Arti Irham bagi Hafa

1084 Words
Keesokan harinya, Irham gusar menunggu kedatangan Hafa di depan kelasnya. Hari ini dia harus tau dengan jelas semua masalah yang tengah di hadapi Hafa. Dia enggan Hafa menderita seorang diri tanpa punya siapapun di sisinya. Hafa datang terlambat hari itu, hingga jam pertama sudah dimulai Hafa belum juga nampak batang hidungnya. Irham memutuskan untuk masuk ke kelasnya. Masih ada jam istirahat, begitu pikir Irham sekedar untuk menenangkan dirinya yang sudah tak lagi punya sisa sabar ingin mengetahui semuanya, semuanya. * Irham berlari ke arah kelas Hafa, betapa leganya dia melihat Hafa tengah duduk di kursinya. Gadis itu menatap ke bawah lewat jendela yang ada di samping tempatnya duduk. Entah apa yang berkecambuk di benak gadis itu, tapi matanya nampak kosong menerawang ke bawah sana. Memperhatikan anak-anak lain yang tengah bermain sepak bola di lapangan sekolah. Irham duduk di bangku kosong sebelah Hafa. “Hafa.” Sapanya dengan suara pelan. Hafa menoleh dan tersenyum tipis. Irham tahu dia tidak dalam kondisi baik-baik saja, biasanya Hafa selalu ceria dan menanggapi dengan antusias jika ada yang menyapanya. Terlebih itu adalah Irham, temannya sejak kecil. “Eh Ham, enggak ke kantin?” tanya Hafa sambil lalu. Dia kini jutsru menatap buku pekajaran yang ada di atas meja, dan jemarinya memainkan ujung kertas dari sampul buku itu. “Enggak, kamu sendiri? Enggak bantuin si mbak nyuci piring?” tanya Irham mencoba membuka obrolan dengan hal ringan saja terlebih dahulu. Dan Hafa hanya menggeleng. “Hafa, aku ini siapa kamu?” tanya Irham dengan nada suara rendah. “Maksudnya?” Hafa tak mengerti kenapa Irham tiba-tiba menanyakan hal aneh seperti itu. “Iya, aku ini siapa? Bagi kamu, aku ini siapa?” mata Irham menangkap pandangan Hafa, seketika gadis itu menunduk. Irham menghela nafas, dia harus ekstra sabar menghadapi Hafa yang tengah dalam kondisi tidak stabil. Terlebih Irham tidak tahu apa yang tengah di alami oleh gadis itu. “Ya, kita kan temenan sejak kecil, Ham.” Ujar Hafa singkat. “Ehm, begitu ya? Jadi kita kan sahabat dari kecil, berarti kamu harusnya mau membagi apa yang sedang kamu alami, ke aku.” Irham mulai merambah ke percakapan yang dia niatkan sejak kemarin. “Aku enggak paham, kamu ngomong apa sih Ham?” tanya Hafa, dia menoleh lagi ke jendela dan memandang murung ke arah sana. “Hafa, aku ini Irham. Apa kamu enggak izinin aku untuk tahu apa yang lagi kamu rasain?” bujuk Irham. Hafa tak bergeming, baginya mana mungkin dia dapat berbagi aib dengan Irham. Tidak mungkin. Dia tak ingin Irham tahu betapa sulitnya keadaan yang tengah dia alami kini. Terjebak dalam situasi yang membuatnya harus tinggal di apartemen diamond bersama seorang pria muda yang baru saja dia kenal, entah apa gerangan yang terjadi setelah itu. Betapapun baiknya Kio padanya, tetap saja dia selalu waspada kala malam datang, dia takut jika Kio melakukan hal-hal buruk padanya di saat dia terlelap tidur. Dan, apakah harus dia ceritakan ini pada Irham? Nampaknya Hafa tak menginginkan semua itu, dia tak ingin Irham tahu masalah yang tengah menjeratnya kini. “Hafa, aku dengar kamu dibawa oleh...” “Ham!” bentak Hafa spontan, irham terkejut kenapa Hafa bisa semarah itu, dia tak pernah bicara dengan nada keras sebelum ini. “Maaf, Ham.” Lirih Hafa. Irham terdiam, dia menunduk memandangi ujung sepatunya. “Maaf, Ham.” Hafa tampak menyesal sudah membentak Irham seperti itu. Tidak seharusnya dia begitu pada cowok baik ini. Mungkin Irham bermaksud baik, hanya saja, hafa benar-benar tak ingin Irham tahu persoalan dia dan Ibunya. “Aku yang minta maaf, Hafa.” Irham kini tahu kenapa Hafa begitu, jelas saja. Karena masalah sepribadi itu, tidak seharusnya di bicarakan di tempat ini. “Pulang nanti, bareng ya!” ajak Irham. Dia pikir Hafa akan kembali ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Irham. Dengan begitu, Irham bisa mengantar Hafa ke rumah dan menanyakan semua itu di rumah nanti. “Ehm, enggak usah Ham. Makasih!” Irham terlihat putus asa, dia menggigit bibirnya seraya berpikir langkah apa lagi yang harus dia ambil kini, dengan semua penolakan yang dia terima dari Hafa. “Kamu kenapa Hafa?” tanya Irham penuh perhatian. “Eh, Ham. Aku ke toilet dulu ya!” Hafa kemudian pergi dari sisi Irham, dan tak kembali meski bel masuk sudah berbunyi. “Woe, Ham. Ngapain masih di sini? Guru elo udah masuk ke kelas noh!” salah seorang teman sekelas Hafa menegur Irham seraya menepuk pundaknya. “Iya, yaudah. Gue cabut ya!” irham menyibak rambut bagian depannya yang hampir menutupi mata kemudian dia menghilang dari pandangan anak tadi. Hafa baru kembali ke kursinya setelah memastikan Irham sudah tak lagi di sana. Dia sejak tadi mengintip lewat jendela di sisi sebaliknya. “Makasih ya!” seru Hafa pada sang pahlawan tadi yang berhasil mengusir Irham dari dalam kelas. “Ada apa sih emang? Lagi marahan apa gimana? Kek anak SD aja dah!” ledeknya penuh rasa ingin tahu. Hafa hanya memaksakan untuk tertawa kecil dan kembali ke kursinya. * Hafa tengah berjalan ke area parkiran dimana Kio sudah menunggunya di sana, entah kenapa lain. Hafa dibuat bingung dengan sikap dingin dan cueknya, namun dia seperti selalu perhatian secara tak sengaja, entahlah. Kio selalu saja begitu, Hafa tak bisa memahami perangai cowok itu. Lagi-lagi cowok bermobil merah itu dikerumuni oleh gerombolan siswi yang ingin berselca ria dengannya. Hari ini, siapa yang tak kenal Kio. Namanya sedang melejit, semua kaum milenial pasti mengenal Kio. Intinya, semua orang tahu Kio itu siapa. Ah, kecuali Hafa. Gadis lugu tapi smart itu sama sekali tidak tahu Kio itu siapa dan Hafa sungguh tak peduli, betatapun terkenalnya seorang Kio, seperti yang dia ketahui belakangan ini. Tetap saja Hafa tidak tertarik dan sama sekali tidak silau ataupun berusaha memperdulikan ketenaran Kio. Baginya, tak ada yang lebih penting dari kelangsungan hidupnya. Juga Hafa bukan tipe gadis yang silau dengan materi. Dia sudah terbiasa hidup sederhana, apa adanya. Hafa sudah dekat dengan tempat dimana Kio tengah sibuk menatap ke arah kamera satu persatu. Dia melihat Hafa dan menyeringai aneh, nampaknya cowok satu ini tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dia selalu dingin dan hangat namn tidak pada tempatnya. Entah bagaimana dia hidup selama ini. Kio hendak melambaikan tanganya, tapi kemudian dia melihat seseorang meraih lengan Hafa dari belakang. Hafa menoleh, mereka berdua bertatapan untuk sesaat. Kemudian Hafa menarik tangannya, sedangkan pria itu melepaskan tangan Hafa perlahan. “Ada apa Ham?” tanya Hafa. “Kamu mau kemana Hafa?” Irham bicara pada Hafa tapi matanya menatap tajam ke arah Kio yang juga menatapnya. “Aku mau pulang.” Ujar Hafa. “Pulang? Yaudah aku anterin.” Irham hendak meraih kembali tangan Hafa tapi Hafa dengan cepat menampiknya. “Enggak usah Irham, kan aku bilang enggak usah tadi.” “Terus kamu mau pulang sama dia?” irham menunjuk Kio dengan dagunya. Hafa tak menjawab. Lagi-lagi gadis itu hanya menunduk dalam diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD