“Pelan-pelan Hafa makannya.” Hafa melirik Kio dan mengangguk kecil.
Kio menoleh ke belakang dan tersenyum membelekangi Hafa.
“Ada apa?” tanya Hafa.
“Oh, enggak! Aku Cuma lihat-lihat siapa tahu ada makanan penutup manis yang enak. Hem, kamu suka ice cream enggak?” tanya Kio dengan nada ketusnya.
“Ehm, enggak usah Kio. Aku ini aja udah cukup kok.” Hafa melanjutkan makannya.
Kio bergegas pergi memesan dua eskrim dalam gelas berleher panjang.
“Ini.” Kio menyodorkan satu gelas ice cream berwarna warni pada Hafa.
“Ah, kenapa beli? Aku bilang kan enggak usah!”
“Jangan kepedean! Kamu kan mulai hari ini kerja sama aku, jadi ya aku harus kasih kamu makanan layak dong!”
“Oh, iya Kio terimakasih. Ehm apa aku harus panggil kamu pak Kio?” tanya Hafa polos.
Kio hampir saja menyemburkan nasi yang tengah dia kunyah.
“Apa? Masa aku dipanggil bapak!”
“Habis apa? Mas kio?” mata Hafa berkedip-kedip membuat dia terlihat sangat menggemaskan, terlebih saat itu di dalam mulutnya ada makanan yang sedang sibuk dia nikmati, membuat pipinya menggembung dan mulutnya hanya terbuka sedikit saat bicara.
“Enggak! Kio aja, Kio!”
Hafa terangguk-angguk.
“Iya, Kio. Ehm, entah bagaimana aku harus berterimakasih padamu untuk semua ini. Aku, sekarang hanya ingin berusaha terbaik untuk membantumu, maksudku menjadi asistenmu.”
“Baiklah, bekerjalah dengan baik. Kamu jangan terkejut karena jadwal aku cukup padat, aku juga sering keluar kota.”
“Keluar kota? Ba-bagaimana dengan sekolah aku?” Hafa bingung saat mendengar itu semua.
“Kamu sebentar lagi lulus kan?” tanya Kio.
“Kok kamu tahu!”
“Tadi kalau enggak salah kamu cerita, kamu sekarang kelas tiga. Enggak masalah beberapa bulan lagi kamu sudah lulus sekolah, selama kamu sekolah kamu tidak perlu ikut aku keluar kota. Cukup tinggal di apartemen saja dan mengurus kebersihan kamar aku dan juga sepatu-sepatu koleksiku.”
“Sepatu koleksi?” tanya Hafa bingung, kenapa dirinya harus mengurus sebuah sepatu.
“Ehm, sepatu dengan bahan kulit itu perlu perlakuan khusus meski hanya saat di simpan. Kamu harus rajin membersihkan, kalau-kalau ada debu atau jamur yang menempel di permukaan sepatu itu.” Papar Kio.
“Oh, begitu ya!”
“Iya, begitu.”
“Tapi, Kio. Maaf, tapi apa boleh aku ke rumah dulu?”
“Haish! Kalau kamu ke rumah, nanti ibu kamu bisa jual kamu lagi!” kio jadi sebal.
“Bukan begitu, aku harus mengambil buku-buku dan seragam aku.” Hafa tertunduk lesu.
“Apa enggak bisa beli baru saja?” tanya Kio.
“Enggak perlu, lagipula aku Cuma sekolah sebentar lagi, enggak perlu beli seragam baru, nantinya enggak akan terpakai lagi.”
“Oke. Baiklah. Tapi biar aku antar kamu pulang ya!” usul Kio.
“Enggak usah Kio, aku ehm, aku pinjem uang aja buat naik angkot.”
“Aku antar atau enggak usah pulang sama sekali? Ingat hutang kamu ke aku banyak banget! Apa kamu akan terus menolak semua kemauan aku?” tanya Kio sok mengancam.
“Ya, sudah. Tapi kamu tunggu di luar aja ya, Kio.”
“Enggak masalah, lagian aku belum siap ketemu seorang ibu yang begitu tega jual anaknya sendiri ke tempat pelacuran!” tegas Kio.
“Dia enggak jual aku Kio.”
Kio tertawa getir,
“Sudah sampai pada masalah yang amat besar seperti ini, kamu masih bisa membela dia ya, Hafa.”
“Bukan begitu, Kio. Ibu aku memang baik, dia pasti tidak berniat menjual aku seperti itu. Dia Cuma ibu yang mau menafkahi putrinya, dan tak ada kerjaan yang bisa dia dapatkan. Akhirnya dia memilih mengerjakan pekerjaan kotor itu.”
“Sudahlah, Hafa. Aku tidak ingin berdebat denganmu tentang Ibumu dan pekerjaanya itu!”
“Maaf Kio.” Lirih Hafa.
“Ayo, aku antar, keburu tambah malem!” ajak Kio.
Hafa menurut saja, mereka lalu menuju parkiran yang ada di lantai basement. Hafa celingukam melihat mobil-mobil mewah berbaris rapih.Kio mendekati sebuah mobil yang sungguh mewah.
Hafa terkejut melihat mobil berwarna merah terang itu. Kio membuka pintu, dan betapa terkejutnya Hafa saat pintu mobil itu terbuka ke atas. Tipe lamborghini dengan scissor door atau pintu gunting yang pintunya terbuka ke atas bukan ke samping.
Hafa semakin terkejut saat mulai masuk ke sana. Mobil yang berukuran cukup panjang itu ternyata hanya ada dua buah jok di dalamnya, hanya untuk seorang pengemudi dan satu penumpang saja.
Hafa celingkuan, melihat ke belakang, ke atas dan ke bawah kakinya berpijak. Kio tiba-tiba saja mendekati Hafa, menjulurkan tanganya ke bagian samping tubuh Hafa.
“Deggg.” Apa yang akan di lakukan Kio pada Hafa? Apakah kisah Hafa akan menjadi kisah cinderella modern. Baiklah ternyata Kio hanya berniat memasangkan seatbelt pada tubuh Hafa. Hafa sudah merasa tidak karuan karena ulah tuan mudanya itu. Jantungnya sudah berdegup kencang tak beraturan.
“Ehm, kamu orang pertama yang aku ajak naik mobil kesayanganku ini.” Ujar Kio sambil lalu, dia tak ingin begitu terlihat bahwa dia menaruh hati pada Hafa. Kio mulai menjalankan mesin mobil itu.
Sementara Hafa berjengit demi mendengar hal yang Kio ucapkan tadi.
“Apa maksudnya itu.” Batin Hafa tak mengerti, tuan mudanya itu selalu saja membuat Hafa salah paham dan kelewat pede.
Kio memegang kemudi dengan tangan kanan, dan tangan lain dia letakan di dagu, mengusap-usap dagunya dengan jantan agar nampak berkharisma di depan Hafa. Tapi Hafa yang sudah berkali-kali dibuat bingung dengan sikap Kio berusaha acuh pada semua gerak gerik Kio saat itu.
Kio melirik Hafa, gadis itu nampaknya sangat tidak tertarik dengan cara Kio mengambil perhatiannya, atau mungkin dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan ketampanan Kio.
Benar, gadis mana yang bisa terpesona dengan ketampanannya saat masalah yang tengah dihdapin sangatlah sulit. Begitu pikir Kio, baginya tak masalah, karena waktu adalah pemilik kekuatan cinta yang sebenarnya. Iya, itu saja pikiran Kio saat ini.
Tangan Kio sudah pegal memegangi ujung dagunya, akhirnya dia menyerah dan kembali fokus mengemudikan kendaraan mewahnya itu.
Sedangkan alih-alih terpesona dengan tingkah Kio yang berusaha tampak maskulin, Hafa justru sedang menerka-nerka kiranya berapa harga mobil yang saat ini tengah dia naiki ini. Mobil ini sangatlah nyaman. Entah jika Hafa bekerja seumurnya hidupnya,apakah bisa membeli mobil yang harganya pasti sangat fantastis ini. Hafa menyentuh jendela di sisi kirinya, terasa dingin. Dia berbafas di permukaan jendela dan jendela itu berubah keruh, Hafa melirik ke arah Kio dan dia ketakutan, akhirnya dengan cepat dia menyeka kaca jendela itu dengan lengan baju yang dia kenakan.
Kio pura-pura tak melihat, tapi sungguh demi apapun dia ingin tertawa terbahak-bahak demi melihat tingkah Hafa yang selalu menggemaskan itu.