Hafa benar-benar tak suka jadi pusat perhatian, saat dia juara umum saja dia tak suka saat-saat dia harus maju ke depan saat upacara di gelar. Hafa tidak suka tampil di depan banyak orang. Dia cepat-cepat berlari menuju kelasnya di lantai tiga, menyusuri tangga dan lorong tanpa mempedulikan kasak-kusuk para siswa yang membicarakan tentang dirinya, karena hampir semua melihat kedatangan mobil itu dari atas balkon yang ada di lorong kelas.
Hafa cepat-cepat masuk ke kelas dan duduk dengan nafas tersengal-sengal. Gadis itu masih mencoba mengatur nafasnya saat Irham tiba-tiba datang menghampirinya dan duduk di kursi kosong di samping Hafa.
Hafa tampak bergeser sedikit karena enggan berdekatan dengan Irham.
“Hafa.” Sapa Irham dengan suara rendah. Dia sangat lega melihat Hafa datang ke sekolah pagi ini. Semalaman dia memikirkan Hafa.
Hafa sedang tidak mood untuk menjawab sapaan Irham, entah kenapa meski sejak dulu Irham sudah menunjukan gelagat memendam perasaan suka pada Hafa. Namun Hafa sama sekali tidak peduli dengan itu.
“Hafa.” Irham mencoba menatap wajah Hafa. Tapi gadis itu berpaling dan sangat enggan berinteraksi dengan Irham. Hafa menduga pasti cowok ini akan mulai menginterogasinya dengan berbagai macam pertanyaan dengan dasar rasa cemas dan khawatir dia terhadap Hafa. Hafa bukan membenci Irham, Irham benar-benar cowok idaman semua siswi di sekolah ini. Dia tampan maksimal dan altitudenya boleh di adu dengan anak ustadz manapun, dengan kata lain Irham terbilang santun dan rajin beribadah. Irham juga ketua rohis saat kelas sebelas dulu. Pokoknya semua siswa dan siswi di sekolah ini mengenal Irham dengan baik.
Hafa mau tak mau harus menanggapi Irham paling tidak agar cowok itu cepat pergi dari sisi Hafa. Gadis itu benar-benar sedang tidak dalam kondisi baik.
“Kenapa Ham?” tanya Hafa seraya menoleh ke arah Irham.
“Ehm, aku Cuma agak khawatir sama kamu, semalaman aku enggak bisa tidur karena aku tahu semalam kamu enggak tidur dirumah, terlebih setelah apa yang terjadi sama kamu dan Ibu kamu kemarin, ehm.. Hafa,.. boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?” tanya Irham to the point.
Benar saja dugaan Hafa, pasti Irham menghujaninya dengan beragam tanya berbekal rasa cemas dan khawatir Irham yang sering kali tidak pada tempatnya.
Hafa menghela nafas.
“Ham, nanti saja ya aku jawab semua pertanyaan kamu. Aku beneran capek banget dan aku enggak ada tenaga untuk ngobrol.” Jawab hafa tenang.
Irham menunduk.
“Oke Hafa. Tapi, aku Cuma mau bilang. Kamu bisa cerita ke aku setiap kamu ada masalah, mungkin saja aku nanti bisa bantu kamu Hafa.” Ucap Irham hati-hati.
Hafa hanya mengangguk kecil. Irham sebetulnya ingin lebih banyak bicara, tapi dia menyadari Hafa kini sedang tidak ingin di ganggu.
“Ada apa sebenarnya dengan kamu Hafa? Siapa orang yang menjemput kamu semalam?” batin Irham, kemudian cowok itu kembali ke bangkunya dan melanjutkan membaca buku pelajaran yang sejak tadi dibacanya demi mengusir rasa cemas yang terus saja mengusiknya.
Hafa lega Irham mau meninggalkan dia sendiri. Hafa memang tidak mudah bercerita tentang aapapun yang terjadi padanya, bahkan dia hingga kini tak pernah punya seorang teman dekat yang bsia menjadi tempatnya berkeluh kesah atau berbagi cerita. Dia tidak punya teman seperti itu, baginya semua orang tetap sama. Berbaik hati di depan Hafa dan bergunjing di belakang Hafa.
Hafa tidak bisa percaya pada siapapun, karena bisa jadi jika dia ceritakan semua aibnya maka suatu hari hal itu akan jadi bahan gosip panas di kalangan siswa di sekolahnya. Hafa tidak ingin itu terjadi. Hafa ingin lulus dengan baik dan bekerja, agar dia mampu mencari uang halal guna menghidupi ddia dan ibunya. Itu saja. Tidak pernah ada cita-cita setinggi langit yang terbesit dalam pikiran Hafa. Karena Hafa menyadari posisinya, walaupun terkesan pesimis, tapi dia merasa tak ada peluang apapun untuknya di depan sana, Hafa selalu merasa sepintar apapun dirinya, dia tetap tak layak untuk mempunyai sebuah keinginan ataupun cita-cita. Karena itu, mencari uang halal adalah satu-satunya goal dalam hidup Hafa.
Waktu di hari itu terasa lama bagi Hafa, terlebih dia sangat mengantuk dan lemas. Dia belum makan apa-apa dari pagi, uang yang diberikan Kio bahkan masiih utuh. Mana mungkin dia sanggup makan dalam kondisi sekolah yang berdengung membicarakan dia.
Jam pelajaran terkakhir usai dengan setumpuk tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran itu.
Hafa mengemasi buku-bukunya dari atas meja. Dia membuka ponselnya dan membaca alamat yang tertulis di sana. Pagi tadi, Kio mengirimkan alamat apartemen diamond tempat mereka tinggal pada Hafa. Agar Hafa tidak kesulitan mencari-cari alamat untuk pulang ke sana. Hafa memutuskan untuk naik angkot dan dilanjutkan naik busway, dia tak punya aplikasi ojek online yang tengah menjamur dewasa ini. Terlebih lagi, gadis itu juga jarang sekali puya quota untuk berselancar di dunia maya atau semacamnya. Seperti yang tengah gencar dilakukan oleh gadis sebayanya.
Hafa melangkah menuruni tangga, para siswa sepertinya sudah kehabisan bahan untuk bergunjing soal Hafa, tebukti mereka hanya diam dan cuek ketika melihat Hafa. Tepat di saat Hafa akan melewati lapangan yang menjadi jalan ke arah pintu gerbang. Nampak para siswa perempuan berkumpul di sisi lapangan dengan lahan parkir sekolah itu. Hafa sebetulnya tidak begitu tertarik, jadi dia memutuskan untuk berjarak dari kerumunan siswi itu.
Hafa berjalan cepat-cepat, karena para siswi itu sangat bising bercakap-cakap satu sama lain seraya berdiri melingkari sesuatu yang entah apa itu. Hafa tidak peduli sedikitpun. Tapi, tiba-tiba ada tangan halus yang meraih lengannya.
“Hafa!” serunya.
Hafa menoleh, dia sangat jengkel dan dia sudah bersiap untuk menepis tangan itu. Namun, saat Hafa melihat bahwa orang itu adalah Kio, segala kesal dan jengkel itu mendadak sirna.
“Kio!!” seru Hafa tak percaya, melihat Kio ada di sekolah ini, setelah pagi tadi dia mengantarnya berangkat sekolah.
Hafa terkejut, tapi entah mengapa dia juga sangat senang ada Kio di sana.
“Hafa, aduh temen-temen kamu itu norak banget sih, berisik!!!” kio memegangi keningnya.
“Ayo pulang!” ajak Kio.
“Lho, kamu kesini mau jemput aku?” tanya Hafa.
“What? Aku jemput kamu? Ayolah Hafa, mana mungkin aku kesini Cuma buat jemput kamu. Tadi aku habis ketemu klien aku di kafe enggak jauh dari sini, ya aku pikir sekalian aja aku kesini.” Ucap Kio terlihat sungguh-sungguh.
“Oh, gitu ya Kio.”
“Udah ayo panas, temen kamu juga dari tadi ribut minta foto semua. Aku pusing.” Kio menarik lengan Hafa dan berjalan menuju mobilnya yang masih dikerumuni para gadis. Tapi, mereka kini sudah tak meneriakan nama Kio. Mereka kini jutsru menatap Hafa dengan tatapan sinis mereka.