Kamar untuk Hafa

1038 Words
Irham baru saja selesai sholat isya di masjid yang tak jauh dari rumahnya, dia tengah melenggang menyusuri jalan kampung menuju ke arah pulang. “Ah, bisa-bisanya aku ketiduran di masjid, untung saja ada yang bangunin, kalau enggak bisa sampai pagi aku tidur di masjid, sudah kaya musafir aja.” Gumamnya seorang diri. Malam itu langit cukup cerah dengan bulan penuh yang menawan, Irham menatap lekat bulan yang tampak berwarna putih keemasan dan bulat itu. “Cakep banget ya itu bulan, kek Hafa.” Lirih Irham, dia sungguh merindukan Hafa. Seharian ini dia sama sekali tak berjumpa dengan gadis bermata indah itu. Biasanya Irham pasti bisa melihat Hafa walau hanya saat dia lewat rumah Hafa dan gadis itu tengah menyapu halaman. Tepat saat Irham melepaskan pandangannya pada rembulan itu, sekelebat bayangan keluar dari rumah Hafa. Irham yang saat itu tak jauh dari rumah Hafa akhirnya berlari melewati rumahnya sendiri demi menyapa Hafa yang terlihat kesulitan membawa tas ransel yang nampak sangat berat. Irham berlari mengejar Hafa, dia bahkan memanggil Hafa. “Hafa! Hafa!” gadis itu rupanya tak mendengar suara Irham. Irham merasa ada yang aneh karena Hafa saat itu seperti bergegas menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumah. Irham mengejar langkah Hafa dan meraiih tangan Hafa dengan kuat dan menariknya. Hafa terkejut dan ketakutan, dia berteriak-teriak tanpa menoleh sedikitpun membuat Irham jadi bingung, dan saat Hafa menyentakkan tangan Irham , dia melepaskannya begitu saja. Irham sungguh tak paham apa gerangan yang membuat Hafa merasa takut padanya. Gadis itu berlari pontang panting seraya menggendong tas beratnya menuju sebuah mobil mewah berwarna merah yang dari tadi terparkir di depan rumah tetangga mereka. Irham tersengal, dia terpaku di depan rumah Hafa memandangi mobil yang menderu pergi menjauhi daerah itu. “Hafa, kemana dia? Apa seseorang membawanya pergi? Atau, ah ada apa sebenarnya, aku telepon juga dari siang enggak ada jawaban. Dan siapa yang ada di dalam mobil itu?” irham bingung dengan apa yang tengah terjadi pada Hafa. Irham bergegas pulang dan mencari ponselnya, dia cepat-cepat menghubungi nomor Hafa. Tapi, kini justru sudah tak tersambung lagi. Nomor Hafa tidak aktif. “Argh, kamu kemana sih Hafa.” Irham merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Benar-benar tak ada yang bisa dia lakukan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Hafa. Dia hanya berharap semoga Hafa akan selalu dalam kondisi baik-baik saja dimanapun dia berada. Karena di sini ada Irham yang sangat mengkhawatirkan kondisinya. Sementara itu Hafa yang menggigil ketakutan sedikit demi sedikit bisa menengkan dirinya dengan bantuan Kio, cowok tajir itu terus saja menepuk-nepuk pundak Hafa dengan halus. Hafa rupanya salah menduga, dia kira tangan yang tiba-tiba menarik lengannya itu adalah milik salah satu dari dua pria botak yang siang tadi mengejarnya. Padahal. Pada kenyataanya itu adalah Irham yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Kio membawa Hafa kembali ke kamar. Kio menunjukan sebuah kamar lain yang jarang di pakai oleh Kio dan mempersilahkan Hafa untuk beristirahat di sana. “Masuklah Hafa, ini kamar kamu. Kamu bisa pakai lemari itu untuk meletakkan semua pakaian dan buku kamu.” Kio hanya berdiri di depan pintu yang terbuka tanpa berani mengikuti Hafa masuk ke kamar. Hafa menyapu seluruh isi ruangan dengan pandangannya, tempat itu sangatlah rapi dan bersih. Nampak seperti kamar hotel yang seing Hafa liat di sinetron. “ Terimakasih Kio.” Lirih Hafa yang masih sesenggukan. “Kalau ada apa-apa, panggil saja aku ya Hafa. Atau bengunkan saja kalau aku tidur. Kamu baik-baik aja kan? Udah enggak apa-apa kan?” tanya Kio khawatir. “Udah enggak apa-apa Kio, makasih banyak.” Hafa menyeka pipinya yang masih terasa basah oleh airmata. Kio mnegangguk dan menutup pintu kamar Hafa. “Selamat tidur Hafa.” Ujar Kio. Kio lalu berjalan dengan langkah enggan dan duduk di sofa. Dia rasanya tak ingin membiarkan Hafa sendiri, gadis itu pasti masih sangat takut. Tapi dia juga tidak bisa menemaninya di dalam kamar, Hafa tak akan suka jika berudaan dengan seorang laki-laki di kamar. Mengingat Hafa begitu polos dan santun. Dia pasti tak pernah mengenal yang namanya pacaran atau semacamnya. Gadis itu benar-benar amat sangat polos. Kio akhirnya berbaring di atas sofa. Hafa akan dengan mudah menemukannya jika dia berbaring di sofa. Begitulah cara kecil Kio untuk berusaha peduli pada Hafa. Waktu sudah lewat tengah malam tapi Kio belum bisa memejamkan matanya. Dia berkali-kali mendatangi kamar Hafa dan menempelkan telinga di pintu. Dia khawatir kalau-kalau Hafa sedang menangis karena ketakutan di dalam sana. Tapi tak ada suara apapun di sana, sunyi. Barangkali Hafa sudah tidur, begitu pikir Kio. Kio akhirnya berhasil terlelap saat waktu sudah hampir subuh. Sedangkan Hafa masih terjaga di waktu itu, dia termenung memikirkan serentetan peristiwa yang terjadi hari ini. Betapa segalanya tak pernah ada di pikiran Hafa, sedikitpun Hafa tak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami hal semacam itu. Hal paling mengerikan dalam hidupnya. Ketika dirinya harus di hadapkan dengan situasi yang tak baik, entah apa yang di pikirkan oleh Ibunya saat dia menjadikan Hafa sebagai jaminan atas semua hutangnya pada Bosnya. Apakah saat itu Ibunya tengah mabuk berat? Atau mungkin ibunya dalam keadaan sadar namun tidak punya pilihan lain karena terdesak. Kenyataan bahwa dia dijadikan jaminan oleh ibunya sendiri adalah hal yang paling menyakitkan lebih dari apapun. Bagaimanapun cara Hafa untuk coba melupakan semuanya. Tetap saja seperti ada tangan berlumur garam yang tengah meremas-remas hatinya yang terluka amat dalam. Luka yang sudah lama dia miliki karena mendapati ibunya bekerja sebagai wanita malam, luka itu semakin membesar seiring berjalannya waktu. Dan kini, sudah tak lag berbentuk, bagaimana perasaanya, sudah tak ada lagi berbentuk. Seolah dunia sudah hancur saat itu juga. Hafa mencoba berpikir bijak, bahwa Tuhan tetap saja menjadi Yang Maha Baiik. Karena dalam situasi serba sulit seperti ini, Dia memberikan Kio sebagai penolong Hafa. Hafa seharusnya masih bisa bersyukur karena dia masih baik-baik saja saat ini, meski entah kapan dia siap untuk bertemu lagi dengan ibunya. Paling tidak, saat ini dia dalam kondisi baik-baik saja, bahkan kamar yang dia tempati saat ini, sangatlah indah. Juga sepertinya Kio itu benar-benar tipe manusia yang baik dan berempaty. Entah ini berkah atau kutukan, yang jelas Hafa yang perlu menjalani waktu-waktu yang baru, di tempat ini. Bersama lingkungan barunya. Terlebih sekolah Hafa sudah hampir usai, dia bahkan sudah mendapat kerjaan sebelum dia berhasil lulus dari sekolah menengah atas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD