Pagi itu Kio terbangun, kepalanya agak pusing karena dia hanya tidur sebentar saja. Kio berpikir sejenak, mencoba mengingat hari apa sekarang. Dia mengusap hidungnya yang terasa tersumbat akibat tidur tanpa selimut di atas sofa. Ruangan ini sungguh dingin, pendingin ruangan selalu menyala setiap harinya.
“Hafa sekolah enggak ya?” gumam Kio, dia mencoba mendekati kamar Hafa tapi gadis itu justru tiba-tiba keluar dari kamarnya, dia terlihat cantik dengan pakaian putih dan rok panjang abu-abu yang dia kenakan. Hafa juga memakai jilbab berwarna putih, itu pasti warna putih, meski terlihat sudah tak begitu putih seperti saat masih baru. Kio cukup terpukau dengan kecantikan Hafa, terlebih dengan jilbab yang membingkai wajahnya. Meski wajah Hafa nampak sayu dan lelah. Memang pada kenyataannya semalaman Hafa tidak tidur, dia sesekali menangis, terdiam dan menangis lagi. Begitu terus hingga pagi akhirnya datang.dengan matahari yang menyingsing indah diluar jendela kamar Hafa.
Kio hampir saja menubruk Hafa di depan pintu kamar gadis jelita itu.
“Oh, kamu udah bangun, ehm aku baru aja mau bangunin kamu, mau ingetin kamu sekolah.” Kio menggaruk tengkuknya.
“Iya, makasih banyak Kio. Aku berangkat sekolah dulu ya, ujian akhir sebentar lagi. Jadi aku enggak bisa bolos.” Ujar Hafa murung. Hal itu benar-benar menyayat hati Kio, bukan ujian akhirnya tapi wajah murung Hafa lah yang membuat Kio bersedih.
“Iya, enggak masalah.”
“Makasih Kio, nanti sepulang sekolah kamu udah bisa jelasin ke aku tentang apa aja kerjaan yang harus aku lakuin.” Hafa sebenarnya tak enak mengatakan ini, tapi dia harap Kio mau mengerti.
“Eh, kerjaan kamu? Oh, iya deh gampang itu.” Sebetulnya Kio tidak begitu memerlukan bantuan Hafa, sama sekali tidak. Tapi, semuanya terjadi begitu saja. Sampai Kio akhirnya meminta Hafa untuk menjadi asisten pribadi Kio dan tinggal bersamanya di apartemen itu.
“Makasih Kio, untuk pengertian kamu. Aku enggak tau harus berterimakasih dengan cara apa lagi ke kamu.” Ujar Hafa.
“Sudahlah, jangan dipikirkan terus, sekarang tugas kamu adalah berusaha supaya lulus dengan baik dan bisa full time bantu aku ya!”
“Makasih Kio, aku harus pergi sekarang biar enggak telat. Soalnya sekolah aku dekat dengan rumah, lumayan jauh.”
Hafa melewati kio yang berdiri berhadapan dengannya.
“Eh, tunggu Hafa. Aku anter ya!” kio cepat-cepat meraih kunci mobil yang tergeletak di meja.
“Lho, enggak usah Kio!”
“Sudahlah, ayo cepet. Nanti kesiangan.” Kio mendahului Hafa berjalan di luar.
Hafa mau tak mau mengikuti Kio, butuh waktu lama untuk sekedar berjalan ke parkiran. Nampaknya Hafa pasti telat datang ke sekolah. Karena waktu sudah pukul enam pagi.
“Sekolah kamu dimana sih?” tanya Kio saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Hafa menyebutkan nama sekolahnya, kemudian Kio mencari dengan google map.
“Oh, sekolah kamu deket jalan utama nih, jadi enggak perlu muter-muter seperti ke rumah kamu. Pasti kita lebih cepat sampai. Enggak usah takut telat. Beres kalau sama Kio mah.” Entah kenapa hari ini terlihat jelas sekali bahwa Kio sangat ramah, nampaknya dia akan selalu berubah, Kio yang dingin dan cuek saat dia menyadari dia harus berakting begitu, namun dia tetap akan menjadi dirinya yang sebenarnya tanpa dia sadari.
Hafa tidak tahu harus berkata apa, dia hanya berharap semoga mulai saat ini segalanya berjalan dengan baik-baik saja. Dan Kio memang benar-benar orang baik.
“Terimakasih Kio.” Ucap Hafa dalam hatinya.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di depan gerbang sekolah, mobil Kio masuk ke dalam area sekolah, nampak di sisi kanan dan kiri mobil Kio beberapa siswa yang berjalan dan menaiki motor, mereka semua ternganga melihat ada mobil mewah masuk ke are sekolah mereka, siapa gerangan itu, apakah siswa baru? Begitu kira-kira isi pikiran para siswa yang melihat kedatangan Kio dan hafa.
Kio berhenti tepat di sisi lapangan, tak jauh dari tempat parkir motor para siswa dan mobil para guru yang bertugas di sekolah itu. Hafa agak ragu untuk melangkahkan kaki keluar, sejujurnya itu terlalu mencolok dan Hafa sama sekali tidak suka itu, harusnya Kio menurunkannya di depan sekolah saja, jauh dari gerbang, dengan begitu mobilnya tak akan menarik perhatian siswa-siswa sekolah itu. Tapi, mana mungkin Hafa bisa mengatur-atur Kio. Masih untung Kio mau antar dia sekolah, bahkan cowok itu sama sekali tidak mandi ataupun mencuci mukanya terlebuh dahulu. Meski begitu, Kio tetap terlihat sangat tampan. Sungguh tampan. Hafa membuang pikiran itu, dia tidak boleh menganggap Kio sebagai seorang laki-laki, karena Kio adalah tuan muda baginya.
“Hafa, sebentar. Kamu pulang jam berapa?” tanya Kio.
Hafa gelagapan, apakah Kio akan menjemputnya juga? Begitu pikir Hafa, dia jadi merasa tak enak.
“Aku bisa naik angkot kok, Kio.”
“Aku Cuma tanya kamu pulang jam berapa.”
“Ehm , jam dua.”
“Oke kalau gitu, aku balik iya. Oia satu lagi!” kio mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah.
“Pegang ini!”
“Ah, enggak usah Kio.” Hafa menolak uang pecahan seratus ribu itu.
“Enggak usah gimana, ini uang transport kamu selama kamu kerja jadi asisten aku! Ambil, nanti naik angkot kan butuh ongkos, memang kamu punya uang?” tanya Kio.
“A-ada, sedikit.”
Kio tersenyum.
“Ambil, nanti bisa makan siang pake ini juga, cukup kan? Makan apapun yang mau kamu makan, enggak usah cuci piring di kantin segala!”
“Kenapa?” tanya Hafa.
“Lho pakai tanya kenapa. Kamu kan kerja sama aku. Mana boleh orang kerja di dua tempat!” seru Kio pura-pura tak suka.
“Oh, iya.”
“Ini ambil. Cepet aku mau pulang, kebelet!” kio menyodorkan uang tadi.
“Makasih Kio.” Hafa menerimanya meski dia enggan.
Hafa keluar dari mobil dan beberapa siswa di sana menunjuk-nunjuk Hafa seraya saling berbisik. Sedangkan siswa lain yang sama sekali tak kenal dengan Hafa cukup kagum pada Hafa, mereka pikir Hafa keren sekali di antar sekolah dengan mobil mahal itu. Mereka bertanya-tanya siapa yang ada di dalam mobil itu, beberapa menjawab pasti itu pacarnya.
Hafa benar-benar tak suka jadi pusat perhatian, saat dia juara umum saja dia tak suka saat-saat dia harus maju ke depan saat upacara di gelar. Hafa tidak suka tampil di depan banyak orang. Dia cepat-cepat berlari menuju kelasnya di lantai tiga, menyusuri tangga dan lorong tanpa mempedulikan kasak-kusuk para siswa yang membicarakan tentang dirinya, karena hampir semua melihat kedatangan mobil itu dari atas balkon yang ada di lorong kelas.
Hafa cepat-cepat masuk ke kelas dan duduk dengan nafas tersengal-sengal. Gadis itu masih mencoba mengatur nafasnya saat Irham tiba-tiba datang menghampirinya dan duduk di kursi kosong di samping Hafa.
Hafa tampak bergeser sedikit karena enggan berdekatan dengan Irham.
“Hafa.” Sapa Irham dengan suara rendah. Dia sangat lega melihat Hafa datang ke sekolah pagi ini. Semalaman dia memikirkan Hafa.