Ketukan Pintu Kamar

1143 Words
Dia tersenyum seraya melambai saat pengemudi mobil itu keluar. Pria dari dalam mobil itu nampak masih mengenakan pakaian formal. Tampak jelas dia bukan seorang karyawan biasa. Irham menatap pria itu dengan tatapan penuh arti. Ah, dia pasti direktur atau semacamnya. Entah bagaimana perasaan anak-anaknya jika mereka tahu ayahnya main gila bersama seorang p*****r. Begitulah pikir Irham. “Mas Ardi!” sapa Hesty dia dengan cepat meraih lengan pria itu. “Halo Sayang!” sapanya ramah dan cukup manis. “Mau minum dulu?” tanya Hesty pada Pria yang dipanggil Ardi itu. “Enggak perlu, kita langsung pergi saja. Ayo!” pria itu merangkul pundak Hesty dengan tanpa rasa canggung meski di sana ada Irham. Hesty dengan senang hati mengikuti langkah Ardi. “Hei, kamu! Tolong tutupin pintu ya!” dia menoleh dan berteriak pada Irham berdiri dengan heran di depan jendela. Mulut Irham menganga. Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini. Tadi Ibunya bercerita bahwa wanita bernama Hesty itu hampir berguling-guling di lantai saat menyaksikan Hafa dibawa paksa olehi dua ornag pria botak dengan wajah menyeramkan. Kenapa dia justru kini akan pergi bersenang-senang dengan seorang p****************g. “Hafa, kamu dimana.” Irham sangat kecewa, dia tak bisa mendapat informasi yang sangat dia butuhkan, nampaknya dia harus menunggu esok hari, saat mereka bisa bertemu di sekolah. Malam ini akan jadi malam yang sangat panjang untuk Irham. * Ardi ternyata membawa Hesty ke sebuah apartemen mewah di bilangan Jakarta Selatan. Apartemen Diamond begitu tajuk yang tertulis di pintu masuk apartemen itu. Hesty tak banyak bertanya, dia hanya berpikir bahwa Ardi mungkin ingin berkencan dengannya di kamar apartemen yang mewah agar feelnya lebih terasa, mungkin dia bosan jika melakukannya di hotel. Mereka masuk ke dalam salah satu kamar itu, sebuah kamar yang terletak di lantai lima. Ardi mempersilahkan Hesty untuk melihat-lihat semua ruangan apartemen itu. Seluruh ruangan begitu lengkap dengan segala perabot malah, mulai dari sofa, televisi, lemari pendingin, tempat tidur, mesin cuci, sampain perlengkapan mandi, juga makanan dan minuman di dalam lemari es, semua lengkap. “Gimana sayang, kamu suka?” tanya Ardi. Hesty tak mengerti, suka apanya yang dia maksud. Tapi wanita itu tak ingin banyak tanya, dia hanya mengangguk dan berkata bahwa kamar itu sangat menganggumkan. “Syukurlah kalau kamu suka.” Ardi memeluk Hesty. Hesty tak mengerti mengapa dia harus menyukai tempat ini, sedangkan mungkin dia hanya akan tidur satu malam di sini, atau mungkin hanya beberapa jam saja. Setelah mereka selesai dengan urusan biologis mereka, mereka akan meninggalkan tempat ini. “I-iya, Mas Ardi, tempatnya bagus banget!” puji Hesty tulus. “Baguslah, aku sudah yakin kamu pasti suka. Nah, tinggalah di sini, karena aku akan segera menikahi kamu, Sayang.” “Ap-pa???” bola mata wanita bermake up tebal itu hampir copot dan keluar dari peraduannya demi mendengar kalimat yang tak terduga itu “Kamu mau kan jadi istri sirih aku?” tanya Ardi seraya mengeluarkan sekotak cincin dari saku jasnya. Hesty menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. “Kamu, enggak lagi bercanda kan?” hesty masih sangat terguncang, baru saja tadi sore dia berharap jadi istri laki-laki ini, dan kini dia justru melamarnya. “Enggak dong, mau kan? Jadi istri aku!” tanya Ardi lagi. Hesty mengangguk cepat, dia tak bisa berkata-kata. Dia hanya ingin terus mengangguk. Ardi lalu mengeluarkan sebuah cincin bermata berlian dan menyematkannya di jari tengah Hesty dengan penuh rasa sukacita. Bagaimana tidak, mereka akan segera menikah walau tidak sah secara aturan negara. “Jadi, aku akan tinggal di apartemen mewah ini?” tanya Hesty dengan mata berkaca-kaca. “Iya, aku memang sudah lama menyiapkan ini semua untuk bisa melamarmu, kumohon berhentilah bekerja sebagai wanita penghibur, jadilah istriku dan tinggalah di apartemen ini. Ini untuk kamu, Sayang.” Ujar Ardi terdengar tulus, meskipun begitu bagaimana pun itu bukan hal benar karena pria itu masih memiliki istri sah, tapi dasar pria tak ingin dicap salah, dia berkilah itu bukan masalah asal dia mampu mencukupi semua kebutuhan keduanya. Begitulah hiruk pikuk dunia dengan embel-embel kisah percintaan manusia di dalamnya. Hesty mengangguk bahagia. Dia benar-benar sudah lupa pada Hafa yang siang tadi di jemput paksa oleh anak buah dari bosnya di dunia malam itu. “Oh iya, tapi gimana Hafa? Apa dia akan ikut kamu tinggal di sini?” tanya Ardi tiba-tiba menyinggung Hafa. Hesty tertegun sebentar kemudian dia tersenyum sumringah. “Hafa sudah dapat pekerjaan, jadi dia bisa tinggal di tempat kerja. Atau kalau dia mau pulang, kan kita punya rumah kontrakan. Ehm, apa kamu mau bayarin kontrakan kita?” tanya Hesty kemudian. “Oh, enggak masalah. Daripada Hafa harus tinggal di sini kan? Akun pikir itu bukan ide yang baik.” Jawab Ardi enteng. “Iya, aku juga berpikiran begitu. Enggak akan nyaman kamu kalau Hafa ikut tinggal di sini juga. Lagipula dia juga pasti enggak akan mau, dia itu anak baik dan sangat pengertian sekali lho mas.” Ujar Hesty. “Oh, bagus kalau begitu. Nanti aku kasih uang dan kasih ke Hafa ya, dia kan masih belum cukup dewasa untuk bisa memenuhi kebutuhanya sendiri.” “Makasih Mas Ardi!” hesty memeluk tubuh kekar pria itu. Hesty akhirnya mulai tinggal di salah satu kamar di apartemen diamond itu, dia bahkan tidak perlu kembali ke rumah untuk mengemasi pakaiannya karena Ardi besok akan mengajak dia shopping di pusat perbelanjaan elite di sana. Selain itu, dia enggan bertemu Hafa dan menjelaskan segala yang terjadi, dan tentu saja dia tak ingin tahu kisah memilukan apa yang diterima Hafa. Dia pikir, semua akan berlalu, dan kelak Hafa akan ditarik keluar dari lumpur itu oleh seorang laki-laki baik hati dan kaya raya seperti Ardi. Malam itu Ardi pamit pulang ke rumahnya. Hesty nampak tengah duduk di sisi tempat tidur dan mengusap permukaan spreinya dengan lembut. “Ah, kalau aku enggak jadi p*****r. Mana mungkin aku bisa dapat semua kemewahan itu.” Hesty kemudian naik ke atas kasur dan berlompat-lompat seperti anak ayam. Entah iblis apa yang masuk ke dalam aliran darahnya hingga membuat dia berpikir seperti itu. Semuanya merupakan keberuntungan untuknya, karena sebab dia jadi seorang wanita malam dia kini menemukan seorang pria kaya raya yang siap mendampingi hingga dia tua nanti. Entah mengapa percaya dirinya sebesar itu, padahal bisa saja tiba-tiba sang istri tiba-tiba datang mengetuk pintu dan menjambak rambutnya dengan disertai amukan ala wanita yang tengah sakit hati. Dan tepat di saat itu, langkah seseorang berjalan cepat mendekati kamar yang ada Hesty di dalamnya. Langkah yang mantap itu berdiri tepat di depan pintu kamar itu. Kemudian pemilik langkah itu mengetuk pintu dengan kencang dan seperti tak sabaran. Hesty terkejut, siapa yang datang ke kamarnya itu. “Siapa ya? Apa mas Ardi? Ah, enggak mungkin. Kalau Mas Ardi pasti dia enggak bakal ngetuk-ngetuk pintu gitu, dia kan pegang kartu buat buka pintu juga.” Hesty jadi enggan membuka pintu. Tapi orang itu terus saja mengetuk pintu. Tak henti. Hesty memberanikan diri mendekati pintu itu, menempelkan telinganya di pintu. Seolah dia dapat mendengar percakapan di luar sana. Hatinya jadi tak tenang, dia pikir dia harus menelpon Ardi. Tapi suara ketukan itu semakin kencang dan berulang terus menerus. Hesty sudah mulai berkeringat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD