Pertemuan tak Terduga

1056 Words
“Siapa ya?” Hesty berteriak dari dalam kamar. Rupanya kamar itu bagian pintunya di lapisi oleh lapisan kedap suara sehingga orang tidak akan tahu suara dari dalam kamar itu. Ketukan itu terus saja berlangsung. Hesty mau tidak mau harus membukanya. Karena si pengetuk terdengar tidak sabar. “Duh, harus aku buka. Semoga saja bukan istrinya Mas Ardi.” Hesty gemetar, tangannya memegang kenop pintu kamar itu. Pintu dibuka, soerang wanita tengah berdiri di sana. Di tangan kanannya ada sebuah nampan yang dia topang dengan dadanya karena tangan kirinya sibuk mengetuk pintu. “Siapa ya?” tanya Hesty bingung. “Kenapa lama sekali Ibu buka pintunya? Tangan saya sampai pegal dan ini baksonya juga sudah hampir dingin.” Wanita itu menyerahkan nampan yang terdapat sebuah mangkok di atasnya. “Oh, iya maaf tadi aku habis dari kamar mandi. Ini apa ya?” hesty menerima nampan kecil itu. “Ini, Ini kamar milik Pak Ardi kan? Beliau tadi mendatangi stand bakso kami di foodcourt dan memesan bakso dan di antar ke kamar ini.” “Ah, gitu ya! Iya benar, terimakasih mbak!” hesty kemudian cepat-cepat menutup pintu. Sungguh aneh ada bakso macam ini di sebuah apartemen mewah. Dia merasa seperti tinggaldi rumah susun. Tapi aroma harum dari bakso itu membuat Hesty lupa semuanya, dia cepat-cepat menyantap bakso itu sebelum baksony dingin. *** Hafa masih duduk dengan canggung, hari mulai beranjak malam. Mereka hanya diam sejak kesepakatan tadi sore, Kio nampak tengah mengecek jadwalnya di ponsel untuk hari esok. Tadi, sebelum bertemu dengan Hafa, dia harusnya melakukan photoshot di sebuah studio foto untuk keperluan endorse outfit dari sebuah merk yang cukup ternama. Mereka hanya saling diam. Dan tiba-tiba terdengar suara keruyuk kencang dari perutnya. Kio yang tengah sibuk dengan ponselnya sontak menoleh. “Kamu laper?” tanya Kio. Hafa meremas perutnya dan tidak menjawab pertanyaan Kio. Kio berpaling dan tersenyum, sungguh dia tak ingin Hafa melihatnya tersenyum. “Ayo keluar!” ajak Kio. Hafa melongo, entah keluar mana yang cowok itu maksud. “Ke-kemana ya?” tanya Hafa takut. “Udah ayo ikut aja!” kio meraih dompetnya yang tadi dia letakkan di atas meja. Hafa dengan canggung mengekor di belakang langkah Kio yang panjang. Mereka naik lift dan menuju ke tempat yang berjarak satu lantai di atas mereka. Mereka tiba disebuah tempat yang dimana berjajar kafe dan restoran di dalamnya. Itu nampak seperti kantin sekolah bagi Hafa. Karena stand makanan ringan atau berat yang berjajar rapi dan di sudut lain, terdapat puluhan meja dan kursi yang berjajar teratur. Kio mengajak Hafa untuk duduk di dekat sebuah kedai bakso. “Kamu mau makan bakso?” tanya Kio. Hafa terdiam, sejujurnya dia sangat lapar dan ingin makan nasi. “Enggak mau bakso?” tanya Kio lagi. Hafa tetap diam, rasanya tak pantas menawar saat dia akan di traktir makan, apalagi tempat ini terlihat sangat mewah dan bersih. Pasti harga makanan di sini sangat mahal. “Hei, mau makan apa? Ayam gepuk mau?” tanya Kio gemas. “Ehm, ada nasinya enggak?” tanya Hafa setelah berusaha membuang rasa malunya. “Ada dong!” Hafa tersenyum dan mengangguk senang, akhirnya dia bisa makan. Kio beranjak dari duduknya dan bergegas ke stand penjual ayam gepuk itu, dia melewati stand bakso dan di saat yang bersamaan seorang pria paruh baya tampak baru saja selesai bertransaksi di kedai bakso itu. Kio tak sengaja menabraknya yang tiba-tiba berbalik badan. “Brukk!!” Dompet pria itu jatuh ke lantai dan beberapa kartu berserakan karena dompet itu dalam keadaan terbuka, saat itu sang pria baru saja membayar dengan kartu debet miliknya dan berjalan keluar dari kedai sambil memasukan kartu ke dompetnya yang terbuka. Kio terkejut, dia cepat-cepat menguasai diri dan bergegas membantu pria itu mengumpulkan semua kartu yang berserakan di lantai. “Maaf Om, saya enggak sengaja.” Ujar Kio seraya memungut satu persatu berbagai jenis kartu yang berserakan itu. Ada juga beberapa lembar foto seukuran kartu atm yang berbaur dengan semua kartu. “Enggak masalah.” Pria itu juga berjongkok di lantai. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi, itu istrinya yang memintanya membelikan pizza saat akan pulang nanti. Pria itu menerima semua kartu dan foto yang diberikan oleh Kio dan bergegas pergi begitu saja sambil tetap bercakap-cakap di telepon. Kio menghela nafas dan melanjutkan langkahnya menuju kedai ayam gepuk yang di pesan Hafa. Seorang pramusaji laki-laki mendekati Hafa dan menyerahkan selembar foto pada Hafa. “Maaf mbak, sepertinya ini punya pacar mbak deh. Tadi jatuh di sana.” Ujarnya sopan. “Pa-pacar?” “Iya, yang tadi nabrak orang di situ.” “Oh, iya. Makasih, tapi dia buk-an...” kata-kata hafa terputus. “Itu pasti foto calon mertua mbak ya? Mereka serasi, cantik dan ganteng. Pantes aja pacar mbak ganteng banget, orang tuanya serasi gitu.” Hafa tersenyum dan mengangguk kikuk. “Mertua apannya, ada-ada aja mas nya.” Gerutu Hafa saat mas-mas itu sudah tak ada lagi di hadapannya. Hesty masih memegang foto yang dalam keadaan terbalik itu, kini dan mengubah sisi bawah ke atas. Hafa membalik foto itu dan betapa kagetnya dia, disana nampak jelas dua orang yang nampak seperti suami istri. Foto seorang wanita cantik yang tengah mengecup pipi seorang pria. Dan lebih gilanya, Hafa mengenal mereka, itu adalah.. Mereka yang di dalam foto itu adalah Ibunya dan Ardi, sang pelanggan setia Ibunya. Hafa menutup mulutnya yang terngaga lebar tanpa dia minta. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan dan memasukan foto berukuran kecil itu ke dalam saku celana yang dia kenakan kini. Jantungnya berdegup kencang, dia tak habis pikir kenapa bisa bertemu ardi di tempat seperti ini. “Apa mungkin om Ardi dan keluarganya tinggal di sini?” pikir Hafa. Kiofaye datang dan kembali duduk di hadapan Hafa. “Sabar ya, lagi di buat makanannya.” “Iya, makasih.” Lirih Hafa. Dia masih kaget karena foto tadi. “Kamu tadi nabrak siapa?” tanya Hafa memberanikan diri. Kio berpikir sejenak. “Yang mana? Oh, Om-om tadi ya? Enggak tahu enggak kenal.” “Apa dia tinggal di sini juga?” tanya Hafa lagi. Kio memiringkan kepalanya. “Kayaknya enggak deh, soalnya aku udah hampir tiga tahun tinggal di sini dan makan di tempat ini tapi enggak pernah liat om itu.” “Oh, begitu ya!” “Ada apa emang? Kamu kenal sama dia?” tanya Kio heran. Hafa gelagapan. “Oh, enggak! Enggak kok!” “Terus kenapa tanya-tanya?” tanya Kio masih heran. “Ya, daripada aku diem aja.” Kio terkekeh. Hafa terkejut mendengar dia tertawa. Kio cepat-cepat menutup mulutnya dan menyudahi tawanya, lalu berdeham dan kembali memsang wajah ketus dan dingin. Tak lama makanan mereka siap. Hafa menyantap makanan itu dengan antusias karena dirinya memang tengah menderita karena merasakan lapar hebat sejak sore tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD