dia itu siapa?” tekan Irham yang mulai emosi. Mendapat rentetan pertanyaan menohok dari Irham membuat Hafa hanya terdiam. Sungguh Hafa tidak punya apa-apa untuk dikatakan pada Irham. Bukan tak ada, lebih tepatnya dia tak ingin membaginya pada cowok itu. “Ham, aku duluan ya!” gadis itu kembali mengalihkan pembicaraan. Irham menghalangi langkah Hafa, dia berdiri gagah di depan hidung Hafa. “Aku akan bolehin kamu pergi, asal kamu ceritain dulu ke aku. Apa yang terjadi sama kamu, siapa yang dua hari lalu bawa kamu dengan paksa, dan cowok itu siapa?” irham terlihat sangat serius. Dia sadar masalah yang tengah dihadapi Hafa bukanlah hal sepele. Karenanya dia harus mendengar semuanya langsung dari Hafa. “Ham, kamu tidak dalam posisi dimana kamu bisa larang aku, atau atur hidup aku.” Hafa terlihat akan menangis. Dia sekuat tenaga menahan laju air matanya. “Ya Allah, Hafa. Bukan itu niat aku! Aku Cuma mau bantu kamu, aku mau ada di samping kamu! Aku mau kamu berbagi masalah kamu ke aku!” suara Irham meninggi. Beberapa pasang magta yang kebetulan lewat di sekitar mereka serentak tertuju pada Irham. Hafa terlihat menitikkan airmata, dia cepat-cepat menyekanya dengan jemari tangan. “Maaf Ham, tapi kamu sama sekali enggak punya kewajiban untuk care ke aku.” Lirih Hafa. “Hafa! Kamu ini ngomong apa sih? Tolong dong Hafa, aku yakin kamu ngerti maksud aku! Kita sudah cukup lama kenal untuk bisa bikin kita mengerti satu sama lain, kita udah sejak kecil kenal. Itu cukup untuk buat kita bisa saling berbagi Hafa!” ujar Irham menggebu. “Maaf, Ham. Aku duluan ya!” Hafa menutupi setengah wajahnya dengan tangan kanannya dan pergi berlari meninggalkan Irham. “Ya Allah, Hafa. Kamu kenapa sih?” irham memegangi keningnya seraya menatap Hafa yang menjauh darinya. Gadis itu bergegas masuk ke mobil, dan kendaraan mewah itu menderu pergi dengan cepat. Irham masih berdiri di sana, berkacak pinggang dan merasa putus asa menghadapi Hafa. Hafa tak berkata apapun, dia hanya diam membisu dalam perjalanan pulang. Sedangkan Kio, berkali-kali ingin bicara tapi selalu dia urungkan niatnya. Karena bisa saja, gadis itu sedang tak ingin di ajak bicara. Kio hanya menggaruk-garuk kulit kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Hafa menatap barisan bangunan yang selalu berganti di sisi kirinya, seiring dengan laju kendaraan yang dikemudikan oleh Kio. “Maafin aku, Ham.” Batin Hafa menjerit perih. Apa yang dia ucapkan tadi pasti menyakiti Irham. Cowok tampan super baik itu, pasti kini tak mau lagi mengenal Hafa. Hafa sungguh tak ingin membuat Irham masuk ke dalam masalah yang menjeratnya, dia tak ingin menyulitkan irham, lebih dari itu. Hafa tak ingin Irham tahu semua aib pada hidupnya itu. Segala pikiran berkecambuk di benak Hafa. Entah bagaimana dia harus menghadapi Irham besok di sekolah. “Ehem.” Kio berdeham. Hafa hampir lupa bahwa di sebelahnya ada manusia yang masih berbagi oksigen dengannya di dalam mobil itu. Hafa menggaruk pipinya. Bingung, entah apa yang harus dia lakukan, dan apa yang harus dia katakan pada pria muda yang sedang fokus mengemudi itu, meski sesekali Kio melirik ke arah Hafa. Berusaha mencuri pandang ke gadis itu. Bukan mencari perhatian, tapi mencuri pandang. Karena Kio lebih suka Hafa tak menyadari saat dirinya memandangnya diam-diam. Hafa memejamkan matanya entah dengan tujuan apa. Karena dia tak tahu harus berkata apa. “Eh, udah makan?” tanya Kio dengan nada cueknya. “Udah, Kio.” Bohong Hafa. “Tapi aku belum makan.” Ujar Kio tanpa ditanya oleh Hafa. “Oh.” Jawab Hafa. “Dih, oh doang masa!!” batin Kio sebal. “Ehm, kalau di rumah kamu ada bahan makanan. Aku bisa kok masak!” ujar Hafa. “Eh, boleh juga tuh!” seru Kio senang tapi dia sembunyikan gurat senangnya. “Ada bahan makanannya?” tanya Hafa untuk memastikan. Kio mengedikkan bahu. Hafa mengernyit. “Di depan ada supermaket. Kita bisa beli bahan makanan di sana!” ujar Kio. “Bisa beli di warung sayur kok. Enggak perlu ke supermaket segala.” Hafa mulai mencermati daerah yang mereka lalui, kalau-kalau ada tukang sayur keliling yang bisa Hafa beli barang jualannya. “What? Ap-pa? Warung?” kio bergidik mendengar kata warung. “Iya, warung. Ada masalah apa dengan warung?” Hafa memiringkan kepalanya. Dia tak akan menyangka bahwa Kio merasa agak jijik mendengar kata warung, baginya warung itu pasti kotor dan tidak higienis. Padahal, itu hanya ada dalam pikiran Kio saja. Maklum saja, sejak embrio Kio sudah kaya raya. “Ahm, ehm.. enggak ada masalah apa-apa sih! Tapi, supermaket kan lengkap.” “Kamu pasti enggak tahu selengkap apa mamang sayur di rumah aku.” “Lho, kita ke rumah kamu?” “Bukan begitu, nah.. itu ada tukang sayur!” seru Hafa tiba-tiba. Kio mendadak menginjam pedal rem dan bersiap menepi. Di belakang mereka ada seorang pedagang sayur dengan gerobak besar, beberapa plastik berisi bahan makanan bergantungan dengan nyaman di sana. Sementara bahan makanan yang lebih berat di hamparkan di permukaan gerobak yang terbuat dari kayu. Hafa bisa melihat berbagai jenis sayuran segar, ikan mentah dan juga beberapa ekor ayam utuh yang sudah dibersihkan bulu dan isi perutnya. “Hei, Hafa. Ssshh... Hafa!” kio berbisik dari belakang bamper belakang mobilnya. Tentu saja Hafa tak mendengar. “Hafa! Aish! Hafa!” bisikannya agak kencang. Hafa menoleh. “Ada apa?” “Sini!” kio mengisyaratkan dengan tangan agar Hafa mendekatinya. “Apa?” hafa mendekat. “Kamu yakin mau beli makanan disitu?” kio bergidik geli. “Lho, kenapa? Semuanya bersih dan segar kok.”ujar Hafa polos. “Aish, lihat tuh banyak lalat." Kio meringis jijik. "Lalat kan di tempat sampah Kio, bukan di sayurannya!" kilah Hafa tak mau kalah dari Kio si angkuh itu. Ternyata selain angkuh dia juga sok higenis sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD