Tangan itu

1028 Words
Mereka sampai di rumah Hafa saat hari sudah benar-benar larut, mereka membutuhkan banyak waktu untuk sampai di tujuan karena Hafa tak tau kemana arah dia pulang. Akhirnya Kio hanya mnegandalkan aplikasi penunjuk arah dengan alamar yang Hafa sebutkan sebagai pedomannya/ “Itu, yang di depan itu rumah aku, Kio.” Hafa menunjuk sebuah rumah sederhana dengan sebuah pelataran yang cukup untuk di masuki sebuah mobil. “Itu? Cat biru itu?” tanya Kio. “Benar, ehm, apa boleh Kio tunggu di sini saja?” pinta Hafa. “It’s oke!” kio menyanggupi. Hafa tersenyum dan dia hendak keluar tapi sulit baginya untuk membuka pintu mobil mewah itu. Kio berusaha menahan tawa selagi Hafa masih di dalam mobil, saat Hafa sudah berada di luar Kio tertawa sekeras mungkin. Kio mengintip dari jendela mobilnya ke arah rumah Hafa. Tak ada siapapun nampak di sana, hanya ada Hafa yang tengah berjalan ke arah pintu rumah yang lampu depannya agak redup itu. Hafa mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Dia membuka pintu dengan mudahnya, pintu itu tidak terkunci. Hafa berpikir apakah dia harus memanggil ibunya atau tidak, tapi ibunya pasti sedang tidak ada di rumah, tentu saja seperti biasanya dia tidak akan tinggal di rumah saat malam hari. “Ah, jadi aku tidak bisa bertemu ibu hari ini. Nanti saja kalau gitu, kalau aku ada kesempatan dan dapat izin dari Kio, aku bakalan balik ke rumah untuk ketemu Ibu.” Lirih Hafa. Dia menghela nafas setelah membereskan semua buku dan pakaiannya kemudian memasukan semua itu ke dalam tas sekolahnya. Tak banyak baju yang dia punya, karena ketika dia beranjak dewasa dia mulai menyadari bahwa yang dilakukan oleh ibunya dalah pekerjaan yang tidak baik, maka hasil yang di dapat juga bukan uang halal. Saat itu Hafa memutuskan untuk menekan semua kebutuhannya serendah mungkin agar dia tak perlu banyak-banyak memakai uang hasil kerja ibunya. Pun jika Hafa terpaksa harus memakai uang itu, entah untuk kebutuhan sekolah atau makan. Dia telah mencatat semuanya dan menjadikannya sebagai pinjaman yang kelak akan dia bayar. Meski dia adalah Ibunya, tetap saja dia salah dengan melakukan pekerjaan itu. Hafa tak pernah berani menegur ibunya, pernah satu kali dia coba bicara pada ibunya tapi setelah itu dia sudah tak ingin melakukan hal itu lagi, karena jika itu dia lakukan maka sang ibu akan mengeluarkan rentetan kalimat panjang yang terkesan menceramahi Hafa dan memberi Hafa penjelasan bahwa dia bisa membesarkan Hafa hingga dewasa itu berkat uang yang dia peroleh dari pekerjaannya sebagai p*****r itu, jika sudah begitu hafa hanya akan diam seribu bahasa. Nasib membawanya menjadi seorang anak dari wanita malam, bahkan hingga di usinya kini, Hafa tak pernah tahu siapa Ayahnya. Jangankan untuk bertemu, namanya saja Hafa sama sekali tidak tahu. Hafa bergegas menggendong ranselnya, dia tak ingin Kio marah atau kesal karena terlalu lama menunggu di luar. Gadis itu keluar lewat pintu depan dan di tutupnya pintu itu. Hafa tengah berjalan menyusuri pagar bambu tengangga samping rumahnya menuju mobil Kio yang terparkir di depan rumah tetangga. Tepat saat itu sebuah tangan meraih tangan Hafa. Hafa terkejut bukan main. Hafa tertegun dan sesaat kemudian dia teriak sekencang-kencangnya dan menarik tangannya kemudian berlari menuju mobil, beruntung mobil Kio dalam keadaa terbuka pintunya sehingga Hafa dapat cepat masuk. Hafa memejamkan matanya sampai di mobil. “Kio cepet jalan Kio, cepet!” hafa ketakutan. “Ada apa?” tanya Kio panik. “Cepet jalan Kio jalan!” teriak Hafa nanar. Kio cepat-cepat menginjak gass dan mobil itu melaju dengan cepat menjauhi tempatnya parkir tadi. “Ada apa? Ada apa Hafa?” kio sungguh panik. Dia meraih pundak Hafa dengan tangan kirinya, menepuk-nepuknya berusaha mendamaikan Hafa. Melepaskan Hafa dari ketakutannya. “Tadi, ada yang narik aku Kio, itu pasti mereka. Mereka masih cari aku!” hafa terisak, dia sungguh trauma dengan perlakuan dua manusia botak yang menyeretnya dengan paksa siang tadi. “Hah? Apa? Harusnya kamu biarkan aku hadapin dia! Kita kan sudah kasih dia uang! Gimana sih?” kio jadi kesal. “Jangan Kio, aku takut. Aku takut banget!” hafa terlihat gemetar, tubuhnhya bahkan mengeluarkan keringat padahal saat itu suhu di dalam mobil sangat dingin. Kio terus menepuk-nepuk pundak hafa dengan canggung. Gadis itu tertunduk dalam duduknya dan menangis ketakutan. “Ah, kenapa gadis sepolos dia harus mendapatkan garis hidup yang demikian pahit? Ya Tuhan, apakah kehadiran aku di sisinya adalah salah satu caramu untuk menyelamatkan dia?” kio berkali-kali melirik Hafa yang masih menangis, pria muda itu tak fokus menyetir. “Sabar ya, Hafa. Bentar lagi kita sampai kok. Sabar ya! Enggak usah takut.” “Kenapa ibu aku harus begitu? Kenapa dia tega sama aku, apa aku ini bukan anaknya? Kenapa aku sama sekali enggak berharga buat ibu. Kenapa bu?” hafa terisak sangat dalam, hatinya kini benar-benar sakit. setega Setelah dia berhutang banyak pada Kio, dan harus menjadi asisten untuk Kio. Tapi, orang-orang itu masih saja mengejarnya, kalau begitu caranya, dia akan terus menerus memeras Hafa, sampai Hafa tak punya cara lagi dan kemudian tetap terjatuh dalam lubang hitam itu.itu sama aku! Tubuh Hafa bersimbah keringat, pakaian milik adik Kio yang dia pakai pun kini nampak lusuh dan basah karena peluhnya. Kio benar-benar berempati pada gadis itu, entah apa yang harus dia lakukan. Dia tak bisa melaporkan ini ke pihak berwajib, karena jika itu dia lakukan maka namanya akan itu terseret dan akan masuk headline news di semua surat kabar, terlebih nama Kio sudah sangat popupler sekarang. Langkah yang paling ampuh itu sama sekali tak bisa Kio tempuh, dia harus membantu Hafa sebisanya, semampu dirinya dan dengan caranya sendiri. “Hafa, jangan menangis.” Batin Kio sakit, melihat gadis yang polos itu masih saja terisak di sampingnya, hati Kio sangat perih. “Mulai hari ini, aku akan menjagamu Hafa.” Lirih Kio yang sama sekali tidak terdengar oleh Hafa yang masih menangis, suara Kio yang hampir seperti bisiikan pasti kalah oleh suara tangisan Hafa. Hafa sudah agak tenang, dia menyeka wajahnya yang basah oleh airmata. Entah hidup ini adil atau tidak baginya, karena sejak dulu. Tangisan adalah teman Hafa dalam keseharian Hafa. Hanya tangisan tertahan yang setiap malam memeluknya sampai dia larut dalam mimpinya, Hafa lelah untuk menangis lebih lama lagi. Hafa sudah tak ingin menderita lagi. Belum lagi semua perlakuan tak senonoh pelanggan Ibunya, membuat Hafa merasa dirinya sungguh kotor. Hafa ingin hidup baru yang damai dan tenang. Hafa ingin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD